My Brother

My Brother
2



Leon memasuki kamar Naomi yang didominasi warna ungu muda. Ia menyukai kamar adiknya yang beraroma strawberry, membuatnya tenang dan membuat pria itu ingin berlama-lama di sana.



Ia tersenyum melihat adiknya masih bergelung di dalam selimut hangat bergambar Hello Kitty, tokoh kartun favorit Naomi.



"Sayang ... ," panggil Leon dengan sedikit menggoyang pundak Naomi. Namun adiknya itu hanya bergumam tak jelas.



Cup ...



Satu kecupan mendarat di pipi tembam Naomi. Leon merasa ketagihan mencium pipi adiknya yang gembil, ia tersenyum jahil kemudian menekan kuat pipi Naomi dengan bibirnya.



"KAKAK!" Naomi berteriak kesal sambil mendorong wajah Leon menjauh. Ia tengah memimpikan Radit, ketua osis yang menjadi pujaannya secara diam-diam.



"Biarin!" Leon tetap mengecup seluruh wajah Naomi, bahkan sesekali bibir gadis itu juga terkena sasarannya.



"Aiiisshhh." Naomi sangat kesal pada Leon yang sudah menindihnya dan tak membiarkan mata gadis itu terpejam lagi. Padahal ia ingin mengumpulkan sisa mimpinya tadi. Siapa tahu bisa kembali tersambung, pikir Naomi.



Cup ..



Cup ...



Cup ...



"MAMA!" Naomi menjerit kesal sembari memanggil Mamanya. Ingin sekali ia menendang Leon agar pria itu terguling jatuh ke lantai. Namun tubuh Naomi begitu kecil, tak sebanding dengan tubuh tegap atletis milik Kakaknya.



"Ahh!" Leon memekik keras kala sebuah tarikan ia dapatkan di telinga. Lelaki itu melihat pelakunya, dan ternyata Ricard sudah menatap horor padanya hingga mau tak mau ia bangkit dari atas tubuh Naomi.



Leon menggaruk tengkuknya kikuk, ia ketahuan tengah menganggu adiknya.



"Mau kamu makan adik kamu itu? Hah?" tanya Ricard penuh selidik. Leon hanya tersenyum kikuk dan melirik ke arah Naomi. Ia terkejut mendapati adiknya sudah lenyap entah ke mana.



"Cuma kasih morning kiss aja, Pa." Leon beralasan. Ricard hanya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan anak-anaknya.



"Morning kiss kok sampai adik kamu megap-megap gitu."



"Terlalu semangat, Pa. Maklum masih pagi, jadi hormon Leon lagi meningkat gitu."



"Makanya cari istri, jangan kelamaan ngejomblo."  Leon tersenyum kecut mendengar sindiran Papanya sebelum keluar kamar. Mau tak mau ia mengikuti langkah Ricard ke meja makan untuk sarapan.



Sedangkan Naomi hanya tersenyum di dalam kamar mandi ketika mengingat semua perlakuan manis Leon padanya selama ini. Jantungnya berdetak kencang, ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.



Ia hanya mengagumi Radit. Hanya kagum bukan mencintai.



Namun pada Leon? Naomi masih mencoba mendalami perasaannya. Ia menyayangi Leon bukan sebagai Adik pada Kakaknya, tapi lebih.



Segera Naomi membuang pikiran itu jauh-jauh, ia tak ingin terlibat cinta terlarang dengan Leon. Mereka adalah saudara kandung.



***



Naomi tengah menyantap makan siangnya di kantin bersama Maura. Gadis berkaca mata itu terus bercerita soal Gading, kekasihnya. Naomi hanya menanggapi sekenanya saja, sejujurnya pikiran gadis itu melayang jauh pada Leon.



"Lo dari tadi cuma bengong mulu. Kenapa sih?" tanya Maura sedikit kesal pada Naomi yang tak merespon ucapannya.




