My Brother

My Brother
Siapa Dia?



Tak hanya sekolah mereka yang pulang lebih Awal. Faika dan Ibnu pun juga berada di rumah saat Indah dan ketiga sahabatnya hendak menitipkan sepedanya.


"Hey, pada mau kemana?" Tanya Faika yang sedang duduk santai bersama Ibnu di teras rumah Faika.


"Jalan - jalan, mumpung sekolah lagi free!" Jawab Anik.


"Aku ikut ya!" Pinta Faika. Indah tak mungkin menolak permintaan Sahabat sekaligus sepupunya itu.


Mereka berangkat menuju Goa lebar. Kali ini mereka lebih memilih duduk di dalam mulut Goa karena tempat rindang inilah yang paling tepat untuk mengobrol di jam sepuluh siang.


Seperti biasa, Ibnu mengikuti mereka dari jauh. Lebih tepatnya Indah dan Faika.


"Ka, Cowok ganteng yang tadi duduk sama kamu itu siapa?" Tanya Anik pada Faika.


"Dia, Anak sepupu Ummi ku!" Jawab Faika.


"Anak, Sepupu, Ummi, Ku!" Anik mencoba menelaah ucapan Faika diikuti Nurika, Ana.


"Oh!" Mereka bertiga mengangguk paham sementara Indah hanya tersenyum tanpa kata.


"Apa dia punya pacar?" Tanya Anik lagi.


"Kayaknya engga dech!" Sahut Faika.


"Ga mungkinlah, masa iya cowok seganteng dia ga punya pacar!" Sahut Nurika.


"Bet tul itu, Nurika!" Timpal Ana.


"Hmmm, Aku sih berharap dia benar - benar tak punya pacar!" Anik memutar jengah kedua bola matanya.


"Dia memang ga mau pacaran, karena ia tak mau menyakiti hati wanita." Faika menjelaskan alasan Ibnu tak ingin pacaran.


"Bantu aku dekat dengannya ya!" Anik bermanja pada Faika, sedangkan Faika menoleh pada Indah selaku Adik Ibnu. Indah menggelengkan kepala karena ia tahu dan kenal betul bagaimana sifat Anik. Namun karena Anik memaksa, Akhirnya Indah mengijinkan lewat Faika karena mereka berdua tak ingin orang lain mengetahui rahasia tersebut.


"Baiklah! Tapi aku harus izin dulu sama Ibnu." Ujar Faika.


"Kenapa harus minta izin dulu? Sini berikan nomernya padaku!" Paksa Anik meminta ponsel Faika. Beruntung Ibnu baru sebulan mengganti nomornya dan Faika tak sempat menyalin nomor baru Ibnu. Setelah menyalin nomor Ibnu, Anik meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas selempang miliknya.


"Kenapa ga langsung dihubungi?" Tanya Nurika.


"Ntar aja di rumah, kalo di sini aku takut kalian gangguin!" Ucap Anik membuat yang lain tersenyum.


🌼🌼🌼


Waktunya pulang!


Satu per satu mereka sampai di rumah. Hanya Indah yang pulang terakhir dari rumah Faika.


"Ga usah bingung, nomer ponsel mas mu dah ganti sebulan yang lalu dan aku lupa menyimpannya! Tadi itu nomer lamanya yang aku berikan!" Faika melihat kekhawatiran akan Ibnu di wajah Indah.


"Makasih ya!" Ucap Indah setelah kekhawatirannya mereda.


"Atas apa?" Tanya Faika.


"Makasih karena kamu melindungi kakakku dari...."


"Hey, kita ini saudara! Apa kamu lupa?" Potong Faika.


"Aku ga lupa, Aku hanya terlalu mengkhawatirkan kakakku!" Sahut Indah.


"Beri Aku alasan mengapa kau tak ingin Anik mengenal Ibnu?" Pinta Faika.


"Dah siang, Aku pulang dulu ya! Tapi Aku janji akan menghubungi mu nanti!" Indah tak menjawab pertanyaan Faika karena memang sudah waktunya pulang. Sebentar saja, Indah sudah sampai di rumah.


"Jangan lupa belajarnya, sekarang anak Ayah sudah kelas sembilan dan akan menghadapi ujian kelulusan!" Pak Yusuf mengingatkan Indah dengan suara khasnya.


"Iya, Ayah! Terima kasih sudah diingatkan!" Sahut Indah.


Namun bukan tidak mungkin jika suatu waktu Indah teledor dan malas belajar, karena manusia tempatnya salah dan tak ada yang sempurna.


