
Leon yang marah besar pada Naomi segera melempar Adiknya ke ranjang kamar Leon. Ia sungguh kesal melihat orang yang dicintainya malah jalan dengan pria lain, amarahnya kian memuncak kala Naomi mengatakan bahwa ia dan Tristan sudah resmi berpacaran.
"Kakak, kenapa jadi gini sih ke aku? Salah aku apa, Kak?" tanya Naomi kebingungan. Ia menangis sesenggukan kala Leon semakin mendekat padanya. Sejujurnya ia takut pada Leon, akan tetapi ia percaya bahwa Kakaknya tak akan melakukan hal nekat.
"Kamu tau kenapa aku kayak gini? Itu karena aku cinta sama kamu, Naomi! Aku cinta sama kamu dan aku gak rela kamu dimiliki laki-laki lain! Kenapa kamu nggak ngerti juga, Naomi!" teriak Leon frustasi. Naomi semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan Kakaknya. Pikirannya terlalu kalut untuk mencerna setiap ucapan yang Leon lontarkan padanya.
"Kakak, cinta sama aku?" tanya Naomi memastikan. Ia takut salah sangka dengan Kakaknya. Tapi, angguka dari Leon menyadarkan dirinya bahwa lelaki itu memang mencintainya.
Naomi yang takut disakiti lagi oleh Leon seperti ketika ia mencintai lelaki itu dulu, memilih untuk memalingkan wajahnya. Naomi tak ingin disakiti dua kali oleh orang yang ia cintai.
"Aku nggak bisa, Kak. Kita saudara!" lirih Naomi sendu.
"Saudara? Kamu tau kan kalau kita gak sedarah? Dan sah-sah saja buat aku nikahin kamu, Naomi!" ucapan Leon menyadarkan Naomi akan posisinya yang hanya seorang anak angkat di keluarga Ricard.
Naomi merasa sedih mendengar kenyataan itu terucap dari bibir orang yang paling ia cintai.
"Maaf, Kak, aku mau istirahat." Naomi segera melangkah menuju pintu keluar kamar Leon. Namun, belum mencapai pintu Leon sudah menariknya dan membaringkan Naomi di ranjang bersama lelaki itu yang menindihnya.
Leon benar-benar frustasi sekarang, ia mencintai seorang gadis yang tak bisa ia miliki. Naomi terbelalak kaget kala Leon menciumi bibir hingga lehernya dengan terburu-buru. Gadis itu ketakutan setengah mati dan dengan gerakan cepat ia menendang aset milik Kakaknya menggunakan lutut hingga Leon mengerang kesakitan.
Naomi berlari ke kamarnya dan mengunci rapat pintu kamar, mengabaikan Leon yang menggedornya dari luar penuh amarah. Gadis itu menangis takut melihat Kakaknya yang dulu begitu menyayangi Naomi, berubah menjadi menyeramkan di mata gadis itu.
Sedangkan Leon, ia yang tersadar dengan perbuatan tak senonohnya pada Naomi, juga menangis menyesal. Ia sungguh menyesal telah membuat gadis yang dicintainya terluka dan bersedih. Kemudian Leon menekan satu nama di kontak ponsel miliknya, lelaki tersebut menghapus air matanya dan berbicara setenang mungkin pada orang yang tengah menyapanya dari jauh.
"Ma, cepet pulang! Naomi butuh Mama sekarang, kasihan Naomi, Ma." Leon kembali meneteskan air mata kala mengingat raut pucat Adiknya akibat ulah lelaki tersebut.
"Ada apa, Leon?" tanya Tamara bingung. Namun, hanya terdengar suara isakan dari Leon tanpa sepatah kata pun yang terucap.
"Maafin Leon, Ma. Leon salah ... maaf, Ma." Leon segera menutup ponselnya. Lelaki itu jatuh terduduk di depan kamar Adiknya yang tertutup rapat. Mereka berdua duduk saling membelakangi dengan pintu sebagai pemisah antara keduanya.
