
"Geffie, Vineet ingin bicara padamu." Friddie menghampiri adiknya yang sedang mengobrol dengan tante nya.
"Berikan padaku." Gefffie tersenyum.
Friddie memberikan ponselnya pada adiknya itu. Vineet adalah kekasihnya dan ingin bicara dengan Geffie untuk memberikan ucapan selamat kepada Geffie.
Geffie berdiri dan berjalan menuju balkon, sedangkan Friddie bergantian duduk di sebelah Maysa.
"Hai Neet....!!" Sapa Geffie.
"Hai Geff, congratulations for your graduation... I'm proud of you...."
Geffie tersenyum. "Thank you Neet."
"Sama-sama, nanti kau akan ikut kembali ke Indonesia kan???" Tanya Vineet
"Tentu saja, aku akan liburan sekitar 2 minggu di Indonesia setelah itu aku akan kembali lagi ke sini untuk mengurus beberapa hal dan persiapan untuk mencari universitas yang baru di Washington DC. Ya intinya nanti aku akan tinggal bersama Kak Gienka tetapi tentu aku harus menunggu Kak Gienka kembali lagi ke Washington DC Begitu juga dengan kakak Kyros."
"Aku senang sekali, nanti kita pergi liburan, bagaimana kalau kita pergi liburan bersama-sama???" Tanya Vineet.
"Liburan??? Boleh juga, kau Atur saja ingin liburan ke mana, cari tempat yang bagus dan kita pergi bersama-sama, oke???"
"Liburannya jangan jauh-jauh, kalau jauh-jauh ribet, maksudnya Papa yang ribet, kalau aku pergi jauh-jauh, Kau pasti tahu bagaimana Papaku hehehe, kita pergi ke Anyer saja bagaimana??? ya liburan di pantai itu selalu seru, kau setuju tidak???"
"Boleh, tidak masalah kita pergi ke Anyer, nanti kita menginap di cottage-nya milik Papa, Papa kan juga ada cottage di sana."
"Papamu memang punya banyak tempat di mana-mana, oke kita pergi ke Anyer ya??? Dan nanti aku akan mengajak Kak Sanne."
"Oke oke. Atur saja, lusa aku akan kembali ke Jakarta."
"Oke. Baiklah, aku tutup dulu, aku mengantuk sekali sejak tadi aku belum tidur karena aku mengerjakan beberapa tugas dan menunggu kabar dari Friddie tapi sekarang aku mengantuk. Dan sekali lagi Congratulation for your graduation."
"Oke see you in Jakarta, kau istirahatlah. Good night Vineet."
"Good Night Geff....!!"
Geffie kembali masuk ke dalam apartemennya bersama dengan itu Ariel keluar dari kamar mandi. Geffie pun langsung menghampiri Papanya. "Papa, aku baru saja berbicara dengan Vineet, setelah sampai Jakarta Nanti aku berencana untuk pergi liburan dengannya dan juga dengan Sanne kami rencana untuk pergi liburan."
Ariel tersenyum. "Kalian ingin liburan ke mana??? ke Bali, ke Karimunjawa atau ke Lombok???" Tanya Ariel.
Geffie menggelengkan kepalanya. "Kami tidak ingin liburan ke luar pulau Jawa. Kami ingin ke Anyer, kata Vineet nanti kalau pergi jauh-jauh apalagi sampai keluar Pulau urusannya bakal ribet karena pasti Uncle Vino Akan mengirim banyak bodyguard untuk menjaga Vineet."
Ariel terkekeh. "Benar juga. Ya sudah kalau begitu kalau kau kalian ingin pergi ke Anyer Pergi Saja. Nanti Papa akan menghubungi orang yang ada di sana Agar menyiapkan Cottage untuk kalian."
Geffie memeluk Ariel. "Terima kasih Papa. Aku mencintai Papa."
"Kau pasti sangat merindukan teman-temanmu. Jadi Papa tidak bermasalah kalau kau pergi liburan bersama mereka, Papa juga ada banyak kesibukan di kantor jadi tidak bisa mengajakmu pergi jalan-jalan."
"Tidak masalah Pa, yang lain juga kan ikut kak Friddie juga ikut jadi akan ada yang menjagaku."
"Itu bagus sekali." Maysa berdiri dan menghampiri suami serta putrinya. "Mama setuju untuk kau pergi liburan selama beberapa hari setelah sampai di Jakarta, Baiklah Mama akan mandi dulu setelah itu kau yang mandi oke."