"Jatuh cinta? Emang lo belum pernah jatuh cinta?" Maura memicingkan matanya. Naomi menggeleng lesu. Ia memang belum pernah jatuh cinta.



"Ya ampun ... sumpah ya, gak nyangka banget gue!" pekik Maura berlebihan. Naomi berdecih kesal.



"Iya iya ... jangan ngambek dong!"



"Jadi?" tuntut Naomi penasaran.



"Jatuh cinta itu saat lo merasa orang tersebut begitu istimewa. Lo terus kepikiran sama dia dan senyum-senyum sendiri waktu inget perbuatan manis dia ke elo, walaupun itu hal sepele. Dan lo bakalan cemburu pas doi deket ma cewek lain  selain lo." Maura menjelaskan definisi jatuh cinta ala dia.



Naomi memikirkan semua ucapan Maura, gadis itu membenarkan semua ucapan sahabatnya. Ia mengalami semua itu. Naomi berusaha menampik kenyataan bahwa dirinya menyukai Leon.



Leon memang laki-laki yang sempurna, wajar saja jika memiliki banyak penggemar. Jantung Naomi semakin kencang berdetak kala bayangan wajah kakaknya melintas, segera ia menepis semua itu sekuat hati. Cinta memang tidak salah, hanya saja ia yang salah mencintai seseorang.



***



Naomi berjalan ke arah pintu gerbang sekolahnya, ia tersenyum senang kala Leon sudah berdiri di samping mobilnya. Kini lelaki itu menggunakan hoodie berwarna hitam lengkap dengan masker dan kaca mata hitam. Naomi diam-diam mengagumi kesempurnaan kakaknya.



"Kakak," panggil Naomi sembari mengeratkan pelukannya. Hangat, itulah yang ia rasakan.



"Gimana sekolah kamu, Sayang?" Leon membenarkan rambut Naomi yang berantakan.



"Baik kok, Kak."



"Kamu gak centil-centil sama cowok, kan?" tanya Leon menyelidik. Ia sungguh tak suka jika ada lelaki yang mendekati adiknya.



"Enggak lah," jawab Naomi cepat.



"Sayang, cepet dong!" Naomi terkejut hingga jantungnya ikut diam tak berdetak ketika mendengar suara seorang wanita dari dalam mobil kakaknya. Wanita itu membuka kaca mobil Leon, tampaklah seorang wanita anggung seusia dengan kakaknya tengah duduk di kursi samping kemudi.



"Siapa dia, Kak?" tanya Naomi kaget. Ia hanya berharap kakaknya tak memberikan jawaban yang akan membuatnya patah hati.



"Vebra, pacar Kakak," jawab Leon mengenalkan wanita itu. Harapan Naomi pupus sudah, hatinya kini hancur mendengar kenyataan pahit dari bibir kakaknya sendiri. Ia merasa sangat sakit di dada hingga sesak menyerangnya, sungguh Naomi ingin menangis sekarang.



Leon membukakan pintu belakang untuk Naomi. Gadis itu masuk dan duduk dengan tenang, tapi tidak dengan hatinya yang kacau. Ia berpura-pura senyum bahagia, namun kini batinnya menjerit sakit melihat Leon begitu akrab dengan wanita tersebut.



Bahkan kakaknya mengacuhkan Naomi dan memilih bersenda gurau bersama Vebra. Leon juga sesekali menggoda wanita itu dan mengecup mesra punggung tangan Vebra.



Sakit!



Naomi rasanya ingin menangis meraung melihat semua itu. Cinta pertama pada orang yang salah, dan cinta pertamanya berakhir tragis sebelum menyatakan perasaannya. Ia menghapus air matanya kasar, memilih melihat ke luar jendela adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.



Jadi ini yang namanya cemburu dan patah hati? Kalau tau rasanya sesakit ini, aku gak akan pernah mau mencicipi manisnya mencintai.



________________Tbc.