Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Di rumah Gienka



"Lexia....." Panggil Geffie kemudian dia memencet bebek karet di depan keponakannya yang lucu dan menggemaskan itu, membuat Lexia tertawa. Geffie dan Garviil saat ini berada di rumah Gienka dan Kyros. Garviil mengantar Geffie kesini lebih dulu sebelum besok kembali ke Boston dan memulai lagi aktifitasnya di kantor. Garviil akan meninggalkan Geffie disini karena Geffie sudah akan memulai kuliahnya. Dan Garviil juga sudah memutuskan akan mengunjungi Geffie di akhir pekan kesini. Garviil senang bisa kembali lagi ke Amerika setelah menyelesaikan acara resepsi kedua pernikahan nya di Jakarta dan dilanjutkan berbulan madu di Lombok. Sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu setiap hari bersama Geffie dan mereka bisa lebih dekat satu sama lain. Bisa lebih saling mengerti dan memahami.


Garviil memegang Lexia dan menciumi nya karena merasa gemas sekali. Gienka dan Kyros sedang pergi keluar sebentar saat Lexia tidur dan meminta Geffie serta Garviil untuk menjaga nya, tetapi setengah jam yang lalu, Lexia sudah bangun. Keponakannya yang cantik dan menggemaskan itu tidak rewel sama sekali dan mudah dekat dengan siapa saja. Sehingga Geffie sama sekali tidak keberatan ketika Kakaknya meminta bantuannya untuk menjaga Lexia.


"Bagaimana perkembangan penyelidikan mu tentang Bianca??? Apa sudah menemukan titik terang siapa orang yang dia kirim???" Tanya Geffie pada suaminya. "Aku sangat mengkhawatirkan mu dan juga Vicky. Kau akan kembali ke Boston, dan itu membuatku sangat khawatir. Aku takut orang iti ada di sekitar kalian dan orang terdekat kalian. Jika bisa ingin sekali aku menahanmu disini saja, tetapi kau tidak akan mungkin meninggalkan perusahaan semakin lama. Aku begitu merasa nyaman ada di dekatmu dan kau ada di luar Boston."


Garviil tersenyum menatap istrinya dalam-dalam. Kemudian mengusap pipinya seolah memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jangan khawatir, aku dan Vicky bisa menjaga diri. dan semua penyelidikan sedang di lakukan. Masalahnya sejauh ini Bianca tidak ada tanda-tanda bertemu orang yang mencurigakan, dia hanya keluar untuk berpesta dengan teman-temannya setiap hari, dan orang ku selalu berusaha mengikutina dan tidak ada yang mencurigakan. Itu faktanya, sehingha tidak ada yang bisa aku dapatkan selain informasi itu, dan sekarang aku sedang berusaha untuk bisa menyadap ponsel Bianca, karena itu adalah sesuatu yang menurutku sangat penting, karena bisa saja hanya melalui Telepon, Bianca melakukan komunikasi dengan orang itu."


"Bagaimana kalau orang yanv di kirim Bianca itu dekat denganmu dan Vicky, maksudku orang di sekitar kalian atau orang kepercayaan kalian???" Tanya Geffie lagi.


"Aku akan berhati-hati dan selalu waspada."


Geffie mamandangi suaminya dengan penuh kecemasan. Dan berdoa dalam hati agar tidak ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan juga Vicky. Agar mereka berdua di jauhkan dari orang-orang yang berniat jahat pada mereka. Geffie juga tahu, Papanya saat ini juga terus memantau perkembangan masalah ini. Papanya sebisa mungkin akan membantu Garviil dan Vicky untuk membereskan Bianca sebelum semuanya terlambat. Harapan Geffie sangat besar sekali. "Janji ya kau akan selalu memberitahu ku mengenai update permasalahan ini, aku sangat tidak bisa tenang. Rasanya ingin sekali aku bertemu Bianca dan meminta penjelasannya, kenapa dia harus melakukan ini kepada kita. Dan kenapa dia tidak menerima kenyataan bahwa semua itu adalah kesalahannya. Bukan malah menyiapkan balas dendam yang membuat kita khawatir. Tetapi, apa pernah kau berpikir bahwa mungkin saja ini hanya salah informasi, aku takut karyawan Michelle salah dengar.???"


