
22
Kondisi kesehatan Naomi sudah mulai membaik, ia kini sudah bisa kembali pulang ke rumah bersama dengan Tamara yang terus memeluknya dengan hangat.
"Jangan dekat-dekat, Kak, Naomi takut sama Kakak," ucap Naomi jujur dengan menyembunyikan dirinya di belakang Tamara.
Leon memaksakan senyumnya, ia merasa sakit saat mendengar Adiknya merasa takut padanya.
"Kakak nggak akan jahat kok," ucap Leon lembut. Ia berusaha meyakinkan Naomi bahwa dirinya telah berubah, tapi gadis itu menggeleng. Ia tak percaya Leon telah berubah menjadi orang baik.
"Bohong! Kakak kan suka nyakitin Naomi," jawab Naomi dengan nada merajuk seperti anak kecil.
Mentalnya terganggu, ia berubah perangainya menjadi layaknya anak kecil yang polos tak mengerti apapun.
Ia juga lupa siapa dirinya, ia hanya tahu bahwa Leon telah berbuat jahat padanya dan tak ingin mendekati pria itu.
"Kakak nggak jahat, Sayang. Kakak kamu nggak sengaja nyakitin Naomi," ucap Tamara berusaha memberi pengertian pada Naomi agar gadis itu tak semakin ketakutan pada Leon.
"Enggak, Ma ... Kakak jahat, Naomi aja masih sakit karena Kakak jahatin," ucap Naomi seraya menyentuh perut bawahnya. Leon meneteskan air mata kala mengingat perbuatan bejatnya pada sang Adik.
Lelaki itu memutuskan untuk pergi dari sana dan mengurung diri di kamar. Ia menangis dan menyesali perbuatannya, rasa bersalah akan masa lalu membuat dada Leon sesak dan terisak semakin dalam.
Mungkin ia lemah sebagai lelaki karena menangis untuk meluapkan rasa penyesalannya, tapi toh ia tak perduli.
Kamarnya kedap suara, tak akan ada yang mendengar meski ia meraung sekalipun.
Hanya dia dan Tuhan yang tahu betapa hancurnya perasaan Leon hingga membuatnya begitu terpuruk.
"Maafin Kakak, Naomi ... maaf," sesalnya sembari menatap pigura foto Naomi.
Jika saja waktu bisa diulang ke masa lalu, maka Leon lebih memilih Naomi menikah dengan Tristan dan hidup bahagia bersama dengan lelaki yang dicintai Adiknya.
Ia akan menjaga Naomi dengan sekuat tenaga meskipun nantinya gadis itu tak akan bisa ia miliki.
Tapi penyesalan pun tak ada guna, semua sudah terlambat. Yang bisa Leon lakukan hanyalah berusaha menjadi manusia lebih baik dan memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Ia akan menerima Naomi dan merawat gadis itu hingga sembuh seperti sedia kala. Dan jika pun nantinya Naomi masih belum bisa menerimanya, ia tak akan memaksa gadis itu.
Ia akan mencoba iklas meskipun kesakitan yang akan ia dapatkan.
Ricard mengetuk pintu kamar Leon, tapi lelaki itu enggan bertemu dengan sang Ayah, ia memilih diam dan berbaring dengan lengan kanannya yang ia gunakan untuk menutupi matanya yang sembab.
***
Naomi duduk di ayunan belakang rumah Leon, terdapat danau buatan dan beberapa bunga di sana. Ayunan itu digantung di sebuah pohon besar yang ada di tepi danau, beberapa tanaman rambat menempel pada batang pohon tersebut.
Naomi hanya diam menatap kosong pada permukaan danau yang tenang, air matanya kembali menetes kala tiba-tiba ingatan itu datang. Ia kembali merasakan sakit yang sama.
Ketakutan yang tiba-tiba menyerang membuatnya gemetar hingga terjatuh dari ayunan tersebut. Gadis itu menangis, ingatannya telah kembali seiring dengan rasa takut dan kesakitan yang kian kejam menyiksanya.
Ia berteriak dengan tangisan pilu yang menyayat hati, ia merasa hancur dan semua impiannya akan sebuah kebahagiaan bersama Tristan lenyap sudah tersisa.
