Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Menemui Dokter))



Garviil duduk di sana, mengamati Geffie yang terbaring di pangkuannya. Hasraatnya untuk memiliki perempuan ini begitu besar, tidak pernah dia rasakan sebelumnya pada perempuan manapun. Perempuan ini adalah hasraatnya. Dan setiap kali pula Garviil rela melepaskan apa yang menjadi hasraatnya, demi keharusan untuk memikul sebuah tanggung jawab. Kali ini itu tidak akan terjadi. Garviil akan mempertahankan Geffie di sampingnya. Lelaki itu lalu menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Geffie yang terlelap dengan lembut.


“Aku mencintaimu, Geffie.” Gumamnya.


Geffie bangun di pagi hari dengan badan segar, dia membuka matanya dan menatap ruangan yang temaram. Masih sangat pagi sepertinya di luar, meskipun sinar matahari sudah menembus dengan malu-malu melalui gorden jendela. Sejenak dia merasa bingung, kenapa dia tidur di ruang tamu. Tetapi dia lalu sadar.


Garviil...


Dengan gerakan pelan, Geffie melihat ke atas dan menyadari bahwa kepalanya ada di atas bantal kecil di pangkuan Garviil. Lelaki itu tertidur pulas sambil terduduk, tubuhnya menyandar ke sofa dan kelihatannya sangat lelap. Geffie bergerak perlahan supaya tidak membangunkan Garviil. Tetapi rupanya Garviil terbiasa waspada ketika tidur karena dia langsung membuka matanya.


Mereka bertatapan, di pagi yang temaram dan udara dingin yang menguar sejuk dari jendela. Lalu Garviil tersenyum lembut.


“Selamat pagi!!!!”


Tiba-tiba Geffie merasa malu. Lelaki itu baru bangun dari tidurnya dan tetap terlihat sempurna, sedangkan penampilannya sekarang pasti sudah amburadul.


“Aku baik-baik saja.” Gumam Geffie.


“Sakit perutmu???” Tanya Garviil.


“Sudah mendingan.” Dengan gerakan canggung, Geffie duduk dan menjauh dari Garviil, menyadari bahwa semalaman mereka sudah tidur bersama.


“Izinkan aku membuatkan sarapan untukmu.” Garviil melirik ke arah kantong kertas makanan yang dibawanya dari cafe yang tidak tersentuh. “Mungkin makanan ini masih bisa diselamatkan.”


Garviil kelihatan tidak canggung sama sekali, seolah-olah tempatnya memang di sini. Dia meraih kantong kertas itu, setengah bersenandung melangkah ke dapur Geffie, dan memasak. Geffie sejenak termangu, menatap Garviil yang tampak begitu luwes dan santai memasak di dapur, lelaki itu tampak menikmatinya.


“Aku akan ke kamar mandi dulu ya.????” Gumam Geffie pelan dari sofa.


Garviil yang sedang memasak omelet beraroma harum dari bahan-bahan yang dia temukan di kulkas Geffie, menoleh dan tersenyum lembut. “Silahkan. Ketika kau kembali, makanan sudah siap.”



Dan Garviil memang benar. Ketika dia selesai mandi, dapur itu beraroma harum dengan telur dan daging asap yang sudah digoreng, serta aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan.


“Makanlah!!!!!” Garviil mengedipkan sebelah matanya. “Sarapan spesial dari koki paling tampan di dunia!!!” Gumamnya menggoda.


Geffie terkekeh geli, dan Garviil meninggalkannya sebentar untuk ke kamar mandi.


Ketika kembali rambut Garviil basah dan dia tampak segar. Geffie sudah menyeruput kopinya dan mencicipi sedikit omelet yang luar biasa enaknya itu.


“Suka????” Tanya Garviil lembut.Dia duduk di seberang Geffie di meja makan itu lalu menyesap kopinya yang masih mengepul panas.


Geffie menganggukkan kepalanya. “Aku tidak pernah memakan omelet yang begitu enaknya. Omelet buatanmu memang lezat.” Gumam Geffie sambil tersenyum.


Tatapan Garviil di atas cangkir kopinya tampak begitu intens. “Kalau kau menikah denganku, aku berjanji akan membuatkan sarapan untukmu setiap pagi.”


Hampir saja Geffie tersedak omeletnya, dia mendongak dan menatap Garviil terkejut,


“Apa???”


Garviil terkekeh dan barulah Geffie sadar bahwa Garviil sedang menggodanya. Pipinya langsung memerah karena malu. “Tidak lucu, tahu.” Gumamnya sambil cemberut,


Garviil masih terkekeh, tetapi matanya bersinar dengan serius, “Aku tidak sedang melucu Geffie, bayangan itu ada di benakku. Kau dan aku menikah, lalu hidup bahagia selama-lamanya.”


Geffie merasakan jantungnya berdebar keras akibat kata-kata Garviil. “Bukankah masih terlalu dini membicarakan ini????”


“Ya.” Garviil menganggukkan kepalanya, tidak membantah kata-kata Geffie. “Tetapi aku tahu apa yang kurasakan, perasaan nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya kepada siapapun. Aku bisa saja duduk di sini berdua denganmu, tidak melakukan apa-apa dan tidak merasa bosan.” Lelaki itu menyentuh jemari Geffie dari seberang meja dan menggenggamnya sungguh-sungguh. “Beginilah yang kubayangkan akan kulalui bersama istriku nanti. Duduk bersama setiap pagi, mengawali hari dengan bahagia, lalu berpelukan ketika malam tiba.”


Kata-kata Garviil terdengar luar biasa indah sehingga Geffie terpesona. Dia membiarkan tangannya dalam genggaman Garviil dan menghela napas panjang.


“Boleh aku jujur kepadamu. Vicky berkata bahwa orang tua mu memiliki perusahaan besar, tidak hanya mencakup cafe dan restoran, tetapi ternyata kau seorang putri dari milyader. Kenapa Geff kau tidak mengatakan semuanya kepadaku???? Apakah kau tidak mempercayaiku???? Apakah kau berpikir bahwa aku mungkin hanya mengincar hartamu?“ Garviil tiba-tiba merasa terhina. “Kalau kau memang berpikir seperti itu, kau bisa tenang, aku tidak butuh hartamu."


