
"Iya iya, itu dari aku. Tapi jangan dibuka di sini ya!?" Indah menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Baiklah!" Halim memasukkannya ke dalam tas.
πΉπΉπΉ
Malam itu Ibnu berniat pulang ke rumah Mamanya meski sang ibu belum pulang dari negeri seberang. Ia hanya ingin menginap dan mengambil beberapa pakaian dan esoknya akan kembali ke rumah Pak Salim.
Sebelum sampai di rumah, Ibnu mampir ke pedagang kaki lima yang menjual makanan di sekita MonSa. Seperti biasa ia makan nasi goreng kesukaannya.
Usai makan, tiba - tiba perutnya terasa sakit. Karena tidak tahan, ia memilih pergi ke Ponten yang terletak di bagian Utara MonSa.
Ketika selesai dengan sakit perutnya, Ibnu keluar dari kamar mandi. Jantungnya berdetak kencang. Indah! Adek! Dia pasti ada di sekitar sini! Batin Ibnu.
Hal serupa juga terjadi pada Indah. Tiba - tiba jantungnya berdegup kencang. Mas Ibnu, dia pasti ada di sini!. Gumam Indah.
Dua bersaudara itu saling mengedarkan pandangan hingga netra mereka bertemu pada suatu titik pusat. Seperti terhipnotis, mereka perlahan berjalan menuju titik tengah pandangan mereka bertemu. "Jangan di sini, jangan sampai teman - temanmu mengetahui pertemuan kita ini. Ikuti langkah Mas!" Bisik Ibnu tanpa menghentikan langkahnya. Namun ketika hendak berbalik, Indah mendapat panggilan telepon dari Halim.
"Sayang, kamu di mana?" Halim.
"Aku ke Kamar mandi!" Tanpa menunggu kalimat Halim selanjutnya, Indah mengakhiri panggilan Halim kemudian mencari keberadaan Ibnu serta mengikuti kemana Ibnu pergi.
Mereka duduk di sebuah ayunan yang ada di Taman bak dua insan yang sedang dimabuk asmara padahal mereka dua orang yang memiliki hubungan sedarah.
Mereka sepakat untuk bertemu besok pagi di Sekolah Indah. Setelah kesepakatan itu, Indah kembali bersama teman - temannya sedangkan Ibnu pulang ke rumah.
π·π·π·
Ana begitu penasaran kemana perginya Indah yang secara tiba - tiba. Namun ia tak berani bertanya karena tak ingin orang lain mengetahui privasi sahabatnya.
Mereka duduk membentuk sebuah lingkaran besar. Separuh bagian cewek, separuhnya lagi bagian cowok. Indah dan Halim duduk di batas antara cewek dan cowok. Di seberang mereka ada Dayat yang memandang tajam ke arah Indah dan Halim. Saat itu mereka sedang belajar dengan menggunakan metode Snawball Throwing yang pernah mereka dapat di Sekolah.
Snowball Throwing (bola salju) adalah suatu model pembelajaran yang dapat menggali potensi siswa dalam membuat dan menjawab pertanyaan melalui sebuah permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju yang terbuat dari kertas. Snowball Throwing dilakukan dengan pembentukan kelompok terlebih dahulu, kemudian siswa membuat pertanyaan di kertas yang kemudian dibentuk seperti bola lalu dilempar ke siswa lain untuk menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.
Kali ini, mereka yang terdiri dari dua puluh orang tersebut membuat permainan tersebut dengan cara mereka sendiri.
Mereka bebas menentukan sendiri materi yang akan mereka buat pertanyaan untuk dijawab oleh teman yang mendapatkan bola tersebut. Pelajaran yang mereka pilih adalah Bahasa Inggris. Waktu yang disepakati hanyalah satu menit untuk membuat pertanyaan dan satu menit untuk menjawab setiap pertanyaan. Usai menuliskan pertanyaan, mereka akan melemparkan kertas tersebut secara acak pada teman yang dikehendaki untuk menjawab pertanyaannya. Mereka akan mempresentasikan jawaban pertanyaan sesuai urutan nomor yang mereka dapat di tengah - tengah lingkaran yang mereka buat.
