
“Itu loh, Pa! Kekasih pujaan hatiku yang aku rindukan setiap hari, pagi, siang, sore sampai malam!” Jawab Anik merajuk memanggil Papa pada Dayat.
Oh.... pagi, siang, sore, malam?!?!?!?” Sindir Ana sambil menaik turunkan alisnya melirik pada Indah. Anik sama sekali tak mempedulikan sindiran Ana.
“Kamu sih, diajak aku kencan, malah nunggu yang tak pasti!” Halim.
“Ayo!” Seru Anik.
“Tambah dulu tinggi badanmu!” Ledek Halim membuat Anik pergi dengan langkah tergesa – gesa.
Ha! Bisa - bisanya kamu bilang begitu padahal ada Indah di dekatmu!
🌹🌹🌹
“Hai!” Sapa seseorang yang suaranya tak asing bagi Anik namun ia lupa siapa pemilik suara tersebut.
Anik menoleh ke sumber suara yang tak lain adalah Rino tetangga sekaligus teman bermainnya.
Mereka memang sering bersama saat waktu senggang karena jarak rumah mereka memang berdekatan. Entah apa yang menyebabkan Anik memanggil nama Rino tanpa embel – embel Mas atau Kakak padahal usia Rino tiga tahun diatasnya, sedangkan pada adik Rino ia memanggil Mbak Rina. Rino empat bersaudara dua kakaknya Rano dan Rani. Rino hanya dekat dengan adiknya, sedang dengan kedua kakaknya, ia tidak terlalu akrab.
“Sendirian aja?” Tanya Rino setelah tau Anik menoleh.
“Iya nih, Kasian deh Aku! Saat semua teman – temanku kencan ria bersama kekasihnya, aku malah sendiri merana, tak ada cinta yang hinggap di dalam dada walau sebentar, apa lagi lama!” Jawab Anik memandang lurus ke depan.
“Wuih, kayak penggalan lirik lagu aja.” Sahut Rino. Anik hanya menanggapi dengan anggukan dan tersenyum miris.
“Barusan kamu bilang, semua teman – temanmu kencan ria bersama kekasihnya. Apakah itu termasuk Indah sahabatmu?” Tanya Rino yang membuat Anik seketika menoleh.
“Kenapa tiba – tiba kamu bertanya tentang Indah?” Anik mengerutkan keningnya. Selama ini Rino tak pernah sekalipun terlihat menjalin kasih dengan seorang cewek. Kalaupun ia pergi bersama seorang cewek, Maka Rina sang adik lah yang bersama dengannya.
“Sebenarnya, Aku tertarik pada Indah sejak pertama kali kau kenalkan Aku dengannya. Namun aku tak berani menunjukkannya padamu, apalagi Indah!” Jelas Rino.
“Bukan Aku tak berani jatuh cinta, namun aku tak ingin menyakiti hati wanita. Aku takut karmanya berimbas pada saudara perempuanku.” Lanjut Rino sebelum Anik bertanya.
“Dan kau memendamnya selama dua tahun lebih?” Anik menarik kesimpulan.
“Kau benar!” Jawab Rino.
“Kasihan sekali kau Rino. Jatuh cinta pada pandangan pertama tapi tak segera kau ungkapkan karena rasa takut menyakiti hati wanita dan berdampak karma pada saudara perempuanmu.”
“Kau juga benar sekali. Saat ini dia sedang berkencan ria di Taman Kota bersama teman dekatnya” Jawab Anik ambigu.
“Teman dekat? Apa dia seorang laki – laki? Ataukah seorang perempuan? Apa teman dekat yang kamu maksud itu pacar?” Rino menghujani Anik dengan beberapa pertanyaan.
“Ya ampuuuun! Mana yang harus aku jawab nih, banyak banget pertanyaannya?” Anik kebingungan.
“Jawab satu per satu lah! Apa susahnya sih?” Rino menaikkan kedua bahunya.
“Indah sedang berkencan dengan semua sahabatnya. Kali ini dia lagi jomblo. Entah apa yang ada di pikirannya. Banyak cowok ingin menjadi kekasihnya, tapi ia tolak. Dia malah memilih berkumpul dengan teman sesama jomblo baik laki maupun perempuan. Atau Indah akan dijadikan teman curhat para kawula muda bucin yang patah hati atau sedang ada masalah dengan kekasihnya. Konsultasi bagaimana cara menaklukkan hati wanita juga kadang menjadi topik center diantara mereka.” Anik menjelaskan panjang lebar.
“Mungkin bisa disebut dengan dokter cinta kali ya!” Sambungnya.
“Lalu, kenapa kamu tidak mencoba berkonsultasi padanya bagaimana cara mendapatkan kekasih untukmu?” Tanya Rino menautkan kedua alisnya. Punya teman konsultan cinta tapi dirinya belum punya kekasih.
