My Brother

My Brother
Kebohongan



“Ngelamun aja kerjaannya!” Faika mengejutkan Ibnu dari samping


“Ga kok!” Jawabnya.


“Trus, ngapain donk!” tanya Faika penasaran.


“Nunggu kamu manggil aku!” Ibnu menggoda Faika.


“Kok gitu?” Faika membulatkan mata.


“Iya, nungguin kamu manggil aku dan ngasih kabar kalo ada telfon dari mama!” Ibnu menjelaskan maksud perkataannya.


“Gimana aku mau ngabari kamu kalo belum ada kabar dari negeri seberang? Sampai saat ini pun belum juga ada kabar dari Abiku!” Faika sedih mengingat Abinya juga belum menghubunginya.


“Hmmmh, gimana ya kabar mereka di sana?” Ibnu menatap kosong.


“Assalamualaikuuuuum!” Salam disertai senyum datang dari dua orang di ujung halaman tanpa gerbang. Satu orang laki – laki dan satu lagi perempuan. Mereka adalah Bu Ifa, mama dari Ibnu datang bersama Pak Jamal Ayah dari Faika.


“Waalaikum salaaaaam!” Seketika Ibnu dan Faika menoleh ke arah datangnya suara.


Mereka berhambur memeluk orang tua masing – masing tanpa memberitahukan keluarga yang lain akan kedatangan kedua orang tua tersebut.


Tetes air mata mengalir di kedua pipi Ibnu dan Faika. Begitu pula air mata Bu Ifa dan Pak Jamal mereka saling melepas rindu dalam pelukan masing – masing tanpa ada kata yang bisa diucapkan.


“Masuk yuk! Ga enak dilihat orang!” Bu Ifa meregangkan pelukannya dan merangkul bahu Ibnu mengajaknya masuk rumah. Hal tersebut juag berlaku pada Faika dan Abinya.


“Assalamualaikum!” Keempat orang tersebut serempak mengucap salam di depan teras rumah memberikan kejutan di rumah masing – masing yang berada di satu halaman.


Di rumah Ibnu, kedatangan Bu Ifa di sambut oleh Fani dan keluarga kecilnya. “Waalaikum salam, mbak!” Fany langsung memeluk saudara tertuanya itu erat dan penuh haru.


Di rumah Faika, Pak Jamal disambut oleh keluarganya juga. Suasana di rumah Faika lebih mengharukan daripada di rumah Ibnu, pasalnya Pak Jamal sudah sepuluh tahun tidak pulang ke Indonesia.



Tiga hari kemudian Bu Ifa mendatangi Pak Salim mantan suaminya. Tentunya beliau adalah ayah dari Ibnu. Pak Salim kembali menikahi Bu Ifa. Tentunya dengan nikah siri karena saat Bu Ifa akan bekerja ke Mekah, Pak Salim menalaknya.



Setelah menikah resmi secara agama, sepasang suami istri tersebut bertandang ke rumah Pak Yusuf dan membawa banyak buah tangan untuk Indah. Namun saat itu Indah sedang bermain di rumah Winda anak Pak Hidayat karena ini hari minggu. “Ibu, aku pergi ke rumah Winda ya?” Bu Sri mengangguk mengiyakan permintaan Indah. Pak Yusuf mengingatkan Indah agar pulang tepat waktu.



Ingin rasanya Pak Salim mengungkapkan sebuah rahasia besar pada Indah, namun di larang oleh Pak Yusuf dan Ibu Sri. Pak Yusuf dan Bu Sri terlalu menyayangi Indah dan tak ingin melepas Indah secepat itu.



“Jangan ambil Indah dulu Pak Salim, Bu Ifa. Biarkan kami merawat dan menyekolahkan Indah hingga ia jadi Sarjana!” Pak Yusuf memandang Pak Salim dan Bu Ifa bergantian.



“Tapi... Indah harus mengetahui rahasia ini! Kami tidak ingin Indah menganggap kami seperti orang lain bahkan sama sekali tak ia kenal” Pak Salim kecewa dengan kalimat yang terucap oleh Pak Yusuf sementara Bu Ifa hanya menunduk menahan air mata kesedihannya dan tak mampu berkata apapun.



“Kami tidak akan mengambilnya dari Pak Yusuf dan Bu Sri, tapi kami hanya ingin Indah tau tentang siapa dirinya!” Bu Ifa angkat bicara.



“Kami sendiri yang akan memberitahukan pada Indah, tapi tidak sekarang Bu!” Pak Yusuf kembali berjuang mempertahankan keinginannya.



“Baiklah jika itu yang Pak Yusuf dan Ibu Sri inginkan!” Bu Ifa pasrah menerima keputusan Pak Yusuf.



“Tapi kami sangat merindukan Indah, kami datang kemari ingin bertemu dengannya!” lanjut Bu Ifa.



“Baiklah, saya akan mencari kemana Indah pergi bermain. Tapi kalian harus janji bahwa kalian tidak akan mengatakan masalah ini pada Indah. Kami tidak ingin Indah bersedih dan membenci kami!” Pak Yusuf mulai meninggikan suara.



