
“Itu kan karena Aku pikir gadis itu bukan Mama!” Gerutu Toni sambil berjalan melewati Ibnu menuju tempat Mamanya berdiri. Pelukan erat terjadi kembali setelah hari kemarin Bu Ifa memeluk Ibnu.
“Lita kan juga mau digendong cama Bude!” Suara Rita memecah haru diantara mereka bertiga.
“Oh, Iya!” Bu Ifa mengambil Rita dan membawa ke pangkuannya.
Toni berlalu ke dapur untuk membuatkan Teh hangat untuk Mama dan Kakaknya. Setelah itu mereka mengobrol panjang kali lebar.
Sedangkan Rita disibukkan dengan boneka Onta yang diberikan oleh Bu Ifa.
"Mbak Ifa!" Seru Tante Ratih yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu mengamati tamunya.
"Iya, Dek!" Bu Ifa berdiri menghampiri Ratih dan memeluknya. "Bagaimana kabar kalian?" Tanya Bu Ifa pada Ratih dan Husein yang berdiri di belakang istrinya.
"Alhamdulillah kami baik, Mbak!" Jawab Ratih dan meregangkan pelukan mereka.
Setelah mereka duduk kembali, Toni datang membawa minuman untuk semuanya. "Silahkan!" Ucapnya.
"Bu Ifa mengutarakan maksudnya untuk membawa Toni pulang sementara waktu hingga dirinya kembali ke Arab.
Berat mungkin untuk Paman Husein sekeluarga berpisah dengan Toni, karena mereka telah menganggap Toni seperti anak kandung mereka. Namun tak mungkin mereka melarang Bu Ifa membawa Toni karena Bu Ifa adalah Ibu kandungnya.
"Mama, Apa Lita boleh icut Bude sama Kakak?" Tanya Rita lebih ke sebuah permintaan.
"Kalo Lita ikut Bude sama kakak, Mama bobok sama siapa?" Sahut Tante Ratih.
"Mama bobok sama Papa" Jawab si kecil Rita.
"Ga mau! Mama maunya bobok sama Lita" Tante Ratih berpura - pura merajuk dan memasang wajah memelas agar anak semata wayangnya itu tidak jadi ikut dengan Bu Ifa dan kedua anaknya.
Lita naik ke pangkuan Tante Ratih dan memeluk erat mamanya. "Lita ga jadi icut kakak!" Ucapnya.
🌼🌼🌼
Bu Ifa dan kedua putranya tiba di kota S.
Karena hari sudah larut, mereka memutuskan untuk beristirahat dan memulai kegiatan selanjutnya saat mentari muncul.
Keesokan harinya
"Ma...
"Bagaimana kabar Adikmu?" Tanya Bu Ifa memotong kalimat Ibnu.
"Ibnu merindukan Indah. Tapi Nu khawatir Indah jatuh cinta padaku, Ma!" Ibnu memulai ceritanya.
"Maksud kamu?" Tanya Bu Ifa serius. Ia tak mau kedua anaknya terlibat cinta terlarang.
"Pernah satu kali aku bertemu dengannya. Saat itu, Indah hampir tenggelam di kolam renang dan Nu menolongnya hingga melakukan CPR. Indah sadar dari pingsannya dan memanggil namaku. Aku berlalu secepat mungkin supaya Indah melupakanku." Cerita Ibnu panjang kali lebar.
Bu Ifa tersenyum menahan tawanya saat mendengar kata demi kata yang dilontarkan Ibnu.
Sejak Indah kecil, Bu Ifa sering menanyakan kabar Indah pada adik - adiknya yang sering bertemu Indah sehingga ia paham betul bagaimana sifat Indah. Sangatlah tidak mungkin jika semudah itu Indah jatuh cinta.
Mungkin saja Naluri sebagai seorang adik membawa Indah ingin selalu dekat dengan Ibnu.
"Kenapa Mama malah senyum - senyum sendiri?" Tanya Ibnu heran.
"Apakah semudah itu Indah jatuh cinta padamu?" Bu Ifa balik bertanya dan membuat Ibnu bingung.
