My Brother

My Brother
Rahasia (2)



Ika dan Indah menoleh pada sumber suara. Fathur menunjukkan senyum termanisnya.


“Kamu sudah sampai?” tanya Indah.


“Iya” Jawabnya memiringkan kepala dan tetap tersenyum.


“Indah?” Dari pandangan Faika, Indah mengerti maksud sahabatnya memanggil namanya.


“Oh ya, aku lupa menceritakannya sama kamu!” Indah menggaruk dahinya yang tidak gatal. “Aku dah jadian beberapa hari yang lalu!” Indah tau curhatannya kali ini tak akan menghilangkan senyum dari sahabat sekaligus saudara sepupu yang baru diketahuinya itu.


“Kamu!” Ika menghampiri Fathur dan mengingat – ingat wajah yang sudah tak asing itu.


“Iya!” Fathur seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Faika.


“Hmmmh, tadi maksa aku ungkap rahasia besar, ternyata dirinya juga menyembunyikan sesuatu dariku. Dasar batu es!” Faika bergumam tapi masih bisadi dengar oleh dua sejoli di dekatnya.


“Hey, aku ga bermaksud merahasiakan ini dari kamu!” Indah langsung menjawab gumaman Ika yang masih terdengar jelas di telinganya.


“Aku memang berniat menceritakan ini sama kamu sejak semalam, tapi ........ ga perlu aku katakan kamu pasti tau alasan aku!”


“Hmmmh, oke dech aku terima alasan kamu”. Ika kembali tersenyum setelah sebelumnya cemberut dengan gumamannya sendiri.


“Pulang yuk!” Indah saat melihat jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh tepat. Tak hanya jarum jam yang membuat Indah ingin pulang, namum juga karena terik matahari yang mulai menghangatkan tubuh mereka.


Mereka berjalan ke rumah Faika, hanya Fathur yang masih menuntun sepedanya menyusuri jalan menuju rumah Faika dan menunggu mereka di depan gang karena ga mau kisah percintaannya di ketahui oleh Fauzi sahabatnya yang juga kakak dari Faika. Bukan ga mungkin Faika akan menceritakan pada Fauzi tentang hubungannya dengan Indah, hanya saja Fathur belum siap menerima sindiran sahabatnya.


Indah pulang bersama Fathur dengan mengayuh sepeda masing – masing. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata melihat tawa mereka saat keluar dari gang rumah Ika.


“Siapa?” Tanya Ibnu yang duduk di teras rumahnya.


“Indah” Jawab Ika singkat.


“Laki – laki itu!” Ibnu menatap Faika dingin.


“Fathur” jawabnya


“Hubungannya dengan Indah?” Ibnu memerah saat mendengar jawaban singkat Faika yang tak mengerti maksud pertanyaannya.


“Kekasihnya!” Faika terkekeh melihat ekspresi wajah Ibnu. “Kenapa? Cemburu ya....?” Ledek Ika menutupi pada Ibnu bahwa dirinya sudah mengetahui hubungan darah antara Ibnu dan Indah.


“Ah, mmmh, ga kok!” Ibnu gugup. “Ga mungkin aku mengatakan pada Faika kalo Indah adalah adikku dan aku akan selalu melindunginya meski dari jarak jauh” Gumam Ibnu yang pasti tak terdengar oleh Ika.


“Maafkan aku, mas! Sebenarnya Indah sudah tau kalau kamu adalah kakak kandungnya, tapi aku juga ga tau bagaimana perasaan adikmu setelah mengetahui kenyataan hubungan kalian berdua!” Gumam Ika dan berlalu dari hadapan Ibnu.


Faika langsung masuk kamar dan diam menyesali perbuatannya mengungkap sebuah rahasia besar pada sahabat yang sekaligus sepupunya itu padahal bukan hak nya melakukan itu dan dia bahkan sudah berjanji pada umminya bahwa ia tidak akan mengatakan itu pada Indah.


“Maafkan aku, Indah. Tak seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya sama kamu. Tapi aku bingung dengan sikap kamu pada Ibnu selama ini. Aku khawatir jika kamu jatuh cinta pada kakakmu sendiri. Faika berbicara seolah ada orang di dekatnya. “Hmmmmh” Faika menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar. “Semoga kenyataan ini tak membuatmu kecewa!” Lanjutnya kemudian merebahkan tubuhnya dan terlelap menuju mimpi di siang bolong.


