
keesokan harinya
Garviil memeluk Geffie berpamitan kepada istrinya itu untuk kembali lagi ke Boston. Ini pertama kalinya nmereka akan berpisah setelah pernikahan mereka. Geffie terlihat sangat sedih sekali karena sudah hampir sebulan ini dia terbiasa bersama dengan Garviil dan sekarang dia harus berpisah dengan suaminya itu. rasanya benar-benar berat sekali lalu tiba-tiba saja Geffie menangis sesenggukan di pelukan Garviil membuat suaminya itu menggerutkan dahinya lalu melepaskan pelukannya dan menatap Geffie. " Hei kenapa kau menangis??? Aku hanya akan pergi selama satu minggu lalu akan ke sini lagi untuk menemuimu. Jadi kenapa kau harus menangis???"
"Aku sedih karena harus berpisah denganmu."
Garviil pun terkekeh lalu menyeka air mata istrinya. "Kau ini kenapa sih??? Aku hanya akan pergi Berapa hari saja, aku janji hari Jumat sore atau setelah dari kantor akan langsung ke sini dan kita bisa bertemu lagi jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama."
"Aku sudah terbiasa denganmu sekarang aku harus berpisah denganmu." Geffie mulai merengek lagi.
"Sayang, kau ini jangan menangis dong. Yang ada aku nanti jadi tidak tenang. Lihatlah di sini ada Kak Gienka, ada Lexia dan juga Kak Kyros mereka akan menemanimu disini."
Geffie menganggukkan kepala nya dan tersenyum pada Garviil. Gienka mendekati Geffie dan menepuk pundak adiknya itu memberikan semangat agar Geffie tidak terlalu sedih karena Garviil akan ke sini lagi minggu depan. "Viil Lebih baik kau segera berangkat, kasihan taksi nya menunggu lama nanti kau juga bisa terlambat." Ucap Gienka.
Garviil menganggukkan kepala nya kemudian mengecup dahi Geffie dan meminta istrinya agar tidak perlu mengkhawatirkannya. Garviil juga menggendong Lexia sebentar, menciumnya dan membuai keponakannya itu. Lexia sangat Cntik dan menggemaskan, Garviil akan sangat merindukannya. Setelahnya Garviil mengembalikan Lexia pada Gienka dan dia kembali memeluk Geffie lalu masuk ke dalam taksi yang sudah di pesannya untuk membawanya ke airport. Sebenarnya Kyros sudah berniat untuk mengantar Garviil, tetapi pagi tadi Kyros mendapatkan telepon mendadak dari kantor sehingga Kyros tidak bisa mengantar Garviil karena harus ke kantor.
Garviil masuk ke dalam taksi dan melambaikan tangan Lalau taksi itu berjalan keluar halaman rumah Gienka dan Kyros. Geffie pun di ajak masuk oleh Gienka ke dalam rumah. Gienka tahu adiknya sangat mmsedih harus berpisah dengan Garviil dan Gienka harus bisa menghibur Geffie supaya tidak sedih toh Garviil hanya pergi beberapa hari saja dan hanya ke Boston. Berbeda dengan dirinya dulu yang di tinggal Kyros ke luar angkasa selama berbulan-bulan tanpa komunikasi apapun dan tidak bisa bertegur sapa lewat telepon.
Garviil tersenyum melihat ke arah jendela taksi, kemudian dia melihat istrinya dan kakak iparnya mulai masuk ke dalam rumah dengan sedih. Garviil sebenarnya juga sangat berat harus berpisah dengan Geffie karena akhir-akhir ini memang mereka telah terbiasa bersama tetapi tentu Garviil harus kembali ke aktivitasnya semula dan sejak awal Dia memutuskan menikahi Geffie juga sudah tahu konsekuensinya bahwa dia akan terpisah dengan Geffie dan tidak bisa setiap hari bersama dengan istrinya itu, mengingat Geffie juga harus melanjutkan kuliahnya di Washington DC sedangkan Garviil punya tanggung jawab terhadap perusahaan milik mamanya yang dia Pimpin. Dia tidak boleh egois dan tetap harus bisa mengimbangi antara pekerjaan dan juga keluarga. Garviil berharap Geffie bisa menjaga dirinya baik-baik selama dia pergi.,
***
Vicky sedang duduk di kursi kerja yang ada di kamarnya. Menatap layar laptopnya yang menampilkan wajah Ciara. Ya, dia sedang berbicara dengan Ciara melalui panggilan Video. Karena weekend maka keduanya juga tidak sedang bekerja.
