
Beberapa bulan kemudian....
Garviil sangat sibuk sekali di depan layar komputernya. Dia sedang mengkoreksi laporan yang di buat oleh para staf nya. Proyek baru nya akan di mulai bulan depan, dan semua persiapannya sedang dalam pengerjaan. Garviil sangat terbantu sekali dengan kehadiran Vicky dan adiknya itu juga sudah cukup mampu untuk membantunya menghandle perusahaan. Vicky sudah banyak belajar dan menyesuaikan diri dengan kesibukan baru nya. Garviil merasa sangat senang dan terbantu
Di tambah lagi hubungannya dengan Geffie juga semakin menenangkan. Geffie saat ini sedang bekerja di kantornya, ya meski hanya akan berlangsung beberapa bulan saja. Geffie akan pindah ke Washington bulan depan, dan melanjutkan magister nya disana. Sedangkan di minggu ini Geffie sendiri sudah akan selesai bekerja disini. Karena Geffie hanya mengajukan bekerja selama tiga bulan saja. Garviil sedih tetapi tentu dia tidak mungkin menghalangi Geffie untuk pergi ke Washington DC. Karena Geffie ingin menambah ilmu nya dan tinggal bersama kakaknya disana.
Hubungannya dengan Geffie sendiri belum ada perkembangan yang signifikan. Garviil masih belum bertemu dengan keluarga Geffie, yaitu orang tua nya. Ingin sekali Garviil bertemu dan bicara dengan mereka tetapi belum ada kesempatan. Dan Geffie sudah berjanji padanya nanti pasti akanengenalkannya pada orang tua nya. Garviil masih menunggu hal itu. Garviil tidak meragukan Geffie sama sekali dan merasa sangat yakin bahwa Geffie adalah perempuan yang baik untuknya.
Rasanya benar-benar berat sekali harus berpisah dengan Geffie. Garviil takut nanti Geffie di dekati oleh laki-laki lain disana, lalu berpaling darinya. Tetapi lagi-lagi dia tidak mungkin menghalangi Geffie pergi.
Sementara Vicky juga mengisi harinya dengan kesibukan bekerja di kantor. Vicky mencoba melupakan kesakitan nya atas kepergian Tiffany. Perlahan Vicky bangkit, dan kembali menjalani kehidupannya seperti sebelum bertemu dengan Tiffany.
Garviil mencoba membiarkan adiknya melakukan apapun yang di inginkan dan tidak melarangnya. Vicky sudah kembali ceria seperti sebelumnya. Kepergian Tiffany membuat Vicky merasa hancur sekali akan tetapi pada akhirnya Vicky menyadari bahwa hidup terus berlanjut dan dia tidak bisa terus larut dalam kesedihan dan harus mulai belajar move on serta mengejar semua impian yang ingin di capai nya. Vicky jjga masih melukis untuk mengisi waktu senggang nya dan masih melakukan pameran hasil lukisan nya. Garviil sama sekali tidak menghalangi apapun yang di lakukan oleh Vicky selagi itu tidak membahayakan Vicky. Setidaknya itu bisa mengurangi kesedihan Vicky.
Garviil melihat jam yang ada di komputernya. Ternyata ini sudah menunjukkan bahwa sudah waktunya untuk pulang. Dia menyimpan semua file nya dan mematikan komputernya. Kemudian beranjak dari kursi putar nya. Garviil mengambil jas nya dan memakainya. Dia kemudian keluar dari kantornya. Harus segera turun jangan sampai Geffie menunggu nya terlalu lama.
Ya, Garviil memang setiap hari selalu pulang dan berangkat dengan Geffie. Itulah kenapa mereka selalu bertemu setiap harinya. Sangat menyenangkan sekali, tetapi sayangnya ini tidak akan terjadi lagi beberapa hari lagi.
Sampai di bawah, Geffie sudah berdiri di lobi. Garviil menghampirinya dan langsung mengajak kekasihnya itu untuk pulang. Mobilnya juga sudah terparkir di depan.
Pintu mobil di buka oleh petugas keamanan kantor Garviil. Geffie dan Garviil masuk ke dalam mobil dan supir pun membawa mereka untuk pulang.
