My Brother

My Brother
End



Ibnu dan Indah menjalani hari - hari seperti biasa. Mereka bertemu selain di sekolah. Hanya beberapa orang yang tahu tentang hubungan darah Indah dan Ibnu, Termasuk Ana.


"Enaknya punya mimpi dan jadi kenyataan! Sedangkan mimpi itu takkan pernah nyata bagiku. Bagaimana mungkin, Aku yang anak pertama berkeinginan punya kakak laki - laki? Hufh, sungguh beruntung dirimu, Indah!" Ana menerawang jauh.


"Kamu bisa anggap kakakku seperti saudaramu sendiri, Na!" Sahut Indah.


"Beneran? Boleh?" Ana.


"Iya!" Jawaban Indah membuat sang sahabat tertawa lepas, namun tawa itu seketika berhenti.


"Tapi.... Apakah kakak kamu mau terima aku sebagai adik?". Ana ragu.


"Pasti mau, nanti aku bilang sama kakakku. Dia bakal turuti apa yang aku inginkan!" Indah meyakinkan Ana.


"Makasiiiiih! Kau memang sahabat terbaikku!" Ana mencubit gemas pipi Indah.


"Sakit tau!" Seru Indah.


Seringkali Indah bertemu dengan sang Mama, mereka hanya sekedar mengobrol sedikit. Indah tak pernah memanggil Mamanya dengan sebutan itu, tidak juga memanggilnya Bude. Bu Sri juga sudah mengijinkan mereka bertemu karena memang sudah waktunya Indah mengetahui semuanya.


Tiga Tahun kemudian.


Indah masih tetap bersama Bu Sri, bahkan mungkin untuk selamanya. Karena Indah telah diadopsi oleh pasangan Pak Yusuf dan Bu Sri.


Indah dikuliahkan di Kampus PGRI di Surabaya. Ibnu yang mengetahui hal itu berkeinginan mengunjungi sang adik.


📱Ibnu


Dek, kamu jam berapa pulang kuliah? Mas mau ajak adek jalan - jalan!


📱Indah


Jam 10.20 aku selesai kuliah.


Emangnya mas dimana?


📱Ibnu


Mas Otw berangkat ke Surabaya.


📱Indah


Oke, sampai ketemu di sini.


Usai kuliah, Indah berangkat menuju Mall dimana sudah ada Ibnu di sana. Setelah itu mereka menuju toko pakaian. "Dek, ini warna kesukaanmu!" Ibnu menyodorkan kemeja berwarna biru langit.


"Waaaaaah, cantik banget!" Sambut Indah.


"Tapi yang ini lebih manis!" Ibnu kembali menyodorkan kemeja dengan warna hitam. Memang sangat kontras dengan warna kulit Indah yang mulus.


"Yang ini juga bagus kok, Mas!" Sambut Indah lagi, namun berulang kali Ibnu dalam kebimbangannya dan membuat sang adik menyerah.


"Ya Udahlah, aku ga jadi beli!" Kesal Indah.


"Eits, jangan ngambek dong!" Rayu Ibnu.


"Adek mau yang mana?" Lanjutnya mengusap rambut Indah.


"Beberan nih udah deal terserah aku?" Indah.


"Iya...iya!" Ibnu.


Alhasil, Indah tetap pada pendiriannya dengan memilih kemeja warna biru langit kesukaannya.


Ibnu kembali mengajak Indah membeli sesuatu yang ingin ia berikan pada sang adik, namun Indah menolak karena tak dirinya yang tak suka shopping.


"Mas, Aku itu ga suka berlama - lama belanja. Kalau mau beli, ya pilih aja barang yang kita mau, setelah itu langsung pulang!" Jelas Indah.


Berikut jawaban Faika dan Ana.


📱Faika


Aku ga banyak tau tentang itu, karena sekarang kami sudah jarang bertemu.


📱Ana


Maaf ya kak, Seputar yang aku tau. Indah pecinta warna biru, itu pasti. Selebihnya ia lebih suka barang yang simple and ga norak. Dia benci banget warna merah.


📱Ibnu


Terima kasih atas infonya


"Kalau masih lama, Aku tunggu di Taman belakang Mall ini ya!" Indah menekuk wajahnya.


"Iya, iya sebentar lagi selesai!" Ibnu langsung mengakhiri acara belanjanya menuju kasir. Setelah membayar, Ibnu mengajak Indah makan.


Indah menolak ketika Ibnu hendak mengantarnya kembali ke kosan. "Aku bukan anak kecil yang harus diantar kesana kemari!" Tolaknya.