"Kau bilang hari ini kakakmu akan pulang ke Boston???" Tanya Ciara.
"Yah kakak akan pulang dan mungkin penerbangannya sebentar lagi."
"Kau pasti senang karena kakakmu akan pulang, kau kemarin galau sekali karena di rumah sendirian dan tidak punya teman untuk mengobrol."
"Ya bisa dibilang seperti itu, tapi apa kau tahu jika aku bersama kakak ku, maka kami akan sangat sering sekali berdebat denganny, sejak dulu kami jarang sekali akur."
"Kau Yang benar saja tapi kakakmu terlihat sangat baik dan menyayangimu." Pungkas Ciara.
"Karena kau tidak tahu saja apa yang terjadi sebenarnya, jika kami sedang berdua kami akan meributkan hal yang sangat kecil ya meskipun pada akhirnya kami akan berbaikan lagi."
Ciara terkekeh dan dia bisa membayangkan bagaimana dua saudara laki-laki sedang bersama kebanyakan mereka pasti akan saling mengejek satu sama lain.
Vicky tersenyum dan menatap monitor laptopnya. Sejak pertemuan awalnya dengan Ciara, Vicky sudah sangat menyukai gadis itu sehingga Dia sangat bersemangat untuk bisa lebih dekat lagi dengannya. Dan sepertinya usahanya benar-benar berhasil saat ini, dia menjalani persahabatan dengan Ciara dan berbagi banyak hal saling bercerita mengenai hari-hari mereka, sungguh Vicky sangat jatuh cinta pada Ciara menyukai segala hal tentang perempuan itu. Dan juga Ciara sangat perhatian dan peduli dengan Vicky terlebih lagi sejak kejadian penusukan itu Ciara semakin menunjukkan perhatian dan kedekatannya dengan Vicky.
"Ciara." Panggil Vicky.
"Ya." jawab Ciara.
"Boleh aku mengatakan sesuatu kepadamu???" Tanya Vicky lagi, dia sudah tidak bisa menahan diri untuk bisa segera mengungkapkan perasaannya kepada Ciara karena Vicky tidak suka basa-basi dan tidak suka menunggu lama jadi dia harus bisa segera membawa persahabatannya dengan Ciara ini ke jenjang yang lebih serius lagi. Vicky juga sudah bersiap dengan apapun jawaban yang akan diberikan Ciara setidaknya perasaannya ini bisa dia utarakan.
"Tentu saja, katakan apa yang ingin kau katakan."
"Iya, tetapi tentang apa???" Ciara benar-benar penasaran sekali.
"Ciara, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku langsung tidak bisa menahan diri untuk tidak melukismu, kau sendiri tahu bahwa saat itu aku melukismu tanpa ijin dan memberikan lukisan itu kepadamu. Dan sebenarnya juga aku masih menyimpan satu lukisanmu saat di pantai itu."
Ciara mengernyit. "Masih menyimpannya??? Bukannya kau sudah memberikannya padaku???" Tanya Ciara yang tampak tidak percaya dengan apa yang baru di dengar nya.
"Ya, aku sebenarnya membuat dua lukisan, satunya aku berikan padamu dan satu nya aku menyimpannya berharap suatu saat aku bisa bertemu denganmu lagi, dan ternyata aku bertemu denganmu lagi, aku sangat bahagia sekali. Aku sangat berharap bisa dekat denganmu, dan itu juga berhasil, kau sangat baik, menemani dan merawat ku di rumah sakit dan jiga saat aku sudah sampai di rumah. Perhatianmu semakin membuatku menyukaimu dan juga pribadimu. Aku juga bukan orang yang suka menyimpan perasaan terlalu lama dan tidak ingin bertele-tele sehingga aku rasa ini sudah waktunya aku menyatakan bahwa aku sangat menyukaimu, dan jika kau berkenan, bolehkah aku menjadi kekasihku???"
