My Brother

My Brother
Sesal di belakang



Ponsel Indah berbunyi, tak ada nama tertulis di layar ponselnya menandakan bahwa nomer baru atau orang baru sedang menghubunginya.


Dengan berpikir positif, Indah mencoba menjawab panggilan tersebut. "Assalamu'alaikum!" namun orang di seberang sana belum menjawab.


"Halo, Assalamualaikum! Indah mengulang salamnya. Namun Fathur masih menikmati suara khas Indah yang selama hampir empat bulan dirindukan.


"Assalamu'alaikum! Hey, Halo, Siapa di sana?" Indah bingung karena belum ada jawaban.


"Wa'alaikum Salam!" Jantung Fathur berdetak kencang saat menjawab salam Indah. Hal yang sama melanda Indah.


"Fada?!" Bagai di sambar petir di siang bolong (padahal ini malam ya!?!?!)


"Iya, Dafa!" Fathur bingung antara harus senang atau sedih. Indah menggunakan panggilan sayang yang sudah mereka sepakati sebelum berakhirnya hubungan mereka. Indah akan memanggilnya dengan FaDa yang berarti Fathur milik Indah. Fathur akan menyebut DaFa yang artinya Indah milik Fathur.


"Fa, kenapa nomer kamu ga bisa dihubungi?" Suara Indah memelas dan air mata hampir lolos dari mata indahnya.


"Maaf ya, nanti aku ceritakan!" Jawab Fathur.


"Kamu, apa kabar?" Lanjut Dafa.


"Aku baik, Fa! Kamu kapan pulang?" Indah balik bertanya. "Tiap bulan Bang Ozi pulang, tapi kamu...!" Air mata Indah akhirnya lolos.


"Sa, sayang!" Panggil Fathur tak tega mendengar tangis wanita pertama yang mengisi hatinya. Kata sayang yang terucap pertama kalinya dan itu pun saat mereka telah mengakhiri cinta mereka.


"Fa....., Kapan pulang?" Indah merajuk.


"Maaf, aku belum bisa pulang! Tapi kamu jangan sedih. Hari Sabtu, Ozi pulang. Aku akan titip sesuatu buat kamu ya!" Fathur mencoba menenangkan Indah padahal ia belum punya apa - apa untuk diberikan pada Indah.


"Aku ga butuh apa - apa, Fa! Kau tau itu!" Indah masih dengan mata sembabnya.


"Iya, Aku tau! Tapi apa kamu ga mu menerimanya?" Sahut Fathur.


"Iya, aku mau!" Jawab Indah sambil menghapus air matanya.


"Nah, gitu dong!" Aku boleh lihat senyum kamu khan?" Fathur terlihat senang melihat suara sedih Indah sudah berubah menjadi lebih ceria. Indah menutup teleponnya dan menggantinya dengan panggilan Video Call.


"Senyum donk!" Fathur mengembangkan senyum memandang Indah diikuti senyum manis pujaan hatinya.


"Fa........!" Indah tertunduk dan kembali menangis.


"Sudah, Dafa sayang! Aku tau kamu kangen sama aku!" Fathur mencoba menenangkan Indah lagi. "Tunggu aku ya, tiga bulan lagi aku pulang!" Lanjut Fathur namun Indah tak bergeming. "Ya sudah, Istirahat ya, ini sudah malam. Besok kamu harus ke sekolah. Jangan sampai Dafa ke sekolah dengan wajah sedihnya!" Fathur mematikan ponsel. Ia tak tega melihat Indah menangis.


"Fa.....!" Dada Indah makin sesak setelah mendengar suara Fathur dan melihat wajah sendu yang memaksakan senyumnya. Karena lelah menangis, Indah tertidur.


Sementara Fathur bingung dengan perasaannya. Seandainya peran mereka saat ini adalah sebagai sepasang kekasih, mungkin akan sangat bahagia. Tapi sebaliknya. Fathur kemudian mengalihkan pikirannya ke hadiah yang ia janjikan pada Indah.


Fathur berniat membelikan Indah kalung dengan liontin love yang terdapat foto dirinya.


Hari Sabtu sore


Indah tidak pergi ke Lapangan basket meski hari ini ada jadwal latihan. Indah pergi ke rumah Faika untuk menemui Ozi.


"Wuih... Langsung datang nih orang!" Ozi meledek Indah.


"Ah mas Ozi, Aku kan malu!" Wajah Indah memerah bagai kepiting rebus.


