My Brother

My Brother
Tak pulang



"Assalamualaikum!" Suara seseorang memberikan salam. Suara yang tak.asing lagi bagi Halimah. Ia segera membukakan pintu.


"Waalaikum salam!" Sahutnya, kemudian Halimah mencium punggung tangan orang yang selama ini dirindukannya. Siapa lagi kalau bukan Sang Bapak.


"Bagaimana kabarmu dan saudara - saudaramu, Nak?" Tanya Pak Salim sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan biru yang entah berapa jumlahnya.


"Alhamdulillah baik, Pak!" Seperti biasa Halimah menerima uang tersebut. Ia sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti sekarang.


Pak Salim berdagang ke kota P*****an. Sesekali pulang ke rumah jika sudah membawa uang banyak menurutnya. Hasil berdagangnya, sebagian beliau gunakan untuk ongkos pulang, sebagian diberikan pada Halimah anaknya dan sebagian lagi untuk membeli barang - barang antik untuk diperbarui dan di jual lagi dengan harga yang lebih mahal tentunya.


Setelah duduk beristirahat di temani sebatang rokok dan secangkir kopi buatan Halimah, Pak Salim beranjak masuk kamar untuk meletakkan tas pakaiannya. Namun Pak Salim terkejut saat mengetahui pintu kamarnya di kunci dari dalam.


"Halimah! Halimah!" Pak Salim memanggil anak sulungnya yang sedang mencuci piring.


Mendengar suara orang di depan kamarnya, Ibnu membuka pintu. "Bapak!" Keduanya terkejut kemudian saling berpelukan.


"Kamu di sini, Nak?" Tanya Pak Salim setelah melepas pelukannya dari Ibnu.


"Iya, Pak!" Jawabnya.


Mereka duduk di tepi ranjang. Halimah yang tadi mendengar namanya di panggil, segera menghampiri Bapaknya. Halimah tersenyum melihat dua sejoli bapak dan anak tersebut saling melepas rindu dan saling bertukar cerita, kemudian Halimah kembali ke dapur untuk membuat secangkir teh tawar untuk dirinya sendiri.


"Jika Mamamu pulang dari sana, Apakah kamu akan kembali ke rumah mama?" Tanya Pak Salim.


"Aku ingin bersama kalian, juga Indah!" Jawab Ibnu membuat Pak Salim tertunduk. Rasanya mustahil jika keinginan Ibnu bisa terwujud dalam waktu dekat. Pak Yusuf tidak akan membiarkan Indah kembali pada orang tua kandungnya dan entah sampai kapan hal itu akan terjadi. Hanya author yang tau.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Faika, apa ada kabar dari Abi mu?" isi pesan Ibnu.


"Belum, namun sepertinya mereka belum bisa pulang dalam waktu dekat!" Balas Faika.


"Mengapa kamu bilang begitu? Aku sangat merindukan Mama!" Tanya Ibnu tak percaya pada pernyataan Faika.


"Saat Abi menghubungi Umi, mereka membicarakan masalah yang terjadi di sana dan tidak memungkinkan untuk mereka pulang ke Tanah Air." Balas Faika menjelaskan. "Aku juga sangat merindukan Abi!" Lanjutnya.


"Oh, begitu!" Balas Ibnu penuh kekecewaan.


"Apa kamu tidak akan tinggal di sini lagi?" Faika balik bertanya.


"Entahlah! Aku pasti akan kembali ke rumah itu, tapi Aku tidak tau kapan!" Jawab Ibnu.


Mereka melepas rindu lewat Chat.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


**Terima kasih sudah mampir di novel ini๐Ÿ™


Yuk ramaikan kolom komentar sesuai isi hati para reader sekalian, agar author semakin semangat nulisnya dan menjadi lebih baik dalam hal merangkai kata๐Ÿค” Juga mengetahui tujuan novel ini mau dibawa kemana!!!.


Jangan lupa like and vote nya ya! Koin receh juga author ga akan menolaknya!


Thank you๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ**