My Brother

My Brother
Pulang



Bu Ifa mengajak Ibnu dan Toni pulang ke Sampang. Kota di pulau seberang tempat kelahiran mereka. Mereka bertiga berangkat setelah mama menyelesaikan urusan surat pindah sekolah Ibnu.


Dengan haru, paman Husein dan tante Ratih melepas mereka. Namun apa boleh buat, mereka di bawa oleh ibu kandung mereka sendiri.


Sering kali Rita menangis menanyakan keberadaan Ibnu atau Toni. Namun setelah satu Minggu berlalu, Rita telah terbiasa bermain tanpa Ibnu.


"Hai!" Ika menepuk pelan bahu sahabatnya yang sedang duduk sendiri di bangku sekolahnya.


"Ya!" Jawab Indah dingin sedingin cuaca pagi ini karena hujan turun semalaman tanpa henti hingga menjelang Subuh.


"Ada kabar baik, nih!" Ika tersenyum menatap wajah Indah.


"Kabar apa?" Tanya Indah mulai memperhatikan lawan bicaranya.


"Penasaran ya?" Ika meledek Indah.


"Yaudah, kalo ga mau cerita!" Sahut indah datar.


"Ibnu datang tuh!" ketus Ika.


"Apa?!" Kaget bercampur senang.


"Iya, Ibnu pulang dari Pasuruan bersama mama dan adiknya". Ika menambah volume suara dari sebelumnya.


"Ka, aku boleh ya ikut ke rumah kamu sepulang sekolah? Bentar aja!" Indah menangkupkan kedua tangannya di depan dada pertanda memohon.


"Iya, boleh!" Ika mengijinkan Indah. "Tapi cuma sebentar ya?" Lanjut Ika.


"Iya, makasih!" Senyum manis tersungging di bibir mungil Indah.


Indah membonceng Ika dengan sepeda milik nya. Sesampainya di rumah ika, Indah tidak melihat Ibnu karena dia belum pulang sekolah. Ika masuk untuk mengganti pakaiannya. Sementara Indah duduk di teras rumah Ika.


Usai mengganti baju, Ika memanggil Indah dari dalam rumahnya agar masuk dan duduk di ruang tamu rumah Ika. Tapi Indah lebih memilih tetap duduk di teras berharap Ibnu pulang lebih awal dari jam pulang biasanya.


 


Bu Ifa menyapu teras rumahnya dan melihat seorang gadis kecil duduk di teras rumah saudara sepupunya. Bu Ifa hanya melihat bagian belakang tubuh gadis itu. Karena Indah menghadap ke jalan dan membelakangi rumah Bu Ifa.


Entah apa yang terjadi pada Bu Ifa, jantungnya berdebar kencang. Dia menyelesaikan pekerjaannya dan meletakkan sapu pada tempatnya.


Bu ifa keluar rumah menuju rumah Ika.


"Assalamualaikum, Nak! Bu Ifa berdiri tepat di belakang Indah.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh!' Indah menjawab salam dan membalikkan tubuhnya ke arah suara berasal dan berdiri mencium punggung tangan Bu Ifa.


Indah selalu menghargai orang yang lebih tua, dan selalu mencium tangan ketika bertemu orang yang lebih tua termasuk Bu Ifa.


Betapa terkejutnya bu Ifa karena ternyata gadis kecil yang ada dihadapannya kini adalah Indah. Bu Ifa langsung memeluknya.


"Bagaimana kabarmu, nak?" Tanya Bu Ifa yang masih memeluk erat Indah.


"Alhamdulillah,baik Bu!" Jawab Indah yang terkejut saat Bu Ifa tiba - tiba memeluk erat tubuh mungilnya namun ia tak menolak karena ia pun merasakan pelukan hangat layaknya pelukan seorang ibu pada anaknya.


Setelah Bu Ifa melepaskan pelukannya, dia mengajak Indah ke rumahnya. Namun Indah menolaknya dengan sopan karena sudah lewat waktu pulang sekolah.


Indah tidak ingin pulang terlambat dan membuat Ayah dan ibu khawatir padanya.


