My Brother

My Brother
Belajar bersama.



Panggilan mereka berakhir setelah Indah dan Faikha sepakat bertemu di Goa.


"Emang ya kalo jadi siswa di sekolah favorit, sibuknya minta ampun!" Sindir Ikha.


Hmh! Indah hanya menarik nafas panjang. Memang selama ini ia terlalu sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Sampai di rumah pun Indah hanya bisa beristirahat sebentar, dilanjutkan dengan pekerjaan rumah. Hari Minggu dan beberapa hari lainnya, Indah harus les mata pelajaran yang menurutnya sulit. Bukan otaknya yang tak mampu, tapi penyakitnya lah yang tidak bisa mendukung penuh kinerja otak Indah.


"Maafkan Aku!" Ucapnya.


"Maafkan aku juga, mungkin kata - kataku barusan membuatmu tersinggung!" Faikha merasa bersalah pada Indah. Seharusnya mereka berbincang dan bercanda ria melepas rindu setelah beberapa waktu tidak bertemu.


"Apa kakakku ada di rumah?" Tanya Indah kemudian.


"Dari kemarin aku tak melihatnya pulang ke rumah. Mungkin ia tinggal bersama saudara - saudaramu yang lain!" Jawab Faikha.


"Apa kau merindukannya?" Tanya balik Ikha.


"Tentu, Aku sangat merindukan kakakku, apalagi selama ini aku hidup sebagai anak tunggal pasangan Ayah dan Ibu. Tak ada adik atau pun kakak tempat aku curhat. Sempat aku meminta adik pada Ibu, Tapi....." Indah men jeda kalimatnya menarik nafas panjang.


"Ibu dan ayah bilang mereka sudah berusaha tapi tetap tidak berhasil. Apa lagi sekarang Ayah sudah tidak ada!" Lanjutnya.


Sejenak Indah mengajak Faikha minum di warung yang ada di sekitar goa, setelah itu Indah pamit pulang. Tak lupa ia menanyakan keberadaan sang Mama. Hasilnya pun sama. Bu Ifa sedang berada di Luar Negeri.


"Jangan bilang - bilang ya, Kha! Kalo aku datang ke sini dan mencari mereka!" Indah berpesan pada Faikha.


"Kamu itu gimana sih, Ndah! Katanya pengen ketemu mereka, tapi malah aku disuruh jangan bilang - bilang!" Faikha bingung.


Hehe...!


"Aku belum siap bertemu keluargaku, Aku masih ragu. Apakah aku harus bahagia atau marah pada mereka yang telah membuangku!" Jawab Indah membuat Faikha mengangguk mengerti dengan apa yang Indah rasakan.


Aku tau ini terlalu berat untukmu, Indah. Seandainya aku berada di posisimu, Mungkin aku tak akan sanggup menghadapi kenyataan bahwa kau bukanlah anak kandung mereka yang selama ini bersamamu. Sedangkan di sini, kau seolah menjadi anak yang terbuang yang tak diinginkan keluargamu. Meski aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu! Batin Faikha merasa kasihan pada Indah.


"Baiklah, aku tak akan mengatakan apa pun kecuali kau yang minta!" Faikha.


"Terima kasih!" Kemudian mereka pulang ke rumah masing - masing.


...~~~...


Sabtu


Memang satu minggu itu hati tenang sebelum ujian, namun para siswa kelas IX masih tetap masuk sekolah untuk saling bertukar pikiran dengan sesama teman atau jika ada materi yang belum mereka pahami, bisa bertanya guru yang mengajar.


"Belajar bareng yuk, Sekalian malam mingguan!" Ajak Halim berdiri diantara teman - temannya.


Sejenak mereka berpikir. Beberapa saat kemudian mereka menemukan jawabannya. Ada yang setuju dengan alasan belajar bersama sekaligus menghabiskan waktu terakhir mereka sebelum berperang menghadapi Ujian Akhir. Namun tidak sedikit juga yang menolak dengan alasan tidak akan bisa belajar jika mereka sudah berkumpul di tempat yang asyik untuk mengobrol, makan serta minum dan bercanda ria.


Halim menatap tajam Indah karena sedikit pun tak ada respon dari Indah. Bahkan seolah Indah tak mendengar rencana Halim.


"Kamu ga ikut, Sayang?" Bisik Halim.