Deg.......
Hening
Ciara speechless. Enggan mempercayai apa yang baru di dengar nya dari Vicky. Ya walaupun sebenarnya Ciara sudah akan menduga ini karena dulu Bianca sudah banyak memberitahu nya tentang Vicky. Dan yang di katakan Bianca ternyata benar bahwa Vicky orang yang tidak suka bertele-tele dan apa adanya. Dan Vicky ternyata memang tidak bisa menahan perasaannya. Ciara sama sekali tidak menduga akan secepat ini, Vicky akan menyatakan perasaan kepadanya. Akan tetapi Ciara sebenarnya sudah tidak peduli dengan rencana Bianca, dia berhutang budi dengan Vicky, lelaki itu penyelamat nya dari Devan. Ciara juga menyadari kebaikan hati Vicky kepadanya, sikap lelaki itu yang juga sangat menyenangkan dan penuh tawa. Ciara sangat menyukai nya. Sudah lama dia tidak pernah mau dekat dengan laki-laki manapun, karena memiliki trauma tersendiri dengan sikap Devan dulu kepadanya, meski sangat banyak sekali laki-laki yang ingin sekali dekat dengan dirinya akan tetapi Ciara memang selalu menghindari mereka. Hanya saja ketika dengan Vicky, Ciara seolah menerobos semua tembok yang menghalangi nya.
Ya, dia memang awalnya terpaksa karena permintaan Bianca akan tetapi melihat kebaikan Vicky dan juga sikap Vicky, Ciara tidak lagi peduli dengan janji nya pada Bianca. Dia tidak mau melanjutkan semua ini, tidak mau membalaskan dendam Bianca pada Vicky dan Garviil. Ciara hanya ingin memperlakukan orang lain dengan kebaikan apalagi orang itu juga baik terhadapnya. Tetapi, Ciara ingat dengan janji nya pada Bianca bahwa dia tidak boleh jatuh cinta pada Vicky, dan hanya harus memainkan peran saja, berpura-pura menyukai Vicky meski tahu bahwa perasaan Vicky itu sangat murni dan tulus kepadanya.o
"Ciara???"? Panggil Vicky yang langsung membuyarkan lamunan Ciara.
"Eh iya..." Ciara tampak gelagapan.
"Kenapa diam???? Apa kau tidak mendengarkan perkataan ku tadi???" Vicky memastikan.
"Oh ya, aku tentu mendengarnya."
"Lalu???" Vicky bertanya dan meragu sekaligus jantungnya berdegup kencang. Sangat takut Ciara menolaknya tetapi Vicky berharap Ciara mauemberinya kesempatan untuk membuktikan.
"Jujur aku sangat berterima kasih dengan perasaanmu kepadaku dan aku sangat menghargainya kau tahu sendiri bahwa aku sangat trauma dengan apa yang dulu terjadi padaku saat aku takut ada laki-laki yang berniat melakukan hal semacam itu kepadaku lagi sehingga aku selalu menghindari mereka. Tetapi saat denganmu aku merasa sangat aman sekaligus nyaman, kau tidak seperti yang aku duga sebelumnya. Awalnya aku sangat takut sekali kepadamu karena kau terlalu berlebihan menunjukkan ketertarikannya kepadaku tetapi lambat laun setelah mengenalmu lebih dekat lagi kau adalah orang yang sangat menyenangkan sekali kau selalu membuatku tertawa setiap waktu dan juga candaan ringan mu itu membuatku semakin menyukai pribadimu tetapi Vicky apa menurutmu ini tidak terlalu cepat untuk kita berdua???" Ciara terlihat meragu.
