My Brother

My Brother
Berteman



Di belahan lain kota tempat tinggal mereka, Desi mendatangi Ana. Ia menceritakan keinginannya berteman dengan Indah.


“Kenapa kamu tidak langsung saja menemui Indah?” Tanya Ana.


“Aku takut Indah tak mau berteman denganku!” Jawab Desi.


“Apa kau lihat sahabatku sesombong itu?” Ana tak terima.


“Bu – bu - kan begitu, Ana!” Desi gugup mendengar pertanyaan Ana.


“Datanglah pada Indah baik – baik, maka Dia akan menerimamu dengan baik. Kecuali jika kamu berniat jahat padanya, maka kamu akan berhadapan dengan banyak orang yang sangat menyayangi dan akan membela Indah!” Ana naik pitam.


“Jangan datang malam ini, karena Indah sedang pergi bersama Naura!” Peringat Ana. Setelah mendengarkan amarah dan peringatan dari Ana, Desi pamit pulang.


Di Jalan, Desi kembali mengingat – ingat setiap ucapan Ana.


Aku harus datang menemui Indah. Aku harus bisa menjadi seperti Indah. Paling tidak sikapnya! Tekad Desi dalam hati.



“Sayang, Kamu dimana?” Chat Halim.



“Aku pergi bersama Naura” Indah.



“Kemana, Sayang?” Halim.



“Aku ke Kafe pinggir pantai!” Indah.


“Tapi Aku sudah pulang!” Indah.



“Hati-hati di jalan!” Halim.


“I Miss U & I Love You!” Halim.



Indah hanya tersenyum tanpa membalas chat terakhir Halim.



Karena jam masih menunjukkan pukul delapan, Indah memutuskan pulang ke rumah sendiri dengan sepedanya.



Andai aku bisa bertemu dan berkumpul dengan kakakku, pasti ada yang melindungi dan menyayangiku. Indah mengingat status dirinya yang sebenarnya.



**Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt**



Indah menghentikan laju sepedanya secara mendadak, karena sibuk mengingat status dirinya sehingga ia gagal fokus pada saat ada orang melambaikan tangan hendak menyebrang jalan.



“Adeeeeeeeeek!” Teriak seorang pemuda tampan berusia sekitar tujuh belas tahun sembari merangkul anak kecil berusia kurang lebih enam tahun.



Ia menggendong seorang gadis kecil, namun netranya membulat sempurna ke arah Indah.



Panggilan Adek bukan dimaksudkan pada gadis kecil yang dalam gendongannya melainkan panggilan untuk Indah. Saat Indah menghentikan sepedanya, Ibnu melihat sang adik yang sangat dirindukannya dan spontan memanggilnya Adek. Sementara gadis kecil yang dirangkul Ibnu adalah Dita.



“Ma – Mas Ibnu!” Indah mengatur nafas.



“Apa kamu baik – baik saja?” Ibnu menatap sendu wajah Indah karena khawatir.



“Iya!” Indah turun dari sepedanya.


Oh ternyata yang dia panggil adek bukan aku melainkan gadis kecil itu. Batin Indah.



“Bagaimana keadaan adikmu itu?” Indah bertanya dan menunjuk pada Dita yang menyembunyikan wajahnya di bahu Ibnu.



“Dia baik – baik saja!” Jawab Ibnu.


Sedangkan Dita mendongakkan kepala saat mendengar suara Indah.



“Kak, Indah!” Pekik Dita.



“Dita!” Balas Indah.



“Kak, Aku kangen!” Rengek Dita.



Jantung Indah seketika berdetak kencang. “Maaf Dita, kakak harus pulang!” Indah kembali mengayuh sepedanya tanpa menunggu jawaban dari Dita atau pun Ibnu.



“Sayang, Naura menjemputmu! Apa kau tadi bertemu dengannya?” Tanya Bu Sri setelah Indah masuk rumah dan mencium punggung tangannya.



“Iya, Bu!” Jawab Indah dan berlalu menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.



Indah teringat akan pertemuannya dengan Ibnu malam ini. Ia berpikir bahwa yang Ibnu sebut dengan adik adalah Dita, padahal pikiran Indah berbanding terbalik dengan Ibnu. Ibnu telah melihat Indah dari jarak seratus meter dan melambaikan tangannya agar sang adik berhenti, namun naas Indah hampir saja menabrak dirinya dan spontan meneriakkan kata Adik.