"Kakak sudah sampai di Washington Dc kemarin." Gumam Geffie membuka obrolan dengan Garviil.
"Oh ya??? Bagus dong. Jadi kau minggu depan akan langsung menyusul kesana???" Tanya Garviil.
"Aku tidak tahu. Soalnya ada masalah sekarang disana."
Garviil mengerutkan dahi nya. "Masalah???? Masalah apa???"
"Tadi siang, kakak menghubungiku sambil menangis. Dia bercerita jika semalam mertua nya di tusuk oleh seseorang saat mereka sedang makan malam di sebuah restoran. Uncle Aditya di tusuk."
"Om Aditya di tusuk????? Lah kok bisa??? Siapa yang melakukannya????"
"Ya Tuhan... Lalu bagaimana keadaan om Aditya sekarang??
"Sudah membaik, semalam langsung di bawa ke rumah sakit, dan Kak Gienka keceplosan bercerita pada Papa, dan sekarang Papa sedang menyusul kesini."
"Papa mu???"
Geffie mengangguk. "Iya, Papa akan kesini, Papa khawatir dan akan mengurus semua nya. Ya, khawatir juga dengan keadaan Kak Gienka dan Lexia. Apalagi semalam kakak sempat di ungsikan ke rumah sahabatnya, karena kak Kyros mengurus Uncle Aditya di rumah sakit, dan kak Kyros tidak tega meninggalkan Kak Gienka di rumah sendirian." Ujar Geffie. Ya, Kakaknya sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan di beri nama Lexia. Geffie sendiri baru sekali pulang ke Indonesia untuk menengok keponakannya, dan hanya beberapa hari lalu kembali lagi ke Amerika. Dan sekarang keponakannnya itu sudah di bawa kesini sehingga Geffie merasa lebih senang karena akan tinggal di Washington Dc dan bermain dengan keponakannya itu.
"Ah ya Tuhan, kak Gienka pasti ketakutan sekali. Lalu sekarang bagaimana keadaan kak Gienka dan Lexia???"
"Kak Ky sudah menjemputnya dan membawa mereka pulang, sudah meminta agar ART mereka bisa menemani kak Gienka dan Lexia. Dan sepertinya Mama juga ikut Papa kesini, ya nanti Mama akan menemani kak Gienka dan Lexia di rumah."
"Mama mu juga ikut???"
"Ya." Gumam Geffie.
Garviil tersenyum tipis. Jadi orang tua Geffie akan ke Washington DC. Itu artinya dia ada kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Ini adalah kesempatan yang sudah Garviil tunggu untuk bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka. Kali ini bagaimanapun caranya dia harus bisa bertemu dengan kedua orang tua Geffie. Sebelumnya dia sudah gagal menemui mereka saat acara wisuda Geffie, karena saat mereka datang kesini, dia justru harus pulang ke Indonesia karena Oma nya sakit. Sehingga niatnya bertemu orang tua Geffie harus tertunda.
"Kau akan menyusul ke Washington dc juga???"
"Aku akan tetap kesana minggu depan. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku disini sampai selesai. Tidak mungkin aku meninggalkannya, toh tinggal 3 hari lagi kan???"
"Ya sebenarnya tidak apa-apa sayang kalau kau mengakhirinya lebih awal, jika kondisi nya urgent."
"Kata kak Gienka, akh harus selesaikan semuanya tepat waktu, dia disana sudah di temani ART nya juga kalau kak Ky sedang pergi. Lusa Mama jua pasti sudah sampai disini. Akh akan selesaikan sesuai dengan waktunya."
"Baiklah kalau begitu. Jika itu yang kah inginkan tidak apa-apa. Tapi btw aku masih boleh mengantarmu ke Washington dc kan???" Tanya Garviil.
"Ya tidak masalah kalau kau mau ikut."
Garviil menoleh dan tersenyum. "Aku juga ingin menjenguk uncle aditya, dan menengok Lexia. Keponakanku itu menggemaskan sekali hehe." Garviil tersenyum. Selain kedua hal itu, tentu tujuannya ke Washington dc juga untuk menemui Orang tua Geffie.