My Brother

My Brother
4



Sudah setengah jam Leon menunggu Naomi di ruang tengah dengan Tamara, pagi ini sebelum berangkat Kerja dirinya akan mengantar Naomi terlebih dulu ke sekolah.



Beberapa kali ia mengecek jam tangannya dan satu jam lagi pemotretan akan dimulai. Dalam hati Leon berdoa agar Naomi melupakan kesalahan yang membuatnya kesal kemarin, sehingga pagi ini semua berjalan lancar agar dirinya juga tak terlambat bekerja.



Tamara melihat putra sulungnya yang mulai gelisah, ia tahu betul bahwa sekarang ini Leon tengah dikejar waktu. Ia tak habis pikir kenapa Naomi bisa semarah itu pada Leon hingga tak mau berbicara dengan Kakaknya. Padahal selama ini mereka jarang sekali bertengkar.



"Leon, mendingan kamu berangkat duluan aja deh! Biar nanti Naomi diantar supir."



"Enggak, Ma! Leon tetap mau nunggu Naomi, Leon merasa bersalah ke Naomi, Ma." Leon menunduk lesu, dirasakan usapan lembut sang Mama yang membuat hatinya merasa sedikit tenang.



Senyum lega Leon mengembang kala melihat sang adik turun dari tangga mengenakan seragam sekolahnya lengkap. Segera lelaki itu berdiri dan menghampiri Naomi, gadis itu mendesah kesal.



"Biar kakak anter, ya?" ajak Leon kemudian menggandeng tangan Naomi, namun dihempaskan oleh gadis itu. Leon merasa sedikit kecewa dengan penolakan adiknya, namun ia tutupi dengan senyum di wajah Leon.



"Naomi, kakak kamu udah nunggu kamu lebih dari setengah jam yang lalu! Hargai kakak kamu yang udah sempetin waktu buat antar kamu ke sekolah!" ucap Tamara setengah kesal, ia kecewa dengan sikap ketus yang ditunjukkan oleh naomi pada putra sulungnya.



"Aku gak nyuruh Kak Leon buat nunggu aku kok, Ma. Salah dia sendiri yang sok sok-an mau antar aku ke sekolah." Naomi bersikap ketus pada Leon, membuat lelaki itu menunduk lesu. Ia merasa sedih dan terluka melihat adiknya begitu acuh padanya seolah rasa sayang Naomi pada Leon lenyap entah ke mana.



"Terus kamu mau di antar sama siapa?" tanya Leon lembut berharap adiknya mau berbicara padanya.



"Ma, aku berangkat dulu ya. Udah ditunggu sama temen." Naomi berjalan begitu saja melewati Leon. Gadis itu menghilang dengan pintu depan yang sudah tetutup rapat.



"Ma, Leon harus gimana?" Leon memeluk Tamara. Mencurahkan isi hati lelaki itu yang merasa tersiksa dengan sikap cuek adiknya. Tamara menenangkan Leon dan menasehati agar memberikan waktu untuk Naomi. Leon mengerti kemudian berangkat bekerja, ia yakin sudah terlambat sekarang.



***



Naomi memasuki rumahnya dengan langkah gontai dan lesu. Seharian tadi di sekolah ia merasa bersalah atas sikap kurang ajarnya pada Leon. Seumur hidup baru kali ini ia memperlakukan Leon seperti itu, sungguh hati Naomi tak tenang sekarang.



"Ma, Kak Leon belum pulang?" tanya Naomi sambil melepas sepatunya di samping rak sepatu.



"Leon gak akan pulang ke sini lagi, Naomi." Tamara menjawab dengan nada lembutnya. Naomi mendongak menatap Mamanya, gadis itu mengernyit bingung.



"Maksut Mama?" tanya Naomi bingung. Jantungnya berdegup cepat, ia merasakan firasat yang buruk.



"Mulai hari ini, Leon tinggal di apartementnya. Lebih deket ke lokasi syuting katanya." Tamara mengikuti Naomi yang duduk di sofa ruang tengah. Raut keterkejutan tak bisa disembunyikan dari wajah cantik Naomi.



"Tinggal di apartemen? Kok mendadak, Ma?" tanya Naomi bingung, rasa kecewa membuat hatinya begitu sakit hingga sesak terasa di dada.



"Mau gimana lagi, di sini pun dia gak dianggap sama adik yang paling ia sayangi," sindir Tamara membuat Naomi tersentak. Kini ia sadar kalau sikapnya pada Leon sudah keterlaluan, setetes air mata jatuh ke pipi Naomi. Ia merasa jadi adik paling jahat sedunia.



"Naomi, Mama nggak tau kenapa kamu bisa semarah itu sama Kakak kamu. Tapi, apa yang kamu lakuin ke Leon itu sudah keterlaluan. Leon selalu sedih melihat sikap kamu yang acuh ke dia, Mama tau kamu semakin dewasa dan mungkin akan merasa risih dengan sikap kakak kamu yang selalu memanjakan kamu. Tapi bukan begini caranya, Nak." nasehat Tamara yang membuat Naomi semakin sadar akan kesalahannya. Maka ia bertekat untuk meminta maaf pada kakaknya.



