
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Vicky dan Tiffany menghabiskan waktu merreka untuk menonton televisi sembari mengbrol. Tiffany sudah mengatakan iya untuk menerima dan memberi kesempatan Vcky untuk bisa dekat denganntya. Dan mereka akan mencoba untuk mulai dekat. Mereka juga setengah hari ini mengobrol banyak hal dan juga bercanda. Kedua nya sangat cocok sekali. Sekarang mereka sedang menonton serial romantis tetapi wajah kedua nya langsung berpaling ketika ada adegaan ciuman yang sangat panas, saat itu wajah kedua nya justru saling berpandangan dalam diam cukup lama dan napas mereka saling beradu. Vicky memegag dagu Tiffany dan mendekatkan ke wajahnya.
Wajah Vicky dan Tiffany berdekatan begitu juga mulut Vicky sangat dekat dengan bibir Tiffany, hingga napas mereka beradu, Vicky menundukkan kepalanya,mencium sisi leher Tiffany, membuat Tiffany berjingkat. Vicky merayap dan mendarat di bibir Tiffany.
Vicky mengecup sedikit ujung bibir Tiffany, lalu Iidahnya meneIusup masuk,membuka bibir Tiffany yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Tiffany yang hangat dan panas. Iidahnya mengait Iidah Tiffany dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli. Ketika Vicky melepaskan bibirnya, napas Tiffany terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya. Tiffany sangat menikmati nya. Ciuman itu sangat luar biasanya.
"Do you like it????" Vicky berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Tiffany. "I really like your lips, and the sensation of their softness on my lips...." Vicky sangat menyukai bibir Tiffany, dan sensasi kelembutannya di bibirnya tangan Vicky merayyap ke bawah, meraba kulit leher Tiffany.
Jemari Vicky menyingkap rok Tiffany dan meneIusup ke dalam sana, untuk menggoda pusat gaiirahnya. Dan Tiffany hanya diam untuk menikmatinya. Vicky mendorong tuubuh Tiffany perlahan ke sofa. Vicky mengangkat pakaian Tiffany dan meIepaskannya satu persatu, membiarkan paayudarra Tiffany terbuka bebas untuknya.
"It's mine” Vicky menyentuh payyudarra Tiffany dan menggodanya,menikmati ketika mendengar eraangan tersiksa Tiffany. Vicky mengecup ujung payyudarra Tiffany, mencecapnya dengan Iidahnya. Lalu bibirnya berpindah meneIusuri bagian samping payyu darraTiffany, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak- jejak bassah dan panas di sana.Tiffany meIengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Merasakan lelaki itu mencuumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, geIenyar paanas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.Dan jemari Vicky menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Tiffany sesuka hatinya. Tubuh Tiffany meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Vicky, tapi lengan Vicky yang kuat menahan tubuhnya. Kemudian bibir Vicky mengikuti jemarinya. Tiffany terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya. Seketika dia menegakkan tubuhnya.
Tiffany meIengkungkan punggungnya dan mengeraang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan Iidah Vicky di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas. Paanas bertemu panaas dan dia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.
Vicky terus mencuumbu pusat gaiirah Tiffany menyatakan kepemilikannya. Dan ketika Vicky selesai bermain-main, Tiffany sudah terbaring, lemas, dan tidak berdaya dengan nafas terengah~engah dan tubuh membara. Vicky menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Tiffany. Dada bidangnya menggesek payyu daara Tiffany, dan Tiffany merasakan kejaanttanan Vicky yang begitu keras menyentuh paahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Tiffany inginkan. Vicky menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Tiffany. Dan Tiffany merasakan tubuh Vicky yang keras dan paanas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geIenyar kenikmatan yang makin menghujam.
Sementara itu, Victor dan Aire naik ke lantai di mana apartemen Tiffany berada mereka sudah puas berjalan-jalan dan menikmati waktu bersama Aire kemudian mengajak Victor untuk pulang ketika hari sudah sore karena Aire lelah dan ingin beristirahat.
"Aku akan mengantarmu pulang, nanti atau kau ingin di tempat Tiffany saja???" Tanya Victor.
"Ah tidak, aku ingin pulang saja dan beristirahat, aku juga harus melakukan beberapa hal di apartemen. Tadi pagi aku belum sempat membersihkan dan lain-lain juga."
"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan mengantarmu pulang tetapi kita harus menjemput Vicky dulu dan juga lukisanmu yang diberikan olehnya juga harus kau bawa pulang kan??"
"Iya."
Sampailah mereka di depan apartemen Tiffany, karena sudah biasa Aire pun langsung membuka pintu itu dan ternyata pintu juga tidak dikunci, kemudian masuklah dia dan Victor tetapi betapa terkejutnya Aire saat mendapati Tiffany sedang bercinta dengan Vicky. "Astaga..." Sontak Aire terkejut dan langsung berbalik badan sedangkan Victor hanya menggelengkan kepalanya saja. Ini bukan hal yang mengejutkannya karena memang dia sendiri sering memergoki adiknya itu bercinta dengan perempuan.
Vicky berhenti dan tidak bergerak, menoleh ke belakang mendapati kakaknya diam memandangi nya.
