My Brother

My Brother
Makan Bersama



Aisyah memanfaatkan adiknya untuk memoroti uang Indah yang diberikan oleh Pak Yusuf karena menurut cerita Anik, Pak Yusuf selalu menuruti permintaan anak tunggalnya itu.


Sesampainya di rumah Anik, Aisyah langsung menyambut kedatangan adik bersamateman – temannya. Mengambil semua belanjaan dan membawanya ke dapur tanpa mau di bantu oleh Anik maupun teman – temannya.


 


Tas ransel kecil yang diberikan Ayahnya sebagai hadiah selalu menempel di punggung Indah. Tidak terlalu kecil karena Pak Yusuf sangat mengerti sifat anaknya bahwa Indah tak mau membawa tas kecil yang hanya bisa menyimpan uang dan Handphone.


Saat di Supermarket tadi, Indah sempat membeli camilan kesukaannya sendiri untuk di makan bersama teman – temannya dan juga untuk dibawa pulang ke rumah. Tak lupa juga Indah membelikannya untuk Ika.


“Nih, kamu simpan dalam tasmu!” Indah menyodorkan plastik putih ke tangan Ika.


“Kenapa masih membelikan untukku? Bukankah kamu sudah memberikan banyak uang padanya untuk kita bisa makan bersama?” tanya Ika keheranan saat melihat isi dari kantong plastik yang diberikan oleh Indah.


“Itu buat kamu seorang, tak perlu mengeluarkannya saat nanti di rumah Anik!” Indah memperjelas maksud pemberiannya pada Ika. “Aku ga tau bagaimana menghabiskan uang yang diberikan ayah untuk liburan, sementara aku tidak suka Shopping!” Indah menambah kata – katanya.


Indah juga memasukkan camilannya sendiri dan dompetnya ke dalam ransel miliknya bersamaan dengan Ika yang juga melakukan hal yang sama. Itu mereka lakukan saat Anik belum selesai dengan belanjaannya.


Indah melakukan itu karena ia tau tak semua makanan yang dimasak oleh Aisyah dan camilan yang dibeli oleh Anik akan dihidangkan oleh Anik dan Aisyah. Mereka akan menyimpannya untuk keperluan mereka sendiri. Tak jarang Anik meminta Indah untuk membelikan barang kebutuhannya, seperti bedak, atau parfum. Namun Indah masih memberi batasan agar Anik tidak selalu memanfaatkannya.


 


“Ada yang bisa kami bantu?” Ika bertanya pada Aisyah dan Anik. Dia berdiri di pintu dapur bersama .


“E – Eh ga usah, biar kami saja yang memasaknya” Jawab Aisyah yang kelihatan gugup. “Kalian tunggu di depan saja! Kami berdua sudah biasa masak besar ketika keluarga besar kami berkumpul” Aisyah melanjutkan kebohongannya, padahal ia hanya ingin agar Indah tak mengetahui rencananya menyembunyikan setengah bagian makanannya untuk keperluan perutnya sendiri bersama adiknya.


Mendengar kata – kata Aisyah, indah dan Ika berlalu menuju teras rumah Anik. “Ka, apa Ibrahim pulang ke kampungnya?” Indah membuka obrolan mengisi kebosanannya.


“Ga, dia jarang pulang!” Jawab Ika “Karena keadaan ekonomi keluarga yang pas – pasan, membuatnya jarang pulang!” Lanjut Ika. Lebih baik buat makan di sini dari pada uangnya buat ongkos pulang, itu yang pernah ia katakan padaku.


“Gimana kalau kita ajak Ibrahim kesini untuk makan – makan bareng kita?” Indah merasa iba mendengar cerita Ika. Padahal awalnya Indah hanya iseng bertanya tentang Ibrahim.


“Usul kamu boleh juga, Ndah! Ayo kita susul dia ke tempat kosnya!” Ika menyetujui dan mengajak Indah ke tempat kos Ibrahim.


Mereka berdiri dan berjalan menuju dapur. Setelah pamit pada Anik dan kakaknya mereka berjalan kaki menuju tempat Ibrahim.


Di tempat kos Ibrahim juga ada Fathur, sedangkan Wahid diajak Pemilik tempat kos berlibur karena keahliannya mengemudi mobil.


“Kita ngobrol di teras rumah Bapak saja” Ajak Ibrahim sambil mengarahkan kekasih dan teman – temannya menuju tempat yang dimaksud.


“Ndah, disini aja ya?” Ika memandang Indah meminta persetujuan.


“Terserah kamu saja, itu sudah menjadi hak kamu tak perlu lagi meminta ijin padaku!” Jawab Indah mengerti maksud sahabatnya.


Ika mengeluarkan camilan yang dibelikan Indah di supermarket. Seketika, Ibrahim pamit keluar sebentar. Lima menit saja Ibrahim sudah kembali dengan empat botol air mineral dingin di tangannya.


“Aku ga habis pikir kenapa kamu begitu menuruti kemauan Anik, pun dengan Aisyah kakaknya. Padahal kalau menurut aku, tak ada ketulusan di hati mereka?” Ika mengungkapkan rasa penasaran yang selama ini di simpan di hatinya. Sementara Ibrahim dan Fathur mendengarkan obrolan mereka.