"Ngga!" Jawabnya singkat.


So, ngapain aku ngadain acara belajar bersama teman - teman yang lain, sementara orang yang aku sayang tak mau hadir! Batin Halim.


Karena sudah terlanjur membuat janji dengan teman - temannya, Halim tetap melaksanakan rencananya.


"Mau dimana, Halim?" Tanya Ana.


"Di Monsa bagian Utara!" Sahut Naura.


"Kalian atur saja dimana tempatnya, setelah itu kita bicarakan di grup chat kelas!" Jawab Halim dengan raut wajah yang tadinya ceria kini berubah seratus delapan puluh derajat.


"Oke!" Seru Ana dan Naura serempak.


Indah diam - diam memperhatikan dengan seksama apa yang mereka rencanakan tanpa berkomentar.


Selepas Shalat Isya', Halim berangkat lebih dulu ke tempat tujuan dengan membawa tas ranselnya yabg berisi beberapa buku pelajaran dan menggelar tikar lebarnya. Naura dan Ana sedang memesan makanan serta minuman untuk menemani acara belajar bersama agar tidak terasa membosankan.


Setelah menggelar tikar, Halim mengambil ponsel di saku celananya hendak menghubungi Indah. Namun tiba - tiba pandangannya menjadi gelap.


Ada sepasang tangan mungil menutupi matanya. Ia meraba tangan itu dan mengenalinya, namun aroma parfum yang berbeda membuatnya ragu mengatakan jika itu Indah.


"Indah kah?" Tanyanya perlahan, Halim ragu dan tak mau menyakiti orang yang sedang ingin bercanda dengannya.


Indah melepas tangannya dan duduk di belakang Halim. Perlahan ia membuka mata dan berbalik. Ia melihat wanitanya cemberut.


"Hey, Jangan pasang wajah seperti itu! Nanti wajahmu mengkerut kayak kulit jeruk!" Goda Halim.


"Teganya kau tak mengenaliku!" Indah merajuk.


"Sayang, bukannya aku tak mengenalimu. Hanya saja parfum mu yang berbeda. Iya 'kan!" Halim. "Bukankah baru saja aku menyebut namamu, Sayang? Hem?" Alasan Halim membuat Indah kembali tersenyum.


"Makasih ya sudah mau datang!" Halim menyandarkan kepala Indah di bahunya.


"Iya!" Jawabnya singkat. Indah menjauhkan kepalanya dari bahu Halim agar ia tak terlena dengan perlakuan manis sang mantan yang masih menyayanginya.


Maafkan aku, Ha! Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam dan doaku menyertaimu agar kau selalu bahagia! Batin Indah.


"Tadi bilangnya ga mau ikut! Hem?" Halim begitu senang dengan kehadiran yang tersayang.


"Sebenarnya sih engga, cuma .......


Indah menggantung kalimatnya.


"Hal apa yang membuat pikiranmu berubah, Sayang?" Halim menarik ujung hidung Indah.


Tak ada, hanya pengen ngasih ini buat kamu!" Seru Indah seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya dan memberikannya pada Halim.


"Apa ini?" Tanyanya sembari menerima pemberian Indah.


"Entahlah apa isinya, Aku menemukan itu di jalan. Makanya aku putuskan datang menemui mu di sini untuk memberikannya padamu!" Indah kura - kura dalam perahu.


"Aku buka ya?" Halim.


"Eh, Jangan!" Kedua tangan Indah menghalangi Halim yang hendak membuka pemberian Indah.


"Aku kan mau tau isinya, siapa tau racun yang ada di dalamnya!" Halim.


"Ga mungkinlah aku ngasih kamu racun, Aku bukan pembunuh!" Indah menundukkan kepala.


"Hei, kau bilang ... Emph. Indah menutup mulut Halim dengan dua jarinya.


"Iya iya, itu dari aku. Tapi jangan dibuka di sini ya!?" Indah menangkupkan kedua tangannya memohon.


"Baiklah!" Halim memasukkannya ke dalam tas.


🌹🌹🌹


Apa ya isinya?


Kita lihat isinya sama - sama yuk! Tapi sebelum dibuka, author minta saran dari para reader. Hadiah apa yang cocok diberikan pada Halim yang masih tetap menyayangi Indah meski mereka sudah jadi mantan?


Ditunggu komentarnya ya, Kak!