
Di sekolah :
Saat jam istirahat usai antri dari kantin sekolah, Indah duduk di bangku di depan kelas bersama beberapa teman. Di situ juga ada Linda teman sekelasnya yang mendominasi pembicaraan mereka. Indah memperhatikan tingkah laku dan cara bicara Linda. “Apa aku bisa seperti Linda?” Gumam Indah
Indah ingin merubah dirinya yang pasif menjadi lebih aktif dan percaya diri sesuai keinginan ayahnya. Indah terinspirasi oleh sikap Linda yang tidak hanya aktif namun juga pintar.
Indah tak lagi malas belajar. Seperti di SD dulu, ia selalu mengerjakan pekerjaan rumah saat jam istirahat. Hanya PR jam terakhir yang dikerjakan di rumah.
Sifat dinginnya mulai berkurang, meski tidak habis. Indah selalu berkumpul, bercanda dengan teman – temannya saat jam istirahat. Seorang guru Seni Musik memainkan gitar menyanyikan sebuah lagu remaja. Nurika dan Anik menghampiri Pak Suluh Kurniawan sang guru Seni Musik. Indah tak beranjak dari tempat duduknya di depan ruang kelas. Ia hanya memandang kedua sahabatnya.
“Assalamualaikum!” Saatnya Pak Suluh mengajar. Masuk kelas sambil mengucap salam dan di jawab oleh seluruh siswa kelas tujuh A.
Gitar menjadi ciri khasnya sebagai guru seni musik. “Siapa yang suka musik?” Pak Suluh membuka pelajaran dengan sebuah pertanyaan.
Lebih dari separuh isi kelas mengacungkan tangan pertanda mereka menyukai musik, termasuk Nurika dan Anik. Tapi tidak dengan Indah dan Linda. Entah apa alasan Linda. Bukan tidak suka musik, Indah hanya malu mengakui bahwa dirinya sangat menyukai musik.
Pak Suluh menjelaskan tentang jenis – jenis suara dalam paduan suara. Setelah itu beliau membagi siswa sesuai jenis suaranya. Indah termasuk dalam kelompok Alto. Sedikit pengarahan tentang lagu yang akan diajarkan Pak Suluh minggu depan. “Api Kemerdekaan” judul lagu yang akan dinyanyikan secara Paduan Suara.
Api Kemerdekaan
Api menyala di dalam dada satria
Apikemerdekaan bangsa
Indonesia Jaya
Meski hancur lebur Negara kita
Pahlawan Indonesia sedia
Berkorban jiwa raga
Air mataku berlinang segera
Kobarkanlah dalam jiwamuera
Jika terkenang zaman nestapa
Duka bangsa tak dapat ditahan
Lahirlah kini pahlawan Johan
Wahai satria belalah tanah airmu
Kobarkanlah dalam jiwamu
Api kemerdekaan
Begitulah lirik lagu “Api Kemerdekaan” yang ditulis Indah dan dihafalkan dirumah dengan teknik suara yang sudah diajarkan oleh gurunya.
Entah sejak kapan Indah menyukai musik. Indah juga dengan mudah menghafal rumus matematika yang diberikan oleh guru dan menghitung cepat tanpa menggunakan alat bantu berupa kalkulator. Indah juga sangat menguasai pelajaran Bahasa Daerah. Ulangannya selalu mendapat nilai 100. Untuk ekstrakurikuler, Indah memilih Ekskul Wajib PRAMUKA dan ekskul pilihan Basket.
Indah terlalu fokus pada kegiatan sekolahnya sehingga ia lupa akan penyakitnya. Mimisan sudah tak lagi menghampirinya meski sedang asyik bermain basket. Tak jarang teman cowok menantangnya memasukkan bola ke ring.
Yang mendapat Point terbanyak akan di traktir oleh teman – teman yang lain. Tak jarang pula Indah mendapat traktiran makan dari empat atau lima orang yang menantangnya sekaligus. Namun Indah tak sanggup menghabiskannya sendiri, moment menyenangkan bagi Nurika dan Anik saat Indah memenangkan permainan basket karena merekalah yang akan membantu menghabiskan makanan Indah.
Nak, bangun nak!
Sayang, bangun sayang!
Indah......., shalat shubuh dulu baru tidur lagi!
Pak Yusuf membangunkan Indah dengan memercikkan sisa air wudhu di wajahnya, dilanjutkan dengan mengguncang tubuh Indah. Namun tak ada reaksi.
