
Keesokan harinya.
Vicky tiba-tiba datang ke kantor Garviil saat siang. Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang, dan Vicky datang membawa makanan untuk kakaknya. Semalam dia menginap di apartemen Tiffany lalu tadi pagi pulang. Dan karena merasa bosan, Vicky memutuskan menemui kakaknya di kantornya.
Vicky di persilahkan masuk oleh sekretaris kakaknya. Vicky masuk dengan senyuman manisnya. "Hai, aku datang membawa makan siang untukmu."
"Kenapa tidak memberitahuku kalau kau ingin datang??? Bagaimana kalau hari ini aku ada di luar."
"Nyata nya kau ada disini kan sekarang???"
"Terserah kau saja. Kenapa kesini???" Tanya Garviil.
"Ingin saja, lagipula aku bosan sekali, Tiffany sedang ke kampus, aku tidak ada kegiatan."
"Maka bantulah aku disini, setidaknya kau ada kegiatan."
"Membantumu???? Tidak tidak, dasi, kemeja, jas membuatku merasa gerah. Makanlah, sebelum dingin, Andro yang menyiapkannya tadi!!!"
Garviil menggeleng-gelengkan kepala nya. Dia beranjank dari kursi kerja nya dan menghampiri adiknya yang duduk di sofa yang ada di ruangannya. "Kau memberi tahu Mama mengenai apa yang terjadi semalam ya???" Tanya Garviil.
"Ya, apa Mama menghubungi mu juga???"
Garviil menganggukkan kepala nya sembari membuka kantung makanan yang di bawa oleh adiknya. "Dia meneleponku semalam dan dia sangat bahagia. beberapa atahu terakhir aku tidak melihatnya sebahagia ini."
"Itu karena Tuhan mendengar doa nya agar kau menjauh dari ular betina bernama Bianca itu." Gumam Vicky. "Lalu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Aire??? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya???"
"Aku akan menunggu nya lulus, sebentar lagi dia akan lulus, setelah itu aku akan menemi keluarga nya dan aku tentu saja ingin hubungan kami ke jenjang yang serius, dan aku ingin menikahi nya."
"Apa kau yakin dengan keputusanmu??? Maksudku Aire pasti akan melanjutkan pendidikannya dan lihatlah dia dari mana, orang tua nya pasti ingin dia menyeleesaikan pendidikannya dengan baik."
"Apa masalahnya???? Aku tentu akan membiarkan dia tetap berkuliah, aku hanya ingin mengikatnya agar dia tidak lepas dan jauh dariku."
"Jiiiihhhh... Kau bernapsu sekali sepertinya."
"Rencana pernikahanku harus tetap berjalan kan???? Tetapi berbeda mempelai." Garviil tersenyum dan mulai menikmati makanan yang di bawa oleh Adiknya.
"Ya, terserah kau saja. Kau sudah mendapatkan Geffie, sekarang tinggal mendapatkan restu keluarga nya saja. Berjuanglah.."
"Lalu kau sendiri bagaimana???'
"Dengan Tiffany???"
"Ya."
Vicky tersenyum. "Tentu kami belum membicarakan hal yang sejauh itu, kami hanya ingin bersama saja."
"Kata Mama, kau di suruh berhenti bermain-main dengan perempuan, ubahlah mindset mu dan mulai hubungan yang serius. Jangan bergonat-ganti pasangan lalu kau meninggalkan mereka dan mencari yang baru lagi, Tiffany sepertinya perempuan yang baik. Aku juga ingatkan kau agar jangan berulah dengan Tiffany, lalu yang kena dampaknya adalah hubunganku dengan Geffie."
Vicky terkekeh. "Iya iya, tidak akan. Khawatir sekali. Aku juga tahu kalau Tiffany gadis yang baik."
"Kau tidak pulang???" Tanya Garviil.
"Ah tidak, nanti-nanti saja, aku sedang ingin menghabiskan waktu bersama Tiffany, masa kau menyuruhku pulang."
"Kau memang konyol.... Ada saja tingkahmu itu." Garviil melanjutkan makan siangnya. Dia sudah faham betul dengan sifat adiknya. Vicky tidak akan mudah menyerah untuk mengejar sesuatu dan hidupnya bebas, tidak memikirkan beban apapun selain hanya bersenang-senang. "Biarkan Tiffany fokus dengan ujiannya, lebih baik kau pulang sementara waktu, Mama Papa pasti juga merindukanmu."
