
Satu minggu setelah pernyataan cinta Naomi pada Leon, Kakaknya itu tak pernah lagi mengunjungi orangtua mereka dengan alasan jadwal syuting yang sangat padat. Leon juga tak pernah membalas pesan yang dikirim Naomi padanya, bahkan dibaca pun tidak. Sebenci itukah Leon padanya.
Seminggu yang lalu memang Leon menyuruhnya menginap di apartement, akan tetapi Leon hanya diam tak pernah mengajaknya mengobrol seperti biasanya. Bahkan lelaki itu hanya berbicara seperlunya saja hingga selesai mengantar Naomi ke rumah orangtua mereka.
"Naomi, ayo turun dulu, makan malam udah Mama siapkan tuh." Tamara tak henti-hentinya membujuk Naomi untuk segera turun ke bawah dan mengisi perutnya yang sejak tadi pagi dibiarkan kosong.
"Nanti aja, Ma." lagi, hanya jawaban itu yang keluar dari mulut putrinya. Tamara sendiri bingung dengan sikap Naomi yang menjadi pendiam sejak kembali dari apartement Leon. Bahkan putranya itu juga seperti enggan datang lagi ke rumah, ia hanya berharap kalau semuanya baik-baik saja dan mimpi buruknya semalam hanyalah bunga tidur semata.
"Papa udah nunggu kamu di bawah, Sayang. Kasian Papa kamu yang udah lelah kerja, tapi putrinya gak mau makan malam sama Papa." Naomi sangat menyayangi Ricard, untuk itulah jika sudah menyangkut sang Papa maka mau tidak mau Naomi akan menurut.
"Iya, Ma, kita makan sekarang yuk. Kasian Papa." Naomi menggandeng tangan Tamara untuk turun dan bertemu dengan Ricard. Hanya sang Ayah lah yang mampu membuat Naomi melupakan sakit hatinya atas penolakan Leon.
***
Naomi kini sudah berada di dalam taksi yang akan mengantarnya ke sekolah. Ia mengingat dulu semarah apapun dirinya pada Leon, Kakaknya itu tetap akan mengantarnya ke sekolah dan akan membujuknya hingga Naomi memaafkan kesalahan Leon. Tapi sekarang apa yang harus ia lakukan ketika lelaki itu marah padanya?
Naomi meneteskan air mata kala mengingat masa-masa indahnya dulu bersama Kakak tercintanya. Leon yang selalu ada untuk Naomi dan selalu menomor satukan dirinya, kini semua itu tinggal kenangan yang justru menyakitkan jika diingat.
Naomi kini sadar bahwa rasa cintanya pada Leon salah, karena cinta terlarang itulah yang membuat Leon menjauhi dirinya. Karena cinta terlarang yang tumbuh di hatinya lah dirinya kini ia merasa begitu sakit saat melihat Kakaknya bersama wanita lain.
Ia berjanji akan melupakan rasa cinta itu bagaimana pun caranya, sesulit apapun usahanya nanti, ia tak perduli. Asalkan cintanya pada Leon akan lenyap dari hatinya, ia rela melakukan cara apapun.
Di dalam taksi itu Naomi terus menangis meratapi cinta pertamanya yang berakhir tragis karena mencintai lelaki yang salah. Biarlah kini ia menumpahkan seluruh air mata kepedihannya, asalkan itu bisa membuat dirinya lebih tenang. Ia berjanji bahwa ini adalah kali terakhir ia menangisi cintanya yang kandas, ia bertekat akan melupakan Leon selamanya.
***
Maura menatap sahabatnya yang kini hanya megaduk-aduk bakso yang ia pesan. Bahkan kini kuah bakso yang Naomi pesan sudah sebagian tumpah tercecer di sekitar mangkuk. Maura tahu betul bahwa sahabatnya itu pasti sedang ada masalah, karena Naomi yang biasanya pasti akan selalu berisik dan sibuk mengerjai dirinya ketika mereka bersama. Tapi kini sahabatnya itu hanya diam seperti mayat hidup.
"Bener ya kata orang, yang berbahaya tuh diamnya orang yang biasanya berisik!" sindir Maura yang sama sekali tak ditanggapi Naomi. Gadis itu masih asik dengan pikirannya sendiri, mengabaikan Maura yang merasa gondok pada dirinya.
"Lo tuh kenapa sih diem mulu?" tanya Maura yang tak tahan melihat Naomi yang hanya diam mengacuhkannya.
"Gak kenapa-napa!"
"Sok tau lo!"
"Gue tuh tau betul gimana gesreknya elo yang biasanya. Nah sekarang lo cuma diem kayak mayat hidup gini. Lo masih waras, kan?"
"Gila lo! Ya gue masih waras lah, emangnya elo yang udah kurang 69%."
"Naomi, gue serius tanya sama lo. Kok malah bercanda sih!" gerutu Maura yang kesal dengan sikap Naomi yang terkesan main-main.
"Sok serius lo!"
"Lo ada masalah ya?" tanya Maura dalam mode serius. Naomi langsung mengembuskan napas beratnya, ia menegakkan duduknya dan menatap Maura dengan mata berkaca-kaca. Percuma ia berpura-pura kuat, Naomi tidak sekuat yang difikirkan orang lain. Dan Maura tahu betul hal itu.
"Kita duduk-duduk di taman belakang sekolah yuk ... mumpung jam terakhir kosong, gak ada gurunya." Naomi hanya mengangguk meng-iyakan ajakan Maura.
***
Maura menganga tak percaya setelah mendengar penjelasan Naomi tentang perasaan terlarangnya pada Leon. Ia bahkan terus meyakinkan dirinya bahwa saat ini gadis itu tidak tengah bermimpi.
Naomi tak akan marah jika nantinya Maura akan menghujatnya habis-habisan, dia sudah mempersiapkan mental jika hal itu benar-benar akan terjadi.
Namun, sepuluh menit ia menunggu kemarahan Maura yang siap dimuntahkan untuknya tak kunjung tiba, justru rengkuhan hangat yang Naomi dapatkan dari sosok sahabat yang selama ini selalu ia jahili.
Maura ikut menangis ketika Naomi menangis di pelukannya, Maura juga ikut merasakan kepedihan di hatinya untuk sang sahabat.
"Lupain dia ... lupain kak Leon, Naomi." hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk Naomi. Ia sendiri juga bingung harus mengumpatkan kalimat apa untuk menyadarkan Naomi, lagi pula bukan haknya untuk melarang Naomi mencintai seseorang. Sebagai sahabat ia hanya akan mengingatkan Naomi jika gadis itu berjalan di jalan yang salah, seperti saat ini.
Melupakan memang tidak semudah mencintai. Namun, Maura yakin jika Naomi pasti akan bisa melupakan Leon secepatnya. Ia akan berusaha membantu Naomi sebisa mungkin, itulah janji Maura dalam hati.
________Tbc.