"bukan seperti itu, aku tidak pernah suka membahas kekayaan orang tuaku, karena itu milik mereka bukan milikku. Jadi untuk apa membicarakannya. Dan kau sendiri juga sama, kau tidak hanya punya cafe itu saja kan?? Kau punya perusahaan disini."


Garviil tersenyum. "Ya begitulah.... Tapi untuk apa juga menyombongkan diri."


Geffie menggenggam erat jemari Garviil. “Aku merahasiakannya karena takut kau merasa canggung dan lari dariku. Aku hanya ingin kau memandangku sebagai gadis biasa, bukan sebagai anak dari seorang miliarder yang berkuasa.”


Gerviil tercenung, menerima betapa benarnya kata-kata Geffie. Kalau dari awal Geffie mengatakan bahwa dirinya sangat kaya, mungkin dia akan merasa ngeri untuk lebih dekat.


Kedekatan ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Ada suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka, membuat dunia mereka saling tarik menarik. Dan bahkan Geffie bisa membayangkan kata-kata Garviil itu, mereka bersama-sama di pagi hari, memulai hari dengan bahagia dan berakhir di pelukan satu sama lain.


“Apakah kita akan berakhir di sana??? Di impianmu tentang hidup bahagia selama-lamanya?” tanya Geffie lemah.


Garviil tersenyum lebar. “Tentu saja Geffie, Happy Ending, seperti akhir dari setiap novel romantis yang kau baca.”


⧫⧫⧫


Siang harinya.......


“How??” Garviil bertanya cepat ketika Paul memasuki ruangannya. Paul memang sangat tampan, dia adalah sahabat Garviil ketika kuliah disini. Dan Paul adalah pengusaha muda sukses yang kemudian mengembangkan bisnis hiburan mencakup salon, butik, dan bakery serta rumah makan yang kebanyakan dibangunnya bekerjasama dengan Garviil.


"She's fascinated with me of course."Paul terkekeh mengatakn jika Bianca terpesona kepada nya "But not enough to embolden her to make the decision to cancel the wedding." Tetapi belum cukup untuk membuat Bianca berani mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan nya dengan Gaviil.


"You did everything I told you, didn't you???" Garviil bertanya apakah Paul sudah melakukan semua yang  dia katakan kepada Paul.


"Of course, perfectly. I visited her at her house, brought her favorite roses, she was surprised that I could know her favorite.  Then I told her about cats, as you know Bianca loves cats and has dozens of them at home. And once again she was stunned because I had so much in common with her. Everything was perfect from the dinner, the gentle attitude and one hundred percent attention. I'm sure her heart has already turned, there just hasn't been anything to make her make that important decision. Like you said, you want to prove that she can betray you, right?" Ujar Paul lagi memberitahu jika Tentu saja dia menjalankan semua keinginan Garviil, dengan sempurna. Dia mengunjungi Bianca ke rumahnya, membawakan bunga mawar kesukaannya, Bianca terkejut karena Paul bisa mengetahui kesukaannya.  Lalu Paul menceritakan tentang kucing, seperti yang Garviil informasikan bahwa Bianca sangat menyukai kucing dan punya puluhan kucing di rumahnya. Dan sekali lagi perempuan itu terperangah karena Paul mempunyai banyak sekali kesamaan dengan dirinya. Semuanya sempurna mulai dari makan malam, sikap lembut dan perhatian seratus persen. Paul yakin hati Bianca sudah berpaling, hanya saja belum ada sesuatu yang membuatnya mengambil keputusan penting itu. Seperti yang Garviil katakan, bahwa Garviil ingin membuktikan bahwa Bianca mungkin bisa mengkhianatinya lagi atau tidak. Paul menatap Garviil tajam. “She didn't resist when I kissed her and we ended up making out, you're the one who asked me to do it if she didn't resist, and she did enjoy it." Ujar Paul. Memberitahu jika Bianca tidak menolak ketika Paul menciumnya dan mereka berakhir dengan berciinta, Garviil yang memintanya untuk melakukan itu jika Bianca tidak menolak, dan dia memang tidak menolak justru menikmatinya.


Sebuah bukti. Sebuah kenyataan akan pengkhianatan. Garviil sudah menduga bahwa Bianca tidak akan mampu bertahan. Perempuan itu mengatakan sangat mencintainya. Tetapi kalau dia sungguh mencintai, dalam keadaan apapun cinta tidak akan semudah itu tergoda untuk berkhianat. Mungkin sejak awal Bianca tidak mencintainya, mungkin perempuan itu hanyalah terobsesi untuk memilikinya.


"Then maybe it's time I met Bianca." Kalau begitu mungkin ini saatnya Garviil bertemu dengan Bianca.


⧫⧫⧫


Ketika Garviil datang, Bianca sangatlah gugup. Garviil sudah lama sekali tidak berkunjung. Dan Bianca... sudah terlalu sering menghabiskan waktunya bersama Paul hingga sampai di titik dia sudah tidak peduli lagi apakah Garviil akan datang atau tidak.


Tetapi pernikahan mereka sudah dekat, pernikahan itu adalah puncak impian Bianca untuk bisa memiliki Garviil pada akhirnya, dan dia tidak akan mundur. Bianca hanya berharap dia masih bisa menghabiskan waktu bersama Paul, mereguk seluruh perhatian yang tidak didapatkannya dari Garviil sebelumnya, dan semoga saja Garviil tidak akan tahu tentang perselingkuhannya sehingga pernikahan mereka akan berjalan mulus.


“Kemana saja kau selama ini ???.” Bianca memasang wajah merajuk, “Aku sampai berpikir bahwa kau mungkin sudah melupakanku.”


“Aku sangat sibuk Bianca, kuharap kau mengerti.”


Bianca mendesah sedih, “Selalu begini Garviil, apakah nanti di kehidupan perkawinan kita juga akan seperti ini? Kau sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikan aku?”


Garviil mengangkat bahunya, “Itulah konsekuensi kau menikah denganku, tidak akan berubah meskipun kita menikah. Aku mempunyai tanggung jawab yang besar di perusahaan yang tidak mungkin aku abaikan begitu saja. Kalau kau tidak siap menghadapinya kau bisa mundur.”


“Apa?” wajah Bianca langsung pucat pasi.


Sementara itu Garviil memasang wajah datarnya, “Aku tidak bisa menjadi suami yang perhatian seperti yang kau inginkan, tidak akan pernah bisa. Kalau kau tidak siap menanggung kesedihan karena tidak pernah mendapatkan perhatian dari seorang suami, kau bisa mundur sekarang Bianca agar kau tidak menyesal. Kau tahu, aku tidak pernah memaksamu untuk menikahiku, untuk menjadi isteriku.”


“Teganya kau!” Bianca berteriak, dan berurai air mata, “Kau sengaja melakukannya bukan? Kau sengaja mengabaikanku agar aku merasa tidak kuat dan membatalkan pernikahan ini? Kau ingin aku meninggalkanmu bukan? Agar kau tidak perlu memiliki istri yang lumpuh dan cacat sepertiku. Cacat karena kau!!”


Perkataan Bianca itu membuat wajah Garviil memucat, tetapi dia mengendalikan diri dan berusaha membuat ekspresinya tetap datar.


“Well kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau! Karena aku tetap akan melanjutkan pernikahan ini! Apapun yang terjadi kau tetap akan menjadi suamiku dan aku akan menjadi istrimu!”


Lalu dengan marah Bianca memutar kursi rodanya, memasuki rumah dan meninggalkan Garviil berdiri di teras itu.


⧫⧫⧫


Geffie sedang tidak ada pekerjaan. Dia menghabiskan harinya dengan bermain game ponselnya sampai merasa bosan. Kemudian dia mencari data-data tentang Garviil di internet teutama di sosial media milik Gaviil.. Bahwa kita tinggal memasukkan sebuah nama saja di mesin pencari sosmed, maka dia akan menemukan banyak informasi tentangnya.


Dengan iseng, Geffie membuka mesin pencari di internetnya, dan memasukkan nama lengkap Garviil di sana. Dalam beberapa detik, deretan hasil pencarian muncul.


Geffie menelusurinya dengan sangat tertarik. Dengan tertarik Geffie, Ada postingan foto dari akun Garviil. Tidak banyak karena biasanya pria tidak terlalu terbuka untuk kehidupan pribadinya.


Geffie melihatnya satu persatu dengan sangat tertarik, menelusuri keseharian Garviil dalam bentuk foto. Ternyata Garviil seorang yang cerdas, dan lulusan terbaik kampusnya, ada foto wisuda Garviil dan keluarga nya dan juga beberapa foto lainnya, Geffie kemudian membuka kolom tanda foto, dimana disana biasanya akan muncul foto dari orang-orang terdekat Garviil yang menandai Garviil jika mereka sedang foto bersama Garviil. Geffie melihat satui persatu, hingga di paling bawah dia melihat....


Mata Geffie berkerut pada sebuah foto dari sebuah akun bernama Bianca, ada foto Garviil dengan seorang perempuan dan memeluk perempuan itu dan keduanya tersenyum bahagia, ada juga foto lain dimana Garviil mencium perempuan yang sama. Geffie membuka akun perempuan itu, dan betapa terkejutmnya dia ketika membaca bio di akun itu dimana terdapat gambar cincin dan ada nama akun Garviil disana beseta tanggalnya, menandakan bahwa Garviil sudah bertunangan dengan perempuan itu yang dipacarinya selama empat tahun.


Jantung Geffie berdebar keras, sebuah kejutan lagi.... Garviil sudah bertunangan??? Geffie mengecek foto di akun itu. Dan ada foto perempuan itu sedang memotret rancangan sebuah gaun dan lagi-lagi menandai nama akun Garviil. Dan dari akun itu, dikatakan bahwa tahun ini mereka akan menikah.


Dunia seakan runtuh di bawah kaki Geffie.


))))(((


))))(((


Garviil meninggalkan rumah Bianca dengan marah. Marah besar. Berani-beraninya Bianca mengancamnya seperti itu, padahal Bianca sendiri telah mengkhianatinya bersama Paul. Apakah Bianca pikir Garviil tidak akan tahu???? Apakah Bianca pikir Garviil begitu bodohnya????


Dengan kencang dia mengendarai mobilnya, dia butuh bertemu dengan Geffie. Di saat kemarahannya menggelegak seperti ini, hanya Geffie yang bisa menenangkannya.


Ketika sampai di depan cafe, Garviil memarkir mobilnya dengan sembrono. Dia tergesa memasuki cafe itu, hendak mengambil beberapa makanan kecil untuk dibawa ke apartemen Geffie, tadi dia sudah berjanji untuk datang jam sembilan malam ke sana. Tetapi kemudian langkahnya tertegun, melihat ke kursi di bagian sudut, tempat favorit Geffie ketika duduk, dan melihat sosok itu di sana.


"Geffie??? Kenapa dia ada disini??? Bukankah dia masih sakit???" Gumam Garviil dalam hati.


Garviil melangkah mendekat, kerinduannya meluap. Dia ingin memeluk gadis itu ke dalam pelukannya, untuk menenangkan hatinya dari kemarahannya terhadap Bianca.


“Geffie, kenapa kau ada di sini??? Bukankah kita janji bertemu di apartemenmu???”


Geffie mendongak dan Garviil tercekat, tatapan mata Geffie kepadanya penuh kemarahan... kemarahan yang dibalut dengan luka. Geffie menunjukkan ponselnya pada Garviil, dimana di layar ponsel itu ada postingan dari akun sosial media milik Bianca, menunjukkan fotonya dan Bianca yang berpelukan.


Seketika itu juga Garviil menyadari bahwa Geffie sudah tahu mengenai pertunangannya dengan Bianca.


“Kau membohongiku!!!” Suara Geffie bergetar meskipun dia tampak berusaha tegar, Garviil melirik ke anggur merah yang dibawa Geffie, dan mengernyit. Perempuan itu sudah menghabiskan lebih dari satu gelas.


“Aku bisa menjelaskannya kepadamu, Geffie.”


“Tidak!!!!” Geffie menyela dengan keras, lalu tertawa ironis. “Ironis bukan??? Aku meninggalkan kekasihku karena dia berselingkuh dengan perempuan lain, tetapi sekarang aku malah menjadi selingkuhan dari seorang lelaki yang sudah bertunangan.” Matanya menyala penuh kemarahan kepada Garviil. “Kau sangat kejam, Garviil melakukan ini semua kepadaku...!!!!"


“Aku bisa menjelaskannya Geffie, semua ini tidak seperti yang kau kira....??” Ucap Garviil.


“Apakah perempuan bernama Bianca itu benar-benar tunanganmu????” Seru Geffie.