"Astaga.... Kau ini Vic, lanjutkanlah dan Pulanglah sendiri nanti, aku akan mengantar Aire." Victor pun berbalik badan kemudian merangkul Aire dan mengajak perempuan itu keluar lagi dari apartemen Tiffany.
Jujur Airei masih sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tiffany berhubungan dengan Vicky yang Aire tau Vicky bukanlah kekasih Tiffany tetapi sahabatnya itu benar-benar tidak bisa ditebak.
kau jangan terkejut Vicky memang sering seperti itu ucap Victor
"Aku sangat terkejut sekali karena Tiffany melakukan hal itu bukan dengan kekasihnya, itu baru pertama aku melihatnya."
"Ya mau bagaimana lagi itu seperti sudah biasa terjadi di sini kan??? Aku akan mengantarmu pulang atau kau ingin ke cafe dulu. Aku benar-benar lapar sekali, tadi kau aku ajak mampir untuk makan tidak mau."
"Ya sudah. kita ke cafe saja dulu, sebenarnya aku juga lapar hanya saja tadi Aku tidak enak saja kita perginya sudah terlalu lama takutnya mereka terlalu lama menunggu kita, tapi ternyata?????" Aire tidak melanjutkan lagi perkataannya dan Victor hanya melempar senyum mereka pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan apartemen itu menuju Cafe.
"Tiffany.." Vicky mengerrang merasakan tubuh Tiffany yang panaas, haIus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin. Ketika Vicky bergerak, Tiffany mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi. Vicky menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Tiffany dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.
Sedetik kemudian, Vicky membawa Tiffany melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgaassme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan. Vicky mengangkat tubuhnya dari Tiffany yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgaassme. Vicky berbaring di sebelah Tiffany dan mengecup bibr perempuan itu. Mereka yakin mereka tidak akan pernah bisa melupakan hari ini, setiap detiknya.
****
Andro menghampiri mereka sambil tersenyum. "Kalian datang berdua??? Pasti baru selesai jalan-jalan ya???" Tanya Andro.
"Iya, kami baru saja selesai jalan-jalan." Jawab Aire.
"Lalu di mana Vicky??? Bukankah tadi dia pergi bersama dengan mu???" Tanya Andro pada Victor.
"Dia masih ada di apartemen Tiffany, dia sudah dewasa, nanti juga pasti akan pulang sendiri, bawakan aku makanan, aku sangat lapar sekali. Bukan aku saja sih tapi Aire juga." Sahut Victor.
"Kalian ingin makan apa???" Tanya Andro, kemudian Victor dan Aire pun memesan makanan yang mereka ingin makan untuk mengenyangkan perut mereka setelah seharian jalan-jalan, setelah memesan makanan, Andro pun berpamitan untuk menyiapkan makanan mereka.
"Besok kau kuliah???" Tanya Victor.
"Tidak sih, sebenarnya 1 minggu ini aku tidak ada kelas dan besok aku ingin di apartemen saja. Aku ingin menonton live streaming keberangkatan keberangkatan kakak iparku."
Victor mengernyit. "Keberangkatan Kakak iparmu???? Memangnya dia mau ke mana???"
Aire tersenyum. "Besok kakak iparku akan berangkat ke luar angkasa, dia akan bertugas di sana sekitar 6 bulan dan besok roketnya akan membawanya ke ISS."
"Oh iya, Kakak iparmu kan Astronot ya??? Boleh juga, aku juga ingin menonton ya hehehe."
"Lusa aku juga akan pergi ke Washington DC untuk menemui kakakku, setelah suaminya pergi ke luar angkasa, keluarga suami kakakku akan menjemput kakakku dan mengajaknya kembali ke Indonesia, tetapi sebelum kembali ke Indonesia kakakku akan mampir ke Washington DC dulu, karena beberapa barang harus diantar ke sana dan kakakku akan pulang ke Indonesia selama suaminya pergi. Aku ingin pergi ke sana dan bertemu dengannya karena aku akan berpisah dengan kakak, lagi pula aku juga tidak bisa ikut ke Indonesia. Kan aku masih harus menyelesaikan beberapa hal di sini sampai nanti aku lulus." Ujar Aire.
"Oh jadi kakakmu akan pulang ke Indonesia dan kau ingin menemuinya ke Washington DC, itu bagus karena kalian kan akan berpisah cukup lama."
"Ya, itu dia makanya aku ingin bertemu dengan kakak, aku juga kangen sekali dengannya."
Victor tersenyum. "Kau pasti dekat sekali dengan kakakmu..."
Aire menganggukkan kepala nya. "Sangat dekat sekali, meski kami bukan satu ibu, tetapi sejak kecil kami selalu bersama, aku juga punya satu saudara laki-laki lagi, kami bertiga sangat dekat sekali."
"Oh jadi kau masih punya saudara laki-laki lagi??? Wow pasti menyenangkan sekali."
"Iya, dia seumuran denganmu. Dia anak dari Mama nya kak Gienka."
"Sekarang dia dimana???" Tanya Victor.
"Dia ada di Indonesia tentu saja."
"Apa dia juga kuliah disini???"
Aire menggelengkan kepala nya. "Dia kuliah di Oxford."
"Benar-benar luar biasa sekali..."