Andai kau tau bahwa aku adalah kakak kandungmu, Dek! Betapa bahagianya kakakmu ini! Hufh, Mama berangkat ke Negeri orang, Bapak juga pergi entah ke belahan bumi bagian mana! Aku hidup bersama orang lain, meskipun mereka adalah saudara – saudara Mama.


Apa kita bisa berkumpul bersama layaknya orang lain dengan keluarga yang utuh? Susah atau pun senang kita lalui bersama. Meski hidup dalam kesengsaraan asal bisa hidup bersama. Bak sebuah lirik lagu Makan tak makan asal kumpuuuuul!




“Assalamualaikum!” Desi memasuki kelas Indah.



“Waalaikum salam!” Jawab Indah, HAlim dan Ana yang saat itu sedang bertiga dalam kelas.



“Bolehkah Aku bicara berdua dengan Indah?” Tanya Desi ragu karena mendapat tatapan tajam dari Ana.



“Ada perlu apa?” Halim berdiri menghampiri Desi.



Belum sempat mendapat jawaban Desi, Ana langsung menarik tangan Halim untuk keluar kelas. Sementara Indah dibuat bingung dengan tingkah Ana dan Desi. Namun Indah hanya diam saja melihat situasi yang akan ia hadapi.



Tegang banget kayaknya. Bak siswa akan menghadapi ujian akhir!



Indah tersenyum untuk mencairkan suasana. “Ada perlu apa!” Tanya Indah lembut.



“Emh, Bo bolehkah Aku menjadi teman kamu?” Desi gugup.



“Hei, semua orang boleh dan sah menjadi teman aku!” Jawab Indah.



“Ja – jadi, mulai sekarang kita bisa jadi teman?” Tanya Desi tidak percaya jika Indah begitu mudahnya menerima sebuah pertemanan, terlebih Desi berbeda kelas dengannya.



“Iya” Sahut Indah tersenyum simpul.



Ya, sejak saat itu mereka jadian. Eh salah, kak! Jadi teman. Walau terasa aneh namun Indah berusaha positive thinking aja.



“Tapi maaf, mungkin kita akan jarang bertemu, karena kita beda kelas!” Indah melanjutkan obrolan singkatnya bersama Desi, karena bel masuk sudah berbunyi. Desi kembali ke kelasnya.


.


.


.


**Di luar kelas**



“Ada keperluan apa si Desi sama Indah, Kok pengen bicara berdua?” Tanya Halim penasaran.



“Ga ada, hanya saja Desi ingin berteman dengan Indah!” Jawab Ana yang sudah tau keinginan Desi.



“Berteman? Bukankah dia tidak pernah satu kelas dengan Indah? Kenapa bisa dia ingin sekali menjadi teman Indah? Teman baik atau ada maksud lain? Atau …



“Kalo nanya satu – satu donk! Kalo banyak gitu, gimana caranya aku bisa jawab!” Ana memotong perkataan Halim.



“Jawab semua lah!” Sahut Halim tak merasa bersalah.



“Dia ingin sekali berteman baik dengan Indah, tak ada niat terselubung dibalik keinginannya untuk berteman. Dia hanya kagum saja pada sosok Indah!” Ana berusaha menjelaskan apa yang ia ketahui.



“Itu kan hanya pengakuan dia sama kamu. Hati orang siapa yang tau, Neng!” Ketus Halim.



“Ya kali dia punya niat jahat sama Indah, Hadapi Aku dulu dong!” Ana.



“Lagian kenapa kamu posesif banget sih sama Indah? Bucin ya?” Lanjut Ana meledek Halim.



“Eh, enggak kok!” Halim gugup, hampir saja Ana mengetahui kebucinannya pada Indah.



*Heran ya sama si Halim, Apa mereka sudah jadian dan aku ga tau? Tapi rasanya ga mungkin mereka jadian. Kalo iya, pasti Indah dah cerita sama Aku*! Batin Ana.



Desi keluar kelas bersamaan dengan datangnya beberapa orang teman mereka. Halim yang penasaran langsung masuk kelas menemui Indah. Ia menanyakan maksud kedatangan Desi. Indah menjelaskan keinginan Desi dan membuat Halim mengangguk paham.



**Apakah ada udang dibalik batu**?


**Atau udang dibalik rempeyek**?


**Ikuti kelanjutannya ya, Kak**!


**Ku tunggu like, komentar n favoritnya juga**!


**Thank You & Happy Reading**!😘😘😘