"Vicky, aku punya pekerjaan disini, aku pasti akan pulang tapi tidak sekarang. Aku juga tidak mau mengganggu Geffie."
"Akan aku pikirkan nanti." Gumam Vicky dan dia berbaring di sofa lalu memejamkan matanya dan tidur. Gaviil hanya bisa memaklumi tingkah adiknya yang kekanak-kanakan itu. Garviil menghabiskan makanannya dan dia lalu akan kembali bekerja lagi.
*****
Malam harinya...
Geffie datang kle cafe bersama dengan Garviil yang tadi menjemputnya di apartemen. Mereka akan makan malam di cafe. Garviil tadi mengajak Geffie untuk keluar jalan-jalan, tetapi Geffie menolak dan memilih untuk ke cafe saja. Geffie malas untuk kemana-mana.
Sampai di cafe, Garviil menarikkan sebuah kursi dan mempersilahkan Geffie duduk, mereka kemudan memesan makanan dan juga minuman. Pelayan pergi setelah mencatat makanan mereka.
Garviil melipat kedua lengannya, meletakkannya di meja, dan dagu nya bertumpu di lengannya. Garviil tersenyum menatap wajah cantik Geffie. Mengagumi kecantikan kekasihnya itu.
"Kau kenapa memandangiku seperti itu, ada banyak orang disini." Ucap Geffie sembari menengok kanan kiri. Merasa malu pada orang-orang di cafe itu karena Garviil senyum-senyum sendiri ke arahnya.
"Biar saja, memangnya kenapa kalau aku memandangimu, kau cantik dan kau kekasihku."
"Diamlah dan jangan konyol, ini tempat umum, aku malu."
"Kenapa malu, kau tidak bugiI kan?? Kau pakai pakaian."
"Garviil kau ini, berhentilah bercanda." Protes Geffie.
Garviil kemudian mengangkat kepala nya dan kembali tersenyum pada Geffie. "Kapan ujianmu??" Tanya Garviil.
"Minggu depan, doakan ya???" Geffie tersenyum.
Garviil meraih jemari Geffie dan mengecupnya lembut. "Tentu saja, kau juga harus fokus dan belajar yang tekun. Selama ujian, aku tidak akan mengganggumu, kau harus fokus, supaya dapat nilai sempurna."
Geffie mengernyit. "Kau tidak mau menggangguku??? Maksudnya???"
"Ya, aku tidak akan menemui mu dan mengganggumu, kita hanya akan mengirim pesan seperlu nya saja, kau harus fokus."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan."
"Meski aku akan sangat merindukanmu tetapi tidak apa, karena kau memang harus fokus."
Geffie tertawa. "Kau sendiri yang meminta nya, malah kau sendiri juga yang terlihat sedih."
"Apa setelah lulus kau akan langsung ke Washington Dc???"
"Tentu saja tidak, mungkin aku akan pulang ke Indonesia sebentar, lalu kembali kesini lagi, lagipula kakak kan juga sedang hamil, dia tidak akan di ijinkan untuk kembali ke Amerika sampai dia melahirkan, dan aku yakin kakak iparku juga nanti akan pulang ke Indonesia, jadi otomatis di Washington dc tidak ada siapapun, ya kali aku tinggal disana sendirian."
"Syukurlah kalau begitu, aku jadi masih punya banyak waktu bersamamu disini sebelum seterusnya kau pindah ke Washington Dc."
Geffie kembali tersenyum. "Tidak begitu jauh juga kan dari sini ke DC??? Dengan pesawat juga kurang dari 2 jam sampai. Kau berlebihan sekali"
"Biar saja berlebihan, fakta nya aku tidak bisa jauh darimu. Oh iya, kau dapat salam dari Mama ku."
"Salam dari Mama mu???? Memangnya dia mengenalku???"
"Belum sih tapi nanti aku akan mengenalkanmu pada Mama, dan semalam aku mengirim foto kita padanya, dia senang sekali dan memujimu. Mama tidak pernah menyukai Bianca, tetapi ketika melihat foto mu, dia langsung menyukaimu."