My Brother

My Brother
Surprise



"Surprise.......!" Teriakan seseorang di depan pintu kamar membuat Ibnu membulatkan mata. Mengerjap serta menggosok - gosok matanya tak percaya.


Tak mungkin sosok yang dirindukannya tiba - tiba berdiri di hadapannya.


" Ini pasti mimpi, karena posisiku saat ini sedang berada di tempat tidur." Ibnu mengamati sekitar tempat tidurnya. Sedangkan di sisi pintu, wanita tersebut melebarkan senyumnya melihat tingkah bingung Ibnu.


Siapakah Dia?


Wanita paruh baya yang sedang tersenyum merentangkan tangannya meminta penyambutan Ibnu. Perlahan Ibnu turun dari ranjang dan memeluk orang yang dirindukan. Tak lama kemudian, ia merenggangkan pelukannya.


"Ini benar Mama 'kan?" Ibnu mengambil tangan wanita paruh baya itu dan mengarahkan ke wajah agar beliau menamparnya.


Bu Ifa menepuk - nepuk pipi anaknya. Ini nyata dan bukan mimpi.


Ibnu melepas rindu pada wanita yang melahirkannya.


"Apa Mama akan kembali pada Bapak?" Tanya Ibnu.


"Terserah Bapakmu, Nak! Tapi sebelum itu, Mama ingin menjemput Toni adikmu dulu." Jelas Bu Ifa.


"Apa Mama membawa buah tangan untuk Indah?" Ibnu bertanya.


"Tentu, Sayang!" Bu Ifa membongkar isi koper kecil yang ia bawa. Baju gamis berwarna gelap sangat pas dengan ukuran tubuh Indah.


"Kok Mama bisa tau ukuran tubuh Indah, padahal kan Mama sudah lama tidak pulang?" Ibnu meminta penjelasan.


"Mama yang melahirkan kamu, Mama yang melahirkan Indah, Mama juga yang melahirkan Kakakmu dan juga Toni Adikmu! Tanpa mengukur tubuh kalian pun Mama bisa menentukan ukuran baju yang pas untuk kalian semua!" Terang Bu Ifa.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya, Bu Ifa dan Ibnu berangkat ke kota tempat tinggal Paman Husein untuk bertemu Toni.


 


"Assalamualaikum!" Ucap Ibnu ketika tiba di pintu rumah Paman Husein.


"Waalaicum calam!" Sahut seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun.


"Cali ciapa?" Tanyanya setelah mencium tangan Ibnu.


"Cali Lita!" Ibnu berjongkok menyamakan tingginya dengan Rita dan membuat suaranya sama dengan gadis kecil di depannya.


"Namatu Lita, Om ini ciapa?" Balasnya.


"Namatu Ibnu!" Jawab Ibnu.


"Tunggu bental ya, Om. Lita panggil Mama cama Papa dulu!" Rita berlari mencari Mama dan Papanya, tapi bukan mereka yang Rita temukan melainkan Toni yang sedang bermain game ponselnya.


"Kakak, Pama cama Mama mana?" Tanya Rita.


"Papa cama Mama pelgi ke manten." Jawab Toni sembari mematikan ponselnya.


"Kok Lita ga diajak?" Lita menundukkan kepala hampir nangis.


Toni menggendong dan mengusap lembut punggung Rita. "Tadi, waktu Mama sama Papa berangkat, Lita bobok. Jadi Papa sama Mama ga bangunin Rita.


"Oh, gitu ya!" Rita mengangguk mengerti.


"Kakak, di depan ada tamu." Beritahu Rita.


"Siapa?, Ayo kita lihat!" Tanya Toni sembari menggendong Rita keluar kamar.


Mas!" Pekik Toni langsung memeluk Ibnu. Beruntung tangan kirinya masih menahan tubuh Rita dalam gendongannya.


"Mas ga masuk sekolah, ini kan hari Sabtu?" Tanya Toni setelah mereka mengurai pelukan.


"Mas sengaja ijin tidak masuk untuk menemuimu!" Jawabnya.


"Oh, makasih ya Mas sudah menyempatkan waktu buat aku!" Toni berterima kasih.


"Apa kamu senang Mas datang?" Tanya Ibnu.


"Seneng banget, Mas! Bahkan jika saat ini Toni diberikan sepuluh gram emas, itu ga ada artinya dibandingkan dengan kedatangan Mas kesini!" Seru Toni.


"Kalo Mas yang bawa emas sepuluh gram, apa kamu senang?" Pancing Ibnu ingin mengetahui ekspresi dan jawaban Toni.


"Waduch! Makin seneng Aku!" Jawabnya riang.


“Yach, kenapa dibatalin sih?” Tanya Toni kecewa.