Geffie tersenyum. "Iya Ma.."
Ariel pergi ke dapur untuk membuat kopi, dan membiarkan istrinya untuk mandi. Sedangkan Geffie berjalan ke arah Friddie.
Geffie kemudian kembali duduk di sofa di sebelah Friddie. "Kakak ini ponselmu."
Friddie mengambil ponselnya dari Geffie. "Jadi kalian merencanakan liburan tapi kenapa Vineet tadi tidak memberitahuku sebelumnya???"
"Sepertinya ini rencana dadakan, Ya sudahlah, Kakak ikut saja. Kita kan perginya rame-rame. Pasti seru."
"Kau jangan lupa ajak Garviil, dia kan juga di Indonesia, beritahu saja dia. Aku ingin bertemu dan berkenalan dengannya." Gumam Friddie dengan suara setengah berbisik.
"Aku tidak tahu berapa hari dia ada di sana, lagi pula suasananya kan tidak memungkinkan Kak??? neneknya baru saja meninggal masa iya aku mengajaknya liburan, kau ini ada-ada saja."
"Kau benar juga. Aku sangat ingin bertemu dengan kekasihmu itu."
"Kakak...!!! Sssstttt... Jangan keras-keras nanti Papa mendengarnya. Kakak ini bagaimana???" Geffie memukul bahu Friddie.
"Sorry sorry....!! Hehehe..." Friddie terkekeh. "Aku lupa ada uncle disini."
Geffie merengut dan melirik kesal ke arah kakaknya. "Hati-hati kalau membahas iti, jangan sampai Papa mendengarnya."
"Oke oke, aku minta maaf." Friddie memeluk Geffie.
*****
Beberapa hari kemudian
Geffie, dan kedua orang tua nya serta Friddie sampai di Jakarta. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Geffie tidak melepaskan senyumannya sejak tadi. Dia bisa kembali lagi ke rumahnya.
Geffie bergegas naik ke kamarnya, dia lelah dan ingin beristirahat sebentar. Geffie tidak membawa banyak pakaian ketika pulang Ia hanya membawa beberapa saja dan yang dia gunakan untuk berganti saat pesawat transit karena di sini pun pakaiannya masih banyak dan dia tidak ingin direpotkan dengan membawa koper.
Geffie melemparkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia merindukan tempat tidur ini dan langsung merasa nyaman. Geffie mengambil ponselnya dan dia akan menghubungi Garviil memberitahu Jika dia sudah sampai. Geffie senang bisa kembali lagi ke Indonesia dan dia juga merindukan Garviil lelaki itu masih di sini untuk beberapa hari sebelum nanti Garviil kembali lagi ke Amerika tentu hal ini akan membuat Geffie memanfaatkannya untuk bisa melepas Rindu dengan Garviil meski hanya sebentar setidaknya iya bisa melihat secara langsung wajah kekasihnya itu.
Sementara itu di tempat lain Garviil sedang berada di kamarnya ia sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang dikirim oleh sekretarisnya ya di kantor yang ada di Amerika. Garviil meninggalkan pekerjaannya begitu saja sehingga ia juga masih harus bekerja dari sini. Mamanya meminta agar ia tinggal selama beberapa hari karena setiap malam mereka melakukan doa bersama untuk Omanya sehingga Mamanya meminta agar Garviil berada di sini. Sampai 7 hari meninggalnya Omanya, Garviil pun menurut keinginan sang Mama, dia masih ada beberapa hari lagi untuk berada di sini belum kemudian nanti kembali ke kesibukannya di Boston.
Garviil meraih ponselnya ketika ponselnya berbunyi dan dia tersenyum karena nama Geffie muncul di layar ponselnya dia mengangkatnya. "Hai sayang...??"
"Haii. Aku baru saja sampai di Jakarta, Kau sedang apa???"
"Syukurlah kau sudah sampai di Jakarta."
"Iya,, aku baru saja sampai, kau sedang apa???"
"Aku sedang mengerjakan pekerjaan, sekretarisku mengirim email berisikan pekerjaan yang menumpuk."
"Waaah sibuk ya, aku mengganggu dong???"
"Tidak sama sekali, aku senang Kau langsung menghubungiku setelah sampai di rumah sekarang lakukan panggilan video. Aku ingin melihat wajahmu."
"Oke." Geffie pun merubah dari mode telepon biasa ke mode panggilan video dan Garviil langsung menerimanya keduanya pun melempar senyum satu sama lain ketika melihat wajah mereka di leher ponsel masing-masing.
