My Brother

My Brother
Adu Mulut



"Aku tunggu kamu di Taman Belakang Sekolah, nanti saat jam pulang sekolah!" Ucap Rahmat saat berpapasan dengan Indah. Ana yang hendak keluar kelas mendengar kalimat yang diucapkan Rahmat. Sementara Indah hanya menjawab dengan senyum datarnya.


Tanpa berkata apapun pada Indah, Ana memutuskan untuk mengajak Farid dan Ferdi serta Bobi untuk mengawasi Indah. Sementara teman - teman yang lain dibiarkan pulang duluan.


Β 


Bel pulang berbunyi, Rahmat berpisah ria dengan Nova di kelasnya kemudian berlalu menuju Taman belakang sekolah untuk menemui Indah.


Hampir saja Indah lupa dengan janjinya, karena ia masih mengerjakan PR Fisikanya. Beruntung PR yang diberikan hanya lima soal sehingga tak butuh waktu lama untuk Indah mengerjakannya. PR selesai, barulah Indah teringat akan Rahmat yang mungkin sudah menunggunya di Taman belakang sekolah.


Indah menghampiri Rahmat yang duduk membelakanginya, karena Indah memang datang dari arah belakang.


"Sudah lama nunggu?" Sapa Indah.


"Ga juga!" Jawabnya, memang tak terasa meski Rahmat menunggu lama karena ia mengisi kesendiriannya menunggu Indah dengan ber chat dengan Nova.


"Duduklah!" Rahmat menepuk tempat kosong di sebelahnya. Indah duduk di samping Rahmat, tentu dengan membuat jarak dengan meletakkan tas nya diantara mereka.


Beberapa menit mereka terdiam tanpa kata. Rahmat masih kesal pada Indah karena merasa Indah mengkhianatinya. Indah pun enggan memulai pembicaraan karena Rahmat yang mengajaknya bertemu di sini.


Sementara tanpa mereka sadari, Ana dan ketiga teman cowok sekaligus sahabatnya berada tak jauh namun tidak terlihat oleh Indah dan Rahmat.


"Katakan padaku, Siapa laki - laki yang bersamamu semalam?" Rahmat memasukkan ponselnya ke saku samping seragam sekolahnya.


"Laki - laki?" Indah berpura - pura tak mengerti.


"Laki - laki yang bersamamu di Taman kota. Kamu juga datang ke sana bersama Ana dan kekasihnya, 'kan?" Jelas Rahmat.


"Apa kau melihatku?" Indah balik bertanya.


"Iya, karena semalam Aku juga ada di sana?" Jawabnya santai.


"Oh, semalam kau juga ada di sana? Sama siapa? Kok aku ga lihat kamu?" Indah menghujani Rahmat dengan banyak pertanyaan dan sukses membuat Rahmat kebingungan menjawab pertanyaan Indah.


"I iya, Aku berada di sana bersama Bobi!" Jawaban gugup Rahmat membuat Indah tersenyum kecut. Sedangkan tak jauh dari mereka, Bobi menggenggam tangan ingin memberikan bogem hadiah untuk Rahmat.


"Sekarang giliran kamu yang menjawab pertanyaanku!" Ujarnya berusaha mengalihkan pertanyaan Indah.


"Oh, dia kakakku. Fathur namanya. Ana juga datang bersama kakaknya, Ari." Jawab Indah santai.


"Apa Aku tidak salah dengar? Seingat Aku, Kamu anak tunggal, sedangkan Ana anak pertama dari dua bersaudara. Tentu Ana juga tak memiliki kakak, 'kan?" Selidik Rahmat.


Saat Rahmat berbicara Indah mendengar seseorang sedang bersin. Indah sedikit menoleh ke sumber suara. Ia mengetahui bahwa ada empat orang di sana. Sungguh familiar bentuk tubuh mereka di mata Indah.


"Oh, iya ya!" Indah menepuk dahinya seolah lupa bahwa dirinya dan Ana sama tak memiliki kakak laki - laki. "Maksud Aku itu, Mereka berdua adalah kakak sepupu kita masing - masing." Lanjut Indah sembari mengirim chat pada Bobi.


Keluar dari persembunyianmu.


Aku tau kau ada di balik bangku kosong itu.


πŸ“±Indah.


Bobi keluar dari persembunyiannya, namun ia tak kalah akal dengan Indah. Ia langsung duduk di samping Rahmat dan menyapanya. "Ntar malam traktir aku makan di Taman yuk! Semalam kita ga jadi kesana, iya kan!" Bobi menaik turunkan alisnya.


"Bukannya semalam kita sudah ke Taman?" Tanya Rahmat sembari mengedipkan mata pada Bobi agar mengiyakan kata - katanya.


Saat mereka berdebat, Indah berlalu menuju tempat parkir sepeda disusul Rahmat. Ia menarik tangan Indah. "Kenapa kamu pergi, masalah kita belum selesai?" Ucap Rahmat dengan tatapan dinginnya.


"Masalah?" Indah mengerutkan kening pertanda tak mengerti. "Apa ada masalah diantara kita? Kurasa tak ada!" Oceh Indah datar.


"Iya, ada masalah diantara kita berdua yang harus diselesaikan!" Rahmat kecewa dengan kehadiran Bobi yang mengganggu acaranya dengan Indah.


"Oh, masalah berdua!" Ujarnya pada Rahmat.


"Kalau begitu, Kamu pulang aja ya, Bobi!" Indah meminta Bobi untuk pulang lebih dulu. "Masalahmu, kamu selesaikan nanti malam aja!" Lanjutnya. Bobi pun mengerti dan meninggalkan Indah dan Rahmat di tempat parkir sepeda. Tak lupa ia menghampiri Ana, Farid dan Ferdi.


"Kalau begitu, kalian pulang saja dulu. Biar Aku yang jaga Indah!" Sanggup Ana.


"Apa kamu yakin?" Tanya Farid.


"Iya!" Jawab Ana singkat. Setelah mendengar jawaban Ana, ketiga cowok itu pun pulang ke rumah masing - masing.


Terlihat Pak Nasir penjaga sekolah sedang menyapu Taman dan menyapa Ana. "Kenapa belum pulang?"


"Iya, Pak. Nungguin yang lagi berdua. Khawatir ketiganya setan!" Sahut Ana.


"Kalau kamu yang ketiga, berarti setannya kamu dong!" Canda Pak Nasir membuat Ana tertawa. Sementara Indah dan Rahmat tak mempedulikan tawa keduanya meski Indah hafal betul jika tawa itu berasal dari mulut sahabatnya.


"Sekali lagi aku tanya, Siapa laki - laki yang bersamamu semalam?" Tanya Rahmat penuh penekanan.


"Sudah ku bilang kalau dia Fathur saudara sepupuku!" Jawabnya datar.


"Sedekat itu kah hubungan kamu dengan saudara sepupumu hingga ada acara suap - suapan?" Tatapan tajam Rahmat tak mengurungkan niat Indah membuat Rahmat semakin emosi.


"Ya, begitulah!" Jawab Indah dengan mengangkat kedua pundaknya.


"Tapi Aku cemburu, Indah." Pernyataan yang diucapkan Rahmat sontak membuat Indah membulatkan mata, namun tidak dalam waktu yang lama.


Penghianat kok cemburu? Apa kamu pikir aku tak melihatmu bersama kekasihmu yang berada tak jauh dariku? Batin Indah.


"Cemburu?" Indah tersenyum kecut.


"Kamu cemburu sama saudaraku sendiri?" Lanjutnya.


"Iya, Ga mungkin dua bersaudara bisa sedekat itu tanpa ada hubungan lain. Kekasih misalnya?" Rahmat menaikkan nada suaranya karena tersulut emosi.


"Aku tak punya saudara, Aku punya dia yang menyayangi aku seperti adik kandungnya. Dia bisa menjaga ku dengan segenap jiwa raganya. Apa itu salah?"


Terjadi adu mulut diantara keduanya, wajah Rahmat semakin memerah karena tanggapan - tanggapan Indah yang seolah dirinya tak merasa bersalah. Entah apa yang merasuki mu, Rahmat hingga kau segitu marahnya pada Indah. Apa kau mulai jatuh cinta pada Indah? Tak lupa Ana merekam kejadian itu dengan aplikasi video yang ada di ponselnya.


πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Maaf, telat up!!!


Author sibuk di dunia nyata!!!


Jangan lupa tetap dukung "My Brother ya, Kak!😘😍πŸ₯°