"Seperti yang aku katakan tadi Ciara, bahwa aku orang yang tidak suka bertele-tele, tidak suka berbasa-basi dan aku tipikal orang yang tidak pernah mau dan tidak pernah bisa menahan perasaanku lebih lama. Itulah kenapa aku mengungkapkan perasaanku kepadamu hari ini. Aku sangat tahu apa yang pernah menimpamu dulu Ciara dan kau juga pasti tahu bahwa aku bukanlah Devan dan aku sejak dulu diajarkan oleh orang tuaku agar aku bisa menghormati seorang perempuan serta tidak memaksakan kehendakku kepada mereka jika mereka tidak mau, tentu aku juga tidak akan memaksa mereka dan aku tahu prinsip gadis jadi seperti dirimu sehingga aku juga bisa menempatkan diriku dengan baik dan tidak menjadi laki-laki yang ego. Aku bisa menjamin bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal rendahan seperti apa yang pernah dilakukan oleh Devan, kau bisa memegang janjiku ini percayalah padaku Ciara, jika kau memberiku kesempatan untuk bisa mengenalmu lebih dekat lagi serta memberiku kesempatan untuk bisa menjadi kekasihmu. Aku pasti akan sangat senang sekali karena aku benar-benar menyukaimu dan aku jatuh cinta kepadamu." Ujar Vicky bersemangat.
Ciara terdiam lagi lalu tersenyum kepada Vicky. Kemudian dia menganggukkan kepalanya dan menerima Vicky untuk bisa menjadi kekasihnya. Ciara mengatakan kepada Vicky bahwa dia sebenarnya juga sangat menyukai Vicky hanya saja dia meragu takut kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Ciara tidak pernah merasakan ini sebelumnya dan Vicky memang benar-benar laki-laki yang berbeda yang membawa warna baru di kehidupannya sehingga Ciara memutuskan berani untuk menerima Vicky dan mencoba menjalani hubungan dengan laki-laki itu sebagai sepasang kekasih.
Vicky langsung berteriak kegirangan karena cintanya diterima oleh Ciara dan Gadis itu memberikannya kesempatan untuk mereka bisa lebih mengenal satu sama lain. Vicky sungguh bahagia sekali saat ini.
"Tetapi Vicky bolekah aku bertanya sesuatu kepadamu???" suara Ciara merendah dan Vicky pun kembali duduk di kursinya dan menatap layar laptopnya.
"Bertanya tentang apa???"
"Kau tidak sedang menjadikanku sebagai pengganti Tiffany kan??? Dan aku tahu kau sangat mencintai Tiffany, aku juga tahu bahwa cintamu untuk Tiffany sampai saat ini masih begitu besar aku hanya takut bahwa kau akan memanfaatkanku untuk bisa menjadi pengganti Tiffany." Gumam Ciara.
"Ciara kenapa kau berfikir seperti itu. Aku sama sekali tidak punya niat untuk menjadikanmu sebagai pengganti Tiffany, sama sekali tidak pernah terpikirkan mengenai hal itu. aku memang sangat mencintai nya dan perasaan itu akan tetap ada, tetapi aku juga mencintaimu. Dan kalian berbeda tetapi cinta yang aku miliki untuk kalian berdua itu sama. Saat ini aku hanya mencintai Tiffany dalam kenangan saja, dia sudah tidak ada di sini bersamaku sehingga Tentu saja aku mencintainya dengan cara berbeda dan aku sama sekali tidak akan pernah membandingkan dirimu dengan Tiffany karena perasaan yang aku miliki kepada kalian berdua juga memiliki perbedaan. Di mana aku bisa melihat masa depan ketika bersamamu tetapi dengan Tiffany tentu sudah tidak ada masalah depan lagi. sungguh itu akan sangat berbeda sekali dan sekali lagi aku ingin memberitahumu bahwa aku tidak akan pernah menjadikanmu sebagai pengganti Tiffany, perasaanku kepadamu itu memang benar-benar perasaan cinta yang murni. Aku jatuh cinta dan ingin mencintaimu lebih dalam lagi."
Ciara tersenyum dia bisa melihat keseriusan di wajah Vicky dan Ciara akan sangat mempercayai Vicky karena tidak ada hal meragukan yang terlihat dari Vicky.
"Aku sangat senang sekali kau percaya padaku. Ciara dengarkan baik-baik aku berjanji bahwa aku akan membahagiakanmu dengan tawa di setiap harinya, aku juga tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi, jadi apakah aku boleh mulai hari ini memanggilmu dengan panggilan sayang???" Tanya Vicky sembari senyum-senyum.