“Aku sudah curhat sama Indah, pun dengan teman – teman yang lain. Mereka menyarankan agar aku merubah sikap dan sifatku. Tapi tak mudah bagiku mengikuti saran mereka. Aku tak bisa menjadi orang lain.” Kesah Anik.
“Memang tak mudah menjadi orang lain, tapi setidaknya kau bisa berubah menjadi lebih baik.” Saran Rino.
“Baiklah, Aku akan berusaha menjadi lebih baik!” Anik menunduk menutupi kesedihannya.
“Lalu, apakah kau mau membantuku saat ini?” Tanya Rino.
“Bantu apa?” Anik menanggapi pertanyaan Rino dengan mengerutkan keningnya.
“Bantu Aku mendapatkan Indah!” Sahutnya.
“Wuiiiiiiiiiiiiih, Ada yang lagi jatuh cinta rupanya!” Anik.
“Sejak kapan?” Tanya Anik lagi.
“Sejak lama,tapi Aku baru mengatakannya padamu. Karena kau lebih dulu mengenalkannya dengan orang lain daripada Aku.” Jawab Rino.
“Rino, sudah malam. Tolong antarkan Indah pulang ya?!?” Pinta Anik pada Rino saat mereka bertemu di gang rumah Anik.
“Ngga usah, Rino! Aku berani kok pulang sendiri!” Indah menolak dengan halus.
“Tak apa, biar aku antar hingga depan gang rumahmu!” Seru Rino.
Indah tak dapat menolak keinginan Anik dan Rino, karena ia tak ingin mengulur waktu pulangnya.
Makin hari, Rino semakin dekat dengan Indah. Segera Ia menyatakan cinta pada Indah. Namun nyatanya tak sesuai ekspektasi Rino. Indah menolak cinta Rino dengan dalih hanya ingin fokus pada pendidikannya.
“Kenapa kau tak ingin membalas cintaku? Apa karena aku anak orang tak punya?” Rino menggapai tangan Indah.
“Apa aku terlihat begitu kejam memperlakukan orang lain karena status sosialnya?” Bukannya menjawab pertanyaan Rino, Indah malah balik bertanya.
“Tidak, lalu apa alasanmu?” Rino.
“Karena aku hanya ingin fokus belajar tanpa ada yang mengganggu sekolahku!” Jawab Indah.
Saat menyatakan cintanya pada Indah, Rino memilih saat mengantar Indah pulang dari rumah Anik. Setelah sampai rumah, Rino di sambut sang Adik, Rina.
“Gimana, Kak?” Tanya Rina yang memang sedari tadi menunggu kakaknya pulang.
“Ditolak!” Jawab Rino dengan wajah kecewa.
“Alasannya apa, Kak?” Tanya sang adik.
“Dia hanya ingin fokus belajar!” Jawabnya.
“Apa hanya itu?”
“Iya, Dek. Aku pikir hanya itu alasan Indah. Mungkin karena ia sudah kelas akhir, jadi ia harus fokus belajar!” Jelas Rino pada adiknya.
“Aku rasa bukan itu alasannya, hanya saja kau tak pandai merayu wanita. Kau hanya pandai merayu wanita yang dekat denganmu itu!” Jefri sahabat Rino mencibir sembari tersenyum meledek Rina.
“Besok, Aku akan mendapatkannya untukmu!” Janji Jefri pada Rino sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya berbentuk V. Begitulah Jefri yang selalu siap membantu Rino dalam hal apapun.
Jefri adalah Siswa SMK yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Kota tempat tinggal Rino. Jefri tak punya cukup uang untuk bayar kontrak. Karena kebaikan hati Jefri, Ibu Rino meminta Jefri tinggal dan tidur di kamar Rino.
“Bagi aku no. ponsel Indah!” Pinta Jefri.
“Aku tak bisa membagi no. ponselnya tanpa seizin orangnya!” Rino menolak. “Pakai ponselku saja untuk menghubunginya!” Rino menyodorkan ponsel miliknya pada Jefri.
Aku menunggumu di Taman Kota malam ini! Isi chat Jefri, tak lupa ia membubuhkan nama di bawah pesannya.
Jefri bisa saja mencuri nomor ponsel Indah dari handphone Rino namun ia tak ingin menghianati persahabatannya.
Iya! Balas Indah singkat.
“Ada apa Jefri mengajakku bertemu?” Gumam Indah. Kembali ke sifat Indah. Ia memang tak terlalu menutup diri berteman dengan siapa pun. Termasuk teman dari temannya yang lain.
Setelah shalat isya’, Indah pamit pada Ibunya untuk keluar sebentar memenuhi janjinya bertemu Jefri.