Indah pamit pada Ika dan Uminya yang masih berdiri mematung di dekat pintu rumah mereka. Indah juga tak lupa mencium punggung tangan Ummi Ika dan Bu Ifa yang juga masih berdiri di sampingnya.


 


Indah yang duduk santai di teras rumah Ika sambil menunggu sahabatnya berganti pakaian, berharap Ibnu pulang lebih awal dari jam pulang biasanya tiba - tiba dikejutkan oleh suara seorang ibu yang tengah berdiri di belakangnya dan mengucapkan salam.


Indah menjawab salam Bu Ifa dan membalikkan badannya.


Lagi - lagi Indah terkejut ketika Bu Ifa langsung memeluknya, namun rasa itu langsung menghilang.


"Kenapa pelukan ibu ini begitu hangat, sehangat pelukan seorang ibu pada anak kandungnya, padahal aku tidak mengenalnya?" Gumam Indah saat berada dalam pelukan Bu Ifa.


 


Di rumah Indah, Ibu sudah menunggu Indah. Ibu mencemaskan anak semata wayangnya yang belum pulang, padahal sudah satu jam melebihi waktu pulang sekolah biasanya.


Melihat Indah turun dari sepedanya, Ibu langsung membukakan pintu dan menghujani Indah dengan beberapa pertanyaan.


"Indah, dari mana kamu,nak? Kenapa pulang terlambat? Apa kamu sakit? Apa kamu mimisan di sekolah?" Tanya Ibu panik.


"Aku tidak apa - apa, bu!" Indah berusaha menjawab salah satu pertanyaan Ibunya.


"Aku hanya mampir ke rumah Ika untuk meminjam buku catatan karena kemarin aku tidak masuk sekolah, bu!" Jelas Indah setengah berbohong.


Iya setengah. Karena selain ingin bertemu Ibnu, Indah juga memang meminjam buku catatan Ika untuk menyalin catatan mata pelajaran kemarin ketika sakit kepalanya kambuh sehingga Indah tidak masuk sekolah.


Pak Yusuf yang menguping pembicaraan istri dan anaknya pun ikut merasa lega karena tidak terjadi apa - apa pada gadis kecilnya.


Indah langsung masuk kamar dan ganti baju. Mengambil Wudhu dan segera Shalat Dhuhur. Setelah itu dia langsung menuju dapur untuk makan siang.


Sementara Pak Yusuf dan Ibu Sri sudah masuk ke kamar untuk istirahat siang.


"Maafkan aku ayah, ibu. Aku berbohong demi kebaikan kita semua. Aku hanya ingin mencari jati diriku yang sebenarnya. Sekalipun aku memang bukan anak kandung Ayah dan Ibu, aku takkan pergi dari hidup kalian. Namun sebaliknya, jika aku benar - benar anak kandung ayah dan ibu maka aku akan melupakan masalah ini". Indah menangis menyesali kebohongannya pada ibu dan juga di dengar oleh ayah dari jendela rumah.


Sore hari, seusai menyapu halaman rumah, Indah mandi dan Shalat Ashar kemudian mengambil dua buah buku tulis yang ada di tas sekolahnya. satu buku miliknya dan satu lagi buku milik Ika kemudian menyalin catatan yang tertinggal kemarin.


Ibu tersenyum melihat Indah menyalin catatannya. Ternyata kekhawatirannya tadi siang tidaklah benar.


Tak butuh waktu lama baginya, karena Indah memang sangat lihai dalam menulis. Tulisannya bagus dan rapi meski di tulis dengan cepat dan tidak ada typo sedikitpun.


Sebelum Maghrib, Indah sudah selesai dengan catatan dan pekerjaan rumahnya.


Dia bersiap - siap berangkat mengaji. Pamit pada ayah dan ibu. Menjemput Winda untuk berangkat bersama ke Musholla. Tak hanya pandai dalam ilmu umum, Indah juga pandai mengaji. Lebih pandai daripada teman - teman sebayanya sehingga Pak Yusuf tidak perlu lagi mengajarkannya. Hanya mengontrolnya saat Indah mengaji di rumah.


Pak Yusuf juga perlu mengasah rasa percaya diri yang sedikit dimiliki oleh gadis kecilnya itu.