My Brother

My Brother
Ningsih vs Jamila



"Dita bareng saya, Om! Sahut Indah.


"Oh! Duduk neng!" Parto menggeser kursi plastik tempatnya tadi duduk.


Melihat Fathur yang berdiri di samping Indah, Parto mengira bahwa Fathur lah laki - laki yang memberikan makanan pada Dita. Namun Parto tak ingin salah ucap dan mengabaikannya.


"Apa maksud kedatangan Adek - adek bersama Dita anak saya?" Tanya Parto.


Indah mengutarakan maksudnya membawa Dita menemui sang Ayah. Parto yang paham akan hal itu, meneteskan air matanya.


"Begini, Dek...." Parto memulai ceritanya.


Flashback On


Dulu sewaktu Ibu kandung Dita masih hidup, ia bekerja sebagai ART di rumah Bu Mira pemilik toko emas. Meski gaji Jamila besar, Parto tidak pernah memanfaatkan hasil kerja keras istrinya. Parto tetap menghidupi keluarga kecilnya dengan menjadi juru parkir.


Karena itu, Jamila memutuskan untuk menyimpan uang hasil jerih payahnya pada Bu Mira. Setiap akhir tahun Jamila meminta upah ART nya dalam bentuk perhiasan dan sisa uangnya, ia ambil untuk membeli pakaian untuk Parto dan dirinya.


Meski telah memiliki anak, Bu Mira mengijinkan Jamila tetap bekerja dan membawa anaknya.


Anak - anak Bu Mira memperlakukan Jamila dan Dita dengan baik. Tak jarang mereka memberikan perlengkapan bayi pada Dita. Meski barang tersebut adalah sisa dari anak - anak mereka tapi masih terbilang bagus, bahkan sangat bagus dan tentu harganya juga mahal.


Jamila berangkat ke rumah Bu Mirna ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebelum itu, Jamila sering kali membawa anaknya jalan - jalan pagi di Taman Kota, tentu dengan kereta mahal pemberian anak Bu Mira.


Jamila pulang bekerja sekitar jam tiga sore. Pulang kerja, Jamila tak perlu memasak karena Bu Mira mengijinkan Jamila membawa pulang makanan untuk keluarga Jamila.


Mereka makan dengan lahap. Menu yang sama dengan yang ada di rumah Bu Mira. Bu Mira juga sering kali memberikan pakaian bekasnya pada Jamila.


Suatu ketika, Doni anak Bu Mira pulang dari luar negeri dan membawa oleh - oleh pakaian untuk sang Mama. Namun sayangnya, ukuran baju tersebut terlalu kecil untuk Bu Mira. Beruntung sekali pakaian tersebut pas di tubuh Jamila. Dengan senang hati Bu Mira memberikan pakaian tersebut pada Jamila.


Dengan senang hati pula, Jamila menerima pemberian Bu Mira. Tujuh lembar baju baru, oleh - oleh dari luar negeri dan tentu harganya tidak murah.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi kehidupan keluarga Parto. Siapa lagi kalau bukan Ningsih.


Berbeda dari kenyataan yang dialami Jamila.


Setiap hari Ningsih melihat Jamila bahagia karena nafkah yang diberikan oleh Parto.


Ningsih adalah orang tak mampu, Ibunya sakit - sakitan. Jangankan untuk berobat sang ibu, untuk makan sehari - hari saja, mereka kekurangan.


Setiap pagi, Ningsih berjualan gorengan di sekitar Taman Kota. Tiap pagi itu pula ia sering bertemu Jamila. Jamila yang membawa bayi Dita menggunakan kereta bayi. Jamila juga menggunakan pakaian mahal.


"Begitu bahagianya Jamila menjadi istri Parto. Meski hanya tukang parkir, tapi Parto mampu membelikannya pakaian dan barang - barang mahal lainnya!" Gumam Ningsih yang tak terima melihat kebahagiaan Jamila.


Ningsih tak mengetahui jika Jamila bekerja di rumah Bu Mira, karena sepulang menjual gorengan ia merawat ibunya yang sedang sakit. Hingga sore hari, barulah Ningsih pergi ke Pasar Palawija untuk berbelanja bahan gorengan yang akan dijual besok pagi sekaligus membeli bahan makanan untuk makan dirinya dan ibunya. Tentu dengan uang seadanya.


Jamila dan Ningsih bersahabat sejak kecil. Jamila menganggap ibu Ningsih seperti ibu kandungnya sendiri. Jamila sering menyisihkan makanan yang ia punya untuk Ningsih dan ibunya. Sehabis makan bersama keluarga kecilnya, Jamila mengantar makanan ke rumah Ningsih. "Silahkan dimakan, Bu!" Ucap Ningsih.


"Terima kasih, Jamila!" Jawab Ibu Ningsih.


"Terima kasih ya, Mil!" Sahut Ningsih pula. Meski ia merasa iri dengan kebahagiaan Jamila.


"Sama - sama! Kalau begitu, Saya pamit pulang dulu!" Respon Jamila yang kemudian pamit pulang.


Empat tahun kemudian.


Saat Dita berumur empat tahun. Jamila pulang dari rumah Bu Mira mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Beruntung sekali Dita tidak ikut ke rumah Bu Mira. Jamila meninggal di tempat kejadian.


Parto sangat bersedih karena kehilangan istri tercintanya. Dita juga histeris melihat jenazah ibunya di antar ke pemakaman. "Jangan ambil Ibu Dita...!" Isaknya.


Melihat hal itu, Ningsih ikut bersedih dan menggendong Dita.


 ~~~


Kehadiran Ningsih mampu menghibur Dita dan Parto. Mereka melupakan kesedihan karena kehilangan Jamila.


Ningsih dengan setia menemani Parto dan Dita selama seratus hari, tanpa melupakan kewajibannya merawat sang ibu yang sedang sakit - sakitan karena faktor usia.


Melihat kesetiaan dan ketulusan Ningsih, Parto memutuskan untuk menjadikan Ningsih istri dan ibu sambung untuk Dita.


Begitu pula dengan Dita yang menginginkan Ningsih menjadi penggantinya Jamila ibunya.


Dengan senang hati, Ningsih menerima permintaan Ayah dan Anak tersebut.


"Maafkan Aku, Jamila. Bukan aku tak mencintaimu, tapi Dita butuh kasih sayang seorang ibu dan aku tak mampu merawat Dita seorang diri. Untuk itu aku pilih Ningsih sahabatmu menjadi istriku dan ibu untuk Dita". Ucap Parto di dekat pusara mendiang istrinya.


Menikahlah Parto dengan Ningsih. Keesokan harinya, Bu Mira datang ke rumah Parto untuk mengantarkan sisa tabungan Jamila selama bekerja dengannya. Sebuah kalung dengan berat dua belas gram, Bu Mira serahkan pada Parto dan sejumlah uang yang berhasil Jamila kumpulkan selama satu tahun terakhir.


Kedatangan Bu Mira membuat Ningsih mengerti bahwa apa yang dipakai Jamila selama ini bukanlah hasil jerih payah Parto seorang melainkan hasil kerja keras Jamila sendiri. Bu Mira juga memberikan beberapa pakaian mahal untuk Dita.


Ningsih bukanlah wanita atau ibu tiri yang jahat. Iya merawat Dita dengan baik. Mencintai Parto dengan tulus. Berbakti pada ibunya yang sedang sakit. Ningsih juga menyimpan dengan baik barang - barang berharga milik Jamila sahabatnya.


 


Satu bulan setelah pernikahannya dengan Parto, Penyakit ibunya makin parah dan harus dirawat di rumah sakit.


Ningsih kebingungan mencari pinjaman uang untuk biaya rumah sakit ibunya. Dengan berat hati, Parto akhirnya angkat bicara. Ia mengijinkan Ningsih menjual perhiasan Jamila untuk dijual.


Dengan berat hati pula, Ningsih menerima usul Parto dan menjual perhiasan tersebut.


"Maafkan aku, Jamila!" Gumamnya saat tiba di depan toko perhiasan. Air matanya menetes saat ia menerima uang hasil penjualan perhiasan.


Meski sudah banyak mengeluarkan uang, namun nyawa ibunya tak tertolong dan meninggal dunia. Ningsih kembali berkabung. Setelah sahabatnya pergi, kini Ningsih kehilangan sang Ibu.


............


**Jika Ningsih adalah wanita, istri, dan Ibu tiri yang baik, mengapa ia tidak memberi Dita makan?


Kutunggu komentar para reader untuk menjawab pertanyaan tersebut!


Jangan lupa like and vote nya ya, Kak!


Happy Reading😘😍🥰**