
Beberapa bulan kemudian
Garviil datang ke apartemen Geffie Setelah dia pulang dari kantornya. Garviil membawa minuman favorit Geffie juga beberapa camilan yang tadi dia beli. Garviil menunggu di depan pintu tak lama pintu terbuka dari dalam dan Geffie langsung mempersilahkannya untuk masuk. "Aku membawa camilan dan minuman favoritmu." Ucap Garviil sembari memasuki apartemen Geffie.
"Kau repot sekali, aku kan tidak minta."
"Tidak masalah lagi pula tadi aku ada meeting di salah satu restoran dan dibunuhnya ada minuman favoritmu jadi aku coba untuk membelinya, semoga rasanya sama seperti yang biasa kau minum walaupun berbeda tempat."
"Thank you."
Garviil memberikan Minuman itu pada kekasihnya dan membongkar Kantong makanan yang bawa. Hubungan mereka sudah berjalan selama beberapa bulan dan itu berjalan dengan sangat lancar. Dan mereka selalu menghabiskan waktu untuk bersama, entah jalan-jalan, mengobrol atau bermalas-malasan saja di apartemen Geffie ataupun di tempat Garviil. Mereka menikmati hubungan yang sangat bahagia seperti pasangan pada umumnya dan Garviil juga tetap memegang prinsipnya untuk tidak melewati batas apalagi Geffie juga sampai saat ini masih dengan prinsipnya untuk menjaga diri dari hal-hal di luar batasan juga.
Lusa Geffie akan di wisuda. Geffie lulus dengan nilai yang sangat bagus dan sempurna, Garviil merasa sangat bangga sekali dengan prestasi Geffie dan dia sudah tidak sabar untuk bisa merayakan kelulusan Geffie. Garviil juga tentunya nanti akan bertemu dengan keluarga Geffie di sini di mana mereka akan datang untuk menghadiri acara wisuda Geffie.
Garviil mencoba menyiapkan diri dengan baik, di mana dia akan langsung meminta izin kepada orang tua Geffie untuk mengatakan bahwa dia ingin serius dengan Geffie. Sejauh ini memang Garviil belum pernah melihat berbicara ataupun bertemu dengan orang tua Geffie melalui telepon atau panggilan video. Tetapi beberapa kali Geffie sudah berbicara dengan Mamanya Garviil.
Dan selama beberapa bulan terakhir menjalin hubungan dengan Geffie. Garviil sudah benar-benar yakin bahwa Geffie adalah Pujaan hatinya dan Garviil sangat ingin menikah dengan Geffie nantinya. Tetapi laki-lagi satu hal yang paling Garviil ragukan adalah restu dari orang tua Geffie. Garviil tidak ingin meminta izin melalui telepon ataupun panggilan video. Tetapi dia ingin datang langsung dan meminta secara langsung kepada orang tua Geffie nantinya. Itulah kenapa dia selalu menolak Geffie ketika Geffie ingin memperkenalkannya dengan orang tuanya melalui telepon atau panggilan video dan sesekali Garviil hanya sering berbicara dengan Gienka kakaknya Geffie, juga Friddie dan Geffie sendiri mengatakan juga bahwa dia belum pernah bercerita kepada orang tuanya jika menjalin hubungan dengan Garviil, karena memang seperti itulah kebiasaan Geffie bahkan dengan Mike pun Geffie juga tidak pernah bercerita kepada orang tuanya karena Geffie merasa bahwa urusan pribadi dan percintaannya. Lebih baik dia sendiri saja yang mengetahuinya kecuali saat nanti ada laki-laki yang memang benar-benar mengajaknya ke hal yang serius dan itu ke arah pernikahan. Saat ini Geffie memang sedang serius berhubungan dengan Garviil tetapi tentu Mereka belum membicarakan mengenai pernikahan dan Geffie juga merasa bahwa hubungannya dengan Garviil belum ada pembicaraan sejauh itu karena Geffie berpikir bahwa dia masih harus menyelesaikan pendidikan magister nya lebih dulu baru setelah itu membicarakan tentang pertunangan, pernikahan dan hal yang lebih jauh lagi sehingga Geffie merasa ini belum saatnya untuk memberitahu kedua orang tuanya. Geffie juga meminta kepada Gienka dan Friddie untuk jangan membahas tentang Garviil kepada orang tua mereka mengingat ini belum waktunya.
"Aku baru saja selesai berbicara dengan Kak Gienka." Ucap Geffie sembari menyeruput milkshake favoritnya.
"Oh ya Kak Gienka nanti ikut ke sini juga???"
