
"Kamu beneran mau langsung pulang?" Halim memastikan.
"Maumu?" Tanya balik Indah yang lagi - lagi membuat Halim bingung harus menjawab apa.
"Aku mau kita makan siang dulu sebelum pulang, sudah waktunya, 'bukan!" Halim menunjukkan waktu di jam tangannya yang menunjukkan pukul dua belas siang. "Apa kau masih akan menolak ku?". Lanjutnya.
"Baiklah! Ayo!" Indah pasrah dan berjalan lebih dulu menggendong tas ranselnya menuju kantin. Namun Halim malah mengajaknya makan di luar.
"Apa kau suka pedas?" Tanyanya.
"Tidak!" Indah.
"Aku ingin makan rujak cingur, Apa kau mau?" Halim.
"Apa pun Aku makan asal tidak beracun dan memabukkan, serta haram menurut agama!" Sahut Indah. "Makan dimana?"
"Di warung rujak dekat sekolah kita saja!" Jawab Halim.
"Oke, kita ketemu di sana. Aku mau ambil sepedaku dulu!" Indah berjalan menuju tempat parkir sepeda. Naas, ban sepeda Indah kempes. Ia menuntun sepedanya ke bengkel dekat sekolah dan warung rujak yang dimaksud Halim, kemudian duduk di samping Halim yang telah lebih dulu memesankan rujak cingur.
"Kenapa lama, Hem?" Tanya Halim khawatir.
"Ban belakang sepedaku bocor!" Sahut Indah dengan kepala menunduk. Indah juga menjelaskan bahwa ia meninggalkan sepedanya di bengkel terdekat.
"Makan dulu rujaknya, nanti biar kita pulang naik motorku!" Hibur Halim saat rujak pesanan mereka datang. "Aaak!" Halim menyuapi Indah dengan sepotong cingur di sendok. Namun Indah menolak karena malu.
"Apaan sih? Malu tau!" Celoteh Indah.
"Gimana dengan sepedaku jika aku pulang bersamamu?" Lanjutnya malu - malu.
"Urusan gampang, percayalah padaku!" Halim menepuk pelan dadanya. Mereka melanjutkan makan kemudian pulang. Benar saja, Halim yang kemudian mengantar sepeda Indah. Entah bagaimana caranya Author juga ga tau, karena saat itu Author lagi sibuk menguji Praktek Bahasa Inggris siswanya.
"Besok Ujian Praktek Agama, Apa kau siap?" Halim membuka pembicaraan saat tiba di rumah Indah.
"Siap, Boss!" Sahut Indah melucu membuat Halim kembali menoel hidungnya gemas.
"Sakit!" Indah memegang ujung hidungnya yang memerah.
"Kalau kamu sudah siap, itu artinya tak ada lagi yang harus kita pelajari, 'kan!" Halim menarik kesimpulannya sendiri. "Malam nanti aku jemput kamu ya!?!" Lanjut Halim.
"Aku pamit dulu sama Ibu, nanti aku kabari!" Jawab Indah.
Mendengar jawaban Indah, Halim merasa lega. Malam ini ia akan mendapat kepastian akan hubungannya singkatnya dengan Indah. Meski di sisi lain hatinya bingung akan jawaban Indah
**Kembali ke Kantin Sekolah**.
Safia menghampiri kekasihnya. Ana yang tau diri, segera pamit pulang pada Fia dan Dayat. Meski tau kekasihnya mentraktir wanita lain, namun Safia tak pernah cemburu pada Ana.
"Apa kabarmu?" Tanpa ba bi bu Fia duduk di hadapan Dayat dan menanyakan kabar.
"Aku baik!" Ujar orang yang ada di depannya.
"Aku menunggumu!" Ucap Safia menatap lekat wajah Dayat dan menaikkan tangannya di atas meja berharap Dayat meraihnya dan mengatakan sayang.
"Aku sudah di sini sejak tadi, mengapa kau masih bilang menungguku?" Tanya Dayat tak paham padahal yang Safia tunggu bukanlah dirinya melainkan panggilan sayang yang akan ada diantara mereka berdua.
"Bukan dirimu yang aku tunggu, tapi ....
"Yang, Aku pesan makanan dulu ya? Tunggulah di sini!" Pinta Ferdi yang duduk bersama Rini kekasihnya tepat di samping meja Dayat dan membuat Fia menghentikan kata - katanya dan melirik ke arah Ferdi vs Rini.
Dayat mengikuti arah pandang Safia dan *Astaga, Aku lupa memikirkan panggilan sayang apa yang cocok untuk Aku dan Fia*! Batin Dayat.
