
**Tarik bayang-bayang embun pagi
Makan matahari yang menyapa dunia
Sepotong harapan yang menetes di balik detail
Seolah-olah menyapa juga pada ranting-ranting yang gelisah
Selamat pagi selamat pagi teman-teman
Di Sekolah**.
Lagi – lagi Indah bertemu Dayat di jalan dan nebeng di belakang hingga gerbang sekolah dan kali ini Dayat yang meletakkan sepedanya di tempat parkir sekolah.
“Biar aku aja, kamu masuk kelas duluan!”
“Oke!” Jawab Indah singkat dan berlalu menuju kelas yang masih tak berpenghuni karena teman sekelas Indah belum ada yang datang. Tanpa di sadari oleh Indah, Dayat sudah duduk di sampingnya. “Ada apa?” tanyanya.
“Pinjam buku biru!” Dayat mengingat buku oretan yang biasa Indah gunakan umtuk mengerjakan PR sebelum di pindah ke buku PR sebenarnya.
“Kebiasaan!” Jawab Indah dengan ekspresi datarnya. “Eh, tapi PR apa? Seingat aku kemarin belum mulai pelajaran?” Indah bingung dengan kebiasaan Dayat meminjam bukunya padahal belum ada satupun guru yang mengajar dan memberikan pekerjaan rumah.
“Ya ga mungkinlah aku serius pinjam bukumu, neng! Karena memang belum ada PR yang harus dikerjakan”. Dayat kembali meledek Indah.
“Hmmmmh, awas ya mulai bisa ngerjain aku!” senyum mulai mengembang di bibir manis Indah.
“Day!” Indah memulai pembicaraan serius.
“Hm!”
“Menurut kamu gimana?” tanyanya.
“Apanya?” Dayat mengerutkan keningnya tak mengerti arah pembicaraan Indah.
“Kamu tau aku bersahabat dengan Nurika dan Anik, sekarang mereka bertengkar karena sebuah kesalah pahaman masalah cowok.
Mereka tak mau lagi saling sapa, meski aku sudah menyarankan agar mereka mengakhiri pertengkaran mereka dan kembali akrab seperti sebelumnya!” Indah merasa tidak sanggup menyatukan keduanya dan meminta pendapat Dayat.
“Kalau aku yang menyatukan mereka, apa aku ga dianggap ikut campur urusan mereka sementara dari awal aku ga tau masalahnya”. Dayat tak mau ikut campur urusan Nurika dan Anik.
“Gimana kalau aku adukan ke Pak Wagiman aja ya, Day?” Indah mengutarakan pemikirannya semalam.
“Itu lebih baik, ndah karena beliau guru BK supaya mereka berdua di bimbing!” Dayat menyetujui usul Indah.
“Oke lah, jam istirahat aku ke ruang BK!” Satu per satu teman sekelas bahkan teman satu sekolah dan para guru mulai berdatangan. Termasuk Nurika dan Anik tapi mereka duduk berjauhan dan tidak saling bertegur sapa.
“Hai, ndah!” Sapa Anik basa – basi.
“Tumben ga duduk dekat Indah?” Ledek Dayat yang melihat Anik memilih tempat duduk yang jauh dari Indah karena ada Nurika yang duduk di belakang Indah.
“Lagi ga da PR!” Jawab Anik berbohong pada Dayat.
“Wah parah nih orang, Cuma mau dekat Indah kalo lagi butuh!” Dayat pun tak kalah menyindir Anik.
“Ya iyalah, kamu juga khan?” Anik mencibir Dayat.
“Engga lah, Ni buktinya aku tetap duduk dekat Indah” Dayat menyanggah omongan Anik.
“Perlu di basmi nih!” Lanjutnya.
“Enak aja! Emang aku serangga harus di basmi” Jawab Anik ketus sementara Indah dan Nurika saling pandang dan menahan tawa melihat aksi mereka berdua diikuti guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang masuk kelas mereka.
Dua jam berlalu, bel istirahat pertama berbunyi dan Indah bergegas ke ruang Bimbingan Konseling untuk menemui Bapak Wagiman selaku guru BK.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam, Silahkan duduk!” Pak Wagiman mengarahkan Indah duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
Sebelum memulai bimbingan, Pak Wagiman menanyakan data diri Indah yang dilanjutkan dengan permasalahan yang di alami Indah.
Indah menjawab semua pertanyaan Pak Wagiman termasuk permasalahan yang di hadapi. Indah menceritakan bahwa masalahnya bukan ada pada dirinya sendiri namun pada kedua sahabatnya.
Saat Indah menceritakan masalahnya dan Pak Wagiman meminta Indah memanggil kedua sahabatnya, Dayat lewat di depan ruang Bimbingan untuk memastikan keberadaan Indah di ruang tersebut.
“Permisi, pak!” Indah keluar membawa surat panggilan untuk Nurika dan Anik.