"Aku sudah meng konfirmasi nya dan dia tidak salah dengar, memang itu yang di dengar nya, and then dia tidak terlihat berbohong atau mengada-ada."


Geffie mengambil Lexia dari Garviil dan mengecup keponakannya itu. "Hati-hati, please berhati-hati."


"Iya sayang. Jangan khawatir. Dan doakan saja semoga kita segera mendapatkan informasi yang bagus nanti nya." Garviil tersenyum kemudian mendekati Gaffie dan memeluknya. "Kau baik-baik disini dan fokuslah dengan kuliahmu."


"Sudah hampir satu bulan ini kita selalu bersama-sama setiap waktu, dan besok kau harus kembali, kita berpisah. Aku sudah mulai terbiasa denganmu."


"Minggu depan aku kesini lagi. Hanya kurang dari 2 jam saja kan Boston kesini dengan Pesawat???" Garviil tersenyum. "Jum'at sore setelah dari kantor aku akan kesini, sehingga kita punya banyak waktu bersama, aku bisa kembali ke Boston senin pagi atau minggu malam. Aku pun sudah berjanji padamu, akan selalu mengunjungimu setiap minggu nya." Ujar Garviil. Tak lama suara bel berbunyi, Geffie beranjak lalu memberikan Lexia pada suaminya dan bergegas ke depan untuk.membuka pintu, itu pasti kakaknya yang sudah pulang karena tadi Gienka sudah memberitahu jika sudah dalam perjalanan pulang.


Garviil berdiri dan menyusul Geffie. Benar, Gienka dan Kyros sudah pulang.


"Sorry lama ya???" Tanya Gienka pada adiknya. "Kami tertahan sebentar tadi di jalan, Lexia tidak rewel kan???"


"Tidak sama sekali kak, dia bermain bersama dengan kami."


"Aku panik dan terus mengajak Kyros pulang, takut Lexia rewel."


"Bahkan menangis pun dia tidak."


"Syukurlah... Aku dan Ky akan mandi dan ganti baju dulu, kami juga sudah membeli makanan untuk kita makan malam."


Geffie mengangguk. Dan membiarkan Gienka ke kamar lebih dulu, tak lama Kyros juga masuk setelah memasukkan mobil ke garasi. Garviil membawa Lexia ke ruang tamu dan mengajaknya bermain sementara Geffie membawa makanan yang tadi di beli oleh kakaknya. Gienka memang menyuruhnya agar tidak menyiapkan makanan, karena dia sudah membeli dari luar dan mereka akan makan malam bersama.


Geffie sudah menyiapkan makanan yang di beli oleh kakaknya di atas meja makan. Gienka dan Kyros juga sudah turun dan berganti pakaian. Gienka menghampiri Geffie yang sedang menyiapkan piring di meja makan.


"Uhhh sayangnya Papa..." Kyros menghampiri Lexia yang ada di gendongan Garviil di ruang tamu. Garviil pun memberikan bayi cantik itu kepada Kyros kemudian Kyros mulai membuainya dengan penuh kasih sayang. "Kau tidak menangis ya waktu Papa dan Mama pergi, anak pintar."


"Lexia sepertinya tahu kalau kakak pergi untuk urusan penting jadi dia nyaman bersama Uncle dan aunty nya." Sahut Garviil.


"Jam berapa penerbangan mu Viil???" Tanya Kyros.


"Siang kak, 12.45."