"Ya ampun! Kenapa banyak sekali?" Indah dibuat terkejut saat banyak bola salju yang terlempar ke arahnya. Indah mengumpulkan bola salju yang ia terima di depan dirinya dan mulai menghitung. Sepuluh bola yang ia terima.
"Apa aku harus menjawab semuanya?" Seru Indah.
"Ya iyalah, karena itu yang kau dapatkan!" Jawab Anik yang kebetulan tidak mendapat satu pun bola.
"Ga adil dong, Masa iya Indah dapat sepuluh bola sedangkan ada sembilan orang yang tidak kebagian bola kertas!" Halim keberatan.
"Tak apa, Ayo kita jawab!" Indah menepuk pelan tangan Halim.
"Tapi jika nanti Indah tak mampu menjawab pertanyaan yang ada di kertas, Indah bisa melempar kembali kertasnya pada salah satu diantara kami yang tidak mendapat bola!" Dayat.
"Sepakat!" Jawab yang lain serempak.
Mereka mulai membuka bola berisi pertanyaan tersebut. Beruntung Indah mendapat nomor bola yang juga acak sehingga masih ada banyak waktu untuk ia bisa menjawab semuanya tanpa ada satu pun yang tertinggal atau yang ia bagikan pada teman - teman yang lain.
"Tentu boleh, Selamat bergabung!" Jawab Indah yang saat itu berdiri di tengah lingkaran dengan senyum mengembang.
"Lanjut!" Seru Anik.
"Pertanyaan nomor sepuluh, What is the meaning of I LOVE YOU?" Indah menekan kalimat yang ditanyakan, karena ditulis menggunakan huruf besar semua.
"Jawab, Jawab, Jawab!" Seru yang lain.
"Jawab ke pemiliknya saja!" Celetuk Ana yang masih mengira Halim dan Indah masih berpacaran.
Indah langsung berbalik menghadap Halim dan menjawab "Aku mencintaimu!" Dengan senyum lebarnya.
"Aku juga!" Halim maju membawa setangkai bunga Seruni dan berjongkok dihadapan Indah serta menyodorkan bunga yang dibawanya. "I Love you too!" Membuat mereka bersorak dan bertepuk tangan.
"Trima, Trima, Trima!" Sorak mereka lagi.
Indah mengambil bunga di tangan Halim. "Ku trima bungamu, Tapi ku tolak cintamu!" Jawab Indah membuat teman - temannya menepuk jidat mereka sendiri. Namun Halim tak merasakan kesedihan, karena ia tau Indah mencintainya dalam diam. Halim berdiri dan bertepuk tangan, kemudian kembali ke tempatnya semula diikuti Indah yang duduk di sampingnya.
"Makasih ya!" Indah.
"Sama - sama, Sayang!" Bisik Halim.
Setelah terjawab dua puluh pertanyaan Bahasa Inggris, mereka beralih pada soal Fisika yang tentu menggunakan teknik dan aturan permainan yang berbeda.
πΌπΌπΌ
Keesokan paginya, Indah pamit pada Ibunya. Namun kali ini ia harus berbohong demi keinginannya bertemu keluarga kandungnya.
"Mau kemana, Indah?". Tanya Bu Sri.
"Mau ke sekolah, Bu!" Indah.
"Bukankah ini hari libur? Besok kamu juga sudah mulai ujian!" Bu Sri.
"Iya, Bu! Tapi hari ini Kami mendapat tugas untuk membersihkan kelas dan memasang kartu peserta ujian di bangku masing - masing, Bu!" Jawab Indah gugup.
Bu Sri yang percaya Indah tak pernah berbohong mengijinkan anak semata wayangnya pergi. "Jika sudah selesai acaranya, segera pulang!" Mengijinkan meski dengan berat hati karena perasaannya tidak enak.
Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya? Semoga tidak terjadi apa - apa pada Indah! Batin Bu Sri saat Indah mulai menghilang dari pandangannya.
Karena jam sudah menunjukkan pukul Tujuh lewat tiga puluh menit, Bu Sri memilih untuk melaksanakan Shalat Dhuha seraya mendoakan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Indah.
...~...
Assalamualaikum, Salam sejahtera para reader setiaku!
Terima kasih masih setia menunggu up "My Brother". Aku tunggu like n komentar pedasnya ya, Kak!
Happy Reading!
Wassalamualaikum n Salam Sejahtera untuk semuanya.