Garviil tertegun, lalu memejamkan matanya dengan pedih. “Ya.”


Air mata mengalir di mata Geffie, menuruni pipinya. Dia tampak amat sangat terluka. “Apakah... apakah... kau mencintainya???” Tanya Geffie.


Mata Garviil menajam. “Apakah aku mencintainya??? Tidak!!! Kau pasti bisa merasakan itu, aku jatuh cinta setengah mati kepadamu, tidak mungkin aku mencintainya.”


“Apakah pertunangan yang kau lakukan dengan Bianca dulu itu berlangsung atas nama cinta????” Geffie bertanya lagi, berusaha menyeka air matanya dengan usapan tangannya.


Garviil memandang Geffie dengan pedih, tidak mampu berbohong. “Pada mulanya semua atas nama cinta... lalu.”


Hati Geffie teriris perih, Garviil sama saja dengan Mike, lelaki itu dulu menjalin hubungan mereka atas nama cinta, kemudian mengkhianatinya begitu saja karena perempuan lain. Oh ya ampun! Teganya Garviil melakukan ini semua kepadanya. Geffie tidak mau mendengar apapun dari Garviil, semua ini terlalu menyakitkan untuk dia tanggung. “Cukup....!!!!!” Geffie menutup telinganya dengan tangan, tidak mau mendengar apapun yang diucapkan oleh Garviil. “Sudah cukup, kau memang penjahat!!!!! Semua lelaki sama saja!!!!!! Mereka semua jahat!”


Beberapa mata tampak melirik ke arah mereka, tetapi Geffie tidak peduli. Dia terlalu marah dan sakit untuk peduli, dia beranjak pergi.


“Aku mencintaimu Geffie!” Garviil setengah berdiri, berusaha meraih lengan Geffie dan menahannya. Tetapi Geffie yang sudah begitu marah, meraih gelas anggur yang tinggal setengah dan menuang isinya ke wajah Garviil,


“Pergi saja ke laut dan buang cintamu itu. Aku tidak pernah menerima cinta dari seorang pengkhianat!!!!!” Gumamnya marah. Meninggalkan Garviil yang masih terpaku di sana, basah oleh anggur yang dituangnya.


Geffie menoleh, menyadari bahwa Garviil masih duduk di sana, menatapnya dari kejauhan, tetapi tidak berusaha mengejarnya.  Airmata mengalir di matanya ketika melirik cafe itu untuk terakhir kalinya sebelum  ia menyeberang menuju apartemennya. Hatinya hancur lebur, kali ini jauh lebih sakit daripada ketika Mike mengkhianatinya. Jauh lebih pedih dan menyakitkan. Karena Geffie sadar, bahwa dia sudah mencintai Garviil dengan sangat dalam.


Andro datang membawakan handuk untuk Garviil. Garviil menerimanya dengan tatapan kosong, menggunakannya untuk mengelap wajah dan rambutnya yang basah oleh anggur.


“Tidak berjalan seperti yang seharusnya ya????”


Garviil termenung pedih. “Tidak!!!!”


“Lalu apa yang akan kau lakukan setelahnya????” Tanya Andro.


Pikiran Garviil bergejolak. Antara kemarahan yang makin menggelegak atas kata-kata Bianca kepadanya tadi, bercampur pada kemarahan ke dirinya sendiri karena dia terlalu lambat dan membuat Geffie mengetahui mengenai pertunangan itu sebelum waktunya.


“Aku akan berbuat sesuatu. Nanti.” Gumamnya dingin.


Malam itu, Garviil duduk di cafe semalaman, menatap ke arah jendela, ke arah apartemen Geffie. Garviil menyesal kenapa dia tidak memeriksa sosial media nya dan menyembunyikan semua nya dari Geffie. Andai itu bisa dia lakukan tentu semua ini bisa dia antisipasi sebelumnya. Dia benar-benar lupa. Garviil menyesal sekali.


******


Keesokan harinya, Garviil masih merenung di apartemennya ketika pintunya diketuk.


“Masuk.” Gumamnya tak bersemangat.


Pintu itu terbuka dan Vicky melangkah masuk dengan gaya santainya, dia mengangkat alis melihat Garviil yang tampak begitu murung. “Tidak bekerja hari ini???”


Garviil melirik Vicky dengan dingin. “Tidak!!!!"


“Apa yang kau lakukan di sini????” Tanya Garviil.


“Aku memang ingin mampir menengokmu, tetapi beberapa pelayan di bawah tampaknya sedang asyik membicarakan insiden semalam. Dimana seorang perempuan menumpahkan anggur dari gelasnya ke sang pemilik cafe.” Vicky terkekeh. “Tidak ada perempuan lain yang berani melakukan itu padamu, dan kau membiarkannya Garviil. Kecuali Geffie. Hahaha..."


Garviil hanya terdiam, meneguk kopinya dengan frustrasi.


“Apakah pada akhirnya Geffie tahu tentang Bianca???” Tanya Vicky kemudian.


Garviil mengganggukkan kepalanya. “Dia tahu itu dari sosial media, sepertinya dia memeriksa sosial media ku dan menemukan akun Bianca yang menandai ku. Dia mengetahui semuanya sebelum aku membereskan rencanaku.."


“Sebelum rencanamu untuk menyingkirkan Bianca eh???” Vicky melemparkan tatapan mata penuh tanya, ingin tahu apa sebenarnya rencana Garviil untuk Bianca. Tetapi kemudian dia sadar bahwa Garviil tidak ingin menjawab pertanyaannya. “Sudah kubilang kau harus hati-hati dan sangat sulit menyembunyikan informasi semacam itu.”


“Aku tahu, aku pikir aku akan punya waktu lebih lama.” Garviil meringis pedih, “Geffie dikhianati oleh kekasih nya, dan dia sekarang menganggap aku sama breengseknya dengan mantan nya itu. Aku sudah berusaha menjelaskan tetapi dia tidak mau mendengarkan aku.”


“Tunggu sampai dia tidak marah lagi.”


“Aku takut dia pergi Vicky, aku takut.... aku... aku tidak akan bisa hidup tanpanya.” Garviil membungkuk, mereemas rambutnya dengan frustrasi


Dan Vicky duduk di sana, mengamati dengan sedih, merasakan hatinya teriris. Baru kali ini Garviil bersedia meninggalkan seluruh tanggung jawabnya, demi mengejar perempuan yang dicintainya. Dan saudara kembarnya itu sekarang harus menghadapi kemungkinan untuk patah hati. Vicky diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana dia harus membantu Victor.


