
Malam ini Aire menatap cafe itu dengan ragu. Sejak kejadian ciuman tak disengaja itu, Aire tidak pernah datang ke cafe itu lagi. Dia takut. Ya, kedekatannya dengan Victor yang begitu cepat ternyata membuatnya ketakutan dan lari. Mungkin karena dia belum siap membuka hatinya untuk lelaki lain, mungkin juga karena dia masih belum sembuh dari prasangkanya bahwa semua lelaki itu sama, hannya akan menyakitinya.
Tetapi malam ini Aire berusaha memberanikan diri, dia harus bisa menghadapi Victor, dan menelaah perasaannya. Mencoba mencari tahu kenapa lelaki itu sangat sulit dikeluarkan dari benaknya.
Ketika Aire memasuki cafe itu kembali, pandangannya langsung memutar ke sekeliling, bahkan Andro yang biasanya menyapanya dengan ramah tidak ada. Kemana pelayan setengah baya yang sangat ramah itu???
Yang lebih membuatnya kecewa, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Victor di sana. Aire melangkah gontai ketika melangkah ke tempatnya yang biasanya. Seorang pelayan mendekatinya dan memberikan menunya,
"where is Andro???" Tanya Aire sambil lalu kepada pelayan itu.
Pelayan itu melirik ke atas lantai dua.
"Mr. Andro is not feeling well. He is resting in the upstairs room. But he said he would come down in a while.." Pelayan itu melirik jam tanganya. Dia mengatakan jika Andro sedang tidak enak badan.Dia beristirahat di kamar atas dan bilang akan turun sebentar lagi.
"Oh, he's not feeling well.!!" Aire melihat buku menu untuk memilih makanan. "I'll have chicken cordon bleu.."
Pelayan itu mengangguk, mencatat pesanan Aire kemudian meminta Aire menunggu.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan Aire pun datang. Dan Aire mengambil pisau dan garpu untuk mulai memotongnya.
"Kali ini tidak pakai Red Wine???"
Aire terlompat dengan kaget dari kursinya, jantungnya berdebar dan dia menoleh ke belakang, tampak Andro di sana. Lelaki itu tampak pucat dan lelah tidak seceria biasanya.
"Aku belum memesan wine." Aire tersenyum lembut kepada lelaki setengah baya itu. "Tetapi sepertinya itu menarik...!!"
Andro menganggukkan kepalanya ramah, lalu memberikan isyarat kepada pelayan di bar untuk membawakan minuman pesanan Aire yang biasa. Aire masih tersenyum. "Anda memakai bahasa Indonesia??? Apakah anda juga berasal dari Indonesia???" Tanya Aire heran.
"Ya tentu saja, saya sudah lama bekerja untuk orang tua Victor bahkan sejak dia dan Vicky masih kecil."
"Sudah beberapa hari anda tidak kesini??? Apakah anda sedang sibuk???" Tanya Andro.
"Ya, aku harus menyelesaikan tugas akhirku, tinggal dua minggu lagi" Jawab Aire.
"Pantas saja kalau begitu.."
Anggur itupun datang, dalam gelas bening yang berkilauan, menguarkan aroma harum yang manis dan menyenangkan. "Did you know that this wine is like a man???" Tanya Andro setengah tersenyum. Dia bertanya pada Aire apakah Aire tahu bahwa Wine itu seperti seorang laki-laki.
Aire mendongakkan kepalanya dan menatap Andro bingung. "Like a Man???" Tanya Aire bingung.
"Yes. They are red in color and dense on the outside, giving off a distinctive, menacing scent.. As if to warn anyone who dares to approach. When you drink them casually you won't be able to understand the flavor, only the alcohol and bitterness. But if you can match the aroma with a good tasting, you will be able to find the essence of the combination, the sweet taste and the seductive aroma. It's the same with men, they are threatening on the outside but when you handle them right, they will give you their best." Andro menjelaskan jika Wine berwarna merah dan pekat diluar, menguarkan aroma khas yang mengancam. Seakan memperingatkan siapapun yang berani mendekat. Dan jika Aire meminumnya asal-asalan maka tidak akan bisa memahami cita rasanya, yang terasa hanya alkohol dan rasa pahit. Tetapi kalau Aire bisa menyesuaikan antara aroma dan cara mencicipi yang nikmat, maka dia akan bisa menemukan intisari yang berpadu, rasa yang manis dan aroma yang menggoda. Itu sama dengan laki-laki, di luar begitu mengancam tetapi ketika Aire bisa menanganinya dengan benar, maka laki-laki itu akan memberikan yang terbaik untuk nya.