"Kau baru sampai dan Pasti belum mandi iya kan???"
"Belum, aku baru sampai dia langsung menghubungimu. Memangnya kenapa wajahku masih kucel ya???"
Garviil tersenyum. "Bukan seperti itu, karena terlihat wajahmu tampak lelah sekali."
"Aku akan mandi nanti, tapi aku ingin menyapamu dulu. Oh iya aku minta alamat rumahmu???" Tanya Geffie.
Garviil menggerutkan dahinya. "Minta alamat rumahku?? for what??? kau mau apel ke rumahku ya???"
"Hello, please jangan terlalu pede, aku ingin datang untuk bertakziah saja."
"Oh kirain kau ingin tahu rumahku."
"Begini saja. Besok aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, aku bisa diantar oleh supir, lagi pula aku juga bisa mengendarai mobil sendiri, aku sudah sangat hafal jalanan di Jakarta tidak ada yang aku tidak tahu aku lahir dan besar di sini."
Garviil tertawa. "oke oke, I trust you, tapi tidak masalah juga kalau aku menjemputmu. Memangnya Rumahmu di mana???"
"Rumahku ada di sini hahaha. Oke aku mau mandi dulu kau lanjutkan pekerjaanmu, ya nanti aku akan menghubungimu lagi."
"Oke baiklah." Gumam Garviil. "Istirahat yang cukup, Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, bye..." Geffie mengakhiri panggilan videonya dengan Garviil. Dia kemudian bangun dari tempat tidurnya. Geffie tersenyum Dia meminta maaf kepada Garviil karena ia tidak memberikan alamat rumahnya Geffie takut jika Garviil datang ke rumahnya dan bertemu dengan papanya. Geffie benar-benar belum siap mengenalkan Garviil kepada keluarganya apalagi pada Papanya sehingga Geffie tidak ingin Garviil untuk bertemu dulu dengan orang tuanya apalagi Garviil ke sini.
Malam Harinya.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan rumah Ariel, pintu terbuka dari dalam dan keluarlah Gienka yang perutnya sudah membesar karena kehamilannya. Gienka tahu bahwa Tadi siang orang tuanya dan juga adiknya baru kembali dari Amerika sehingga di malam ini Ia memutuskan untuk datang ke sini bertemu dengan adiknya dan memberikan ucapan selamat. Gienka juga akan menginap dia sudah meminta izin kepada mertuanya untuk menginap di rumah Papanya.
Gienka menekan bel yang ada di pintu rumah Papanya. Tidak lama pintu dibuka oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah bapaknya itu. "Oh non Gienka."
Gienka tersenyum. "Malam mbak, Papa ada mbak???" Tanya Gienka.
"Oh ada Mbak. Pak Ariel sedang ada di ruang kerjanya. Ibu Maysa di kamarnya Nona Geffie, mari silakan masuk."
Gienka pun masuk ke rumah Papanya Itu. "Aku langsung menemui Papa saja ke ruang kerjanya ya mbak ya???"
"Oh iya silakan, saya juga sedang Menyiapkan makan malam. Non mau minum apa???"
"Jus aja deh, aku sedang ingin jus melon."
"Baiklah nanti saya antar, saya permisi ke dapur dulu."
"Makasih ya Mbak..??"
"Sama-sama. Saya permisi ya."
Gienka pun berjalan menuju ruang kerja Papanya yang ada di lantai satu, pintu ruangan itu tertutup, Gienka mengetuknya dan meminta izin untuk masuk sampai kemudian Papanya menyuruhnya masuk.
"Eh Gienka sayang, kau datang dengan siapa???" Tanya Ariel sembari memeluk putrinya.
"Aku diantar supir Pa."
"Duduklah, jangan berdiri terlalu lama nanti kalau kelelahan. Lihatlah tubuh kurus mu itu harus menopang perutmu yang sudah besar, bagaimana keadaanmu dan juga keadaan cucu papa???"
"Sangat baik, kami berdua sangat sehat."
"Papa Iel senang kau databg, kau jangan terlalu sedih karena bentar lagi suamimu akan pulang
"Kau pasti ingin bertemu dengan adikmu y???a jangan naik ke atas, Papa akan menghubungi nya supaya dia dan Mamamu turun kau duduk di sini saja."
Gienka tersenyum memang sejak dia hamil dan kehamilan perutnya sudah membesar. Papanya melarangnya untuk naik ke lantai dua rumah mereka dan Gienka juga sudah disiapkan kamar di lantai 1 yang ada di rumah ini supaya dia bisa beristirahat dan tidak perlu capek-capek untuk naik ke lantai 2 gimana kamarnya berada.