Vicky berdiri di depan pintu rumah Bianca, menunggu. Bianca muncul beberapa saat kemudian dan mengernyit ketika mendongak dan melihat bahwa Vicky yang muncul di sana.


“Ada apa???” Bianca tentu saja bingung, tidak pernah sekejap pun dia menyangka bahwa Vicky akan datang menemuinya. Dia pernah berusaha mengejar Vicky dan ternyata lelaki itu tidak pernah serius kepadanya. Pada akhirnya Bianca memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya kepada Garviil, toh wajah mereka sama... Meskipun jauh di dalam hatinya... dia lebih mencintai Vicky, Vicky yang mudah tertawa, Vicky dengan pakaian santai dan gaya menggodanya yang selalu membuat Bianca berdebar, dan semua hal yang sangat bertolak belakang dari Garviil. Garviil terlalu serius, terlalu formal, dan terlalu datar.


Tetapi Vicky sepertinya tidak menyimpan perasaan yang sama. Sehingga Bianca harus puas memiliki saudara kembarnya yang sangat mirip dengannya.


Vicky menatap Bianca dengan serius, tatapan yang tidak pernah dilihat Bianca sebelumnya karena Vicky selalu penuh canda.


“Aku selalu tahu bahwa kau tidak pernah mencintai Garviil.” Vicky bergumam, membuka percakapan, menatap Bianca dalam-dalam, membuat Bianca mengernyit.


Ketika Bianca bertunangan dengan Garviil, Vicky hanya mengangkat alisnya waktu itu, tidak menolak tapi juga tidak menyetujui. Padahal waktu itu Bianca mengharapkan setitik reaksi kecemburuan dari Vicky, sayangnya ternyata dia tidak tersimpan sedikitpun di hati Vicky. Lalu setelah kecelakaan itu, tatapan tidak peduli Vicky kepadanya berubah menjadi tatapan marah. Ya Vicky tahu tentang pengkhianatan Bianca kepada Garviil tentu saja, dan lelaki itu tampak jijik kepadanya serta berusaha menentang ketika Garviil bersikeras melanjutkan pertunangan itu. Tentu saja Vicky tidak bisa berbuat apapun untuk menghalangi Bianca dan Garviil, sebentar lagi Bianca akan menikah dengan Garviil.


“Kau tidak pernah tahu apa yang kurasakan.” Bianca bergumam, mendongak mentaap Vicky yang masih berdiri dan menunduk ke arahnya,


“Aku tahu.” Tiba-tiba saja Vicky berjongkok di depannya, membuat matanya sejajar dengan mata Bianca. “Aku tahu persis bahwa akulah yang kau cintai.”


Pipi Bianca memerah dan jantungnya berdebar mendengar kata-kata Vicky itu. Apa maksud Vicky sebenarnya???


Vicky mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kotak kecil berwarna hitam dari beludru, di bukanya kotak itu. Isinya sebuah cincin berlian yang begitu indah dan berkilauan.


“Aku mencintaimu Bianca, sudah sedari lama aku memendam perasaan ini. Tapi kau lalu memilih bertunangan dengan Garviil. Aku menunggu lama dan pada akhirnya sadar bahwa kalian berdua tidak pernah saling mencintai. Aku yang mencintaimu, bukan Garviil. Dan aku yakin kau juga mencintaiku.”


“Apa????” Bianca benar-benar terkejut, bibirnya menganga, matanya berganti-ganti menatap cincin berlian itu dan beralih ke wajah Vicky. Tetapi yang ditemukannya di wajah Vicky adalah keseriusan yang dalam.


“Kalau kau bersedia, aku akan menghadap Garviil dan mengungkapkan semuanya, bahwa kita saling mencintai, bahwa kita ditakdirkan bersama. Garviil akan mengerti, apalagi aku sangat yakin bahwa dia tidak mencintaimu. Dia pasti akan memberikan restu kepada kita untuk bahagia bersama.”


Mata Bianca tampak berkaca-kaca. Oh astaga. Vicky nya! Lelaki yang dicintainya dari awal. Bagaimana mungkin dia bisa menolaknya???? Batinnya sendiri sudah mengakui bahwa dia hanya menggunakan Garviil sebagai pelarian, dia mencintai Garviil karena lelaki itu bagaikan perwakilan dari saudara kembarnya, dan yang dicintai oleh Bianca sesungguhnya adalah Vicky.


“Kau... kau tidak sedang mempermainkanku bukan???” Bianca masih meragu meskipun hatinya langsung berbunga-bunga melihat senyum lembut Vicky kepadanya.


“Aku???? Bercanda??? Percayalah padaku, Bianca, aku tidak pernah melakukan ini kepada perempuan manapun, tidak pernah sebelumnya. Hanya kau satu-satunya perempuan yang bisa membuatku berlutut dan menawarkan cincin. Dan aku akan mati karena patah hati kalau kau menolaknya.” Vicky menunjukkan cincin itu lagi dan berubah serius. “Nah, Bianca, maukah kau memutuskan pertunanganmu bersama Garviil dan kemudian bersumpah setia untuk menikah denganku???”


Air mata bahagia membanjiri mata Bianca. “Ya!” serunya bersemangat, dia memajukan tubuhnya, memeluk Vicky erat-erat dan merasa begitu melayang ketika Vicky membalas pelukannya. “Ya. Vicky, aku bersedia! Aku akan menikah denganmu!”


Bianca tidak melihat wajah Vicky yang begitu pedih ketika memeluknya. Vicky sudah terlalu sering berbuat egois, memanfaatkan kebaikan hati Garviil, membiarkan kakaknya itu bertanggung jawab atas semua hal yang seharusnya mereka bagi bersama. Kini giliran Vicky membalas budi, setidaknya dia bisa mengambil salah satu tanggung jawab Garviil yang paling berat. Pemandangan Garviil yang begitu menderita telah mendorongnya untuk berbuat ini. Dia bisa dan dia mampu untuk menolong kakaknya.