Pak Yusuf keluar dari kamar Indah untuk melaksanakan Shalat Shubuh terlebih dahulu.
Panas! Gumam Pak Yusuf. Penyakit Indah kambuh. Pak Yusuf keluar kamar menuju dapur menemui Bu Sri untuk memberitahukan keadaan Putrinya. Pak Yusuf berlalu dari dapur untuk membuat surat izin tidak masuk sekolah atas nama Indah dan dititipkannya pada Habib anak Pak Dayat.
Di kampung mereka hanya tiga orang yang bersekolah di SMP 1. Inayah anak Pak RT kelas IX, Habib putra Pak Dayat dikelas VIII dah Indah yang masih kelas VII.
Yang terdekat dengan rumah mereka adalah rumah Habib sehingga Pak Yusuf menitipkan surat anaknya pada Habib.
Bu Sri yang sedang memasak air, segera membuat teh hangat. Segelas teh hangat dan sebuah baskom dibawa Bu Sri ke kamar Indah. Itulah pertolongan pertama yang dilakukan Bu Sri ketika penyakit Indah kambuh. Bu Sri mencoba membangunkan Indah.
Saat berusaba bangun, Kepala Indah terasa sakit dan pusing sekali. Kepalanya berdenyut kencang, perutnya mual.
Bu Sri langsung menodongkan baskom yang sudah dibawanya dari dapur. Indah memuntahkan cairan bening dari mulutnya karena Indah memang baru bangun tidur dan perutnya belum terisi apapun. Setelah selesai dengan muntahnya, Bu Sri memberikan teh hangat agar tenggorokan Indah tidak terasa pahit.
Indah kemudian membaringkan tubuhnya dengan perlahan dan berusaha menutup matanya. Saat Indah kambuh seperti inilah yang membuat Pak Yusuf dan Bu Sri kebingungan. Indah tidak suka bubur, tapi Indah juga tidak mungkin makan nasi karena keadaan lambung yang tidak bisa menerima makanan kasar.
Flashback on~~~
Usai Adzan Shubuh berkumandang, Indah berusaha membuka mata untuk bangun dan melaksanakan Shalat shubuh, namun kepalanya terasa pusing dan sakit sekali. Seluruh tubuhnya seperti kesemutan kemudian mati rasa, tubuhnya tidak bisa bergerak, Lidahnya tak mampu merasakan apa – apa, matanya juga tidak melihat. Saat dibangunkan oleh ayahnya Indah hanya melihat sidikit bayangan Pak Yusuf masuk ke kamarnya. Itulah yang akan selalu dirasakan Indah saat penyakitnya kambuh. Hal itu akan terjadi pada Indah selama 6 jam.
Selama enam jam Indah hanya mampu mengisi perutnya dengan segelas air gula hangat agar energinya tidak terkuras untuk menahan rasa sakit di kepalanya. Namun begitu, beberapa menit kemudian dia akan memuntahkan isi perutnya.
Tepat pukul dua belas siang, Indah mencoba membuka mata.
“Ibu.....!” Panggil Indah yang langsung didatangi oleh ibunya.
“Iya, ada apa sayang?” Duduk di samping Indah.
“Ayah belum datang ya, bu?” Indah mengetahui Ayahnya belum jam pulang mengajar.
“Sudah, nak! Ayah pulang lebih awal dari biasanya karena Indah lagi sakit!” Jelas Bu Sri.
“Aku lapar, bu!”
“Iya, sebentar ya Indah!” Bu Sri keluar kamar dan menemui Pak Yusuf
Bu Sri mengatakan pada ayah bahwa Indah sudah sadar dan ingin makan. Pak Yusuf langsung menghubungi Abil dan menyuruhnya membeli Bakso dan juga lontong untuk Indah.
Tak lama kemudian, Abil datang membawa pesanan Pak Yusuf. Indah mencoba mengisi perutnya meski lidahnya terasa pahit. Saat itulah Bu Sri bisa memberikan obat untuk putrinya. Obat yang diberikan ibu adalah obat dari dokter beberapa Waktu lalu saaat Indah kambuh dan sisanya disimpan dengan baik oleh Bu Sri.
Usai minum obat, Indah kembali berbaring setelah sebelumnya buang air ke kamar mandi dibantu ibunya. Indah tertidur hingga pukul tiga sore.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like and vote ya readerku sayang.😘😍🥰
Ditunggu juga komentarnya agar author lebih baik lagi menulisnya!!!❤️❤️❤️
Terima kasih🙏🙏🙏