🌼🌼🌼


Malam hari, Indah sesekali mengulang materi pelajaran terakhir di kelas sebelumnya. Sebelum memulai materi yang baru, tentu para guru akan mengulang kembali materi yang lama. Begitu pikir Indah dan benar adanya.


Pak Yusuf yang seorang pendidik tentu paham akan hal itu dan memperhatikan anak gadisnya yang belajar di teras rumah.


"Baru masuk sekolah, dah belajar aja ni orang!" Musta datang nyamperin Indah dan duduk di dekatnya. Mendengar suara Musta, Winda dan kakaknya Ikut bergabung.


"Engga kok, Aku cuma iseng baca!" Jawab Indah sedangkan tangannya sibuk menutup dan menyusun buku - buku tersebut serta membawanya masuk.


Tiga orang itu langsung saja menikmati camilan yang selalu menemani Indah dan tak pernah beranjak dari meja yang ada di sana kecuali jika sudah habis isinya, maka Indah akan mengisi toplesnya kembali dengan makanan kering yang berbeda rasa dari yang sebelumnya agar tidak bosan.


Tiba - tiba notifikasi ponsel Indah berbunyi tanpa henti, beberapa pesan masuk dan menanyakan hal yang sama yaitu dimana posisi Indah saat ini.


Satu untuk semua, Indah mengetik satu jawaban kemudian mengirim ke semuanya.


"Di rumah!" Itulah balasan chat yang dikirim Indah pada Fathur, Arman, Faika, Ana, Nurika, dan Dayat. Entah apa yang terjadi dan apa yang mereka inginkan sehingga mereka mengirim chat yang sama di waktu yang sama pula.


"Siapa yang chat?" Tanya Musta.


"Banyak orang dengan satu pertanyaan". Jawab Indah.


"Maksud kamu?" Winda mengerutkan keningnya.


"Yang chat banyak, tapi pertanyaan mereka sama. Mereka sama - sama bertanya keberadaan ku!" Indah menjelaskan.


Beberapa menit kemudian mereka datang ke rumah Indah. Dengan segera, Indah menggelar tikar dibantu Musta dan Fathur. Kemudian mereka duduk bersama di atas tikar tersebut.


"Waaaaah! Ada acara apa, Indah kok ga bilang sama Ayah?" Pak Yusuf heran dengan kedatangan teman - teman Indah. Beliau bertanya saat Indah masuk rumah hendak mengambil uang untuk membeli camilan dan satu karton air mineral.


"Indah ga ada buat acara, Ayah! Hanya saja kebetulan mereka datang bersama.


"Kamu mau kemana, Nak?" Tanya Ibu.


"Mau ambil uang buat beli camilan dan air mineral, Bu!" Jawabnya.


"Biar Ayah yang beli, temui lah teman - temanmu!" Sahut Pak Yusuf dan Indah menuruti perkataan sang Ayah.


"Ini camilannya, Bu!" Ayah memberikan camilan pada Ibu agar menyiapkannya untuk teman \- teman Indah.


Pak Yusuf memperhatikan mereka dari dalam rumah. Satu per satu wajah mereka tak luput dari pandangan Pak Yusuf. Tapi satu orang yang tidak ada di sana.


"Indah!" Pak Yusuf memanggil Indah lembut. Indah berdiri dan mendatangi Ayahnya yang sudah lebih dulu masuk rumah. "Iya, Ayah?" Tanyanya.


"Ayah tidak melihat Anik, malam ini!" Pak Yusuf berujar. Namun Indah mengerti, Ayahnya tak sekedar berujar melainkan sebuah pertanyaan.


"Indah tak mengundang mereka semua untuk datang malam ini, Ayah! Mungkin keinginan mereka sama ingin bertemu Indah, Tapi tidak dengan Anik." Jelasnya pada sang Ayah.


"Oh, begitu! Tapi bukan karena Indah ada masalah sama Anik, 'kan?" Tanya Ayah lagi.


"Tidak, Ayah! Tadi siang sepulang sekolah, Indah jalan bareng Anik. Ana, Faika dan Nurika juga ikut". Jawab Indah.


"Syukurlah! Ya sudah, kembalilah menemui mereka!" perintahnya. Indah mengangguk kemudian berlalu dari hadapan sang Ayah.


🌼🌼🌼


****Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like and vote serta koin recehnya.


Komentarmu di Chapter ini memberikan semangat untuk membuat Chapter selanjutnya!!!


Happy Reading!❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️**