
Nurika dan Faika sengaja belum pulang karena mereka benar - benar ingin membantu pekerjaan Indah. Lain halnya dengan Anik yang penasaran dengan isi kado yang diberikan Fathur untuk Indah.
Harapan Anik sia - sia karena Pak Yusuf tak mengijinkan Indah membuka kadonya saat itu juga karena Pak Yusuf khawatir jika Indah kelelahan dan jatuh sakit.
Satu per satu Indah membuka kado dari teman - temannya. Bukan sembarang kado yang mereka berikan di hari kelahiran Indah, namun hanya beberapa yang menarik perhatian Indah. Indah memisahkan bungkusan kado dari Ibnu dan Fathur, kemudian menyimpannya di dalam lemari pakaian.
"Indah!" Panggil Anik setengah berlari mengejar Indah.
"Ada apa?" Tanya Indah menghentikan langkah.
"Boleh tau ga, apa kado ulang tahun dari Fathur untukmu?" Tanya Anik penasaran.
"Em.... belum aku buka!" Jawab Indah.
"Yach, kenapa belum dibuka? Apa kamu ga penasaran?" Tanya Anik lagi.
"Penasaran sih, tapi aku akan lihat jika rasa penasaranku tak tertahan lagi!" Senyum terkembang di bibir mungil Indah. Mereka berjalan bersama menuju kelas.
Beberapa teman berkumpul di depan papan pengumuman melihat daftar pembagian kelas mereka yang baru.
Indah mulai mencari namanya di papan khusus calon siswa kelas VIII. Mulai dari kelas Delapan - B. Anik menemukan namanya di kelas tersebut. Mencoba mengurutkan ke bawah. Anik dan Nurika berada di kelas yang sama sementara nama Indah terpampang di kelas yang bebeda dengan mereka yaitu di kelas Delapan - D. "Cari tukeran yuk, Ndah! Supaya kita tetap bersama!" Usul Nurika yang sudah berdiri di belakang Indah.
Indah berpikir sejenak sebelum merespon usul Nurika. "Ke sana dulu yuk!" Indah mengajak Nurika dan Anik ke lobby depan ruang guru.
"Gimana?" Tanya Nurika lagi.
"Bagaimana caranya?" Indah balik bertanya.
"Kita cari teman yang ada di kelas VIII-B dan mau pindah ke kelas kamu. Kalian menghadap ke wali kelas yang baru, mungkin beliau bisa bantu. Jadi, kita akan bersama lagi!" Nurika menjelaskan.
Hmmmmmmh! Indah menarik nafas. "Males ah!" Kata itu lolos dari bibir mungil Indah.
"Kenapa?" Tanya Nurika dan Anik hampir bersamaan.
"Bukankah bagus kalo kita berada di kelas yang berbeda? Jadwal Pelajaran tiap - tiap kelas tidak sama, Tetapi materi yang di ajarkan sama. Jadi kita bisa saling membantu jika ada tugas yang sama yang diberikan oleh guru. Pun jika ada ulangan, setidaknya kita bisa tau kisi - kisi soal yang dibuat guru." Indah menjelaskan maksud dirinya menolak satu kelas dengan Anik dan Nurika.
Emmmmmm, iya, iya, aku paham! Nurika mengangguk.
"Aku bingung!" Sahut Anik sambil mencerna kata - kata Indah.
"Begini, misalnya pelajaran Matematika. Di kelas mu jadwalnya hari Senin, di kelas aku hari Selasa. Jika ada Ulangan Matematika di kelas mu haru Senin, maka guru Matematika akan memberikan ulangan di kelas aku dengan soal yang sama. Maka dari itu kamu bagi soalnya sama aku sehingga aku bisa mempelajarinya. Pun sebaliknya! Jelas Indah lagi.
"Oh, aku paham!" Sahut Anik mengangguk.
"Hai, Indah!" Sapa Dayat yang baru datang.
"Indah doank gitu!?" Sindir Anik.
"Oh, Hai semuanya!" Dayat mengulang sapaannya.
Dayat datang menanyakan pembagian kelas pada tiga bersahabat itu. Dia pun mengabarkan bahwa dirinya berbeda kelas dengan mereka. Tapi itu bukan masalah baginya karena ia seorang cowok yang tak takut kehilangan teman atau sahabat.