Aire meresapi kata-kata Andro dan menemukan kebenaran di dalamnya. Filosofi lelaki dan anggur merah. Sungguh menarik. "Oh wow, aku sama sekali tidak pernah memandang Wine sejauh itu, aku hanya suka saja menikmati nya dan tidak berani meminumnya terlalu banyak." Gumamnya ceria, membuat Andro terkekeh.
"Anda harus mengingat itu baik-baik." Lelaki itu berdiri dan berpamitan, membuat Aire menyesal karena dia tidak punya keberanian untuk menanyakan keberadaan Victor.
Sementara itu di tempat lain..
Lalu ketika mobil warna putih menyala itu memasuki halaman rumah, hampir saja Bianca terlonjak bahagia dari duduknya, lupa kalau dia sedang berpura-pura lumpuh. Tidak ada yang tahu selain keluarganya, pelayan kepercayaan mereka di rumah ini, dan dokter pribadi kakaknya bahwa Bianca sebenarnya sudah sembuh jauh di waktu lalu. Dia sudah bisa berjalan normal seperti biasanya. Diagnosa dokter waktu itu ternyata salah, dan kaki Bianca tidak apa-apa. Tidak ada yang lumpuh serta tidak perlu ada yang di khawatirkan.
Tetapi kemudian Bianca memohon kepada kedua orangtuanya, kakaknya dan dokter mereka untuk merahasiakannya dan membiarkan Victor tidak tahu. Kepada mereka diceritakannya betapa takutnya dia kehilangan Victor kalau sampai lelaki itu tahu bahwa dia baik-baik saja. Yang dimiliki Bianca dari Victor hanyalah rasa tanggung jawab lelaki itu kepadanya, dan itu semua karena kakinya yang lumpuh. Karena jika kakinya sudah tidak lumpuh lagi, maka tidak akan ada sesuatupun yang bisa mengikatkan Victor kepadanya. Lelaki itu sudah pasti akan meninggalkannya.
Bianca rela duduk di kursi roda terus sampai dia bisa mengikat Victor di pernikahan. Setelah mereka terikat secara resmi dan dia sah memiliki Victor. Bianca sama sekali tidak bisa kehilangan Victor. Dia bahkan sudah merencanakan untuk berpura-pura sembuh secara bertahap dan kemudian kembali normal. Lalu Victor tidak akan pernah curiga. Dia sudah begitu lama berpura-pura lumpuh sehingga tampak sangat meyakinkan. Diliriknya Victor yang baru turun dari mobil dan hatinya berbunga-bunga melihat ketampanan lelaki itu. Lelaki itu akan menjadi suaminya, akan dimilikinya sebentar lagi. Bianca hanya harus bersabar sedikit lagi.
Victor melangkah mendekati tangga rumah itu dengan ekspresi lelah. Hari ini banyak sekali yang harus di lakukannya, dan yang dia inginkan hanya berada di Cafe. Menanti kedatangan Aire, yang tak kunjung datang lagi setelah peristiwa ciuman itu. Victor tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menahan dirinya untuk mencium Aire. Dialah yang sudah membuat Aire menghindarinya seperti sekarang ini. Dan sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu, dan ternyata menunggu itu tidak enak, sama sekali tidak enak. Kemudian karena sibuk dengan pekerjaan dan pikirannya tentang Aire.
Kursi roda Bianca muncul di pintu dan perempuan itu menyambutnya dalam senyum bahagia dan khawatir. "Kau tidak membalas pesanku.??" Protes Bianca cemas, dia kemudian memeluk Victor ketika lelaki itu mendekat dan setengah menunduk mengecup dahinya. "Aku takut kau kenapa-kenapa???"
"Maaf aku terlambat, urusan pekerjaan." Gumam Victor datar. "Di mana orang tuamu???" Tanya Victor.
Victor menyiapkan hatinya untuk malam itu, karena dia harus membicarakan persiapan pernikahan. Persiapan pernikahan yang bahkan tidak setitikpun ingin dilakukannya. Victor masuk dan dia melihat kedua orang tua Bianca duduk di sofa. Dengan sopan Victor menyalami kedua nya. Ada juga kakak dan kakak ipar Bianca.
"Apa kabar kau Vic???" Tanya Papa Bianca.
"Aku baik Om..." Jawab Victor.
