
"Ada apa? Kenapa melihatnya dari jauh? Mengapa tak mengajaknya datang ke rumah?" Heri menghujani Ibnu dengan beberapa pertanyaan.
"Belum saatnya!" Hanya itu jawaban singkat yang diberikan Ibnu.
Entah sejak kapan Heri mengetahui kebenaran tentang Indah. Namun begitu, Heri pun tetap menjaga rahasia tersebut dari teman - temannya dan juga Indah. Meski sudah mengetahui bahwa Ibnu adalah kakak kandungnya, namun Indah tak mengetahui tentang hubungannya kekerabatan antara dirinya dengan Heri.
"Kapan saat itu tiba?" Tanya Heri lagi.
"Entahlah, tapi pasti sampai pada waktunya!" Ucap Ibnu pasrah.
"Lalu, mengapa kamu menjauhinya? Setidaknya dekati dan sayangi dia layaknya seorang kakak menyayangi dan melindungi adik perempuannya. Bukan malah menjauhinya!" Saran Heri sedangkan dua adik Heri hanya menyimak percakapan yang tak mereka mengerti sambil menikmati es kelapa muda dan rujak cingur.
"Aku takut dia jatuh cinta padaku jika aku terlalu dekat dengannya!" Sahut Ibnu yang membuat Heri mengangguk paham. "Setidaknya, ada kamu yang juga bisa menjaganya saat kalian berada di sekolah!" Lanjut Ibnu memasrahkan keselamatan adiknya pada keponakannya itu.
"Baiklah, Aku akan menjaganya tanpa kau pinta. Meski bagaimanapun, dia juga tanteku!" Heri tersenyum geli mengakui Indah sebagai tantenya. Bagaimana tidak, Tante dan ponakan usianya sama.
Rombongan Ibnu pulang setelah Indah dan kawan - kawan lebih dulu pulang.
πΌπΌπΌ
"Aw!" Indah mengaduh dan menoleh ke arah seseorang yang sudah menoyor kepala belakangnya. Bukan Vian namanya kalau tidak usil saat melewati teman - temannya. Tak jarang Indah menjadi sasarannya saat sedang berdiri di depan kelas sendirian.
Seorang siswa dari kelas lain melihat perlakuan Vian terhadap Indah. Yudi namanya. Ia adalah sepupu dari Vian. Awalnya Yudi tidak suka melihat kelakuan Vian, namun karena teman - teman yang menjadi sasaran Vian menganggap kelakuan tersebut sebagai candaan. Yudi tidak menentang hal tersebut. Hanya saja ia merasa kasihan pada mereka termasuk Indah. Sejak kelas delapan, Yudi mulai memperhatikan Indah. Ada rasa cinta yang tumbuh di sana, namun Yudi takut mengatakannya. Takut ditolak, katanya. Padahal, baik Yudi maupun teman - teman satu sekolah lainnya tak pernah melihat Indah berpacaran. Kecuali Anik, Nurika dan Ana.
"Jangan sentuh dia lagi!" Ucap Yudi pada Vian setelah sepupunya itu kembali ke kelas.
"Maksud kamu siapa?" Tanya Vian bingung, pasalnya terlalu banyak siswa perempuan yang ia ganggu.
"Indah!" Jawab Yudi singkat.
"Indah? Oh, kamu mulai jatuh cinta padanya? Biar aku yang mengatakannya!" Ujar Vian.
"Indah!" Vian memanggil nama Indah.
"Bukan dia!" Jawab Yudi. Memang bukan Indah yang satu kelas dengan mereka yang Yudi maksud melainkan Indah tokoh utama dalam novel ini.
"What!" Vian segera menutup mulut dan meminta maaf pada Indah yang di panggil tadi. Setelah selesai dengan urusannya, Vian kembali duduk di samping Yudi.
"Indah yang mana yang membuatmu jatuh cinta?" Tanyanya.
"Indah, kelas sembilan E!" Jawab Yudi datar.
Mendengar hal itu, Vian bertanya mengapa Yudi tak pernah mendekati bahkan menyatakan cintanya pada Indah. Yudi khawatir di tolak.
"Wanita seperti Indah tak mungkin mudah menerima cinta seseorang. Aku sendiri bingung dengan sikapnya. Kadang dia dingin, tapi juga orangnya friendly. Tak pernah pilih - pilih teman. Apa fia mau menerimaku?" Yudi meminta pendapat pada Vian.
"Wow, ternyata selama ini kamu diam - diam memperhatikan Indah? Padahal kalian tidak pernah satu kelas!" Vian menarik kesimpulan.
"Iya, aku sering memperhatikannya sejak pertama kali ia menyapaku dan menanyakan kedua sahabatnya Anik dan Nurika!" Yudi membenarkan dugaan Vian. "Aku juga sering memperhatikannya saat ia datang ke rumah Pak Sujono. Menurut keterangan Veni, Indah adalah yang pandai. Dia pandai di semua mata pelajaran. Meski begitu, aku lihat dia sama sekali tidak pernah menyombongkan diri atas kelebihan yang ia miliki. Maka dari itu, Aku jatuh cinta padanya!" Jelas Yudi selanjutnya.