***



Naomi memutuskan untuk meminta maaf pada Leon dengan mendatangi pria itu di apartemennya, ia tak ingin hubungan mereka yang semula baik-baik saja menjadi renggang lantaran kecemburuan Naomi yang sudah jelas-jelas salah.



Ia tak pantas cemburu pada Leon yang tak lain adalah kakaknya sendiri, seharusnya ia senang karena Leon menemukan sosok yang sempurna seperti Vebra. Gadis yang cantik dan baik hati, juga bisa menerima Leon apa adanya.




Membayangkan hubungan mereka akan kembali seperti sediakala, membuat Naomi terus mengembangkan senyum manisnya.



"Semoga Kakak mau maafin aku." Naomi bergumam sembari menatap jalanan padat kendaraan dari jendela kaca di sampingnya. Gadis itu kembali tersenyum ketika ingatan masa kecil mereka melintas di kepala Naomi. Leon memang sangat menyayanginya.



Lima belas menit kemudian ia telah sampai di apartemen Leon, ia menapaki lorong apartemen yang keseluruhan pintunya tertutup rapat.



"Makasih ya, Sayang, kamu mau datang ke sini malam-malam." suara bass seseorang mengintrupsi langkah kakinya, ia tersenyum dan mendongak ke depan untuk segera memeluk lelaki yang sangat ia kenal itu, tak lain pemiliki suara bass yang baru saja memanggilnya 'sayang'.



"Iya, Sayang. Aku tadi gak sengaja lewat depan apartement kamu." suara merdu seorang wanita menghentikan langkah Naomi seketika. Naomi mendongak melihat pemandangan menyakitkan yang hanya berjarak empat meter darinya.



Dua sejoli yang tak menyadari kehadirannya itu berciuman begitu mesra di depan pintu apartemen Leon yang terbuka. Refleks Naomi menjatuhkan kotak kue yang ia bawa, membuat kedua pasangan yang tengah dimabuk cinta itu menoleh kaget padanya.



"Naomi?" panggil Leon setengah terkejut melihat kehadiran adiknya di sana. Naomi segera mengambil kotak kuenya tadi dan menghampiri kakaknya. Ia berusaha tersenyum meski hatinya terasa sangat sakit, ia menahan air matanya agar tak terjatuh di depan mereka. Dan pastinya akan membuat keduanya merasa heran jika Naomi menangis saat melihat kakaknya bermesraan dengan sang pacar.



"Aku tadi di suruh Mama buat anterin kue ini. Soalnya tadi Mama beli buat aku di rumah jadi sekalian buat Kakak juga," ucap Naomi berusaha bersikap senatural mungkin. Ia melihat Kakaknya tersenyum bahagia dan meraih kotak kue berbungkus plastik yang ia pegang.



"Makasih, Dek. Masuk dulu yuk," ajak Leon antusias, ia bahagia akhirnya Naomi mau berbicara lagi dengannya.



"Enggak deh, Kak. Soalnya aku mau ngerjain PR di rumah. Aku pamit pulang ya, Kak," pamit Naomi cepat. Ia segera berlalu dari sana tanpa mendengar jawaban dari kakaknya terlebih dulu.



***



Baru saja Leon akan memjamkan matanya, namun ponsel miliknya lebih dulu berdering dan menggagalkan rencana instirahat lelaki itu.



Tertera nama 'Mama' pada layar ponsel, segera ia mengangkat panggilan dari Ibunya dengan malas. Tak biasanya sang Mama menelpon tengah malam begini.



"Apa, Ma? Naomi belum pulang?" Leon seketika panik saat mendengar Ibunya mempertanyakan keberadaan Naomi yang tak pulang ke rumah. Padahal Leon yakin adiknya tadi pamit untuk kembali pulang dan mengerjakan PR.



"Ini udah tengah malam, Ma, bahaya buat Naomi di luar sendirian! Biar Leon yang cari ya, Ma!" segera Leon menutup panggilan Tamara secara sepihak. Ia segera memakai jaketnya dan bergegas mencari Naomi.



Ketakutan menghampiri Leon kala membayangkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi, ia merutuki kebodohannya yang tak mengantar sang Adik pulang dan memastikannya sampai di rumah dengan aman.



Pria itu mengambil ponselnya dan menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mencari Naomi ke setiap sudut kota. Ia mengumpat kesal kala orang suruhannya tak berhasil menemukan Naomi, pria menepikan mobilnya dan menelusuri setiap sudut area sekitar pantai yang biasa Naomi kunjungi.



Ia berteriak panik memanggil Naomi, bagi Leon kehilangan Naomi adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Ia sangat menyayangi adiknya, bahkan kini pria itu terduduk lesu dengan air mata mengalir deras kala tak menemukan Naomi di manapun. Umpatan terus ia lontarkan pada orang suruhannya yang menelpon dengan hasil yang nihil.



Ia rela menukar apa pun yang ia miliki, asalkan ia tak akan pernah kehilangan Adik yang sangat ia sayangi. Lelaki itu menangis dan merasa sesuatu yang buruk terjadi pada Naomi, segera ia berlari dan menyusuri pantai yang sudah sepi itu. Ia bersumpah akan menghabisi siapa pun yang berani mengganggu adiknya.



"TOLONG!"



"BERENGSEK!"



__________tbc.