
Di rumah Pak Yusuf :
“Apa Ibu menyayangi Indah?” Tanya Pak Yusuf pada istrinya.
“Aku sangat menyayangi Indah, dan aku tidak mau kehilangan dia!” Bu Sri menunduk dan meneteskan air mata.
“Aku juga sangat menyayanginya melebihi nyawaku sendiri!” Pak Yusuf memeluk istrinya dan menenggelamkan kepala sang istri di dada bidangnya. Meski tak meneteskan air mata, Pak Yusuf menangis di dalam hatinya.
Setelah beberapa menit mereka saling meluapkan kesedihan, Pak Yusuf meregangkan dekapannya. “Istirahatlah, aku akan jemput Indah di rumah Winda! Aku tidak mau dia sedih dan khawatir melihat kamu menangis. Karena jika itu terjadi, maka penyakitnya akan kambuh karena memikirkan mu!”
“Apa! Di rumah Winda?” Bu Sri terkejut mendengar kalimat suaminya.
“Iya, di rumah Hidayat!” Jawab Pak Yusuf.
“Tapi tadi.....!” Ibu tidak percaya jika ayah berbohong karena selama ini Pak Yusuf tidak pernah sekalipun membohongi istrinya. Iya juga selalu menanamkan kedisiplinan dan mengutamakan kejujuran pada Indah anaknya.
“Iya, bu! Aku tau Indah pamit ke rumah Winda dan aku mencarinya ke rumah Hidayat. Dia ada di sana, menonton TV dengan Winda. Indah tidak pergi ke kecamatan XX untuk jalan – jalan. Hanya aku yang berbohong pada dua orang itu!” Pak Yusuf menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, kemudian ia pergi ke rumah Pak Hidayat untuk menjemput Indah.
Bu Sri mengerti perasaan sedih suaminya meski dirinya juga tak mau kehilangan Indah. Ia diam dan tidak menolak segala keputusan suaminya.
“Indah!” Panggil Pak Yusuf karena pintu rumah Pak Hidayat sedang terbuka dan secara kebetulan Indah melihat ke arahnya.
Indah beranjak dari tempat duduknya di depan Televisi. “Iya, Ayah!
“Ayo pulang!” Ajak Pak Yusuf.
“Aku pamit dulu ya, yah?”
“Iya” Pak Yusuf menunggu Indah di depan pintu rumah Pak Hidayat.
“Winda, aku pulang dulu ya! Ayah menjemputku!” Indah pamit pada temannya dan pulang bersama Pak Yusuf yang memeluk pundaknya.
“Kenapa tiba – tiba Ayah bersikap seperti ini? Apa yang terjadi dengan Ayah? Biasanya Ayah hanya akan memanggilku dari jauh kemudian pergi?” Indah merasa ada yang berubah dari sikap ayahnya.
∆∆∆
“Indah!” Panggil Pak Yusuf karena pintu rumah Pak Hidayat sedang terbuka dan secara kebetulan Indah melihat ke arahnya.
Indah beranjak dari tempat duduknya di depan Televisi. “Iya, Ayah!
“Ayo pulang!” Ajak Pak Yusuf.
“Aku pamit dulu ya, yah?”
“Iya” Pak Yusuf menunggu Indah di depan pintu rumah Pak Hidayat.
“Winda, aku pulang dulu ya! Ayah menjemputku!” Indah pamit pada temannya dan pulang bersama Pak Yusuf yang memeluk pundaknya.
Kenapa tiba – tiba Ayah bersikap seperti ini? Apa yang terjadi dengan Ayah? Biasanya Ayah hanya akan memanggilku dari jauh kemudian pergi. Indah merasa ada yang berubah dari sikap ayahnya. Namun Indah tak ingin bertanya pada ayahnya.
“Aku istirahat dulu ya, yah!” Pamit Indah pada ayahnya.
“Iya, sayang! Jangan lupa Shalat dulu!” jawab ayahnya.
“Iya, ayah!” Indah segera membersihkan diri, melaksanakan shalat dhuhur dan dilanjutkan dengan istirahat siang.
Saat tidur siang, Indah tak pernah mengunci pintu kamarnya. Selain karena penyakit Indah yang terkadang mendadak kambuh, Pak Yusuf sering kali memeriksa buku – buku pelajaran Indah saat putrinya tidur. Dengan begitu Pak Yusuf akan mengetahui perkembangan pendidikan putri kecilnya.