"Baiklah, Aku tidak akan mengganggunya untukmu!" Sahut Vian. "Tapi kamu harus menyatakan cintamu padanya!" Lanjut Vian.
"Tapi Aku takut...
"Jangan pernah jatuh cinta kalau tidak ingin patah hati!" Vian memotong kalimat Yudi.
Β ~~~
Bel istirahat berbunyi.
"Indah!" Panggil Yudi ragu.
Merasa ada yang memanggil namanya, Indah menoleh. "Iya?" Tanyanya setelah Yudi berdiri di dekatnya.
"Maafkan Aku, Yudi! Kita saling mengenal hanya karena kita satu sekolah. Kita tak pernah satu kelas, kita tak pernah dekat sehingga kita tak saling mengenal pribadi masing - masing. Aku tak bisa begitu saja menerima cintamu!" Indah menolak secara halus.
"Tapi selama ini, aku sudah memperhatikanmu dari jauh. Aku tertarik dengan sikapmu dan Aku akan menerimamu apa adanya!" Sanggah Yudi.
"Maaf, Aku tidak bisa!" Indah mengalihkan pandangan dari Yudi yang terus memperhatikan wajahnya.
"Berikan Aku kesempatan!" Pinta Yudi memelas dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Please!" Lanjutnya.
"Maaf, Aku tidak bisa membalas perasaanmu tanpa rasa yang sama. Jangan buat hubungan kita sia - sia!" Kasian memang, jika harus ditolak, namun Indah tak ingin kisahnya cintanya dengan Arman terulang lagi.
"Baiklah jika itu jawabanmu. Terima kasih atas waktunya!" Yudi pergi disusul Indah. Mereka kembali ke kelas masing - masing.
Β
" Gimana hasilnya?" Tanya Vian pada Yudi.
"Sesuai dugaan ku!" Jawab orang yang ditanya.
"Apa perlu aku yang mengatakannya?" Vian menawarkan bantuan.
"Ga perlu!" Yudi diam sejenak. "Biarlah aku cari yang lain!" Lanjutnya.
"Semangat!" Vian tersenyum. Tak mungkin Yudi rapuh hanya karena cintanya ditolak.
Meski cintanya ditolak, Yudi tak terobsesi untuk memiliki Indah karena menurutnya cinta tak harus memiliki. Benar juga apa yang Vian katakan. Kalau tidak berani patah hati, maka jangan pernah jatuh cinta.
Pak Sujono adalah guru Fisika di sekolah mereka. Veni anak perempuan Pak Sujono. Dari Veni lah, Yudi mengetahui tentang Indah.
Tiap malam Selasa dan malam Kamis, Indah datang ke rumah Pak Sujono untuk les Fisika.
"Aku harus pintar jika Aku ingin di hargai!" Semangat Yudi setelah ditolak oleh Indah.
Yudi menemui Veni dan memintanya untuk mendaftarkan Les Fisika pada Ayah Veni dan akan memulainya malam ini juga.
Jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB. Yudi menggendong tas sekolah dan mencium punggung tangan ibunya. "Mau kemana, Yud?" Tanya sang Bunda karena tak biasa anaknya keluar membawa tas sekolah malam - malam. Yudi tak menjawab pertanyaan ibunya, karena ia khawatir ibunya akan menertawakannya. Namun pikiran Yudi salah. Setelah kepergian Yudi, Ibunya datang ke rumah Vian yang berada satu halaman di sampingnya. "Vian! Vian!" Panggilnya.
"Ada apa, Bi?" Tanya Vian yang kaget mendengar suara bibinya yang terdengar seperti orang hampir menangis.
"Yu Yudi bawa tas ma mau kemana?" Tanyanya gemetar
Vian menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. "Dia mau les Fisika, Bi!" Jawab Vian.
"Apa!?!" Tanya Ibu Yudi heran. "Kamu ga bohong atau sedang bercanda, 'kan?" Lanjutnya.
"Tidak, Bi. Aku dengar sendiri dia tadi bicara pada Veni!" Sahut Vian.
"Itu artinya Yudi les Fisika di rumah Pak Sujono?" Tanyanya lagi.
"Iya!" Setelah mendengar jawaban terakhir Vian, Ibu Yudi kembali ke rumahnya. Dia bersyukur sekali, karena selama ini Yudi selalu menolak jika disuruh ikut les. Apapun mata pelajarannya.
πΌπΌπΌ
Thanks a lot buat para reader yang masih setia menunggu up "My Brother"!
Jangan tanya tentang Yudi di Chapter selanjutnya ya, karena selanjutnya mereka hanya menjadi teman biasa tak ada yang istimewa. Hanya saling mengenal dan saling sapa jika bertemu!!!
Jangan lupa like n sumbangkan koin recehnya ya, Kak!
Komentarmu semangatku!πππ₯°