My Brother

My Brother
Kemarahan Ibu



"Coba kau hubungi Indah! Tanyakan kemana ia pergi. Katakan padanya untuk segera pulang, karena ibunya khawatir!" Ibu dari Rini memberikan saran.


"Sebaiknya jangan!" Tolak Pak Marzuki.


"Kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik kita tunggu kabar selanjutnya!" Lanjutnya.


...~~~...


"Katakan sejujurnya!" Bu Sri menatap kosong menunggu jawaban Indah.


Indah menjatuhkan diri bersimpuh di hadapan sang ibu. Ia memeluk lutut ibunya.


"Maafkan Indah, Bu!" Tangis Indah pecah.


"A aku ke rumah Ba - bapak! Hik.... hik!" Selain karena tangisnya, ucapan Indah terbata - bata karena ia takut ibunya marah besar.


Bu Sri sangat syok mendengar penuturan Indah.


"Maafkan Aku, Bu! Maaf!" Ira yang menyaksikan adegan tersebut ikut meneteskan air mata.


Indah pasrah jika dirinya akan dikembalikan ke pangkuan kedua orang tua kandungnya, namun yang tidak ia inginkan adalah jika ia harus putus sekolah seperti saudara - saudarinya serta saudara sepupunya yang harus putus sekolah karena tak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan.


"Antar aku ke Jalan Mangkubumi!" Bu Sri perlahan melepaskan diri dari Indah dan beranjak ke tempat Ira berdiri.


"Apa tidak sebaiknya besok saja! Tenangkan dirimu dulu!" Saran Tante Ira.


"Jangan menunda - nunda masalah agar cepat selesai!" Bu Sri langsung mengenakan helm.


"Jangan kemana - mana, belajarlah untuk ujian besok!" Ira memperingatkan keponakannya.


Sejak Indah di adopsi oleh Bu Sri dan Pak Yusuf, Ira pun sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Ira selalu mengajarkan pada Dimas anak satu - satunya bahwa Indah adalah saudaranya. Ya memang tak hanya Dimas yang dekat dengan Indah, bahkan semua sanak saudara Bu Sri dan Pak Yusuf sangat menyayangi Indah terlebih sifat asli serta karakter Indah yang dibentuk Pak Yusuf sangat menyenangkan orang lain.


"Iya, Tante!" Indah menghapus air matanya, menutup rapat pintu rumah serta mulai kembali belajar.


...🌼🌼🌼...


Di rumah Pak Salim.


"Assalamualaikum!" Tante Ira mengucap salam.


"Waalaikum salam!" Halimah membukakan pintu untuk tamunya.


"Pak Salim ada?" Tanya Bu Sri to the points.


"Silahkan masuk dulu, Bu!" Halimah mempersilahkan tamunya duduk.


Setelah menyuguhkan cemilan dan minuman hangat, Halimah duduk dan berbicara dengan tamunya.


Ia mengatakan jika Bapaknya jarang sekali pulang.


Bu Sri kemudian menanyakan keberadaan saudara - saudara Pak Salim.


Halimah memanggil dua bibinya. Aisyah dan Hanifah.


"Eh, ibunya Indah!" Ucap Aisyah menyambut dua tamu yang datang dari kota.


"Ada apa jauh - jauh datang dari kota?" Tanya Hanifah ramah.


"Mungkin mencari Indah! Apa Indah masih di sini, Halimah?" Tebak dan tanya Aisyah.


"Tidak, Bi! Indah sudah pulang satu jam yang lalu!" Jawab Halimah.


"Untuk itulah saya datang kemari! Saya mau kalian jauhi Indah, Dia sudah jadi milik kami sejak ia dilahirkan hingga sekarang, bahkan selamanya. Kalau kalian menginginkan Indah, kenapa tidak dari dulu saja kalian merawat dan membesarkannya. Jangan pernah ganggu Indah lagi, karena ia akan ku jadikan wanita karir!" Rasa takut kehilangan Indah membuatnya amarahnya memuncak.


Hal itu membuat saudara - saudara Pak Salim tertunduk, pun dengan Halimah. Ia menyadari bahwa dalam hal ini Bapaknya lah yang bersalah. Setelah meninggalkan Halimah bersaudara untuk menikah dengan Bu Ifa, Pak Salim memberikan putri dari hasil pernikahan keduanya kepada orang lain yang tak lain adalah Pak Yusuf dan Bu Sri.


"Aku hanya takut kehilangan Indah. Aku khawatir ia akan kembali pada keluarga kandungnya, Ira!" Ucap Bu Sri menahan tangis.


"Ga mungkin Indah kembali ke sana, Mbak!" Hibur Ira.


"Indah sudah besar, Ia juga anak yang cerdas. Ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Aku yakin Indah masih punya cita - cita yang ingin ia raih!" Lanjutnya.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Ira?" Bu Sri berpikir bahwa perkataan Ira hanya untuk menghibur dirinya.


"Aku menyayangi Indah sama seperti aku menyayangi Dimas, Mbak. Jadi aku sangat mengenal Indah dengan baik. Dia anak penurut dan tidak pernah membantah. Bukankah mbak tau itu?" Jelas Ira.


"Iya, Aku tau. Tapi Aku khawatir sifatnya berubah saat ia tau kami telah membohonginya!" Bu Sri.


"Jangan khawatir, Mbak! Hal itu ga akan terjadi selagi kita tetap menyayanginya dan menyekolahkannya dengan baik!" Ira.


Tak terasa mereka telah sampai di depan rumah Bu Sri.


Saat membuka pintu rumah, Bu Sri melihat Indah yang sedang terlelap di tempat yang sama. Indah duduk di bawah, menyenderkan kepalanya ke kursi. Matanya sembab membuat Bu Sri tidak tega melihatnya.


"Indah, Indah, bangun, Nak!" Bu Sri mengguncang pelan tubuh anak semata wayangnya.


Indah mengerjap dan membuka matanya perlahan. "Ibu!" Ucapnya kembali meneteskan air mata.


"Tidurlah di kamarmu!" Indah mengangguk, kemudian mengikuti perintah Ibu yang selama ini merawat dan memberikan kasih sayang untuknya.


Setelah Indah tenggelam dibalik pintu, Ira melihat kekhawatiran di wajah saudarinya.


"Apa lagi hang Mbak khawatirkan?" Tanyanya.


"Aku takut penyakitnya akan kambuh!"


"Jangan jadi peramal, Mbak! Ira menyangkal kecemasan Bu Sri.


"Kalau begitu, Aku pamit pulang dulu. Kasihan Dimas sendiri di rumah, Ayahnya sedang pergi ke luar kota untuk mengantar pasien. Kalo ada apa - apa, hubungi Aku!" Ira.


Benar sekali dugaan Bu Sri. Saat bangun tidur, Penyakit Indah kambuh. Tak hanya sakitnya yang Bu Sri khawatirkan, yang lebih mengkhawatirkan adalah karena besok akan mulai Ujian Nasional.


Flashback on


Indah mencoba membuka mata. Seketika pandangannya menjadi kabur. Lidah dan seluruh tubuhnya mati rasa. Ingin berteriak memanggil Ibu, namun tak mampu. Dan akhirnya ia pingsan hingga sang ibu datang ke kamar dan membangunkannya.


Flashback Off


"Indah, Bangun Nak!" Jam lima sore menjelang maghrib Bu Sri perlahan membangunkan Indah.


Indah berusaha keras membuka mata, ia hanya sedikit melambaikan tangan menandakan penyakitnya sedang kambuh.


"Indah sakit?" Bu Sri memastikan, sedang Indah hanya mengangguk pelan.


"Tunggu sebentar ya, Nak!" Bu Sri sungguh panik saat Indah sakit. Pasalnya Indah tidak suka bubur sedangkan lambungnya tidak bisa menerima makanan apapun yang masuk sehingga saat penyakit itu kambuh, Indah sama sekali tidak mau makan.


Tak lama kemudian, Bu Sri masuk ke kamar Indah dengan membawa segelas besar Air gula hangat di tangan kanannya serta sebuah baskom di tangan kirinya untuk persiapan jika nanti Indah memuntahkan isi perutnya.


Beliau membantu Indah minum. Satu menit kemudian Indah benar - benar muntah dan badannya lemas.


"Istirahatlah dulu, Nak!" Bu Sri.


Kasihan sekali Indah, gara - gara aku penyakitnya jadi kambuh. Seharusnya aku tak memarahinya. Tentu saat ini marahku menjadi beban pikirannya, padahal besok ia harus menghadapi ujian. Maafkan Ibu mu ini, Sayang! Aku hanya takut kehilanganmu, Indah! Batin Bu Sri.


🌹🌹🌹


Bersambung dulu ya, Kak!


Happy reading!