My Brother

My Brother
Adegan selanjutnya



Psst, Psst! Ana berdesis memanggil Indah.


"Ada apa?" Tanya Indah pelan. Mereka begitu karena sesuai pesan sang guru Biologi agar mereka beristirahat tanpa mengganggu kelas lain.


Ana melirik ke arah Rahmat berdiri dengan satu kaki sedang tangannya memegang telinga. Indah mengikuti arah pandang Ana dan tersenyum lebar.


"Sudah tau jawabannya, 'kan?" Bisik Indah di telinga Ana. Ana yang mengerti maksud Indah langsung tersenyum memiringkan kepala. "Kasian sekali!" Ucapnya yang hanya terdengar oleh Indah.


Indah masuk untuk mengambil sisa buku milik Rahmat yang masih terletak di mejanya dan memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya.


Sambil menunggu jam istirahat, Indah mengajak Ana dan Tina ke ruang komputer untuk belajar Ms. Excel di sana. Kebetulan sedang tidak ada praktek.


Tak terasa, bel masuk pun berbunyi. Dua jam pelajaran berlalu begitu cepat. Mereka pulang ke rumah masing - masing.




Sore hari Indah berniat pergi ke rumah Nenek Rifa, ia sangat merindukan neneknya juga Om dan Tante serta saudara sepupu yang seumuran dengannya.



"Mau kemana, Indah?" Tanya Bu Sri saat melihat Indah mengeluarkan sepedanya.



"Indah mau ke rumah nenek, Bu!" Sahutnya sopan dan meletakkan sepedanya di depan pintu untuk kemudian mencium punggung tangan ibunya.



"Hati \- hati ya, Nak!" Bu Sri mengingatkan.



"Iya, Bu! Assalamualaikum!" Sahut Indah.



"Wa'alaikum salam!" Jawab Bu Sri kemudian beliau masuk rumah untuk melanjutkan pekerjaan menjahitnya.



Lima menit kemudian, Indah kembali ke rumah karena ada sesuatu yang tertinggal.


"Apa ada yang lupa?" Tanya sang Ibu.



"Iya, Bu. Indah lupa bawa buku!" Jawabnya membuat Sang Ibu menggelengkan kepala.



"Mau ke rumah neneknya aja masih harus bawa buku!" Gumam ibunya. Indah pamit berangkat lagi pada Bu Sri.



Sebelum ke rumah nenek Rifa, Indah berniat datang ke rumah Rahmat untuk memberikan buku catatan Bahasa Indonesia yang sudah ia tuliskan sepulang sekolah. Namun sebelum berangkat, Indah sudah menghubungi Ana agar menemaninya ke rumah Rahmat.



Tiba di rumah Rahmat, Indah dan Ana bertemu Rahmat yang hendak pergi keluar rumah.



"Assalamu'alaikum!" Ucap Indah.



"Mau kemana?" Tanya Ana ketus tanpa menunggu si tuan rumah menjawab salam.



"Eh, Kalian! Aku mau ke rumah Indah!" Entah benar atau tidak, namun Indah tetap mempercayai ucapan Rahmat.



"Ini buku catatan Bahasa Indonesia mu!" Indah menyodorkan buku milik Rahmat.




"Makasih ya, sayang. Aku sangat mencintaimu!" Kilah Rahmat sembari mencubit lembut pipi Indah.



Indah membalasnya dengan senyum tipis, sedangkan Ana hanya menatap tajam Indah tanpa kata.



"Kalau begitu, Aku pulang ya! Aku mau ke rumah nenek!" Ucap Indah. Kemudian Indah dan Ana menuju rumah nenek Rifa.



Tiba di rumah sang nenek, Seluruh bagian wajah Indah dikecup nenek Rifa. "Nenek kangen banget!" Ucapnya merajuk.



"Oh iya, Nek. Ini Indah bawakan makanan kesukaan nenek!" Ujar Indah sembari menyodorkan bakso plus lontong pada neneknya.



"Terima kasih!" Nenek Rifa menerima dengan senang hati. Indah bertanya tentang keadaan rumah neneknya yang sepi. Ternyata saudara \- saudara Pak Yusuf sedang mempunyai acara masing \- masing dan tidak ada satupun cucunya yang menemani nenek Rifa.



"Ya sudah, kalau begitu Nenek makan dulu ya! Biar Indah yang jagain tokonya." Usul Indah membiarkan sang nenek menikmati makanan kesukaannya.



"Maksud kamu apa sih, Ndah?" Tanya Ana tiba\-tiba.



"Yang mana?" Indah mengerutkan keningnya pertanda tak mengerti.



"Hari ini kamu biarkan Rahmat menderita, tapi hari ini juga kamu buat dia senang dengan menyelesaikan catatannya!" Jelas Ana.



"Mau tau alasannya?" Tawar Indah sembari menaik turunkan alisnya.



"Ya iyalah, masa ya iya donk!" Sahut Ana ketus.



"Kita ikuti adegan selanjutnya." Ucap Indah semakin membuat Ana semakin kesal. "Tunggu bentar ya!" Indah mencubit gemas pipi Ana dan masuk menemui neneknya.



"Nenek!" Panggil Indah mencari keberadaan sang Nenek. Setelah bertemu di meja makan, Indah memeluknya dari belakang dan mengecup pipi nenek. "Indah pulang dulu ya, Nek? Tuh, Om Abil sudah datang!" Pamit Indah pada nenek Rifa.



"Mau kemana?" Tanya Abil saat berpapasan dengan Indah.



"Mau pulang laaah, kan udah ada Om!" Jawab Indah memiringkan kepala diiringi senyum centilnya membuat Abil gemes dan mencubit pipi Indah. "Dadah... Om!" Indah melambaikan tangan kemudian pergi bersepeda keliling kota bersama Ana. Mereka berpisah saat senja mulai memerah dan hampir gelap.


🌼🌼🌼



**Jangan lupa like, komen and vote ya Kak!!!


Terima kasih**!!!