Bagaimana hubungan Nurika dan Ibrahim?
Jika pertanyaan itu diajukan pada Indah, maka ia tak bisa menjawabnya karena Indah jarang sekali mengobrol dengan Nurika di luar jam sekolah. Kalaupun bertemu, mereka hanya membicarakan masalah pelajaran.
Anik pun juga tidak terlalu dekat dengan Indah. Anik merasa iri dengan kehidupan Indah. Disayang dan di manja orang tuanya, Di cintai Fathur kekasihnya. Pandai dan pintar bergaul membuat Indah banyak teman. Saat itu Anik memutuskan untuk mendapatkan apa yang dimiliki Indah dengan caranya sendiri.
Bagaimanapun Indah dan Anik masih saudara, Pak Yusuf sering menyuruh Indah mengantarkan bahan makanan ke rumah Anik. "Makasih ya, nak! Sampaikan salam ku pada Ayahmu!" Kalimat itu yang selalu didengar oleh Indah dari Ibu Anik.
Di rumah Anik, Indah sering bertemu Arman. Arman cowok berkacamata itu adalah teman sekolah Aisyah. Sering kali Arman memperhatikan sikap Indah saat bercanda dengan Anik dan Aisyah. Bahkan sesekali Indah menggoda kedua orang tua Anik tapi masih dalam batas kesopanan.
Jika ada yang ada yang bertanya dimana Fathur, maka jawabannya Fathur magang di sebuah kota yang jauh dari tempat tinggal mereka. Siswa kelas XI SMK wajib praktek sesuai jurusan termasuk Fathur.
Di sekolah, Indah mulai berteman dengan Ana dan Irma. Rumah mereka searah sehingga tak jarang mereka berangkat dan pulang sekolah bersama. Kebersamaan menjadikan pertemanan berubah menjadi persahabatan.
π€π€π€
Ibnu masuk SMA, sekolah baru sesuai keinginannya. Mamanya masih bekerja di Luar Negeri. Entah sampai kapan akan pulang pergi mencari nafkah untuk anak - anaknya.
Kemana Pak Salim? Tentu beliau juga kembali ke rantau, meski masih di kawasan dalam negeri.
Adik dari Bu Ifa yang biasa tinggal di rumah bersama Ibnu, kini ikut tinggal bersama suami dan anaknya. Mereka tinggal di desa kelahiran sang suami yang jauh dari kota. Ibnu tinggal sendirian karena adik - adik Bu Ifa yang lain juga bekerja di Luar Negeri.
Ibnu yang baik hati banyak disukai wanita. Namun Ibnu masih sama seperti waktu SMP. Ia tak ingin menyakiti hati wanita yang sudah menjadi kekasihnya.
Irwan dan Ilham menjadi sahabatnya, tak jarang mereka memanfaatkan Ibnu untuk mendekati cewek dan menjadikan perantara agar mereka bisa jadian dengan cewek incaran mereka.
Hari Itu Ibnu, Ilham, dan Imam berjalan ke kantin. Mereka berpapasan dengan si kembar Winda dan Windi. Ibnu tak mempedulikan si kembar dan berjalan tanpa ekspresi karena perutnya lapar. Sementara mata kedua sahabatnya mengikuti langkah si kembar hingga membalikkan badan. Kemudian berjalan mundur.
Mengetahui hal itu, Ibnu menghentikan langkahnya. Buuuuk Dua cowok sahabat Ibnu tersadar dari lamunannya terhadap si kembar.
"Yach......., Ibnu! Ngapain sih pake' acara berhenti di depan?" Ilham bicara.
"Daripada kamu nabrak tuh tembok!" Jawab Ibnu dan menunjuk tembok kantin yang ada di depannya.
"Iya juga ya!" Jawab Irwan memukul jidatnya pelan.
"Kalian ngapain jalan mundur?" Ibnu bertanya untuk berbasa - basi karena sebenarnya ia tahu apa alasan mereka berjalan mundur.
"Eh, anu, ini" Irwan gugup.
"Ini, anu, onoh? Ledek Ibnu dan mereka bertiga tertawa lepas.
πΌπΌπΌ
Setelah baca, jangan lupa like n vote ya???
Komentarmu semangatku!