Keras kepala sekali Adikku yang satu ini. Beda dengan saudara - saudara yang lain. Sifat Mama dan Bapak dua - duanya diambil. Tetaplah pada pendirianmu, Dek! Batin Ibnu sembari memandang punggung Indah yang perlahan menghilang dibawa angkot.


Jika ada yang bertanya "Mengapa Indah kecil dititipkan ke pasangan Pak Yusuf dan Bu Sri?" Maka Mak Author akan menjawabnya disini.


Dua puluh tahun yang lalu, Pak Salim dan Bu Ifa merantau ke Sumatera membawa Ibnu kecil. Beberapa bulan kemudian Bu Ifa hamil anak keduanya dari Pak Salim. Di usia ke tujuh bulan kehamilannya, Bu Ifa pamit pulang ke kota S dengan alasan ingin melahirkan di kota kelahirannya tersebut.


Sesampainya di Kota S. Bu Ifa menggandeng tangan Ibnu menuju tempat tinggalnya yang dulu dan menemui sang adik Fania. "Fan, bantu Mbak mencari orang yang mau merawat bayi yang ada dalam kandungan Mbak ini!" Pintanya membuat Fania bingung dengan permintaan sang kakak tertua.


Setelah berpikir sejenak, Fania menemukan ide untuk menemui salah satu temannya yaitu Bu Sri. Ia menceritakan kenyataan yang dialami Bu Ifa. Cerita tersebut didengar oleh Pak Yusuf.


Pak Yusuf setuju merawat anak yang dikandung Bu Ifa meskipun saat itu ia belum tahu jenis kelamin calon buah hatinya.


Pak Yusuf meminta agar calon bayinya kelak memiliki surat adopsi resmi dari pengadilan dan kedua orangtuanya tidak berhak memberitahukan kebenarannya hingga anak tersebut dewasa dan Pak Yusuf sendirilah yang akan memberitahukannya.


Bu Ifa sangat setuju dengan syarat yang diajukan Pak Yusuf. Baik Bu Ifa, Pak Yusuf, Bu Sri serta Ibnu menunggu lahirnya bayi kecil tersebut.


Dua bulan kemudian tepatnya dua hari sebelum Valentine lahirnya sang Bayi perempuan mungil. Bu Ifa menghubungi Pak Salim melalui telegram yang pesannya menyatakan bahwa dirinya telah melahirkan seorang bayi perempuan.


Betapa gembiranya hati Pak Salim hingga beliau tidak sempat melanjutkan membaca pesan yang dikirim Bu Ifa.


Pak Salim keluar rumah, memberitahukan kepada teman - teman rantau bahwa istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan.


"Benarkah apa yang ditulis Ifa istriku?" Saking bahagianya Pak Salim memiliki anak perempuan lagi. Iya hampir tidak percaya pada kenyataan yang terjadi. Pak Salim kembali membaca telegramnya. Namun kali ini ia membacanya hingga selesai.


Di Sana tertulis bahwa Istrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan. Namun kalimat terakhir membuat Pak Salim marah. Bu Ifa mengatakan bahwa Bayi perempuan yang dilahirkan telah dijual pada Pak Yusuf dan Bu Ifa.


Pak Yusuf segera membereskan pakaiannya dan pamit kepada teman - temannya. Tak lupa ia membawa semua uangnya. Ia tak peduli dengan hasil ternak dan kebun yang diolah selama di perantauan.


Sesampainya di Kota S, Pak Salim langsung menemui Bu Ifa menanyakan kebenaran dijualnya sang anak perempuan. Sedih, kecewa dan marah jadi satu. Keesokan harinya, Pak Salim, Bu Ifa, Pak Yusuf, Bu Sri serta beberapa saksi hadir ke acara sidang adopsi di pengadilan.


Meski melalui proses yang lama, Pak Yusuf dan Bu Sri mendapatkan apa yang mereka inginkan yaitu hak asuh Indah kecil jatuh ke tangan Pak Yusuf dan istrinya mengingat mereka berdua benar - benar tidak memiliki anak selama 5 tahun pernikahannya (Syarat lain berdasarkan Peraturan Pemerintah tentang Adopsi atau pengangkatan Anak saat itu).


...~THE END~...


Sekian ya, Kak kisah "My Brother".


Jika ada pertanyaan dari para readers, silahkan ketik di kolom komentar dan akan Author jawab.


Terima kasih atas dukungannya, Tanpa reader, saya bukanlah siapa - siapa.


Mohon maaf apabila ada salah kata dalam penulisan atau ada sebagian kisah yang hampir sama dengan apa yang dialami readers sekalian. Hal itu murni kejadian yang dialami Mak Othor.


Salam cinta dari Normaku❤️❤️❤️