Biarlah dia yang mengambil alih tanggung jawab terhadap Bianca, dan membiarkan Garviil bisa mengejar cinta sejatinya. Hubungannya dengan Tiffany belum terlalu jauh, sehingga Vicky tidak akan kesulitan untuk mengakhiri nya dan menyerah di tengah perjuangannya meyakinkan Tiffany. Tidak apa, meski Vicky harus kesakitan karena dia memang sangat menyukai Tiffany. Dia harus melakukan sesuatu untuk Garviil, kakaknya yang selalu menyayangi nya.


*****


“Aku harus berbicara denganmu.” Vicky bergumam di pintu, menyadari Geffie di dalam sana merasa ragu untuk membukanya.


Vicky mendatangi Apartemen Geffie. Dan sekarang lelaki itu sudah berdiri di depan apartemen Geffie, ingin memberikan penjelasan.


“Apakah Garviil yang mengirimmu kemari???” Tanya Geffie dari balik pintu.


“Tidak!!!! Saudaraku itu terlalu menderita untuk berpikir apapun, yang dia lakukan hanyalah mengurung diri di kamar nya dan merenung. Tidak makan, tidur ataupun bekerja, kalau terus-menerus begitu aku cemas dia akan mati.” Vicky mendesah. “Kumohon, biarkan aku bicara denganmu sekali saja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi.???"


Geffie tertegun, hatinya terasa pedih mendengar kata-kata Vicky tentang Garviil, tetapi dia menguatkan hatinya, bukankah dia juga mengalami kepedihan yang sama??? Dia tidak bisa makan, tidak bisa tidur dan terus-terusan menangis???


Setelah menghela napas panjang, Geffie membuka pintu dan menatap Vicky dengan dingin. “Katakan apapun yang kau mau, lalu pergilah.”


Vicky meringis menerima sikap dingin Geffie. “Bolehkah aku masuk??? Ini akan sangat panjang.”


Geffie menatap Vicky, lalu pada akhirnya dia memundurkan diri dan membiarkan mereka masuk. Mereka duduk di sofa, dalam keheningan,


“Well???? “ tanya Geffie setelah beberapa lama tampaknya Vicky belum ingin mengatakan apapun.


Vicky mendesah. “Aku masih bingung harus memulai dari mana... kita mulai dari Bianca, tunangan Garviil.” Vicky melirik dan menemukan luka di mata Geffie ketika nama Bianca disebut. “Bianca dulu mengejarku dan ingin memilikiku. Tetapi tentu saja aku hanya main-main dengannya. Dan setelah sadar dia tidak bisa memilikiku, dia mengejar Garviil. Garviil waktu itu masih belum berpikir jernih, dan Bianca menghujaninya dengan perhatian-perhatian hingga akhirnya Garviil menerima Bianca. Aku bilang ‘menerima’ karena aku yakin bahwa dari awal, Garviil tidak pernah mencintai Bianca. Dia hanya merasa dia bisa menerima Bianca di sisinya, itu saja. Dan kemudian mereka pun bertunangan.” Vicky mengangkat bahunya. “Aku sedikit terkejut ketika Garviil mengambil langkah serius itu bersama Bianca, tetapi kemudian aku sadar, Bianca tahu betul kelemahan Garviil, dia tahu Garviil mudah merasa bertanggung jawab kepada seseorang dan dia memanfaatkannya. Mereka berduapun bertunangan. Dan semua tampak baik-baik saja. Sampai kemudian pengkhianatan itu terjadi.”


Pengkhianatan???? Jantung Geffie berdegup kencang, Apakah sebelumnya Garviil juga pernah mengkhianati Bianca????


“Bianca yang mengkhianati Garviil.” Vicky bergumam, memahami pertanyaan yang ada di mata Geffie. “Garviil sangat sibuk waktu itu, mengambil alih perusahaan yang diberikan oleh Mama, sehingga dia tidak punya waktu untuk memberikan perhatian kepada Bianca yang manja. Bianca yang manja dan haus kasih sayang akhirnya mencari pelarian kepada pria lain, seorang pria brengseek. Lelaki itu merusaknya dan meninggalkannya dalam kondisi hamil.”


“Apa!!!!!????” Geffie terkesiap, menutup mulutnya dengan jemarinya, tidak menyangka akan informasi itu.


“Ya. Dia hamil, dan dia ditinggalkan. Bianca menangis, datang kepada Garviil, berharap bisa memanfaatkan sikap tanggung jawab Garviil. Tetapi dia memperoleh yang sebaliknya, Garviil marah besar, semua itu sudah berada di luar batas toleransi Garviil. Sayangnya Bianca memilih waktu yang salah ketika mengaku, dia sedang berada di dalam mobil bersama Garviil, dan kemudian mereka mengalami kecelakaan.” Ujar Vicky. “Bianca keguguran. Dan kakinya dinyatakan lumpuh, tidak bisa berjalan lagi selamanya. Garviil seperti yang kau tahu merasa sangat bersalah dan kemudian mengambil seluruh tanggung jawab terhadap Bianca, dia melanjutkan pertunangan itu. Melanjutkan rencana pernikahan itu meskipun hatinya luar biasa pedihnya. Seluruh perasaan yang pernah dimilikinya bersama Bianca tentu saja sudah musnah, tetapi dia tetap berusaha menjalani apa yang sudah di janjikannya, dan dia berusaha tetap setia.”


Oh Ya ampun. Kasihan Garviil.


Itulah hal yang pertama terlintas di benak Geffie. Kasihan Garviil, lelaki itu sekali lagi memikul tanggung jawab yang bertentangan dengan hati nuraninya.


Vicky tersenyum masam melihat ekspresi Geffie. “Kau merasa kasihan kepadanya bukan??? Begitupun aku?? Garviil hidup dengan menanggung beban karena kebaikan hatinya dan aku selalu menentang pertunangannya dengan Bianca karena aku tidak mau dia menderita.... Apalagi ketika kemudian dia bertemu kau, Geffie.”


Vicky memajukan tubuhnya. “Kau pasti tahu dan merasakan bahwa Garviil benar-benar mencintaimu, dia tidak pernah selembut itu dengan perempuan manapun. Dulu dia begitu dingin, tenang dan pandai menutupi perasaannya, tetapi kepadamu dia sepertinya tidak bisa menahan diri.” Vicky mengamati Geffie. “ Kau pasti tidak tahu bahwa Garviil mempunyai rumah sendiri, sebuah rumah mewah milik Mama yang sangat sejuk dekat dengan kantor nya. Tetapi sejak bertemu denganmu, dia memilih untuk selalu pulang ke kamarnya di atas cafe yang sederhana yang jauh dari kantornya, selarut apapapun dia pulang dia selalu berusaha ke sana. Hanya supaya dia bisa berdekatan denganmu.”


