My Brother

My Brother
Siska



Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Paman Syah mengantar Indah pulang dengan motornya. Ibnu memilih pulang berjalan kaki membawa barang - barang miliknya, karena jarak rumah yang dekat dengan MonSam.


Tiba - tiba ada orang yang menarik tangannya kasar dan membawanya ke tempat sepi.


🌼🌼🌼


"Om!" Indah tiba - tiba memanggil pamannya membuat sang paman menghentikan motornya.


"Ada apa?" Tanyanya.


Indah mengajak Syah kembali ke Taman Kota untuk mencari Ibnu. Meski mereka tidak pernah bersama sejak lahir, namun batin mereka terhubung satu sama lain. Perasaan Indah tidak enak sehingga ia mengajak pamannya untuk kembali.


"Kemana Ibnu? Harusnya dia sudah sampai di sini!" Gumam Syah saat tiba di depan gang, namun masih bisa di dengar oleh Indah.


"Om, kita balik lagi aja tapi pelan ya, Om!" Saran Indah.


Syah membelokkan motornya ke arah taman. Indah celingukan mencari keberadaan Ibnu. Tepat di sebuah gang kecil yang sepi, Indah melihat Ibnu dipukuli oleh seseorang yang sangat ia kenali. "Mas!" Indah melompat dari motor Syah yang berjalan pelan. Syah menghentikan motornya dan turun mengikuti langkah Indah.


Flashback On.


Arman datang ke Supermarket untuk membeli minyak rambut dan parfum. Di tempat parfum, tak sengaja ia melihat tangan Indah dan Ibnu bertumpu pada satu parfum yang sama dan melihat canda tawa mereka.


Dengan amarahnya, Arman mengurungkan niatnya berbelanja dan keluar dari tempat tersebut.


Arman yang tau rumah Ibnu, memilih menunggu Ibnu pulang di ujung gang sempit itu. Begitu melihat Ibnu melintas, Arman langsung menarik kasar tangan Ibnu. Sontak Ibnu mengikutinya. Mungkin badan Arman lebih kecil dari Ibnu namun amarah Arman dan ketidaksiapan Ibnu membuat dirinya terhuyung bersandar di tembok oleh pukulan Arman yang tepat di wajahnya. Belum sempat Ibnu berdiri tegak, Arman mendorongnya dan memegang kerah baju Ibnu.


Flashback Off


Plak.


Indah menampar pipi laki - laki yang menghajar kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Arman. Sebuah tamparan yang begitu keras membuat Arman melepas kerah baju Ibnu. Arman meringis menahan sakit, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Bawa Mas Ibnu pulang, Om!" Pinta Indah pada pamannya.


"Tapi, Dek!" Ibnu sangat mengkhawatirkan Indah.


"Ini urusanku, mas ga perlu ikut campur. Pulanglah!"


Mendengar kalimat Indah, Syah mengantar Ibnu pulang. Namun sang paman segera kembali untuk memastikan keselamatan keponakannya dan mengantarnya pulang.


"Apa maksud kamu menghajar dia?" Indah menunjuk kasar wajah Arman dan dengan suara keras.


"Ada hubungan apa antara kamu dan laki - laki itu?" Arman bertanya datar.


"Dia saudaraku!" Jawab Indah lantang.


"Apa!" Arman kaget, yang ia tau Indah adalah anak tunggal dari pasangan Pak Yusuf dan Bu Sri.


"Seperti kamu dan Fathur!" Lanjut Indah, ia tak ingin orang lain tau yang sebenarnya. Siapapun itu.


"Ooooo! Kalau begitu, Aku minta maaf ya?!?" Arman menunduk malu.


"Makanya kalo punya masalah tu cari kebenarannya dulu. Jangan asal tonjok!" Cakap Indah masih dengan wajah merah karena marah.


Melihat motor Syah datang, Indah langsung naik meninggalkan Arman yang masih diam seribu bahasa mencerna kata - kata Indah.


Beberapa Minggu Arman tak pernah bertemu Indah karena Indah menolaknya. Jangankan bertemu, menelepon pun Indah jarang menjawab panggilannya bahkan jarang sekali dan hampir tak pernah membalas chat darinya. Kadang Arman mendatangi rumah Indah, tapi sesuai pesan Indah, Pak Yusuf selalu mengatakan jika Indah tidak di rumah atau pergi ke rumah nenek atau alasan lain yang membuat Arman tidak bisa menemui Indah.