"Sepertinya tidak, Papa melarangnya ikut, perutnya sudah semakin membesar. Takutnya nanti terjadi apa-apa yang kebetulan Kakak juga akan melahirkan di sana nanti."
"Ya itu memang bagus sih, ya lebih baik tidak perlu kesini juga."
"Aku juga tidak memaksa Kakak datang, ya nanti bisa lah kalau foto keluarga setelah pulang ke Indonesia saja."
Garviil tersenyum. "Apa nanti kau akan memperkenalkan ku kepada orang tuamu??" Tanya Garviil.
Geffie meletakkan minumannya di meja dan menatap Garviil. "Kenapa aku harus memperkenalkanmu, kau bisa berkenalan dengan mereka sendiri nanti." Geffie pun tertawa.
"Kau ini, aku bertanya serius dan kau malah tertawa."
"Ya kan benar, kalau kau ingin berkenalan ya berkenalan sendiri."
"Aku takut Papamu galak."
"Apa katamu???"
Garviil tertawa. "Ya biasanya seorang ayah itu akan galak dan protektif sekali kalau punya anak cantik dan anaknya dekat dengan seorang pria, ya aku berpikir mungkin Papamu seperti itu."
"Hahahaha, setiap orang tua Pasti akan protektif terhadap anaknya, apalagi mengenai kedekatan anaknya dengan lawan jenis tetapi mereka juga bisa melihat jika kekasih anaknya itu terlihat baik, mereka juga pasti akan bersikap baik. Ya Kau harus mempersiapkan diri untuk bersikap baik di depan mereka supaya kau bisa mendapatkan Restu mereka, sangat simpel kan???"
"Oke oke. Bagaimana rasa nya enak tidak???"
"Lumayan sih tapi lebih enak kita dari cafe-mu, ini aku serius ya bukan karena kau adalah pemilik Cafe itu tapi aku bicara serius, memang lebih enakan dari Cafemu."
Garviil terkekeh. "Kalau kau berbohong untuk menyenangkanku juga Tidak apa-apa kok."
"Tidak aku sama sekali tidak berbohong tapi memang lebih enak dari Cafe mu."
"Oke baiklah, nanti aku akan membawakan minuman dari Cafe ku saja, ngomong-ngomong hari ini apa saja yang kau lakukan???"
"Tidak ada, aku hanya bermalas-malasan saja, tidur, nonton TV dan baru saja tadi selesai bicara dengan kakak."
"Kau akan pulang Berapa hari nanti???" Tanya Garviil.
"Entahlah tapi mungkin sekitar 2 minggu dan aku akan kembali lagi ke sini kembali, persiapan untuk mencari kampus baru dan lainnya."
"Itu artinya aku akan tidak bertemu denganmu selama dua Minggu, aku pasti akan melewatkan itu dengan perasaan yang hampa tanpamu.
Geffie tersenyum. "Ya kau pulang juga lah ke Indonesia, kau juga sudah lama kan tidak pulang ke Indonesia masa kau tidak kangen dengan orang tuamu???"
"Iya sih, mereka memang sering memintaku untuk pulang tapi di sini sedang banyak sekali dan nenekku juga sedang sakit di sana. Aku ingin menjenguknya tetapi aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jika aku ingin pulang, ya semoga saja nanti aku bisa pulang bersama denganmu dan keluargamu, itu sudah masuk dalam rencana aku sih."
"Iya Bagus dong, kalau begitu kau bisa pulang denganku dan keluargaku ke Indonesia."
"Mamamu sangat menyenangkan orangnya. Ramah dan murah senyum."
"Itu artinya kau akan jadi menantu kesayangannya nanti."
"Apa????" Seru Geffie.
"Ya kalau Mama baik dan ramah pada seseorang itu artinya Mama sudah merasa nyaman dan Mama pasti akan sangat menyayangimu."
"Kau ini.." Geffie mencubit pinggang Garviil.
Malam harinya Geffie dan Garviil selesai menyantap makan malam mereka. Geffie memasak makan malam untuknya dan Garviil dan sekarang mereka sedang mencuci piring bekas makan mereka. Ini kegiatan yang selalu mereka lakukan ketika di apartemen dan setelah makan. Garviil memang sudah jarang sekali pulang ke rumahnya setelah dia berpacaran dengan Geffie. Garviil sepertinya lebih nyaman tinggal di kamarnya yang ada di atas Cafe supaya dia juga bisa dekat dengan Geffie, tetapi kadang-kadang Garviil juga memilih untuk pulang dan saat ini Vicky sedang berada di Indonesia. Vicky pulang ke Indonesia setiap 1 bulan sekali dan Vicky memilih tinggal di sini karena memang kekasihnya Tiffany juga ada di sini, tetapi Vicky tetap menyempatkan waktu untuk pulang ke Indonesia ataupun tetap terkadang pergi ke luar negeri lalu kembali lagi ke sini untuk menemui Tiffany.