Di tempat lain, Jefri bersiap di depan cermin seolah dirinya yang ingin berkencan dengan Indah. Hal itu membuat Rino heran melihatnya.
“Hey, Kau mau kemana?” Tanyanya penasaran.
“Mau mendapatkan hati wanita!” Jefri berkata datar.
“Wanita siapa yang kau maksud?” Rino tak menyangka jika Jefri ingin menemui Indah, karena Rino sama sekali tak melihat isi chat Jefri pada Indah.
“Wanitaku! Setelah Aku berhasil menaklukkan hatinya, Aku akan mengenalkannya padamu!” Jawab Jefri santai tanpa dosa.
“Pergilah, Kau berhutang penjelasan padaku!” Jawab Rino.
“Mau kemana, Kak?” Tanya Rina saat berpapasan dengan Jefri yang berpenampilan tak seperti biasa.
“Sssssttt, jangan bilang sama kakakmu kalau aku pergi menemui Indah untuknya!” Jefri setengah berbisik pada Rina.
“Baiklah, selamat memperjuangkan cinta kakakku!” Sahut Rina bahagia.
“Hai, Apa kau sudah lama menunggu?” Sapa Jefri.
“Baru lima menit!” Indah.
Jefri mengajak Indah ke sebuah kafe tak jauh dari Taman Kota. Mereka menikmati minuman dan makanan ringan pesanan mereka. Jefri meminta Indah membalas cinta Rino namun tak memaksanya.
“Akan Aku pikirkan!” Jawab Indah.
Maksud hati Jefri mentraktir Indah, namun apa daya Kasir mengatakan jika pesanan mereka sudah ada yang bayar.
“Apa kamu sudah membayarnya?” Jefri penasaran, karena sejak mereka masuk Jefri tak melihat Indah beranjak dari tempat duduknya. Indah hanya menggeleng pelan.
Indah tak sengaja melihat Abil yang duduk tak jauh darinya dan tersenyum simpul.
“Jika tak ada lagi yang ingin kau bicarakan, pulanglah! Biar aku yang mengantarnya pulang!” Abil berdiri di samping Jefri membuat mereka membulatkan mata.
Melihat keterkejutan Jefri, Indah langsung merespon ucapan Abil. “Aku akan pulang bersama pamanku!” Mendengar ucapan Indah, Jefri paham jika Abil bukanlah kekasih Indah melainkan pamannya. Ia pamit pulang pada Indah dan Abil.
“Apa kau terlibat cinta segitiga?” Tanya Abil yang sejak tadi mendengar percakapan Indah dan Jefri.
“Tidak, Om!” Jawab Indah santai.
“Lalu, Apa yang sedang kalian rencanakan?” Tanyanya.
Indah menceritakan semua yang terjadi pada Abil tanpa ada yang ditutupi. Meski Pak Yusuf telah tiada, Abil bisa menjadi pengganti kakaknya. Bahkan Indah lebih terbuka jika mengborol dengan Abil daripada saudara – saudara Pak Yusuf yang lain.
\`\`\`
“Wuoy, kau punya banyak hutang penjelasan padaku!” Ana mengejutkan Indah saat mengemasi barang – barangnya.
“Iya, Iya, Aku akan ceritakan semuanya sama kamu. Tapi kamu harus janji, ga akan cerita pada siapa pun!” Indah membuat syarat.
“Pissss!” Ana menyetujui syarat yang Indah ajukan.
Indah mulai menceritakan satu per satu kisah cintanya pada Ana, di mulai dari pernyataan cinta Hary, Halim dan berakhir pada Jefri yang memintanya untuk menerima cinta Rino.
“Waaaaah, Indahnya!” Ana membayangkan yang terjadi dengan sahabatnya selama ini dengan senyum mengembang, meletakkan tangannya di kedua belah pipinya serta menyipitkan mata.
“Hei, dari dulu namaku memang Indah!” Indah menggebrak meja membuat Ana terkejut bukan kepalang.
“Indah, kau menghancurkan mimpiku!” Rajuk Ana.
“Mimpi di siang bolong!” Ketus Indah berlalu pulang.
“Indaaaaah, Tunggu!” Ana menyeret tasnya asal demi mengejar langkah Indah.
“Kamu pulang bareng siapa?” Tanya Ana setelah menyamakan langkah dengan Indah.
“Pulang bareng sepedaku lah!” Sahut Indah santai.
“What!” Ana berucap terlalu keras membuat Indah bergerak cepat menutup mulut Ana.
“Hehe, maksud aku kamu punya pacar tapi masih berangkat dan pulang sekolah dengan sepeda!” Ana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, namun lagi – lagi tak mendapat jawaban dari Indah yang pergi meninggalkannya.
Bersambung dulu ya, Kak!
Jangan lupa like n komentar pedasnya!