“Aaaaah, jangan mas. Jangan lakukan itu sama aku! Tolooooong!” Indah berteriak dan meneteskan air mata saat seseorang laki – laki berada di atas tubuhnya yang sebelumnya di jatuhkan di atas ranjang dan hendak menciumnya.



“Tenanglah, sayang! Aku tidak akan memperlakukanmu dengan kasar jika kamu menikmatinya!” Laki – laki itu memegang kedua pipi Indah dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lainnya menggenggam kedua tangan Indah dan meletakkannya di atas kepala Indah.




Faika baru beberapa langkah keluar dari kamarnya dan mendengar teriakan dan tangisan dari kamar utama rumah Ibnu dan suara itu sangat dikenalinya “Indah!” Ya, itu memang suara Indah yang berada di dalam kamar Ibnu dan berteriak minta tolong.



Ika mendobrak pintu kamar Ibnu yang memang tidak dikunci dan “Hei, dia adik kandungmu!” Ika menarik bahu Ibnu hingga terpental dari tempat tidur.



Plak! Ika menampar pipi Ibnu yang kemudian meringis memegang pipinya kesakitan.


Dia adikmu! Dia adikmu! Dia adikmu! Faika berteriak – teriak hingga suaranya terdengar dan mengagetkan umminya yang sedang berada di dapur dan bergegas menghampirinya.


“Ika! Ika! Ika bangun nak!” ummi membangunkan Faika dan mengguncang pelan tubuh Ika.


Faika terbangun dan kemudian duduk dengan setengah sadar menggosok kedua matanya. “Alhamdulillah, hanya mimpi!”


“Kamu mimpi apa, sampai teriak – teriak seperti itu?” tanya ummi keheranan.


“A – aku mimpi Ibnu sedang mem....


“Sudahlah, kamu pulang jalan – jalan sama Indah dan langsung tidur tanpa membersihkan diri dulu. Terlebih sekarang sudah masuk waktu dhuhur, bersihkan diri, shalat dan makan siang dulu. Ummi sudah menyiapkan makan siang di meja makan!” Ummi memutuskan kalimat Faika dengan beberapa perintah dan kembali ke dapur.


Faika turun dari tempat tidur dan melakukan apa yang tadi umminya suruh. Saat di meja makan Ika menceritakan perihal mimpinya di siang bolong. “Mungkin karena kamu sudah mengetahui sebuah rahasia tentang Indah dan juga tadi kamu jalan sama Indah!”


Umminya tersenyum hangat menghibur Faika namun dibalik itu “Syukurlah Ummi tidak curiga kalau aku sudah mengatakannya pada Indah!” Gumam Ika dalam hati.


Ika melanjutkan makan siangnya bertiga bersama Umi dan kakaknya tanpa suara karena sudah menjadi kebiasaan di rumah itu, makan tanpa suara.


“Hai, mau kemana?” Tanya Faika pada Ibnu yang baru saja menutuppintu rumah hendak pergi.


“Mau cari makan!” jawabnya singkat.


“Makan di sini saja bareng Kakak aku, tuh dia lagi makan!” Ajak Faika.


“Te....." Kalimat Ibnu terputus saat Umi Faika mengiyakan kalimat anaknya. “Iya makan di sini saja. Ayo!”


“Terima kasih!” Sambil masuk ke rumah Faika dan mengikuti langkah umi menuju ruang makan. Di sana masih ada Fauzi yang belum selesai dengan makan siangnya. Dia juga menyambut Ibnu dengan baik dan mengajaknya makan bersama.


Mereka berdua makan siang ditemani menu masakan Ummi yang sederhana namun terasa nikmat di lidah. Kepiting rebus yang di sajikan dengan sambal cabe plus garam di tambah dengan air perasan jeruk nipis. Tak lupa dengan sepiring nasi yang sudah menjadi makanan pokok.


Setelah selesai dengan makan siangnya Ibnu keluar dan duduk di teras sebentar bersama Faika dan tak lupa berterima kasih pada keluarga saudara mamanya itu.




**Jangan lupa like, koment n votenya ya**!!!


**Terima kasih**!!!