
Giliran Terakhir, Indah harus membuka miliknya yang sengaja ia pertahankan sejak tadi. “Buka, buka, buka!” Sorak yang lain.
Lembar pertama Indah buka, tertulis nama Halim. Tak terlalu banyak koran sebagai pembungkusnya, hanya tiga lembar saja. Kecil memang, namun isinya Cokelat dengan merk ternama. “Terima kasih ya, Halim!”
“Sama – sama!”Sahut Halim yang memang duduk di sebelah Indah. Tak mau kalah dengan Ferdi, Halim juga mengeluarkan kado yang besarnya sama dengan yang didapat oleh Indah, namun kali ini bukan dibungkus dengan koran bekas melainkan dengan Kertas kado bermotif batik diikat dengan pita berwarna biru muda.
“Cie cieeee!” Sorak Ana, Naura dan beberapa teman yang lain.
“Yang itu special buat kamu dan jangan kamu buka di sini!” Pinta Halim.
“Aku harap kau tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya!” Meski tak paham, namun Indah mengangguk pasti dan memasukkannya ke dalam tas selempang yang ia bawa.
“Acara demi acara telah kita lewati bersama. Terima kasih atas kehadiran teman semua pada acara malam ini. Atas ketidak nyamanannya, kami mohon maaf yang sebesar – besarnya.” Kakak perempuan Naura menutup acara, namun tatapannya lebih mengarah pada pegusiran Indah dan teman – teman Naura.
“Sudah malam, pulanglah dengan kakakku!” Pinta Naura.
“Aku tak enak hati pada kakakmu, Naura!” Jawab Indah sembari menundukkan kepala menghindari tatapan tajam dari kakak Naura.
“Biarlah aku pulang dengan sepedaku. Aku pamit!” Lanjutnya dan berlalu pulang, tentu setelah ia pamit pada orang tua Naura.
“Aku antar ya, Dek!” Seorang polisi mengikuti Indah atas permintaan Naura.
“Iya, Kak!” Jawab Naura.
Ibu Naura memang keturunan orang terpandang di kota mereka. Sisa tanah di samping rumahnya dibangun tempat kos untuk polisi yang baru penempatan di kota itu, Hary salah satu dari mereka.
Naura sudah menganggap Hary seperti kakaknya sendiri. Ia meminta Hary untuk mengawal Indah hingga ke rumahnya. Indah pun sudah mengenal Hary dengan baik. Ia tak menolak jika Hary mengantarnya sampai rumah atas permintaan Naura sahabatnya.
“Terima kasih, Kak!” Ucap Naura setelah sampai di depan pintu rumahnya. Ia sengajatak mengajak Hary mampir karena sudah jam sepuluh malam.
“Sama – sama.” Hary melajukan motornya kembali ke kosan Naura.
“Diantar siapa, Nak?” Tanya Ibu Sri setelah membukakan pintu untuk Indah.
“Diantar Mas Hary, Bu!” Jawabnya sopan.
“Siapa dia?” Tanya Bu Sri ingin memastikan bahwa gadis kecilnya tidak pulang dengan orang yang salah.
“Mas Hary seorang polisi yang tinggal di salah satu tempat kos Naura, Bu! Naura menganggap dia seperti kakaknya sendiri. Maka dari itu Naura memintanya untuk mengantarku sampai rumah!” Jelas Indah yang membuat lega perasaan sang Ibu.
Indah membersihkan diri, kemudian melaksanakan Shalat isya yang belum sempat ia kerjakan malam ini.
Usai berdzikir, Ia naik ke tempat tidur dan memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena seharian bekerja mempersiapkan acara malam ini.
Kegiatan Hari Minggu.
Di mulai dari mencuci pakaian miliknya sendiri, dimulai dari jam tujuh hingga berakhir di jam sembilan. Lama ya, Kak?
Itu karena Indah maupun Bu Sri tidak suka mengunakan mesin cuci. Mereka lebih suka mengerjakannya secara manual.
Setelah mencuci, Indah berangkat les Fisika. “Aku berangkat ya, Bu!” Pamitnya mencium tangan sang Bunda.
“Iya, Nak. Hati – hati dan belajarlah dengan baik!” Nasehat Bu Sri.
“Baik, Bu! Assalamualaikum!” Indah melajukan sepedanya dengan kecepatan sedang.