"Nih, titipan Fathur buat kamu!" Ucap Ozi menyerahkan amplop kecil berwarna biru kesukaan Indah.


"Makasih ya, Mas!" Indah menerima amplop tersebut dan menyimpannya di tas. "Ika mana, Mas?" Lanjutnya.


"Aku langsung pulang aja ya, Mas? Penasaran sama isi amplopnya!" Indah berbisik di kalimat terakhirnya. Ozi menyetujui keinginannya.


*Hai, Dafa!


Dengan sengaja ku tulis surat ini untukmu.


Beribu maaf terucap dari hatiku yang paling dalam. Aku ga bisa pulang hingga magangku selesai. Bukan karena tidak rindu keluarga, tapi kau paham keadaanku.


Oh ya, bersama surat ini aku titipkan kalung untukmu. Dipakai ya! Di dalam liontin nya ada foto aku. Kamu bisa memandang foto itu jika kau merindukanku. Jika kau tak ingin memakainya, simpanlah di tempat yang aman, seperti aku menyimpan namamu di hatiku.


Aku menyayangimu melebihi diriku. Tak peduli meski sekarang kita tak lagi menjadi kekasih karena kau adalah cinta pertamaku.


Aku tak mampu membencimu karena kita tak pernah punya masalah. Jangan pernah ada kata benci, jangan ada lagi air mata. Aku sedih melihatmu menangis. Jangan nangis lagi ya?!?


Jangan hubungi aku lagi kecuali aku yang meneleponmu karena kemarin aku pinjam Hp. Ozi untuk menghubungimu .


Peluk Cium dari FaDa*.


Indah menyimpan kembali suratnya dan mencari kalung yang dimaksud oleh Fathur.


Dia menemukannya, namun tak mungkin baginya untuk menggunakan kalung tersebut.


Hari Minggu pagi, Indah datang ke rumah Faika untuk bertemu dengan Ozi. Ada beberapa hal tentang Fathur yang ingin ia tanyakan.


Mengapa No. ponsel Fathur tak dapat dihubungi?


Mengapa Fathur tak pernah pulang, sementara Ozi bisa pulang setiap satu bulan sekali?


Bagaimana keadaan Fathur selama berada di sana?


Bagaimana suasana hatinya?


Ozi memulai ceritanya dari awal.


Satu hari sebelum berangkat ke kota tempat magang, Fathur menjual Handphonenya karena ia tak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. Tiga adiknya lebih banyak membutuhkan biaya. Uang hasil penjualan Handphone ia gunakan untuk biaya transportasi, uang makan, juga untuk bayar tempat kos.


Di sana Fathur tidak tinggal diam. Dengan kemampuannya membuat layangan, Ia memanfaatkan bambu yang tumbuh di belakang kosan untuk membuat layangan dan menjualnya. Hasilnya lumayan bisa buat makan sehari - hari.


Keberuntungan berpihak pada Fathur dan Ozi. Perusahaan tempat mereka magang memberikan upah atas apa yang mereka kerjakan meski tak sebesar gaji pegawai tetap di perusahaan itu. Fathur yang pemalu mampu bekerja dengan baik dan kekurangannya ditutupi oleh Ozi.


Fathur tetap memberikan yang terbaik untuk perusahaan meski keadaan hatinya sedang tidak baik. Putus cinta sebelum berangkat tak membuatnya berhenti berharap.


Terjawab sudah semua pertanyaan Indah. Indah mengerti keadaan Fathur. Ia menitipkan sejumlah uang untuk Fathur. "Suruh dia menghubungi aku ya, Mas!" Pesan Indah pada Ozi.


Dari mana Indah mendapatkan uang? Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Indah membuat buku tabungan di BANK XYZ untuk menyimpan uang pemberian kedua orang tuanya yang tidak habis terpakai.


Indah memang merahasiakannya kepada kedua orang tuanya, tapi Abil tidak. Ia tidak sengaja memberitahu Pak Yusuf bahwa ia pernah mengantar Indah membuat buku tabungan. Pak Yusuf tak pernah memarahi Indah untuk sebuah kebaikan, beliau justru sering mengisi tabungan Indah. Selain itu Pak Yusuf juga tidak lupa memberikan uang tunai untuk kebutuhan sehari - hari putri kecilnya.


🌼🌼🌼


Jangan lupa like and sedekah koin recehnya ya, kak!!!


Komentarmu Semangatku!!!


Komentarmu Inspirasiku!!!


Komentarmu Referensiku!!!