Ketika sedang sibuk mencuci piring, ponsel Garviil berbunyi. Garviil pun mencuci tangannya dan bergegas untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan dan dia melihat nama Vicky tertera di sana. Garviil pun langsung mengangkatnya. "Hai Vic tumben pagi-pagi sekali kau menelepon???"
"Iya Viil, mama menyuruhku meneleponmu."
"Kenapa??? Biasanya Mama meneleponku sendiri kenapa harus menyuruhmu??" Tanya Garviil pada adiknya.
"Oma ada di rumah sakit dan sejak semalam kami menunggunya dan Mama Papa sibuk mengurus semuanya."
"Oma di rumah sakit??? kenapa kau tidak bilang???" Seru Garviil.
"Maaf, semalam kami sibuk sekali dan Mama bilang kau diminta untuk datang ke sini dan melihat kondisi Oma."
"Kondisi Oma bagaimana???"
"Kalau kau ingin tahu kondisinya. Lebih baik kau pulang saja, kata Mama kita semuanya harus berkumpul di sini dan Oma juga ingin melihatmu jadi lebih baik Aku sarankan kau pulang saja cari penerbangan malam ini Ataupun besok pagi, aku rasa lebih cepat lebih baik."
Garviil mengernyit. "Oma kenapa???"
"Kami semua akan memberitahumu nanti, tapi lebih baik kau cari penerbangan secepatnya, aku juga sebenarnya ingin kembali ke sana siang nanti, karena kita kan harus mendatangi wisudanya Tiffany dan Geffie, tapi semalam kondisi Oma tiba-tiba turun. Jadi Papa dan Mama memutuskan untuk membawa ke rumah sakit dan sepertinya aku juga harus membatalkan penerbanganku kembali ke Boston dan kau diminta untuk segera pulang."
Garviil memejamkan matanya dengan sedih sepertinya telah terjadi sesuatu di dengan Omanya, sehingga keluarganya memintanya untuk bisa segera pulang ke Indonesia padahal Lusa adalah wisudanya Geffie tapi mau bagaimana lagi, dia sepertinya memang harus pulang.
Garviil menghela nafasnya panjang. "Oke. Baiklah aku akan cari tiket untuk pulang malam ini."
"Oke kalau begitu segera hubungi aku, kalau sudah dapat tiketnya, kalau bisa jangan cari yang transitnya terlalu banyak."
"Iya aku mengerti." Gumam Garviil kemudian telepon itu pun ditutup Garviil dan Garviil terdiam untuk beberapa saat.
"Hei.." Geffie menepuk pundak kekasihnya itu membuat Garviil terlonjak, lelaki itu melempar senyum ke padanya. "Kenapa??? Apa ada sesuatu terjadi???" Tanya Geffie.
"Vicky yang menghubungiku, dia bilang semalam Oma dibawa ke rumah sakit dan Vicky mau minta aku untuk mencari tiket dan pulang ke Indonesia."
"Oma mu masuk ke rumah sakit???"
Garviil menganggukkan kepala nya. "Iya itulah yang diberitahu oleh Vicky tetapi aku juga tidak tahu jelasnya Seperti apa, karena Vicky hanya meminta untuk pulang saja dan menjelaskannya Ketika nanti sampai di sana yang artinya kami berdua tidak bisa menghadiri wisuda kalian berdua."
"Kalau memang itu hal yang sangat penting, ya tidak masalah, nanti aku akan berbicara juga dengan Tiffany dan memberitahunya dan kalau memang Mamamu memintamu pulang ya kau memang harus pulang jangan sampai terjadi sesuatu yang akan membuatmu menyesal."
Garviil menunduk dengan sedih kemudian kembali menatap Geffie. "Aku minta maaf karena tidak memenuhi janjiku untuk hadir di wisudamu.""
Geffie tersenyum. "Tidak apa-apa, kan yang terpenting kau harus bertemu dengan keluargamu. oma mu juga pasti sudah sangat merindukanmu. Kau kan tidak pernah pulang."
"Iya." Gumam Garviil.
"Lalu kau akan pulang kapan??? besok."
"Aku akan coba cari tiket malam ini untuk bisa langsung pulang, kalau tidak ada ya besok pagi."
"Ya sudah kalau begitu, coba kau cari tiketnya dulu baru setelah itu kau pulang dan bersiap untuk ke bandara."
"Iya."