
"Ayah tidak melihat Anik, malam ini!" Pak Yusuf berujar. Namun Indah mengerti, Ayahnya tak sekedar berujar melainkan sebuah pertanyaan.
"Indah tak mengundang mereka semua untuk datang malam ini, Ayah! Mungkin keinginan mereka sama ingin bertemu Indah, Tapi tidak dengan Anik." Jelasnya pada sang Ayah.
"Oh, begitu! Tapi bukan karena Indah ada masalah sama Anik, 'kan?" Tanya Ayah lagi.
"Tidak, Ayah! Tadi siang sepulang sekolah, Indah jalan bareng Anik. Ana, Faika dan Nurika juga ikut". Jawab Indah.
"Syukurlah! Ya sudah, kembalilah menemui mereka!" perintahnya. Indah mengangguk kemudian berlalu dari hadapan sang Ayah.
🌼🌼🌼
"Ada apa?" Tanya Faika saat Indah duduk di samping kirinya, sedangkan Fathur berada di sisi kanan Faika.
"Ayah bertanya tentang Anik!" Indah menjawab pertanyaan Faika.
"Untuk apa?" Tanya Faika lagi.
"Anik adalah anak dari sepupu Ayahku. Ayah melihat semuanya berkumpul di sini, kecuali Anik. Makanya Ayah nanya!" Indah menjelaskan. Faika mengangguk kemudian meraih ponsel Indah yang dititipkan saat Pak Yusuf memanggil. "Anik!" Faika memberikan ponselnya.
Indah menjawab panggilan Anik yang menanyakan nomer ponsel Faika.
"Oh, kebetulan orangnya ada di sini!" Indah menyerahkan ponselnya pada Faika. Tak lupa ia menekan tombol loud speaker dan mengajak Faika menjauh dari teman - teman yang lain yang sedang asyik mengobrol dan berbaur. Fathur mengikuti mereka.
"Ada apa?" Tanya Faika lembut. Tapi betapa terkejutnya mereka saat Anik menjawab pertanyaan Faika dengan suara lantangnya.
"Tega kamu ya, ngasih nomor orang yang ga di pake' lagi!" Anik mengawali kemarahannya.
"Maksud kamu apa?" Faika yang tak pernah dimarahi ataupun bertengkar jadi bingung dengan kata - kata dan suara Anik.
"Aku minta nomer Ibnu sama kamu, tapi dari tadi aku hubungi kenapa ga ada jawaban? Kau memberikan nomer yang salah ya?" Tanya Anik masih dengan nada marah.
"Halo! Ada apa kamu marah - marah ga jelas sama Faika?" Tanya Indah mengambil alih ponselnya dan mematikan loud speaker nya.
"Itu tu, temen kamu. Aku minta nomer Ibnu baik - baik tapi dia ngasih yang ga bisa dihubungi!" Amarah Anik mereda karena Indah yang bertanya.
"Ya sudah, kita ketemu di MonSa sekarang!" Sahut Indah kemudian menutup teleponnya.
"Aku ikut!" Usul Fathur.
"Baiklah!" Sahut Indah dan Faika. Mereka pun berangkat. Namun baru beberapa meter mereka keluar rumah tiba - tiba Indah pusing. Kepalanya sakit sebelah. Fathur dan Faika sudah melarangnya untuk ikut menemui Anik tapi Indah memaksa karena ia tak ingin sesuatu terjadi pada kakaknya. Juga pada Faika. Bukan tak percaya pada Fathur, namun Fathur terlalu lembut dalam memperlakukan wanita. Indah khawatir Fathur tak bisa mengatasi jika terjadi pertengkaran antara Anik dan Faika.
"Kamu sudah makan?" Tanya Fathur saat Indah bonceng di belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Fathur.
"Sudah!" Jawabnya sembari menahan sakit di kepalanya.
"Mana ponselmu?" Pinta Fathur.
"Untuk apa? Jangan hubungi orang tuaku, Aku ga mau mereka khawatir!" Indah belum mengiyakan permintaan Fathur.
"Aku hanya ingin mengirim chat pada Anik!" Sahut Fathur. Kemudian Indah menyerahkan ponselnya.
"Tunggu di warung Bakso Goyang Lidah!" Begitu isi chat Fathur pada Anik kemudian Fathur membawa Indah ke sana diikuti Faika.
Anik sudah lebih dulu sampai. Dia duduk santai memainkan ponselnya.
....…............
Maaf ya, Kak!!!
Author up dikit karena Author sekeluarga lagi sakit!!!🙏🙏🙏
Mohon dukungan para reader agar Author bisa lebih semangat up!!!
Jangan lupa like n komentarnya ya!
Sedekah koin receh juga Author ga nolak🤭.
Happy Reading!