
Fathur menghubungi Indah untuk mengajaknya jalan - jalan ke Pantai C. Tentu Indah tak mau berangkat sendiri. Ia mengajak hampir semua teman ceweknya kecuali Faika karena ada acara keluarga.
Mereka berangkat menggunakan mini bus. Tak lupa Fathur pun mengajak ketiga adiknya, Arman, Ari dan tiga orang sepupu laki - lakinya.
Di tepi pantai mereka menikmati angin sepoi - sepoi disertai deburan ombak. Menikmati segarnya es kelapa muda bersama teman - temannya untuk menghilangkan penat yang selama satu Minggu ini bersarang di otak mereka. Tak ada satupun sepasang kekasih diantara mereka karena Indah sudah tak lagi menjalin kasih baik dengan Arman maupun dengan Fathur.
"Mayuh mangkat, Nom!" (Ayo berangkat, Om!) Ajak Heri pada Ibnu yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Mangkat de'emmah?" (Berangkat kemana?) Tanya Ibnu heran karena mereka tidak ada janji sebelumnya.
"Jalan - jalan ke pantai C!" Sahut Heri.
Tanpa menanggapi ucapan Heri keponakannya, Ibnu beranjak masuk mengambil jaketnya. Setelah keluar, Heri sudah menunggunya duduk di atas motor. Mereka berangkat tak hanya berdua, namun ada juga dua saudara Heri.
Terdapat sebuah kolam renang pinggir pantai C. Fathur mengajak Indah dan yang lain berenang.
"Aku ga mandi ya, Aku kan ga bisa berenang!" Ujar Ana. Dia hanya duduk di pinggiran kolam renang.
Indah menceburkan diri ke kolam renang. Berendam di air setinggi dadanya tersebut. Sesekali Indah berenang, tapi tidak terlalu jauh. Dia hanya melintasi lebar kolam bukan panjangnya.
Kenapa tidak melintasi panjang kolamnya?" Tanya Fathur lembut.
"Aku ga berani!" Jawabnya.
"Kan ada Aku! Kalau kamu mau, biar Aku yang membantumu!" Usul Fathur.
"Baiklah, Kamu tunggulah aku di ujung sana. Aku akan berenang dari sini menuju tempat mu menungguku!" Tanggap Indah.
Dengan senang hati Fathur berenang menuju tempat yang dimaksud Indah. Setelah Fathur tiba di seberang, Indah menceburkan diri ke dasar kolam dan berenang ke arah diagonal sehingga terasa jauh bagi Indah untuk mencapai tempat Fathur berada.
Bukan Fathur yang Indah temui, melainkan Arman yang sudah berdiri menunggu Indah.
Cinta Fathur dan Arman tak pernah berkurang untuk Indah. Mereka selalu sigap membantu Indah meski wanita yang sama - sama mereka cintai memutuskan tali kasih diantara mereka.
"Kamu kenapa bisa sampai di sini?" Tanya Arman setelah Indah menyembul di permukaan air.
"Bukankah tadi Aku sudah berenang dengan benar?" Tanya Indah heran setelah melihat dirinya jauh dari Fathur yang menunggunya sambil nyengir kuda.
"Yeeeee, Arman pemenangnya!" Teriak Ana diikuti tepuk tangan yang lain.
"Kalian pikir di sini ada lomba!" Sahut Indah dengan memajukan bibirnya.
"Kita buat kompetisi aja, Gimana?" Ana mengajukan ide gilanya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Fathur dan Arman.
"Fathur dan Arman berdiri di ujung sana! (Ana menunjuk sisi kiri tempatnya duduk), dan Indah tetap berdiri di situ. Fathur dan Arman akan adu kecepatan berenang menuju tempat Indah berada. Siapa yang lebih dulu menggapai Indah, berarti dialah pemenangnya dan itu artinya dialah yang benar - benar dan teramat sangat mencintai Indah sekali!" Ana berujar dan disetujui oleh Indah, Fathur dan Arman.
"Aku ikut!" Celetuk Ari.
"Oke, Silahkan!" Sahut Ana. "Silahkan buktikan bahwa kau diam - diam mencintai Indah!" Ana berspekulasi.
