My Brother

My Brother
Bimbang



Seperti halnya Bu Ifa, Indah juga bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia bahagia bertemu dengan orang yang telah berjuang melahirkannya, namun di sisi yang lain ia merasa kecewa dengan kedua orang tua kandungnya yang telah memisahkan diri nya dengan keluarga yang lain.


Indah masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Nenek Zaitun dan Bu Sri sangat mengerti dengan perasaan Indah.


"Silahkan di minum, Mbak!" Bu Sri.


"Terima kasih, Dek!" Sahutnya sembari menikmati hidangan yang disuguhkan oleh putrinya sendiri meski Bu Ifa tidak tau siapa yang membuatnya.


"Bolehkah saya berbicara sejenak dengan Indah?" Tanya Bu Ifa dengan wajah memohon.


"Mungkin Mbak sudah dengar dari Ibnu, kalau Indah sudah mengetahui tentang jati dirinya. Namun begitu, kami tidak bisa memaksa Indah untuk menentukan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya mengingat kondisi kesehatan Indah yang tidak stabil" Jawab Bu Sri panjang kali lebar. Bu Ifa mengangguk paham.


"Tunggulah sebentar!" Bu Sri beranjak menuju kamar Indah dan mengetuk pintu.


"Indah!" Panggilnya lembut.


"Apa kamu tidur, Nak?" Lanjutnya.


Karena tidak ada jawaban, Bu Sri perlahan membuka knock pintu yang ternyata tidak dikunci.


Indah memang membiarkan Ibunya keluar masuk dengan bebas. Bu Sri sedikit mengguncang tubuh Indah yang sejatinya hanya berpura - pura tidur.


"Nak, Apa kamu sudah tidur?" Tanyanya perlahan.


Indah membalikkan tubuhnya dengan malas. "Ada apa, Bu?"


"Bu Ifa ingin bertemu denganmu, Nak!" Bu Sri berusaha menahan air matanya. Ia tak rela jika Indah kembali ke pelukan orang yang telah melahirkannya.


Indah memandang lekat netra orang yang selama ini membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.


Bu Sri mengangguk. Indah merasa ada yang mengganjal tenggorokannya. "Aku harus panggil apa?" batinnya sembari menghampiri ibu kandungnya.


Melihat Indah melangkah ke arahnya, Bu Ifa menyambutnya dengan menepuk bagian rumpang kursi disampingnya. Duduklah di sini, Nak. Di dekat Mama! Pinta Bu Ifa dengan raut wajah sendu menatap rindu pada Indah.


Indah pun duduk di sampingnya tanpa kata. Bu Ifa memeluk erat putri satu - satunya yang ia tawarkan pada Pak Yusuf sejak dalam kandungannya.


Flashback On


Beberapa tahun yang lalu


Pak Salim dan Bu Ifa pergi merantau ke salah satu belahan bumi Sumatera.


Pak Salim mengolah lahannya menjadi perkebunan dan memelihara beberapa hewan ternak.


Hampir sukses dengan ternak dan perkebunannya, Bu Ifa meminta ijin kepada untuk pulang ke kota kelahiran sang ayah. Untuk apa? Untuk melahirkan bayi kedua hasil pernikahannya dengan Pak Salim.


Sempat Pak Salim mencegahnya. Namun dengan alasan tidak ingin melahirkan di rantau akhirnya Pak Salim mengijinkan sang istri pulang ke kota S. Bu Ifa pulang dengan transportasi laut yang memakan waktu beberapa hari.


Sesampainya di kota S. Bu ifa mencari informasi sepasang suami - istri yang tak memiliki keturunan dan mau merawat serta membesarkan anak keduanya tersebut.


Mendengar kabar tersebut, Bu Ifa segera mendatangi kediaman Pak Yusuf di rumah yang lama yaitu, Di Jalan Mawar.


"Assalamualaikum" Ucap Bu Ifa dan sang adik.


"Waalaikumsalam!" Jawab si empunya tempat tinggal.


Setelah dipersilahkan duduk dan menikmati hidangan yang diberikan tuan rumah, Bu Ifa menyampaikan maksud kedatangannya ke kediaman Pak Yusuf.