Leon yang mendengar tangisan dan jeritan Naomi, segera berlari ke arah danau, mengabaikan dirinya yang tak memakai atasan sama sekali. Hanya celana jeans yang menutupi tubuh bawahnya, karena memang ia belum selesai mengganti bajunya setelah mandi.
"Naomi," panggil Leon sembari memegang bahu sang Adik. Gadis itu shock melihat Leon ada di depannya, terlebih dengan penampilan pria itu yang mengingatkannya pada kejadian naas beberapa Minggu lalu.
"Tolong ... jangan dekat-dekat ... aku takut," ucap Naomi sembari mendorong dada Leon menjauh.
Rasanya ia sangat ketakutan bahkan hanya sekedar bersentuhan dengan Kakaknya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri dan merasa was-was jika harus bersinggungan dengan Leon.
"Naomi, tenang! Kakak nggak akan nyakitin kamu, tolong percaya, Dek!" Leon yang hanya memiliki kesabaran setipis kertas origami, langsung membentak Naomi hingga gadis itu beringsut takut dan menutup kedua telinganya.
Detik berikutnya Leon tersadar jika yang dilakukannya adalah kesalahan besar, bisa jadi Naomi akan semakin takut padanya.
"Ambar!" teriak Leon memanggil asisten rumah tangganya, tak berapa lama seorang asisten rumah tangga seusia dengan Leon datang bersama dengan seorang suster yang bernama suster Henna.
"Bawa Naomi ke kamar, jaga dia dengan baik dan jangan sampai ada benda berbahaya atau mendekati danau dan kolam renang." Leon berucap tegas pada dua orang wanita yang langsung membujuk Naomi untuk kembali ke kamar dengan mudah.
Gadis itu menurut dan tak banyak berontak. Leon hanya menyaksikan semua itu dalam diam. Rasanya sungguh tersiksa menanggung semua ini, dibenci Naomi juga dihantui dosa masa lalu membuatnya seakan ikut depresi.
Ia berpikir sepertinya yang pantas mendapat perawatan dari psikiater adalah dirinya,bukan Naomi.
***
Leon, Vebra, dan Riza tengah berada di lokasi syuting. Sekarang adalah jam break syuting sehingga dimanfaatkan untuk makan minum kopi bersama di sebuah gazebo dekat dengan taman kota.
Kebetulan lokasi syuting mereka hanya sekitar 2 km dari taman kota tersebut.
"Gimana keadaan Naomi?" tanya Vebra sembari mengunyah salad buah milik Leon.
"Dia nggak mau deket-deket sama gue," jawab Leon lesu. Vebra menepuk bahu Leon, memberikan semangat untuk mantan tunangannya tersebut.
"Ntar malem selesai syuting, kita mampir ke rumah Lo ya, mau jenguk Naomi." Riza meminta izin pada Leon yang juga didukung oleh Vebra. Gadis itu pernah menempuh pendidikan sebagai psikolog, walaupun pada akhirnya ia justru merambah ke dunia keartisan.
Jadi, ia ingin sedikit mempraktekan ilmu yang ia dapatkan selama belajar fakultas psikologi.
"Boleh, tapi Riza jangan terlalu deketin Naomi ya, dia suka histeris kalau deket sama laki-laki." Leon memberi pengertian untuk mereka dan diangguki keduanya.
***
Naomi menatap takjub pada kotak musik berirama Fur Elise yang diberikan oleh Vebra. Gadis itu duduk tenang dengan pandangan yang tak lepas dari dua angsa putih yang tengah berputar lambat di atas kotak bundar berwarna putih bercorak pink tersebut.
Vebra merasa iba melihat nasip yang dialami Naomi, ia menyesal sempat membenci gadis tersebut karena dirasa Leon terlalu menomor satukan Naomi dari pada dirinya, dulu.
Kini, ia merasa miris melihat gadis yang di depannya ini tak ubahnya seperti manekin, hanya diam termenung sesekali menatapnya bingung ketika berbicara.
Ia juga terkadang berubah perangainya seperti anak kecil yang begitu polos, kadang ia juga bisa berubah menjadi sosok Naomi sendiri yang mengalami depresi dan terus berteriak histeris hingga melakukan aksi bunuh diri.
Dan kini, ia berubah menjadi layaknya manekin, duduk diam dengan memandang kotak musik itu tanpa mengalihkan fokusnya dari sana. Ia tak peduli meski Leon dan Riza perlahan mendekatinya dan duduk di sofa panjang belakangnya.