"Iya Pa."
dan Geffie pun turun dan mereka masuk ke ruang kerja Ariel melihat Gienka. Geffie pun langsung memeluk. "kakaknya apa kabar???"
"Sangat baik sekali."
"Bagaimana dengan keponakanku ini???" Geffie pun mengelus perut kakaknya.
"Dia sangat sehat.."
"Syukurlah"
"Selamat untuk kelulusanmu. Kakak sangat bangga sekali karena kau mendapatkan nilai yang sempurna. Jadikan tidak membuatku malu."
"Dih kakak, aku juga tidak boleh kalah dong kalau dulu Kakak juga dapat nilai yang sempurna tentu aku juga harus mendapat nilai yang sempurna benar kan???"
"Sangat benar sekali."
"Kalian berdua duduklah!!!" Ucap Ariel.
Geffie dan Gienka pun duduk di sofa tidak lama pesanan juz Gienka juga sudah diantarkan cinta langsung meminum jus melon pesanannya.
***
Garviil menghampiri Papa nya yang duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumah mereka. Doa sudah selesai, dan orang-orang sudah pulang. Papa nya sedang duduk bersama dengan Mama nya. Garviil menghampiri mereka dan bergabung.
"Vicky mana Viil???" Tanya Mama nya.
"Ada di bawah Ma. Dua sedang menelepon." Jawab Garviil.
"Mama turun sebentar untuk menemui adikmu, mengobrol lah dengan Papaku." Mama Garviil beranjak dan meninggalkan suami serta putranya untuk turun.
"Besok kau mau ikut Papa ke kantor lagi???" Tanya Papa Garviil.
"Ehhh besok Garviil ada janji dengan teman, Papa pergi saja dengan Vicky dan ajari dia." Garviil tersenyum.
"Ya sudah Lalau kau tidak i gin ikut ke kantor."
"Oh iya Pa, tadi aku sempat membaca kalau Perusahaan kita bekerja sama dengan Emma's group, bukankah itu perusahaan Real estate dan Properti yang besar???" Tanya Garviil.
"Ya, kau benar sekali, itu perusahaan besar. dan jadi nomor satu di Indonesia untuk perusahaan sejenis."
"Wow hebat juga ya Papa bisa menjalin kerja sama dengan mereka."
Papa Garviil tersenyum. "Papa di kenalkan oleh rekan Papa dengan pemilik perusahaan itu, kau ingat Randy???"
Garviil tampak diam dan mencoba mengingat sesuatu. "Om Randy pemilik Dealer RD Luxury Car???"
Papa Garviil tersenyum. "Ya, Randy yang itu, dia adalah sahabat baik nya CEO Emma's Group, namanya Ariel Harsha. Papa di kenalkan oleh Randy dengannya, dan setelah itu perusahaan kita menjalin kerja sama dengan Emma's Group, seluruh kendaraan hingga alat berat untuk proyek dari Emma's Group di sewa dari kita, Emma's Group mempercayakan semua proyeknya kepada kita di wilayah Jakarta dan sekitarnya."
"Oh wow...!!!"
"Ariel Harsha selama ini di kenal sangat dingin dan sulit sekali untuk bisa menjalin kerja sama dengan perusahaannya, tetapi karena Randy, Papa dapat kesempatan yang langka dan kenal baik dengan Ariel. Ternyata orangnya tidak sedingin yang orang lain katakan, dia sangat profesional dan bekerja dengan sangat baik dan teliti. Kapan-kapan kau juga harus bertemu dengannya."
Garviil tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Tentu saja dia harus bertemu dengan Ariel, karena Ariel adalah Papa nya Geffie.
"Papa tahu dia tinggal dimana???" Tanya Garviil.
Papa nya mengerutkan kening. "Kenapa kau ingin tahu dimana dia tinggal???"
"Ah tidak Pa, hanya ingin tahu saja."
"Papa belum pernah ke rumahnya dan hanya ke kantornya saja beberapa kali, tapi Papa pernah di beritahu oleh Randy jika Ariel tinggal perumahan mewah Green Jasmine." Papa Garviil kemudian memberitahu alamat lengkap Ariel yang dia tahu dari Randy.
Garvi tersenyum , dia sudah dapatkan alamat rumah Gefgie dan besok dia akan datang kesana dan menjemput Geffie sekaligus bertemu dengan orang tua Geffie.