“Iya, kami janji!” Kata Bu Ifa, wajah sedihnya seketika hilang berganti dengan senyum tipis.


“Aku akan cari Indah,bu!” Pak Yusuf pamit pada istrinya. “Permisi!” Lanjutnya.



Bukan Indah namanya jika ia tidak pamit pada kedua orang tuanya dengan benar. Disiplin yang diajarkan Pak Yusuf selalu di bawa Indah kemanapun ia berada. Kasih sayang yang di berikan Pak Yusuf dan Bu Sri membuat Indah tumbuh menjadi remaja mandiri dan disiplin serta tak pernah manja.



Sangat tidak mungkin jika Pak Yusuf tidak mengetahui kemana Indah pergi. Pak Yusuf hanya tidak mau Kedua orang tua Indah mengatakan semuanya pada Indah dengan berpura\-pura mencari Indah.



“Assalamualaikum!” ucap Pak Yusuf di teras rumah Pak Hidayat.



“Waalaikum salam!” Jawab Pak Hidayat. “Ada apa?”.



“Ga ada apa – apa, Cuma ada perlu sama Indah, sebentar!” Pak Yusuf bicara sambil mengatur nafas untuk mengurangi kepanikannya.



“Oh, aku panggilkan dulu ya!” Pak Hidayat kemudian masuk ke ruang keluarga yang saat itu ditempati Indah dan Winda nonton TV.



“Indah, itu di depan ada Ayah kamu!”


“Iya, om” Indah berdiri dan menghampiri Ayahnya.



Ada apa ayah memanggilku, padahal ini belum adzan, apa mungkin ibu membutuhkan aku?” Gumam Indah sambil berjalan menuju teras rumah Pak Hidayat. Tidak seperti biasa Pak Yusuf memamggil putrinya saat bermain jika tidak ada keperluan yang sangat penting yang melibatkan Indah putrinya.



“Ada apa, Ayah?” Indah bertanya pada Ayahnya.



“Ga apa, nak! Apa Indah bawa uang?” Pak Yusuf berbasa – basi.



“Aku ga ada bawa uang, Ayah karena jika aku menginginkan sesuatu maka aku akan pulang untuk mengambil uang!” Saat bermain tak jauh dari rumah, Indah tidak pernah membawa uang.



Saat ia ingin membeli snack atau minuman, maka ia akan pulang untuk mengambil uang atau meminta pada ibunya jika uang sakunya telah habis tak bersisa.



“Ini, Ayah bawakan uang buat kamu. Ayah dan Ibu akan pergi sebentar karena ada keperluan. Pintu rumah, kami kunci. Jadi, Indah maen di sini saja dulu. Nanti kalau Ayah datang, Ayah yang akan jemput kamu ke sini.jangan kemana – mana ya!” Ucap Pak Yusuf berbohong pada Indah.



“Iya, Ayah!” Indah yang tidak tahu apa – apa mengiyakan perintah Pak Yusuf karena Indah tidak pernah berpikir bahwa sang Ayah akan membohonginya. Indah juga menerima uang yang ayahnya berikan kemudian kembali masuk dan nonton film remaja bersama Winda.



Meski sudah ada Anik dan Nurika yang menjadi sahabat Indah, namun ia takpernah melupakan Winda dan teman – teman sebayanya saat dirinya sedang tidak ada urusan dengan teman – teman sekolahnya.


Kembali ke rumah


“Assalamualaikum!” Pak Yusuf dengan wajah datar.


“Waalaikum salam!” Jawab Bu Sri, Bu Ifa dan Pak Yusuf serentak.


“Dimana Indah?” Tanya Bu Ifa yang melihat Pak Yusuf tidak pulang bersama Indah.


“Saya sudah mencari ke beberapa rumah teman Indah, tapi saya tidak menemukan Indah dan teman – temannya. Mungkin mereka picnic ke kecamatan XX karena ini hari minggu!” Pak Yusuf kembali berbohong.


“Ba.........” Kalimat Bu Ifa terhenti.


“Baiklah! Kalau begitu, kami pamit pulang. Sampaikan salam sayang kami padanya!” Pak Salim juga memandang Pak Yusuf datar.


“Ayo kita pulang!” Lanjut Pak Salim mengajak Bu Ifa pulang.


Setelah pamit dan mengucap salam, Pak Salim dan Bu Ifa pulang. Mereka kecewa dengan keputusan Pak Yusuf yang tidak mau membuka rahasia besar tersebut serta tidak mempertemukan Indah dengan keduanya.




Jangan lupa tinggalkan jejak ya!!!


Karena ini masih bulan kelahiran ku, aku boleh kan minta kado koin receh? 🤭


Aku tunggu like, vote n komentar membangun agar aku dapat ide baru untuk melanjutkan ceritanya dan ga males lagi up\-nya!!!


Terima kasih.


I Love You!!!😘😍🥰