Naomi tetap duduk dengan tenang bersimpuh pada karpet berbulu itu. Ia menyukai irama musik dan dua angsa yang tengah menari di atasnya.
"Bagus ya?" tanya Vebra yang diangguki oleh Naomi dengan senyum tipisnya.
"Kalau gitu kamu bilang dong ke Kak Leon kalau itu bagus dan suruh dia beli kotak musiknya," ucap Vebra yang dibalas dengan tatapan bingung dari Leon dan Riza.
Naomi diam menunduk, ia bimbang dengan ucapan Vebra.
Gadis itu menyukai kotak musik itu, tapi ia tak berani untuk berbicara pada Leon agar lelaki itu membelikannya.
"Kak Leon jahat," ucap Naomi mengadu pada Vebra, gadis itu melihat ke arah mantan tunangannya yang tertunduk lesu. Vebra tahu bahwa Leon juga terguncang batinnya, hanya saja lelaki itu berusaha sok kuat di depan mereka demi menjaga image nya.
"Nggak ada seorang Kakak yang jahat ke Adiknya, dan semua orang pernah melakukan kesalahan. Begitu juga dengan Kak Leon, Kamu, Kak Riza, dan juga Kakak sendiri." Vebra mulai memberi pengertian secara perlahan pada Naomi.
Sedangkan Naomi mulai memikirkan ucapan Vebra yang hanya sedikit saja masuk ke dalam otaknya, yang ia pahami hanyalah Leon yang akan berubah baik dan mau membelikan Naomi kotak musik itu.
"Kakak ...," panggil Naomi pelan pada Leon yang duduk melamun di sofa, lelaki itu menatap Adiknya dengan pancaran mata bahagia. Akhirnya untuk pertama kalinya Naomi mau berbicara pada Leon lagi.
"Iya?" jawab Leon mencoba mendekat, tapi Naomi segera beringsut mundur. Membuat Leon menghentikan pergerakannya.
"Mau ini," ucap Naomi menunjuk kotak musik yang ada di meja kaca samping ia duduk.
"Kakak akan belikan apapun yang Naomi mau," ucap Leon yakin. Ia hanya ingin mencoba dekat dengan Naomi, meski pun gadis itu hanya akan mendekatinya saat ia menginginkan sesuatu saja.
Tak apa bagi Leon, asalkan ia bisa kembali mendengar suara Naomi yang memanggilnya.
"Aku mau kotak musik itu," ucap Naomi pelan. Leon mengangguk dengan senyum lega di wajahnya.
"Dua juta!"
"What?!" pekik Leon refleks ketika Vebra mematok harga secara tiba-tiba.
"Iya, kotak musik itu harganya dua juta." Vebra menunjuk kotak musik yang sudah dipeluk oleh Naomi, Leon rasanya ingin melempar Vebra ke dalam danau buatan yang ada di belakang rumahnya.
Sepertinya gadis itu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Gila Lo ya?! Kotak musik gitu doang mana mungkin harganya segitu. Lo kira itu kotak musik terbuat dari emas?" ucap Leon kesal.
"Itu kotak musik istimewa. Gara-gara kotak musik itu kan Adek kamu mau ngomong lagi sama kamu," ucap Vebra tak mau kalah.
"Kotak musik gitu doang paling empat ratus ribu juga dapet!"
"Jangan diliat dari bentuknya dong, Yon, lihat dari manfaatnya," ucap Vebra sok mendramatisir keadaan.
"Nyesel gue ngajak lu ke sini!"
Leon segera mengambil dompetnya dan menyerahkan setengah isinya ke Vebra yang langsung disambut dengan tawa senang gadis itu.
"Lumayan," ucap Vebra sambil mengipas-ngipas uang tersebut di depan Leon dan Riza. "Besok kamu mau dibawain apa lagi, Dek?" tanya Vebra kemudian. Naomi nampak berpikir sejenak.
"Buka lapak aja lo, Veb, di depan rumah gue," sungut Leon kesal pada Vebra yang kini tengah menghitung uang darinya.
"Boleh-boleh," jawab gadis itu cuek.
"Ck," decak Leon kesal.
Tapi detik berikutnya ia tersenyum senang karena Naomi yang nampak terkikik geli melihat dirinya.
_____________Tbc.