
Leon telah kembali dari Jepang, lelaki itu terlihat keluar dari ruang kerja Ricard dengan pancaran mata penuh emosi. Ia kecewa dan marah pada Ayahnya karena menikahkan Naomi padahal Adiknya masih menjadi seorang pelajar.
Ricard yang egois tak mengindahkan ancaman Leon yang akan mendapatkan Naomi dengan caranya sendiri. Ricard yang tak pernah mengetahui sisi kelam Leon, menganggap semua itu hanya sebuah gertakan anak bau kencur. Nyatanya Ricard akan melihat sisi iblis dari putra yang selama ini ia pandang sebelah mata.
Profesi Leon yang seorang idola, membuat Ricard menganggap anaknya itu sosok yang tak bisa diandalkan. Ia sama sekali tak pernah mengetahui betapa buruknya kelakuan Leon di masa lalu, keluwesannya dalam berakting nyatanya mampu menipu Ricard, Tamara, bahkan Naomi sekalipun.
Ricard hanya mengatakan pada Leon bahwa lelaki itu takkan pernah tega menyakiti Naomi hanya demi obsesinya mendapatkan Adiknya. Nyatanya Leon memang sudah memiliki rencana yang pasti akan membuat Ricard menangis darah sekaligus membuatnya menyerahkan Naomi secara suka rela.
Leon memang mencintai Naomi dengan tulus, hanya saja sikap sang Ayah yang begitu egois membuatnya terpaksa berbuat nekat. Leon sudah mengetahui perihal hubungan tersembunyi Tristan dan Dinda, nyatanya Dinda bukanlah sahabat Tristan.
Wanita itu adalah mantan kekasih Tristan yang mana dulu pernah meninggalkan kekasih Adiknya tersebut. Hingga akhirnya Dinda kembali dan merayu Tristan hingga lelaki itu menghianati cinta Naomi yang tulus.
***
Naomi terlihat menjauh dari Leon ketika mereka berpapasan di lorong lantai dua, Naomi terlihat hanya sedikit tersenyum pada Leon sebelum ia memasuki kamarnya.
Leon yang memang ingin berbicara dengan Naomi segera mengejar Adiknya hingga ke pintu kamar gadis itu. Leon berdiri di ambang pintu dengan Naomi yang berdiri menatap Kakaknya dengan ekspresi bingung.
"Kenapa?" tanya Naomi singkat. Ia melihat ke belakang Leon dan tak menemui Tamara di sana, sedikit ketakutan menyerang Naomi kala Leon menatapnya berbeda dengan gerakan yang melangkah perlahan ke arahnya.
"Kakak cuma mau ngajak kamu makan malam di luar, kamu bisa, kan?" tanya Leon kemudian menyentuh tangan Naomi yang buru-buru dilepaskan oleh Naomi. Perasaan gadis itu menjadi tak enak, ada ketidak nyamanan ketika ia berdekatan dengan Leon.
"Maaf, Kak. Aku nggak bisa, aku mau langsung istirahat," ucap Naomi yang berusaha menolak dengan halus.
"Kenapa, Naomi? Kenapa kamu nggak nentang Papa yang mau menikahkan kamu di usia muda?" Leon menatap Adiknya yang kini terlihat mundur ke belakang.
"Aku yang minta, Kak! Bukan Papa yang nyuruh aku nikah." Leon menatap Naomi tak percaya. Lelaki itu mencoba mencari kebohongan di mata Adiknya, namun hanya kejujuran yang ia temui di sana.
Lagi, Leon kembali merasakan kesakitan yang sama. Hanya saja kali ini rasa sakitnya jauh lebih menusuk jika dibanding sebelum-sebelumnya.
"Bohong!" sanggah Leon berusaha tak percaya, ia terlalu naif hingga tak melihat segores luka yang sama di kedua mata Naomi.
"Kakak yang selalu ngajarin aku buat ngomong jujur, kan?" Naomi tak sanggup menatap wajah Leon yang tertunduk dengan setetes air mata di sana.
Mungkin para penggemarnya mengira Leon adalah seorang lelaki sempurna, nyatanya ia hanya lelaki biasa yang juga akan merasa sakit kala orang yang ia cintai memilih menikah dengan pria lain.
Kisah cintanya ini bukanlah kisah cinta terlarang seperti dalam sebuah manga, ia berhak memiliki Naomi sebagai pendamping seperti orang lain yang juga berhak mendapatkan cinta mereka.
Tapi mengapa jalan untuk mereka bersama terlalu terjal untuk dilalui?
Apakah Tuhan memang tak mentakdirkan dirinya dengan Naomi?
"Naomi, Kakak cinta sama kamu ... tolong jangan kayak gini," ucap Leon bergetar, ia tak mau menangis terisak di depan Adiknya.
"Kakak, siapa aku?" tanya Naomi ragu.
"Apa?" Leon tampak terkejut dengan pertanyaan Adiknya.
"Siapa aku di keluarga ini, Kak?"
"Aku dan Kakak nggak akan pernah ada kata kita. Cuma ada Kakak dan Adik perempuannya, nggak lebih." Naomi berjalan ke arah ranjang, gadis itu duduk menundukkan kepala di sana.