Mata Geffie terasa panas ketika dia mengingat kebaikan dan kelembutan hati Garviil kepadanya, melihat betapa sedihnya lelaki itu ketika pertengkaran mereka di cafe. Oh astaga, dia tidak tahu kalau seperti ini kisahnya. Kalau saja dia tahu...


Kalau saja dia tahu dia akan berbuat apa??? Tidak mungkin kan dia menerima cinta Garviil dan membuat Garviil meninggalkan Bianca??? Batin mereka berdua pasti akan sama-sama tersiksa, berbahagia di atas penderitaan perempuan lain.


Vicky menghela napas panjang. “Sekarang kalian sudah tidak perlu bingung lagi. Aku sudah mengatasi Bianca.”


Geffie menatap bingung ke arah Vicky. “Mengatasi Bianca???? Apa maksudmu???”


Vicky menatap Geffie dengan pedih. “Aku sadar bahwa selama ini aku egois, membiarkan Garviil menanggung semuanya, aku hampir sama jahatnya seperti Bianca, mengetahui kelemahan Garviil adalah kebaikan hatinya, dan aku memanfaatkannya... Tetapi ketika hari ini aku melihat betapa menderitanya Garviil, aku tidak tahan. Aku ini adiknya dan adik macam apa yang bisa membiarkan kakaknya menderita padahal tahu bahwa dia bisa berbuat sesuatu???”


“Maksudmu....?” Geffie mengernyit dan bertanya-tanya, akan kemana arah dari kata-kata Vicky itu.


“Yang dicintai Bianca sebenarnya adalah aku. Aku tahu persis itu sejak awal mula.” Vicky terkekeh. “Aku mendatangi Bianca hari ini dan menawarkan pertunangan, berpura-pura mencintainya dan memintanya meninggalkan Garviil. Perempuan itu langsung menyambarnya bagaikan ikan hiu yang kelaparan.”


“Astaga Vicky???? Kenapa kau melakukan itu???”


“Karena aku menyayangi Garviil, sejak kecil dia selalu menjaga dan melindungiku, bahkan sampai dewasa pun dia selalu melakukannya. Sekarang giliranku untuk membuatnya bahagia.”


“Tetapi kau tidak benar-benar mencintai Bianca. Lalu bagaimana dengan Tiffany???" Tanya Geffie.


“Tidak apa-apa.” Vicky tersenyum. “Hubunganku dengan Tiffany belum terlalu jauh, aku akan menemuinya dan meminta maaf karena pendekatan kami harus di akhiri, aku yakin Tiffany juga belum terlalu dalam padaku. Dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Mungkin akan marah tetapi pasti tidak akan lama lalu melupakanku. Aku sudah mengambil seluruh jatah kebahagiaanku di muka, sekarang giliran Garviil yang mendapatkannya. Aku hanya ingin kakakku bahagia saja denganmu."


***


Sepeninggal Vicky, Geffie masih merenung kebingungan. Pada akhirnya dia memberanikan diri, menelepon nomor Garviil.


“Hallo Geffie?” pada deringan pertama telepon itu langsung diangkat, seolah-olah Garviil memang sedari tadi duduk merenung menatap ponselnya.


“Garviil.” Geffie memejamkan matanya, merasa  bersalah ketika mendengar nada letih di suara Garviil, lelaki itu menanggung beban berat karenanya. “Aku... bisakah aku ke cafe? Aku ingin bicara.”


))))


Garviil sudah ada di sana menunggunya, ekspresinya tampak cemas. Lelaki itu setengah berdiri ketika melihat Geffie mendekat.


“Geffie.” Gumam Garviil menatap Geffie dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba Geffie merasa kasihan kepada lelaki ini, lelaki yang begitu kuat dan berkuasa. Tetapi sekarang tampak begitu lelah dan berantakan, apakah itu karena dirinya????


“Geffie.” Garviil menatap Geffie dalam ketika perempuan itu duduk di depannya. “Terima kasih sudah mau bertemu denganku dan memberiku kesempatan kedua. Aku.. aku ingin menjelaskan semuanya padamu..”


Geffie tersenyum lembut pada Garviil. “Aku sudah tahu semuanya, Garviil.”


“Sudah tahu semuanya????” Garviil mengerutkan keningnya


“Iya.” Geffie menganggukkan kepalanya. “Vicky memberitahuku semuanya tentang kisah pertunanganmu dengan Bianca. Dia meluruskan semua kesalahpahaman.” Ujar Geffie.


Itu adalah salah satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Garviil. Vicky memberitahu Geffie??? Semuanya??? Apa maksud Vicky???


“Apa yang Vicky beritahukan kepadamu????” Tanya Garviil penasaran.


“Semuanya.” Geffie menatap Garviil dengan lembut, merasa tidak tega ketika menemukan kepedihan di mata itu. Dia yang menyebabkannya. Kemarahannya waktu itu, ketika dia tidak mau menerima penjelasan Garviil telah membuat lelaki itu menderita.


“Dan apakah dia mengatakan bahwa aku tidak mencintai Bianca sama sekali????” suara Garviil menjadi serak.


Geffie menganggukkan kepalanya. “Maafkan aku Garviil atas semua kesalahpahamanku kepadamu. Aku mengataimu lelaki jahat, aku menganggapmu sama brengseknya dengan Mike. Ternyata kau hanyalah lelaki yang terlalu baik hati.”


Garviil mengernyit pedih. “Dan kebaikan hatiku ternyata membuatku tersiksa. Dulu aku mengira bisa menjalaninya bersama Bianca. Toh pada awalnya aku mencintainya, aku pikir aku bisa menerima dan memaafkan... Tetapi kemudian seperti katamu, mudah memang untuk memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan...” Garviil mendeesah. “Setiap melihat Bianca aku merasa muak, membayangkan harus menjalani hidupku bersamanya membuatku sangat tersiksa... Tapi janji sudah diucapkan dan harus ditepati, aku bertekad untuk menjalankannya.” Mata Garviil menatap Geffie dalam-dalam. “Sampai akhirnya aku bertemu denganmu.”