Pak Yusuf keluar dari kamar Indah dan duduk di ruang tamu yang tak jauh dari tempat istrinya melakukan kegiatan menjahitnya.
“Aku kecewa, bu!” Membuka pembicaraan dengan istrinya.
“Atas apa?” Bu Sri menghentikan sejenak kegiatannya dan mengerutkan kening.
“Karena mereka mengingkari janji. Bukankah dulu kita berjanji pada mereka akan memberitahukan kebenaran ini pada Indah jika sudah waktunya!” Pak Yusuf berbicara dan menatap kosong mengingat masa tiga belas tahun yang lalu.
“Iya, ayah! Ibu juga kecewa dengan apa yang baru saja dilakukan Pak Salim dan istrinya. Apa yang akan Ayah lakukan selanjutnya?” Bu Sri menunggu pendapat suaminya.
“Kita akan tetap menjaga rahasia ini dari Indah hingga tiba saatnya nanti kita sendiri yang akan memberitahukannya! Kita juga akan tetap memberikan kasih sayang layaknya orang tua kandung pada Indah agar ia tak mencurigai kita,bu!” Pak Yusuf menjelaskan rencananya pada Bu Sri.
“Aku setuju dengan usul ayah!” Sahut ibu sembari mengangguk dan melanjutkan kegiatan menjahitnya, sementara Pak Yusuf kembali ke kamarnya untuk istirahat siang.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, gadis itu terbangun mendengar suara adzan dan bergegas mempersiapkan diri untuk shalat ashar berjemaah di Musholla dekat rumah. Siapa lagi kalau bukan Indah.
“Hei, kemana aja neng?” Tanya Musta anak Pak Surya saat mereka keluar dari Mushola.
“Ga kemana – mana kok!” Jawab Indah.
“Iya nih, dah lama kita ga ngumpul bareng!” Sambung Winda.
“Sibuk dengan kegiatan sekolah masing – masing, jadi ga ada waktu buat ngumpul!” Jawab Indah lagi.
Kurang lebih satu jam mereka bercengkrama di teras Mushola. Sesekali terdengar tawa para remaja itu membuat orang yang mendengarnya ikut tertawa. Hingga akhirnya mereka memutuskan berkumpul di rumah Winda malam nanti.
Tiba di rumah, Indah mencium punggung tangan Ayah dan Ibunya. Seperti biasa Indah membantu pekerjaan rumah kemudian mengerjakan PR. Menyiapkan buku pelajaran yang akan dibawa ke sekolah sesuai jadwal besok serta mempersiapkan seragam sekolahnya.
Saat Shalat Maghrib tiba, Pak Yusuf memilih Shalat berjamaah di rumah bersama anak dan istrinya. Mereka melanjutkan kegiatan yang ingin mereka lakukan setelah Shalat Isya’
Indah pamit pada kedua orang tuanya.
Sebelum mengijinkan Indah pergi, Pak Yusuf selalu menanyakan PR sekolah Indah dan apakah putri satu – satunya sudah belajar.
Setelah sekian lama mereka tak bertemu, malam ini mereka habiskan dengan makan, minum dan ngobrol panjang kali lebar hingga jam di rumah Pak Hidayat menunjukkan pukul sembilan tepat. Indah yang terlebih dulu pamit pulang dan diikuti teman – teman yang lain.
“Nak!” Pak Yusuf memanggil saat Indah akan pergi menuju kamar tidurnya.
“Ada apa, ayah?” Tanyanya dan berbalik menghampiri Pak Yusuf.
“Besok hari senin, apa di sekolah tidak ada ulangan harian?” Tanya Pak Yusuf.
“Ada, ayah! Besok bu Yani akan mengadakan Ulangan Bahasa Inggris” Dengan santai tapi sopan Indah menjawab pertanyaan ayahnya.
Pak yusuf heran dengan jawaban yang diberikan Indah.
“aku akan belajar nanti usai Shalat malam, ayah!” Indah melihat wajah bingung Pak Yusuf dan menjawab pertanyaan seolah Indah bisa membaca pikiran sang Ayah.
Pak Yusuf percaya dengan apa yang dikatakan Indah karena hal itu sering dilakukan Indah tiap malamnya.
***
Jangan lupa tinggaLkan jejak, like vote n komentarnya aku tunggu ya!!!🙏😘😍🥰