"Saya sedang hamil tujuh bulan, suami saya bekerja di Sumatra. Saya khawatir jika kelak anak lahir, saya tidak bisa membesarkannya karen keadaan ekonomi keluarga saya. Terlebih Salim suami saya memiliki enam orang anak dengan istri pertamanya yang notabene juga harus dinafkahi.


Saya juga mendengar kabar bahwa Dik Yusuf dan Dik Sri belum dikarunia keturunan dan berkeinginan mengadopsi seorang anak. Apakah itu benar?" Bu Ifa menjelaskan panjang kali panjang.


"Lalu bagaimana dengan keputusan suami Mbak Ifa?" Tanya Bu Sri.


"Saya tidak mau ada masalah ke belakangnya!" Lanjut Bu Sri.


"Saya yang akan membicarakan dengan suami saya nantinya. Saya yang tau keadaan keluarga saya, jadi kalian berdua tidak perlu khawatir!" Meski ragu suaminya mengijinkan, tekat Bu Ifa begitu kuat untuk memberikan anak yang dikandungnya pada Pak Yusuf dan Bu Sri.


"Silahkan dinikmati dulu, kami akan berembuk sebentar!" Ucap Pak Yusuf sopan, kemudian mengajak sang istri ke ruang keluarga.


"Bagaimana? Apakah kamu bersedia merawat anak Mbak Ifa?" Pak Yusuf meminta pendapat Bu Sri, karena nantinya sang istrilah yang akan merawat anak. Sedangkan dirinya cukup mencarikan nafkah untuk keluarga kecilnya.


"Kita belum tau jenis kelaminnya, sedangkan Aku menginginkan anak laki - laki!" Jawab Bu Sri dengan berat hati.


Sebenarnya mereka telah menjelajah ke beberapa panti asuhan untuk mengadopsi seorang anak, namun belum ada kecocokan dan kesepakatan diantara keduanya. Bu Sri menginginkan anak laki - laki, sedangkan Pak Yusuf cenderung menginginkan anak perempuan. Sempat juga Bu Sri mengajak sang suami ke rumah saudara sepupunya yang mempunyai empat orang anak. Bu Sri berniat mengadopsi si Bungsu yang berjenis kelamin laki - laki. Namun kekecewaan yang didapat Bu Sri, karena saudaranya tidak mau memberikan anak laki - laki satu - satunya itu.


"Andai kamu menginginkan salah satu anak perempuanku, maka akan aku berikan. Tapi selama ini aku sangat ingin memiliki anak laki - laki, jadi sangatlah tidak mungkin untuk Aku memberikannya padamu!" Begitulah jawabannya.


"Sudah beberapa Panti Asuhan kita datangi, juga rumah saudara - saudaramu yang punya banyak anak. Tapi tak satu pun bayi laki - laki yang kita dapatkan. Mungkin Allah tidak mengijinkan kita untuk itu. Apa tidak sebaiknya kita mencoba menerima tawaran Mbak Ifa. Siapa tau nanti ia melahirkan bayi laki - laki." Bujuk Pak Yusuf.


"Bagaimana jika nantinya bayi yang dilahirkan adalah perempuan?" Tanya Bu Sri lagi.


"Kita sayangi dia, rawat dan besarkan dia. Siapa tau setelah itu kita mendapat kepercayaan dari Allah untuk memiliki seorang anak". Sahut Pak Yusuf yang berhasil meluluhkan hati istrinya. Akhirnya mereka sepakat untuk mengadopsi anak Bu Ifa apapun gender nya nanti.


Pasangan suami istri itu kembali ke ruang tamu menemui Bu Ifa dan adiknya.


"Baiklah, kami akan mengadopsi anak yang Mbak kandung saat ini, apapun gendernya nanti!" Pak Yusuf langsung bicara pada intinya.


Flashback Off


"Indah sudah kelas berapa, Nak?" Bu Ifa menanyakan hal yang sebenarnya sudah ia ketahui, karena dialah yang melahirkan Indah.


"K - kelas Tiga!" Indah bimbang akan panggilannya pada Bu Ifa. Mau panggil Mama layaknya Ibnu, Indah khawatir menyakiti hati Bu Sri. Mau panggil Bude, Indah tak ingin Bu Ifa bersedih mendengar anak yang dilahirkan tidak memanggilnya dengan panggilan yang seharusnya.