**Di kelas**
“Yat! Lihat Indah ga?” Ika mencari Indah yang tiba – tiba menghilang saat mereka sibuk mengumpulkan tugas Bahasa Inggris.
“Ga tau!” Dayat menggelengkan kepala pura – pura tidak tau dan Ika berlalu pergi ke kantin bersama Henny.
“Mana Indah?” Anik menepuk keras bahu Dayat.
“Aw sakit tau!” Dayat meringis kesakitan.
“Mana Indah?” Anik meninggikan suaranya.
“Dasar Serangga!” gumam Dayat tapi masih bisa di dengar oleh Anik
“Apa kamu bilang?” Anik yang mendengar gumaman Dayat jadi semakin marah.
“Eh, ga tau!’ Dayat masih melakukan hal yang sama pada Nurika dan Anik. Anik kembali duduk di bangkunya, ia mengurungkan niatnya makan di kantin karena tidak ingin bertemu Nurika di sana.
Setelah bel tanda istirahat usai, guru Geografi masuk kelas. Dayat masuk kelas dan menyerahkan surat dari Guru BK yang memanggil Nurika dan Anik serta satu lembar lagi berisi nama Indah. Guru geografi memanggil nama Nurika dan Anik.
Sontak mereka kaget mendapat panggilan dari Guru BK. Mereka bergegas keluar kelas menuju ruang Bimbingan namun mereka memilih jalan yang berbeda. Biar bagaimanapun, mereka bertemu di ruang BK. Di sana mereka melihat Indah yang sudah duduk manis.
**Di ruang BK**
“Indah!” Keduanya kompak meneriakkan nama Indah tanpa aba – aba.
“Tuh kan langsung akur tanpa basa – basi lebih dulu!” Sindiran halus dari sang guru BK yang menusuk jantung Nurika dan Anik.
“Silahkan duduk!” Pak Wagiman mengarahkan kliennya duduk di sofa bersama Indah.
Di sofa berbentuk setengah lingkaran itu mereka duduk di ujung sofa masing – masing sedangkan Indah duduk di tengah – tengah mereka. Pak Wagiman memberikan bimbingan sesuai dengan apa yang beliau dengar dari Indah.
Kata demi kata serta nasehat – nasehat di berikan oleh Pak Wagiman pada Nurika dan Anik sebagai terdakwa. Pesan moral juga diberikan Pak Wagiman juga di berikan pada ketiganya sebagai remaja. Terakhir Pak Wagiman meminta Nurika dan Anik untuk saling berjabat tangan saling memaafkan namun terasa canggung bagi mereka berdua. Gengsi untuk memulai jabat tangan lebih dulu.
“Ayo!” Pak Wagiman menyemangati mereka, namun keduanya masih enggan bersalaman.
“Apa saya pergi aja ya, pak supaya mereka ga malu dilihat saya! Hehe!” Indah mencoba memancing senyum mereka tapi belum berhasil.
“Ya sudah, saya anggap masalah ini belum selesai dan saya akan membuat surat panggilan orang tua”. Ancam Pak Wagiman.
“Jangan, Pak!” Teriak mereka kompak karena kaget dengan ancaman Pak Wagiman.
“Nah itu kompak teriaknya! Kompak terus donk jangan cuma kompak teriaknya!” Ledek Pak Wagiman.
Nurika dan Anik mulai mendekat dan mengulurkan tangan masing – masing namun wajah mereka berpaling tidak mau bertatapan.
“Kok gitu! Berpelukaaaaaaan!” Pak Wagiman menirukan suara Teletubbies. Akhirnya mereka berpelukan dan saling memaafkan.
“Yeeeeeee!” Indah tertawa girang dan bertepuk tangan.
“Indaaaaaaaah!” Teriak keduanya pada Indah yang sudah berada di pintu ruang BK.
“Kabuuuur! Makasih ya, Pak!
"Assalamualaikum!” Indah lari menghindari kejaran dua sahabatnya dan kembali ke kelas.
Kembali ke kelas.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” Jawab seisi kelas dan Pak Jatmiko sang Guru Bahasa Indonesia.
“Ada masalah apa, Indah? Kok datang dari ruang BK malah senyum – senyum begitu?” tanya Pak Jatmiko yang sudah mengabsen siswanya dan mengetahui jika Indah, Nurika dan Anik mendapat panggilan BK.
“Eng.... anu, Pak karena bukan saya yang punya masalah, tapi .........” kalimat Indah terpotong saat Nurika dan Anik masuk kelas dan mengucapkan salam.
“Me-re-ka!” Lanjut Indah terbata – bata.
“Waalaikum salam! Ya sudah, silahkan duduk dan ikut pelajaran!” Pak Jatmiko mempersilahkan ketiganya duduk dan melanjutkan materi pelajarannya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya!!!