“Tanpa kamu kasih tau, aku juga paham maksud mereka” Indah mulai memberikan jawabannya.


“Tapi kenapa kamu biarkan?” Ika tak mengerti maksud hati Indah membiarkan dirinya diporoti.


“Ibunya saudara jauh Ayahku. Mereka dijauhi keluarga besarnya karena sering berhutang untuk biaya hidup anak – anaknya yang berjumlah tujuh orang. Sedangkan gaji Ayahnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka”. Indah seolah menerawang jauh. “Selain ibunya yang masih ada hubungan keluarga dengan ayahku, kini Anik juga jadi sahabatku. Aku ga mau ia merasa rendah diri di hadapan teman – teman yang lain!” Indah tertunduk karena ia tidak pernah bisa melihat orang lain menderita. Apalagi menyangkut orang – orang yang dekat dengannya.


“Tapi, ndah....


“Aku tau batasan kok. Aku ga akan membiarkan dia tergantung dan memanfaatkan keadaan ini. Aku mendapatkan semua ini dari Ayahku tak semudah yang Anik bayangkan!” Indah memotong ucapan Ika dan melanjutkan kata – katanya.


“Ya ampun, aku baru tahu sifat aslinya!” Ibrahim terkejut setelah mengetahui topik pembicaraan Indah dan Ika. Sementara Fathur semakin kagum dengan sifat baik Indah. Dibalik sikap dinginnya, ada hati yang suka menolong orang lain.


“Makanya, aku ajak kamu kesini supaya mereka ga jadi maling di rumah mereka sendiri!” Indah melihat ke arah Ika dan tersenyum dibalik tangan yang menutup mulutnya sendiri.


“Kamu ini, ada – ada saja!” Ika juga terkekeh.


Mereka melanjutkan obrolan hingga tak berujung, sesekali mereka tertawa saat ada sesuatu yang lucu.


Setelah satu jam berlalu, Indah mengajak Ika, Ibrahim dan juga Fathur ke rumah Anik untuk makan bersama.


Tiba di rumah Anik, mata Ika membulat sempurna melihat makanan yang dihidangkan Anik dan Aisyah tak sebanyak bahan yang mereka beli dengan uang Indah. Banyak yang hilang, bahkan makanan kecil yang akan dijadikan makanan penutup tak terlihat diantara makanan itu. Ika semakin kesal saat melihat Indah diam tanpa ekspresi.


Ketika mata mereka bersitatap, Indah hanya tersenyum mengaggukkan kepala.


Sabar banget sih! Umpat Ika dalam hati yang ditujukan pada Indah.


Melihat kehadiran Ibrahim dan Fathur di sana, Aisyah merasa kesal dengan hanya memajukan bibirnya dan memandang keduanya sinis. Menyadari hal itu Ibrahim dan Fathur merasa tidak enak hati.


“Mas, aku boleh minta tolong ga?” Bola mata Indah tertuju pada Ibrahim dan Fathur.


“Bo – boleh, apa?” Jawab Fathur yang lebih dulu sadar dari lamunannya dari pada Ibrahim.


“Tolong belikan Air mineral ya!” Indah mengambil uang dari saku celananya dan memberikannya pada Fathur. Fathur pergi diikuti Ibrahim.


“Andai saja bukan karena kamu, pasti sudah aku labrak mereka ndah! Masa iya air minum saja tidak punya!” Ika menggerutu pelan, namun Indah yang berada di sampingnya masih bisa mendengar gumamannya.


Mereka berenam makan bersama, tetapi acara makan – makan mereka kali ini didominasi dua kakak beradik Anik dan Aisyah.


Untuk menghilangkan rasa canggung antara Aisyah dengan kedua laki – laki yang ada di sana, Usai makan dan membantu membereskan sisa makanan Indah langsung pamit pulang.


“Pulang yuk, dah siang! Kasian ayahku!


“Ayah kamu kenapa, ndah?” Ika heran mendengar ucapan Indah yang membawa nama Ayah.


“Kalau ga ada aku di rumah, seperti yang kurang kata Ayah!” Jawabnya datar.


“Ya iyalah!” Ika kesal.


“Makanya ayo pulang!” Indah menarik lengan Ika kemudian dengan sengaja ia mengambil sepeda milik Ika.


“Hey, itu sepedaku!” Ika mengejar sepedanya saat ia sadar sepeda miliknyalah yang dinaiki Indah. Anik, Ibrahim dan Fathur tertawa melihat tingkah Indah dan Ika. Fathur langsung mengambil tindakan dengan membawa sepeda milik Indah dan menyerahkannya pada Ibrahim.


“Nih, Susul kekasihmu!”


“Makasih!” Ibrahim mengayuh sepeda milik Ika dan mengejar pemiliknya lalu membonceng Ika ke tempat kosnya karena Indah menghentikan sepedanya di tempat kos Ibrahim. Sementara Fathur berjalan sambil tersenyum sendiri melihat orang yang dikagumi mengerjai sahabatnya.



**Kutunggu Like, Vote and Komentarnya juga.


Aku tak tahan pedasnya cabe, tapi pedasnya komentar aku tahan untuk menambah semangat dan memperbaiki tulisan novelku.


Terima kasih😘😍🥰**