Naomi yang menangis dengan perasaan yang hancur karena kecewa dengan sikap Leon yang berubah,
***
Vebra tengah menonton acara gosip di TV ketika melihat sebuah tayangan dari kamera amatir seorang pengunjung mall yang menampilkan Leon tengah menarik paksa seorang gadis berseragam SMU dari dalam sebuah mall.
Vebra tahu bahwa gadis itu adalah Naomi, yang tak dipahami olehnya adalah kenapa Leon seperti tengah memergoki kekasihnya yang sedang jalan dengan pria lain?
Segera wanita itu menelpon Leon dan sama sekali tak diangkat oleh lelaki itu. Vebra merasa Leon akhir-akhir ini bersikap cuek padanya.
Sedangkan Leon sendiri kini tengah duduk diam di sebuah cafe bersama dengan Riza. Sejak 30 menit yang lalu, lelaki itu hanya diam mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ia juga tak menyentuh makanan dan minuman yang Riza pesankan untuknya.
"Kamu gak papa, Leon?" tanya Riza cemas. Leon mengusap wajahnya dengan kasar, rasa bersalah terhadap Adiknya membuat lelaki itu terlihat sangat rapuh. Ia sangat mencintai Naomi, hanya saja kemungkinan mereka untuk bersatu sangat kecil nyaris nihil untuk bersama.
"Za, apa dosa gue? Kenapa semuanya kayak gini?" tanya Leon lirih. Riza semakin tak mengerti mengenai masalah yang tengah menimpan Leon, ingin bertanya lebih jauh pun ia tak berani.
"Tuhan tidak akan memberikan ujian tanpa memberikan jalan keluar," jawab Riza singkat. Ia sendiri juga bingung ingin menjawab dengan jawaban seperti apa.
"Leon ... meski pun Naomi bukan Adik kamu, Papa tetap tidak akan menyerahkan Naomi ke kamu. Papa sudah berbicara dengan Orangtua Vebra, pernikahan kalian akan dipercepat." kembali terngiang perkataan Ricard ketika Leon meminta ijin ke Ayahnya untuk meminang Naomi setelah Adiknya lulus SMA.
Namun, penolakan Ricard yang diterima Leon. Hatinya terasa remuk ketika menyadari tak ada satu pun yang mendukung kisah cintanya dengan Naomi.
"Bucin banget gue, hahaha." Leon tertawa hambar di akhir perkataannya. Lelaki itu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Jika dari awal ia tahu Naomi bukanlah Adiknya, pasti ia akan memikirkan lagi pernyataan cinta Naomi padanya dulu. Tentu keadaannya tak akan serumit ini, atau mungkin justru semakin rumit?
****
Saat tengah malam, Leon baru kembali ke rumah. Lelaki itu mendapat telpon dari Mamanya kalau Naomi tengah demam dan terus mengigau. Leon berpikir mungkin itu karena perbuatan dirinya pada Naomi siang tadi, semakin lelaki itu merasa buruk untuk Naomi.
Leon membuka pintu kamar Adiknya perlahan, dilihatnya gadis itu tengah tertidur lelap bersama Tamara di ranjang. Ia menoleh ke arah sofa, ada Ricard di sana tengah tertidur dengan posisi duduk.
Leon berlutut di samping ranjang Naomi, digenggamnya tangan Adiknya dengan perlahan. Panas, itulah yang dirasakan lelaki itu.
Kembali air mata Leon mengalir tanpa isakan. Sebegitu jahatkah dirinya hingga membuat Adiknya semenderita ini? Ia tak pantas disebut sebagai Kakak. Karena tak ada seorang Kakak yang akan dengan tega menyakiti Adiknya.
"Adiknya Kakak sakit ya? Pasti gara-gara Kakak kan kamu kayak gini, Sayang? Kakak jahat ya, Dek? Kakak jahat ya sama kamu? Hiks ... hiks ... maafin Kakak, Dek ... maaf." isak Leon kemudian mencium punggung tangan Naomi lembut.