“Karena kamu bukan cewek”. Jawab Ibnu menaik turunkan alisnya.


“Alangkah baiknya jika Mas memberikanmu gadis cantik.” Lanjutnya.


“Gadis cantik?” Tanya Toni bingung. “Buat apa?” Tanyanya lagi.


“Untuk kau jadikan kekasih!” Sahut Ibnu terkekeh.


Di balik pintu, Bu Ifa ikut terkekeh mendengar candaan yang dilontarkan Ibnu terhadap adiknya. Beliau memang sengaja bersembunyi di sana agar Toni merasakan surprise yang sama dengan Ibnu.


“Sadar Mas, Sadar! Mas ga lagi sakit, ‘kan!” Toni mengerutkan kening di depan Ibnu.


“Om jangan beltengkal dengan Kakak!” Ucap Rita yang sedari tadi memperhatikan mereka.


“Kami tidak bertengkar, Sayang!” Sahut Ibnu dan mengambil alih Rita dari pangkuan Toni.


“Aku ga lagi sakit, Dek. Aku hanya ingin memberikan kamu kebahagiaan dengan mengajak wanita itu bertemu denganmu!” Lanjutnya melirik wajah sendu Toni yang ga mungkin punya kekasih diusianya yang masih dua belas tahun.


“Mas kenapa maksa............


“Masuklah, Sayang!” Ibnu memotong kalimat Toni.


Mereka bertiga melihat ke arah pintu rumah Paman Husein. Entah apa yang ada dipikiran Toni saat ini, karena hanya Toni sendiri dan author lah yang tau.


Wanita bercadar itu perlahan melangkahkan kakinya masuk dan mendekat pada Toni. Melihat wanita itu mendekat, wajahnya menjadi pias. Ia benar – benar tak bisa mengenali wanita itu.


“Stop, berhenti di situ!” Toni mengangkat kedua tangannya bak seorang penjahat yang dituntut untuk menyerahkan diri.


Wanita itu terisak di balik cadarnya. Bukan karena ia menerima penolakan dari Toni melainkan karena kebahagiaanya bertemu kembali dengan anak bungsunya.


Lain halnya dengan Toni, ia sama sekali tidak senang dengan kehadiran wanita itu meski ia belum melihat wajah perempuan dihadapannya.


“Perhatikan dulu wajahnya baik – baik, setelah itu kau boleh menolaknya. Bahkan Aku tidak akan memaksamu dan akan membawanya pulang!” Perintah Ibnu pada Toni.


“Mama?” Pekik Toni dalam hati. Ya, Mata itu sama dengan miliknya dan Ibnu, namun dirinya takut salah orang karena Ibnu mengatakan bahwa dia adalah seorang gadis.


“Be.... Benarkah.....?” Bibirnya bergetar, Netranya memandang Ibnu meminta penjelasan.


Ibnu membenarkan dengan menganggukkan kepala perlahan.


“Mama.........” Toni berteriak hendak memeluk Mamanya.


“Mama......, Aku sangat merindukanmu!” Toni memeluk erat tubuh beraroma maskulin sambil memejamkan mata menahan air mata kerinduan pada sang Mama.


“Iya, Aku juga merindukanmu wahai adikku!” Jawab Ibnu membuat Toni membuka mata.


Oh ternyata, bukan Mamanya yang ia peluk melainkan Ibnu kakaknya. Bu Ifa dan Ibnu terkekeh melihat ekspresi wajah Toni.


Sementara seorang yang ditertawakan menatap tajam sang kakak.


“Mas kenapa sih, adi penghalang kebahagiaan orang lain?” Tanyanya cemberut.


“Karena tadi kau bersikeras menolak wanita yang Mas bawa untuk kamu.” Jawab Ibnu santai.


“Itu kan karena Aku pikir gadis itu bukan Mama!” Gerutu Toni sambil berjalan melewati Ibnu menuju tempat Mamanya berdiri. Pelukan erat terjadi kembali setelah hari kemarin Bu Ifa memeluk Ibnu.


“Lita kan juga mau digendong cama Bude!” Suara Rita memecah haru diantara mereka bertiga.


“Oh, Iya!” Bu Ifa mengambil Rita dan membawa ke pangkuannya.


Toni berlalu ke dapur untuk membuatkan Teh hangat untuk Mama dan Kakaknya. Setelah itu mereka mengobrol panjang kali lebar.


Sedangkan Rita disibukkan dengan boneka Onta yang diberikan oleh Bu Ifa.



Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak!


Pedasnya cabe, Aku tak tahan. Pedasnya komentarmu aku tahan demi kelanjutan novel "My Brother" ini!


Terima kasih!!!