"Yach, Mama! Ibnu ini anak Mama yang paling guanteng, jadi bukan tak mungkin jika banyak wanita ingin menjadi kekasihku. Termasuk Indah. Hehe" Ibnu tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, ingatlah satu hal. Di dalam tubuh kalian mengalir darah yang sama. Jadi sangatlah tidak mungkin jika ada rasa jatuh cinta diantara kalian berdua. Kalaupun ada, maka haram untuk kalian saling mencintai." Jelas Bu Ifa.
"Mungkin saja naluri Indah merasakan bahwa Ibnu adalah kakaknya meski ia tak mengetahui akan hal itu!" Lanjut Bu Ifa.
"Apa benar bisa begitu, Ma?" Tanya Ibnu ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari Sang Ibu yang telah melahirkannya.
"Iya, Nak! Mama sering merasakan hal itu saat merindukan paman dan bibi - bibimu, terlebih paman Syah!" Bu Ifa menunduk merindukan sosok adik yang sangat disayanginya.
Tiba - tiba Bu Ifa menoleh ke samping dan merentangkan tangannya membuat Ibnu heran dengan sikap mamanya.
Tepat sekali apa yang baru saja beliau katakan, Bu Ifa sangat merindukan Syah yang kini tengah berdiri di belakang Ibnu. Entah mendapat panggilan dari mana, Syah datang untuk menemui kakak tertuanya yang tak lain adalah Bu Ifa.
"Kapan datang? Kenapa tak mengabari aku dan langsung membawa kabur keponakanku?" Tanya Paman Syah berbasa - basi.
"Aku sengaja membuat kejutan untuk kalian. Maaf jika Aku tak sempat pamit saat membawa Ibnu menjemput Toni karena Ibnu bilang istrimu sedang melahirkan!" Jawab Bu Ifa.
"Benar sekali, Aku datang ke rumah ini menjemput buah tangan untuk anakku!" Ledek Paman Syah.
"Sabarlah, hari ini kami ingin menemui Indah. Apa kau mau ikut?" Tanya Bu Ifa pada adik yang sangat menyayangi anak perempuannya itu.
"Temuilah Dia, namun jangan dulu mengatakan kebenarannya pada Indah. Karena Kak Yusuf akan marah jika hal itu terjadi!" Saran Paman Syah.
"Baiklah, nanti setelah bertemu Indah, kami akan berkunjung ke rumah mu!" Janji Bu Ifa pada sang adik.
Bu Ifa memberikan buah oleh - oleh yang sudah ia siapkan untuk adik kandung dan istrinya. Bu Ifa memang tidak membawa perlengkapan bayi karena Istri paman Syah melahirkan bersamaan dengan datangnya Bu Ifa dari LN.
Bu Ifa juga mempersiapkan sarapan untuk kedua anaknya dan juga Paman Syah yang baru datang.
Usai sarapan, mereka bersiap menuju rumah Pak Yusuf untuk bertemu Indah. Tak lupa Bu Ifa membawa gamis yang sengaja dibeli untuk Indah dan buah tangan lain dari kota tempat tinggal mereka. Bu Ifa juga memasak nasi goreng kesukaan Indah.
Ya, Ibnu dan Paman Syah lah yang memberitahukan pada Bu Ifa tentang makanan kesukaan Indah. Pun dengan dirinya yang sangat menyukai nasi goreng.
"Siapa Indah, Ma?" Tanya Toni yang membuat ketiganya saling memandang.
"Kenapa sejak kemarin Mama dan Mas Ibnu selalu membicarakan tentang Indah? Hari ini Paman Syah juga menyebut nama Indah!. Apa dia juga anak Mama?" Tanya Toni mengeluarkan pertanyaan yang sejak kemarin ingin ia tanyakan.
"Indah kakak perempuanmu, Nak!" Jawab Bu Ifa.
"Dimana Kak Indah sekarang, Ma?" Tanya Toni penasaran. Selain itu dia juga sangat menginginkan saudara perempuan.
"Kita akan ke rumah Kak Indah sekarang!" Sahut Bu Ifa.
"Yeay, Aku punya kakak perempuan!" Toni melompat kegirangan seperti balita yang mendapat hadiah lollipop.
Keinginannya mempunyai kakak perempuan akan segera terwujud, meski ia belum tahu bagaimana karakter Indah.
🌼🌼🌼
Terima kasih sudah membaca.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ,Kak!
Salam Rindu dari Author!!!