"Kakak kok lama pulangnya? Naomi demam, Kak. Aku nungguin Kakak terus dari sore tadi," ucap Naomi serak. Leon mengangguk dengan air mata yang menetes tanpa seijinnya. Adiknya sangat baik padanya, itulah yang ada dipikiran Leon. Ia tak mau semakin egois dan semakin menyakiti Naomi.
"Cowok gak boleh nangis!" ledek Naomi sambil mengusap air mata Leon. Lelaki itu kemudian memposisikan duduknya di lantai dan memeluk perut Adiknya, meletakkan kepalanya di atas perut Naomi dengan rambutnya yang di elus lembut oleh gadis itu.
Kenyamanan menjalar dalam tubuh Leon. Lelaki itu tersenyum manis dan dengan perlahan memejamkan kedua matanya hingga alam mimpi menjemput Leon. Naomi terus mengelus lembut puncak kepala Leon, tak berapa lama ia juga terlelap tidur.
Tamara dan Ricard yang sebetulnya sudah terbangun sejak tadi, hanya bisa diam melihat kedua anak mereka berinteraksi. Tampak oleh Ricard betapa Leon mencintai putrinya, hanya saja Ricard tak ingin kejadian buruk menimpa Naomi jika mereka dibiarkan bersatu.
Sebuah ide terlintas di pikiran Ricard, ia ingin menjauhkan Naomi dari Leon. Mempercepat pernikahan Leon dan Vebra juga menjodohkan Naomi dan Tristan adalah satu-satunya cara agar mereka berpisah dengan sendirinya.
***
Pagi harinya Naomi sudah bersiap ke sekolah seperti biasa karena demamnya sudah turun. Ia segera berjalan ke meja makan dan menemukan kedua Orangtuanya juga Leon berkumpul di sana. Ada Riza dan Radit juga yang ternyata datang ke rumahnya dan ikut sarapan dengan mereka.
"Waahhh, ada Kak Radit nih. Boleh minta tanda tangan sama foto bareng nggak, Kak? Kapan lagi bisa foto sama artis," gurau Naomi yang disambut tawa dari seluruh orang yang ada di sana.
"Boleh dong. Jangankan minta foto bareng, minta Kak Radit buat jadi pacar kamu aja Kakak mau," balas Radit yang langsung mendapat pelototan dari Leon. Naomi tertawa renyah mendengar celotehan sahabat Kakaknya itu.
"Ngomong gitu lagi, gue jahit mulut lo!" omel Leon pada Radit yang membuat lelaki tampan itu mendengus kesal.
"Dasar posesif!" gumam Radit kesal.
"Dek, emangnya demam kamu udah turun? Besok aja sekolahnya, ya?" tanya Leon yang khawatir pada Naomi. Gadis itu hanya mengangguk sambil mengunyah roti berselai coklat kesukaannya.
"Semuanya, Naomi berangkat duluan ya? Udah di jemput sama Tristan." pamit Naomi setelah mendapat chat dari Tristan. Leon hanya menghembuskan napas beratnya, meski sakit ia harus iklas jika Naomi lebih memilih Tristan daripada dirinya.
"Hati-hati ya, Dek. Bilang sama Tristan kalau bawa motor jangan ngebut." Leon menasehati Naomi dengan lembut. Gadis itu tersenyum senang melihat Kakaknya kembali seperti dulu, ia mengangguk kemudian mencium pipi kanan Leon sebelum berjalan keluar rumah.
Radit menepuk bahu Leon seolah menguatkan dan mengatakan pada pria itu kalau semua akan baik-baik saja. Leon tersenyum meyakinkan kalau ia pasti bisa melupakan Naomi dan mendapatkan gadis yang lebih baik dari Adiknya.
"Pa, nanti kita ngomong ke orangtuanya Vebra, ya?" Ricard tersenyum pada Leon, kemudian ia mengangguk senang. Ia bersyukur putranya bisa memilih jalan terbaik untuk masa depannya kelak.
_________TAMAT
Gak deng, bercanda kok tamatnya:'D
________Tbc.