"Duduklah...!!!" Perintah Mama Celia dan Victor kemudian duduk.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu??? Semua lancar kan???" Tanya Papa Bianca lagi.
Victor menganggukkan kepala nya. "Semua lancar Om.."
"Baguslah kalau begitu. Beberapa waktu yang lalu Om bertemu dengan Papa mu, dan kami sempat membahas mengenai kelanjutan hubunganmu dengan Bianca. Dia hanya bilang semua nya terserah padamu..."
Victor terdiam dan memandang wajah orang tua Bianca dengan datar. Rasanya dia malas sekali berada disini dan ingin segera pulang. Apalagi dia harus membahas mengenai hubungannya dengan Bianca yang sudah keruh sejak pengkianatan yang di lakukan oleh Bianca. Membayangkan harus hidup dengan Bianca pun Victor merasa mual sekali. Bagaimana bisa Victor akan menjalankan rumah tangga dengan perempuan pengkhianat yang tidak bisa menghargai kesucian cinta yang selama ini sudah coba di jaga olehnya. "Ya.." Gumam Victor. "Saya rasa Om tidak perlu bertanya mengenai hal itu pada orang tua saya, karena yang akan menikah adalah saya jadi semua eputusan ada di tangan saya sndiri." Ujar Victor. Ya, sama seperti Vicky, kedua orang tua Victor juga sudah melarang Victor untuk melanjutkan hubungannnya dengan Bianca tetapi Victor tetap pada pendiriannya untuk tetap melanjutkan hubungan itu. Orang tua nya pun merasa sakit hati sekali atas apa yang di lakukan Bianca pada Victor dulu, mereka tidak bisa menerima pengkhianatan semacam itu, karena bagi ,ereka itu adalah penghinaan besar. Tetapi mereka tidak bisa melakukan apapun karena Victor sudah mengambil keputusan seperti itu sehimgga mereka juga tidak peduli dan merasa cuek dengan Bianca dan keluarga nya.
Obrolan itu kemudian berlanjut dimana Bianca dengan penuh semangat merencanakan acara pernikahannya nanti dengan Victor. Bayangan gaun yang akan di kenakannnya, hingga tema nya juga sudah Bianca rencanakan dan dia ungkapkan semuanya di depan Victor serta keluarga nya yaitu kakak dan orang tua Bianca. Sedangkan Victor hanya diam dan tidak mendengarkan Bianca, tetapi malah sibuk memikirkan cara bagaimana dia bisa menemui Aire dan minta maaf pada perempuan itu.
+++
"Terima kasih Victor sayang." Bianca menggenggam kedua jemari Victor dengan penuh sayang, lelaki itu duduk di depannya dan tampak kaku. Bianca berusaha mencairkan suasana dengan kelembutannya. Biasanya Victor akan melembut juga kalau dia sudah bersikap rapuh. Tetapi entah kenapa malam ini benak kekasihnya ini seolah-olah tidak ada di sana, menerawang entah kemana.
"Are you okay???" tanya Bianca lagi mencoba memecah keheningan ketika Victor hanya diam saja. "Kau tampak tidak bahagia..???"
Victor memandang Bianca dengan tatapan tidak terbaca. "Kau bicara apa, tentu saja aku bahagia!!" Bibirnya tersenyum, tetapi senyum itu jelas-jelas tidak sampai ke matanya.
"Aku memang tahu betapa beruntungnya aku bisa memilikimu!!" Bianca menundukkan kepalanya sedih. "Dengan kondisiku yang sekarang, sebenarnya aku tidak pantas untukmu. Apalagi kejadian di masa lalu itu, aku sungguh malu kalau mengingatnya." Jemari lentik Bianca yang indah menutup wajahnya, airmatanya mengalir deras.. "Mungkin seharusnya aku mati saja di kecelakaan itu."
"Sttt." Victor menyentuh jemari Bianca yang sedang menutup mukanya, dan menariknya dengan lembut ke dalam genggamannya. "Jangan berkata seperti itu, aku sudah berjanji akan bertanggung jawab atas dirimu bukan??? Aku akan menjagamu Bianca, seperti janjiku."
Bianca menatap Victor dengan matanya yang basah. "Apakah kau mencintaiku, Victor??? Sedalam aku mencintaimu???"
Kalimat itu tak sampai untuk keluar dari bibir Victor, dia hanya menganggukkan kepalanya dan berucap pelan. "Ya Bianca" Dan Victor menyadari betapa beratnya mengatakan. "Aku cinta kepadamu kepada seseorang yang tidak kau cintai."