Geffie membalas tatapan Garviil dan membiarkan lelaki itu meraih jemarinya dengan lembut, Garviil lalu melanjutkan. “Aku tidak pernah menyapa pelanggan manapun sebelumnya, apalagi seorang perempuan, sama sekali tidak pernah... Tapi kau membuatku tidak bisa menahan diri, kau dengan tubuh mungilmu dan ekspresi seriusmu ketika menghadap laptop membuatku melupakan semua aturanku. Aku menyapamu dan kau membalas sapaanku.” Garviil menatap Geffie dengan penuh cinta. “Detik itu juga, ketika kau mengucapkan halo kepadaku, kau sudah memiliki hatiku. Dan saat itu aku berkata dalam hatiku NOW, I FOUND YOU."


Sebuah pernyataan yang sangat indah. Mata Geffie tiba-tiba terasa panas. Lelaki ini sungguh tak disangka telah menumbuhkan cinta yang begitu dalam dan tulus kepadanya. “Maafkan aku karena tidak mempercayaimu.” Bisik Geffie lemah.


Garviil mengangkat bahunya. “Situasinya seperti itu, aku tidak menyalahkanmu. Aku sendiri juga salah, tidak menceritakan keadaanku dari awal padamu. Aku pikir aku bisa melepaskan diri dari masalah ini.”


“Melepaskan diri???”


“Ya. Aku sedang berencana melepaskan diri dari Bianca.” Garviil tampak malu. “Rupanya aku tidak sebertanggung jawab yang kau kira. Ketika aku jatuh cinta, aku rela melakukan apapun demi memiliki kekasihku.” Garviil tersenyum sedih. “Kau mungkin merasa aku lelaki yang rendah.”


Bicara tentang Bianca membuat Geffie teringat akan kata-kata Vicky, wajahnya berubah serius. “Vicky.. dia melakukan sesuatu untuk melepaskanmu dari Bianca.”


Garviil tampak terkejut. “Melakukan apa????”


“Dia bercerita bahwa sebenarnya yang diincar Bianca adalah dirinya.”


“Ah ya.” Garviil tersenyum. “Bianca mengejarnya setengah mati, tetapi kau tahu Vicky. Dia tidak serius menanggapi Bianca, hingga Bianca berpindah padaku. Aku waktu itu kesepian, masih memendam kesedihan karena harus meninggalkan sekolah kokiku. Dan Bianca menghujaniku dengan perhatiannya, pada akhirnya aku menerima bahwa dia adalah wanita yang akan berada di sisiku.”


“Vicky menceritakan pengkhianatan Bianca kepadaku.” Gumam Geffie dengan wajah prihatin.


“Ya. Itu juga.” Wajah Garviil tampak serius. “Karena itulah aku memahami penderitaanmu. Bagaimana sakitnya ketika kita dikhianati oleh orang yang kita percayai. Aku paham sekali bagaimana rasanya, tetapi mungkin aku tidak sesakit dirimu karena pada akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak mencintai Bianca sedalam itu. Dan kurasa Bianca juga tidak mencintaiku, mungkin aku hanyalah pelariannya dari Vicky.”


“Vicky mengetahui itu Garviil, dan dia sudah bertekad untuk melepaskan Bianca dari dirimu. Dia mendatangi Bianca dan melamarnya.”


“Apa....!!!!!???” Garviil terperanjat, menatap Geffie dengan kaget. “Apa katamu????”


“Vicky merasa bahwa ini adalah waktunya dia yang bertanggung jawab untukmu. Dia berkata bahwa dia sudah begitu egois selama ini, dan membiarkanmu menanggung semuanya.”


“Vicky mengatakan itu kepadamu???” Garviil sungguh tidak menyangka Vicky yang begitu tidak peduli kepada apapun mau melakukan ini untuknya.


“Ya Garviil. Dan Bianca menerima lamaran Vicky, dia akan membatalkan pertunangannya denganmu.”


“Oh Astaga!!!!” Garviil tidak tahu bagaimana perasaannya. Di sisi lain dia merasa sangat lega karena bisa melepaskan diri dari Bianca. Tetapi di sisi lain perasaan bersalah yang amat dalam memukulnya karena itu berarti dia membuat Vicky yang terjebak bersama Bianca selamanya, berakhir bersama orang yang tidak dia cintai. Vicky akan sangat tersiksa, dan Garviil tidak mungkin membiarkan Vicky menanggung semuanya.


"Tapi bagaimana dengan Tiffany???" Tanya Garviil. "Bukankah Vicky sangat menyukai nya???"


"Vicky bilang hubungannya dengan Tiffany belum terlalu jauh, dan aku juga tahu mereka bedua saling menyukai tetapi pati masih butuh waktu untuk berpacaran. Tetapi Vicky merelakan hubungannya dengan Tiffany hanya karena ingin membantu mu lepas dari Bianca, itulah kenapa dia melakukan semua ini. Dia berkorban untuk hubungan kita." Ucap Geffie. "Aku menjadi tidak enak, dan aku bingung harus mengatakan apa pada Tiffany jika dia bertanya tentang Vicky???"


"Dia bodooh sekali, kenapa harus melakukan hal seperti itu, padahal aku sudah menjalankan rencana ku untuk menjebak Bianca."


Geffie mengernyit. "Menjebak Bianca??? Apa maksudmu???" Tanya Geffie.


Garviil menceritakan semua nya pada Geffie bahwa dia sudah menyuruh temannya untuk mendekati dan merayu Bianca. Dan hal itu berhasil. Mereka dekat akhir-akhir ini bahka Bianca tidak menolak saat teman Garviil itu menciumnya, bahkan parahnya lagi Bianca juga tidak menolak berhubungan baadaan dengan teman Garviil itu. Menandakan bahwa Bianca masih sama seperti dulu, dia butuh kasiih sayang dan perhatian sehingga jika ada kesempatan, dia akan melakukannya lagi dan mengkhianati kepercayaan Garviil lagi dan lagi.


Mendengar itu, Geffie sangat terkejut sekali. Kenapa bisa Bianca setega itu dan tidak belajar dari masalalu nya.


"Sekarang aku harus menemui Vicky, dan meminta nya untuk menghentikan kegilaan ini, aku tidak bisa membiarkannya terjebak dengan uIar seperti Bianca." Ucap Victor.


"Ya, dan juga kita harus menyelamatkan hubungan Vicky dan Tiffany, jangan sampai mereka berdua menanggung kesakitan karena tidak bisa bersama."


)))(((