"Oho! Jangan salah, Neng! Yang Aku mau berdiri di sana bukan cuma Indah, tapi kamu juga!" Sanggah Ari.
"Maksud kamu?" Tanya Ana heran sedangkan mereka yang berada di dalam air tersenyum - senyum melihat perdebatan Ana dan Ari.
"Kalau Arman dan Fathur berkompetisi menggapai Indah, Aku juga akan adu kecepatan dengan mereka untuk menggapai mu seorang diri!" Ari terkekeh. "Siapa yang lebih dulu sampai, cowok yang mencintai Indah atau Aku yang mencintaimu? Jika salah satu dari mereka lebih cepat dariku, maka dialah yang lebih tulus mencintai kekasihnya melebihi cintaku pada dirimu! Paham 'kan?" Lanjut Ari.
"Kompetisi di mulai!" Ari berenang menuju tempat Arman dan Fathur bersiap.
"Tina, Ayo di hitung!" Perintah Ari pada Tina yang masih tidak mau turun dari pinggir kolam, hanya kakinya saja yang ia rendam di air.
Satu... Dua... Ti...
Aw! Blep blep blep
Byur!
Terdengar suara jeritan dan suara seseorang melompat ke dalam air secara bersamaan. Tina menghentikan hitungannya, sedangkan yang lain fokus pada sumber suara.
Beberapa menit saja seorang laki - laki berhasil menaikkan tubuh wanita yang berteriak tadi ke pinggiran kolam. Tina yang berada di dekat korban, seketika berteriak histeris "Indah!"
Teriakan Tina membuat mereka yang berada di bawah sadar bahwa teriakan itu berasal dari suara Indah. Mereka segera naik dan mendekati Indah. Indah tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum air dan kesulitan bernafas.
Laki - laki yang menolong Indah berusaha membangunkannya dengan menepuk pipi Indah perlahan dan memanggil namanya. Namun sia - sia karena tak ada reaksi apapun.
Laki - laki tersebut memeriksa pernafasan Indah dan denyut nadinya. Alhasil, keduanya melemah. Mengetahui hal itu, ia melakukan CPR. Hasilnya pun nol.
Tanpa meminta izin pada yang lain, laki - laki itu langsung saja memberikan nafas buatan.
Cara itulah yang membuat Indah memberontak.
"Mas!" Ucap Indah lemah.
Orang yang baru saja memberikan nafas buatan, segera menutup wajahnya dengan masker dan berlalu meninggalkan Indah. "Ku titipkan dia pada kalian!" Ucapnya sebelum pergi.
Indah mengeluarkan sisa air yang masuk ke lambungnya. Fathur dan Arman segera mendudukkan Indah. Fathur segera memposisikan dirinya di belakang Indah sedangkan Arman berusaha mengoleskan minyak kayu putih yang memang Indah bawa dalam tas ke kaki Indah.
"Kamu kenapa bisa jatuh, Indah?" Tanya Ana setelah Indah sepenuhnya sadar.
"Perutku keram! Saat aku menahan sakit, kakiku kepeleset dan Aku terjatuh ke dalam air!" Jawabnya.
"Maafkan Aku yang tak segera menolongmu!" Ucap Fathur menyesal.
"Maafkan Aku juga!" Tambah Arman. diikuti yang lain.
"Tak apa, ini bukan salah kalian! Hanya kecelakaan kecil yang mungkin Allah rencanakan buat aku!" Indah tak ingin membuat teman - temannya merasa bersalah.
Fathur segera mengajak Indah dan yang lain berganti pakaian. Mereka keluar dari area kolam renang untuk makan siang sebagai pengganti energi mereka yang habis di kolam renang terutama Indah.
"Minumlah dulu!" Fathur menyodorkan segelas teh hangat untuk Indah.
"Terima kasih!" Ucap Indah sembari meraih teh hangat pemberian Fathur dan meminumnya hingga tersisa setengah bagian.
Tak lama setelahnya, Makanan pesanan mereka datang.
Seseorang tetap mengawasi mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.
🌼🌼🌼
Jangan lupa like n vote ya, Kak!!!
Komentarmu, Bahagiaku!❤️❤️❤️