Meski merasa canggung, Dayat berusaha meraih tangan Safia yang berada di atas meja. "Panggilan seperti apa yang kau inginkan?" Tanyanya.
"A aku mau kau panggil aku Sa - Sayang!" Jawab Fia gugup dengan wajah merah bak kepiting rebus.
"Iya, Aku akan mengingatkan jika kau lupa hingga nanti kau terbiasa, Sayang!" Sahut Fia.
"Nanti malam kita makan di Kafe KITA yuk!" Ajak Fia. Tak ada yang perlu dipelajari untuk ujian praktek keduanya. Yang satu Praktek membuat lukisan, yang satu lagi praktek keagamaan yaitu praktek shalat.
Usai Shalat Magrib, ponsel Indah bergetar. Sebuah chat masuk dari Halim.
📱Hai, Gimana?
📱Aku dah pamit pada Ibu. (Indah)
📱Usai Shalat isya' aku jemput ya, Sayang!" (Halim)
📱Ya! (Indah)
Flashback On
Setiap Indah akan pergi keluar rumah, ia selalu pamit pada ibunya beberapa jam sebelum berangkat. Seperti halnya malam ini, Indah sudah pamit sejak sore tadi. "Bu, nanti malam aku pergi dengan teman!" Pamit Indah.
"Boleh, asal tidak mengganggu ujian mu, Nak!" Jawab sang ibu.
"Iya, Bu!" Sahut Indah.
"Jaga diri baik - baik, jangan sampai salah langkah. Kau milik ibu satu - satunya!" Pesan Bu Sri.
"Iya, Bu! Indah akan jaga diri!" Jawabnya sopan. Bu Sri percaya jika gadis kecilnya bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik, Hal itu terbukti dengan prestasi Indah tidak pernah menurun meski ayahnya telah meninggal dunia. Ia akan menghormati semua orang yang lebih tua serta menghargai dan menyayangi yang lebih muda terlebih anak kecil yang masih balita.
Flashback Off
Gadis kecil yang menginjak remaja itu pamit pada ibunya. Siapa sangka ia hanyalah seorang siswa kelas sembilan SMP dengan penampilannya saat ini.
Seorang pria tampan yang juga satu kelas dengannya menjemput gadis kecil kesayangan Almarhum Pak yusuf dan Bu Sri. Siapa lagi kalau bukan Halim.
"Aku berangkat, Bu! Pamitnya.
"Iya, Hati - hati, Sayang!" Pesan Bu Sri.
Halim melajukan motornya menuju Kafe KITA.
Indah yang turun dari motor melihat ke arah Halim sedang memarkirkan motornya. Kok bajunya bisa sama? Aku kan ga janjian! Batin Indah.
Indah Mayangsari
Halim Perdana Kusuma
Halim menggandeng tangan Indah "Aku tampan, bukan!" Ucapnya membangunkan Indah dari lamunan panjangnya.
"Eh? I - iya!" Jawab Indah keceplosan mengakui ketampanan Halim.
Mereka duduk di meja no. 12 yang sudah di pesan Halim. "Kenapa pilih nomor dua belas?" Tanya Indah.
"Itu karena tanggal lahir mu dua belas, sayang!"
"Kau!" Wajah Indah makin memerah tersipu malu.
Dua porsi nasi goreng cumi dan dua gelas Lemon tea segera hadir di hadapan mereka membuat Indah semakin haru, pasalnya dalam waktu dekat ini Halim bisa mengetahui segalanya tentang Indah sehingga ia tak punya alasan untuk mengakhiri hubungannya dengan Halim.
"Mari makan!" Ucap Halim mengedipkan netra nya sembari tersenyum menggoda Indah.
Halim bisa saja berbuat lebih dari itu namun ia tahan, ia tak ingin gegabah melakukan sesuatu yang membuat Indah memberikan keputusan yang akan mengecewakan dirinya.
Indah meraih selembar tisu dan membersihkan sebutir nasi yang tak sengaja bertengger di bagian bawah bibir Halim. Seketika tangan Halim meraih tangan Indah. Netra mereka bertemu dengan tatapan intens. Apakah ini pertanda kau akan melanjutkan hubungan ini! Batin Halim.
"Terima kasih!" Ucap Halim menurunkan tangan Indah perlahan. Sebagai balasannya, ia menyuapkan sesendok nasi goreng. Tak ada penolakan dari Indah.
**Bersambung dulu ya, Kak**!
**Selamat Hari Raya Idul Fitri**
**Mohon maaf lahir & bathin🙏🙏🙏**