Begitu banyak luka yang ia terima selama ini, kenyataan statusnya, keegoisan Papanya yang mengancam masa depannya, penghiatan Tristan, pengorbanan Leon untuknya, belum lagi kisah cinta terlarag antara dirinya dan Leon.
"Kak ... ayo kita berhenti. Kakak berhenti cinta sama aku dan lupain aku, dan aku juga bakalan lakuin hal yang sama ke Kakak. Nglanjutin hubungan ini cuma akan buat kita semakin sakit dan lama-lama bakalan hancur. Papa dan Mama berusaha kasih terbaik buat kita selama ini, kenapa kita nggak kasih mereka hal yang sama?" Naomi menatap Kakaknya yang juga menatap gadis itu sendu.
"Kak ... aku nyerah sampai di sini ... aku udah nggak sanggup lagi buat terus bertahan di tengah ombak yang terus menerjang. Aku nyerah buat dapetin cinta Kakak, aku nyerah untuk terus bermimpi akan bersatu di altar pernikahan. Aku ... lepasin Kakak buat orang lain," ucap Naomi bergetar.
Leon merasa kini pertahanannya sudah hancur, bahkan ia sudah kalah sebelum berperang.
Naomi, ia sudah menyatakan berhenti mencintai Leon dan akan melepaskan lelaki itu untuk orang lain. Kenyataan yang menyakitkan kembali menghantam Leon, seberat inikah mencintai seseorang?
"KAK!" Naomi memekik kaget kala Leon tiba-tiba menindihnya, lelaki itu mencium bibir Naomi dengan kasar dan terburu-buru. Naomi melihat sisi lain dari Kakaknya muncul kembali, gadis itu ketakutan hingga air matanya mengalir dengan deras.
"Ka-kak ... hiks ... Kakak," panggil Naomi lemah, suara Adiknya yang terdengar rapuh membuat lelaki itu tersadar. Ia segera bangkit dari atas Naomi dan memilih pergi dari sana sebelum keegoisan dirinya menghancurkan Naomi.
***
Beberapa hari telah berlalu, terhitung hanya tinggal 16 hari lagi pernikahan Naomi dan Tristan berlangsung. Sejak perbincangan Naomi dan Leon di kamar beberapa hari yang lalu, Leon tak pernah lagi datang ke rumah Ricard. Entalah lelaki itu pergi ke mana, Naomi pernah menelpon Riza, lelaki itu mengatakan kalau Kakaknya sedang sibuk syuting.
Naomi memandang gaun pengantin yang terpasang indah di tubuh sebuah manekin. Gadis itu merasa dirinya tak ubahnya sebuah manekin yang mana selalu harus menurut pada kemauan Ricard. Ia tak mau mengecewakan keluarga angkatnya.
***
Leon tengah menatap kesal pada kartu undangan yang tercetak apik foto calon mempelai pria dan wanita di sana. Ia meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tong sampah, kegagalan cintanya membuat mata hati Leon seolah tertutup akan dendam.
"Gue nggak akan pernah biarin lo jatuh ke tangan lelaki manapun, Naomi. Gue udah cinta sama lo sedalam ini, dan gue nggak terima kalau dengan gampangnya lo tinggalin gue gitu aja. Papa harus sadar kalau kita memang ditakdirkan bersama."
Ia kembali menenggak Cider yang tinggal setengahnya, Leon menatap foto Naomi yang tertempel memenuhi kamar di apartemen pria itu. Sedetik kemudian Leon tertawa terbahak dengan air mata yang mengalir deras.
***
Naomi menatap lurus pada layar televisi yang menampilkan sosok tampan Leon dengan tuxedo biru gelap yang membuat penampilannya terlihat sempurna. Sepertinya ia tengah menghadiri sebuah acara pernikahan sesama teman artisnya.
Seorang wartawan bertanya perihal kesan Leon pada pesta pernikahan megah tersebut, dan lelaki itu mengatakan bahwa pesta pernikahan temannya itu pasti akan sangat berkesan untuk mereka semua, juga Leon yang memberikan ucapan selamat khusus untuk kedua mempelai.
Pembawaan Leon yang berwibawa dan tampak begitu luwes dalam menyampaikan pesan dan kesan, membuat beberapa tamu wanita memekik kagum pada Leon, dan Naomi semakin yakin bahwa Kakaknya itu akan cepat melupakannya karena ada begitu banyak wanita cantik di sekeliling pria itu.
Hingga akhirnya Naomi menutup mulutnya dengan telapak tangan kala Leon menjawab pertanyaan seorang wartawan yang menyinggung soal dirinya menarik Naomi di mall beberapa bulan lalu.
Lelaki itu mengatakan bahwa Naomi adalah kekasihnya dan mereka akan segera menikah satu bulan lagi. Tamara dan ricard tak kalah kagetnya dengan Naomi, bahkan kini Ricard tampak mengepalkan tangannya penuh emosi. Ia tak menyangka bahwa Leon akan bertindak sejauh ini hanya demi obsesinya semata.
Tamara menenangkan Naomi dengan cara memeluk anak gadisnya itu.
"Tenang ya, Nak, Papa akan bicara sama Kakak kamu dan Papa yakin kalau dia pasti mau mengkonfirmasi perihal berita ini." Ricard mengelus rambut putrinya penuh sayang. Ia kecewa pada sikap Leon yang dianggap tak tahu diri.
__________Tbc.