Pulang dari rumah sang guru Fisika, Indah melihat ponselnya. Sebuah chat masuk dari Halim.
📱Halim
Aku tunggu jawabanmu!
📱Indah
Kadomu belum sempat Aku buka
📱Halim
Aku tunggu jawabanmu besok pagi.
Tiba di Rumah, Indah tak lagi menunda membuka kado yang Halim berikan semalam.
Perlahan tapi pasti, Indah membuka pita biru muda. Setelah terlepas, Indah mulai membuka kertas pembungkusnya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek,
Bu Sri perlahan membuka pintu kamar Indah yang memang tidak pernah dikunci, kecuali saat Indah berganti pakaian.
“Ada apa, Bu?” Tanya Indah sopan.
Indah bergegas turun dan menghampiri sang Ibu. “Siapa, Bu?” Tanyanya.
“Ibu juga tidak tau, temui lah! Orangnya sudah Ibu persilahkan duduk di teras rumah!” Jawab Bu Sri.
Indah berjalan ke tempat yang Ibunya maksud.
“Mas Hary!” Seru Indah.
“Eh, Dek!” Hary terkejut dengan sapaan Indah yang tiba – tiba muncul dibelakangnya.
“Ada apa Mas Hary datang kemari? Apa ada barang saya yang ketinggalan di Rumah Naura?” Tanya Indah sembari mendudukkan bokongnya di kursi.
“Eh – Iya, Eh - Engga kok Dek! Mas kesini Cuma mau nganter ini!” Ucap Hary gugup sembari menyodorkan kotak kado ukuran 20 x 20 cm.
“Ini milik siapa, Mas?” Tanya Indah bingung, pasalnya semalam ia hanya menerima kado pemberian Halim yang harus ia bawa pulang.
“Naura bilang, ini milik kamu! Makanya Mas anter kemari!” Jawab Hary.
“Kalau begitu, Mas pamit pulang ya, Dek!” Lanjut Hary kemudian buru- buru pergi meninggalkan Indah yang masih setia dengan kado ditangannya.
"Hmmmh, ada – ada saja!" Gumam Indah kemudian kembali ke kamar.
Saat berada di Depan pintu kamar, Ibunya menyapa dan menanyakan keberadaan tamu Indah yang sudah pergi entah kemana. “Sudah pulang, Bu!” Sahut Indah.
...Dear, Indah!...
...Apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan!...
...Lewat bungkusan kecil ini, Aku ingin mengucapkan Happy Birthday to You. Aku tau ini terlambat, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali!...
...Di sini pula Cintaku numpang lewat, barangkali Adek mau menawarkan cinta ini untuk singgah di hati Adek yang beberapa hari terakhir mengisi anganku sebelum tidur....
...Jika Adek berkenan cinta ini singgah di hati Adek, maka pakailah jacketnya. Nanti malam Mas jemput. Jika Adek tidak berkenan cinta ini singgah, maka buanglah pada tempatnya tanpa beban, dan tanpa ada rasa benci padaku!...
...Sekian isi curahan hati Mas Hary untuk Indah, sekali lagi Mas ucapkan Selamat Ulang Tahun....
...Pengagummu...
...081234567890...
Setelah membaca suratnya, Indah melanjutkan membuka box nya.
Sebuah Hoodie berwarna kuning. Mungkin buka warna kesukaan Indah, tapi juga tak terlalu buruk bagi Indah, Asalkan tidak berwarna merah karena Indah sangat menghindari warna tersebut.
*Apa yang harus Aku lakukan*? Gumam Indah dalam kebingungannya. Indah meraih ponselnya kemudian menyimpan nomor Hary di sana. Seketika ia teringat isi chat Halim.
Indah lanjut membuka kado Halim yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Hary.
Langsung saja pada isinya ya, Kak!
Sekotak cokelat dan selembar surat.
Dear You
Aku tak bisa berkata romantis
Aku hanya ingin kamu tahu bahwa:
AKU MENCINTAIMU!
With L❤️ve
Benar - benar surat yang begitu singkat, padat dan jelas.
**Hoodie pemberian Hary**

Cokelat Halim

**Kira - kira Indah pilih yang mana ya?🤔**
**Kasih masukan donk**!
Jangan lupa like, komentar n vote juga ya kak!!!