"Aku sudah mendengar dari Papa Iel tentang permasalahan yang sedang terjadi, semoga kalian segera bisa segera menemukan titik terang. Kau jangan khawatirkan Geffie, dia akan aman disini, dan juga Papa Iel itu sangat cerdik sama seperti Apap, mereka punya orang khusus untuk mereka kirim yang diam-diam mengawasi anak-anaknya, yang bahkan kita sendiri tidak tahu. Itu dulu terjadi pada adikku Kyra dan juga Gienka, bahkan mungkin diriku sendiri yang tidak aku ketahui. Aku yakin Papa Iel sudah mengirim seseorang untuk mengawasi Geffie sekarang, kita tidak akan bisa menebaknya. Jadi jangan khawatirkan apapun, Geffie akan aman disini, aku dan Gienka juga akan menjaga nya."


"Thanks kak..!!! Sebenarnya aku juga khawatir, tetapi aku rasanya disini jauh lebih aman untuk Geffie tinggal."


"Tetapi kau sendiri apa tidak ada niat menemui perempuan itu dan mencoba berbincang. Sejak dia membatalkan pertunangan kalian, kau tidak pernah lagi bicara dengannya kan???"


Garviil menganggukkan kepala nya. "Memang kak, dan ku pikir juga untuk apa, dia datangembatalkan pertunangan ki juga atas keinginannya sendiri, bagiku ya untuk apa menemuinya, apalagi bicara dengannya, kurasa pengkhianatan yang dia lakukan padaku sudah cukup menyakitiku untuk kesekian kalinya. Tetapi kami pernah bertemu secara tidak sengaja saja beberapa kali, cuma tidak pernah mengobrol."


"Jadi kau pernah bertemu dengannya???"


"Ya." Garviil mengangguk. "Pertama saat aku menjemput Geffie untuk membawa nya ke rumahku dan bertemu Mama, saat itu Oma ku meninggal, jadi Geffie datang untuk bertakziah, dan di saat bersamaan ternyata Bianca juga datang ke rumah. Aku tidak mengatakan apapun karena Mama menyeretku masuk ke rumah bersama Geffie danenutup pintunya dari Bianca. Yang kedua adalah saat aku mengantar Geffie ke butik sahabatku yanv juga kemarin memberitahu ku mengenai hal ini. Disana kami tidak sengaja bertemu Bianca lagi, tetapi tentu aku dan dia juga tidak mengatakan apapun. Karena aku pikir hubungan kami sudah berakhir dan tidak memiliki masalah apapun lagi."


"Lalu Vicky sendiri bagaimana???" Kyros tampak menyimak sekaligus penasaran.


"Vicky sih tidak pernah lagi bertemu Bianca sejak kejadian di cafe itu, tetapi kalau Bianca menghubunginya ya sering sekali,mengirim pesan hingga menelepon tetapi Vicky mengabaikannya dan tidak meresponnya sama sekali, bagi vicky itu mengganggu, hingga Vicky juga memilih mengganti kontaknya suapay tidak terus di ganggu oleh Bianca."


Kyros tiba-tiba terkekeh. Ya, dia hisa sangat mengerti bagaimana watak dari Garviil dan Vicky sangat jauh berbeda. Garviil orang yang terkesan sangat tenang dan santai tetapi serius ketika menghadapi sesuatu, hanya saja itu berbeda dengan Vicky, yang orangnya memang lebih apa adanya. Ketika tidak menyukai sesuatu, Vicky akan langsung bisa mengekspresikannga tanpa perlu merasa tidak nyaman atau tidak enak. Sementara Garviil orang yang tidak enak dan suka menahan diri, memastikan semuanya dengan baik.


"Ayo, makanannya sudah siap." Ucap Gienka membuyarkan obrolan Kyros dan Garviil. Kedua lelaki itu beranjak dari sofa dan mengikuti Gienka ke ruang makan. Kyros meletakkan Lexia di stroller yang ada di sebelah kursi makan. Sehingga bayi itu bisa merasa nyaman dan Kyros serta Gienka bisa makan dengan nyaman.


"Apa yang kalian obrolkan, serius sekali???" Tanya Gienka.


"Obrolan laki-laki." Sahut Kyros.


"Iya deh, obrolan laki-laki."