Β 


Tiga bulan berlalu. Pembagian Raport semester ganjil tiba. Indah berhasil meraih nilai tinggi meskipun bukan peringkat pertama namun Indah berada di peringkat tiga bersama dua orang cowok teman sekelasnya.


Tiba saatnya pula Fathur kembali ke kota asalnya karena waktu magangnya telah usai. Fathur mendapat nilai sangat baik. Ia mendapat upah seperti karyawan tetap perusahaan tersebut yang di bayar langsung selama enam bulan.


Mengapa Fathur tak mengembalikannya sendiri? Ia takut kehadirannya akan mengganggu hubungan Indah dan Arman.


Bersama itu, Fathur menitipkan sebuah paper bag berwarna biru langit. Isinya kemeja cewek bermotif kotak dengan biru langit sebagai warna dasar.


Gadis pecinta warna biru itu menerimanya dengan hati riang karena sang mantan kekasih masih menyayanginya. Siapa lagi kalau bukan Indah.


Β 


Ponsel Indah berbunyi, tak ada nama tertera di sana. Nomor baru menghubunginya.


Indah menggeser tombol hijau bergambar telepon karena ingin tahu siapa pemilik nomor baru itu.


Percakapan dimulai, seorang wanita menghubungi Indah. Siska namanya. Siska Tri Wulandari nama lengkap wanita dibalik telepon dan meminta Indah agar meninggalkan Arman.


Indah menanyakan apa alasan Siska meminta agar dirinya meninggalkan Arman.


Siska mengaku bahwa dia adalah kekasih Arman. Namun setelah mereka jadian, Arman bersikap dingin. Siska mencari tau penyebab dinginnya sikap Arman.


Lewat Ari, saudara sepupu Arman. Siska mengetahui penyebabnya. Ari tau jika selain Siska, Arman masih mempunyai kekasih lain yaitu Indah. "Untuk itu, Aku menghubungimu dan meminta agar kamu mau meninggalkan Arman!" Ucap Siska. "Meski begitu kamu tidak mencintainya, 'kan?" Tanya Siska.


Indah menghela nafas panjang. "Baiklah, Aku relakan Arman untukmu!" Jawab Indah datar.


Siska menutup teleponnya setelah mengucap salam penutup yang tentunya sudah dijawab oleh Indah.


Β 


"Wuoy, liburan kok ga jalan - jalan? Rekreasi, refreshing, walking walking atau apalah namanya?" Indah menepuk pelan bahu Ana yang tak menyadari kehadirannya.


"Kamu kemana aja, kok baru nongol?" Belum menjawab pertanyaan Indah, Ana kembali bertanya.


"Aku..... Sleeping sleeping di rumah!" Jawab Indah sambil menggaruk kepalanya.


"Sleeping, Sleeping!" Ledek Ana dan mereka tertawa. "Aku pikir kamu jalan - jalan!" Lanjut Ana.


"Males Ah! Memang sih, Aku dapat uang liburan dari Ayah. Tapi aku males kemana - mana!" Jelasnya.


Indah menceritakan kejadian dirinya di teror seorang wanita bernama Siska tersebut pada Ana. Mulai dari perkenalan mereka hingga Indah merelakan Arman untuk Siska.


Ana menanyakan alasan Indah merelakan Arman dan Indah menjawabnya tanpa ragu.


"Aku menerima cinta Arman karena kasian. Ia menembak ku saat aku baru putus dari mantan pacarku dengan alasan ingin fokus sekolah. Dibalik itu aku masih mencintainya. Aku juga yakin Fa masih mencintai ku meski ia tak pernah mengakuinya!" Jelas Indah.


"Ia berbeda dari Arman. Fa selalu menyayangi ku, menghargai setiap keputusanku, menjagaku meski dari jarak jauh. Dia selalu ada buat aku. Fa selalu mengorbankan perasaannya demi aku!"


"Fa?" Ana penasaran karena Indah tak menyebut nama Fathur dengan lengkap.


"Ya, begitu aku memanggilnya." Sahut Indah.


Diam - diam Ana merekam cerita Indah lewat audio ponselnya kemudian mengirimkannya pada Arman.


🌼🌼🌼


**A good reader akan memberikan jejaknya setelah membaca satu chapter!


Like, vote and komentar ya!!!


Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya!!!πŸ™πŸ™πŸ™**


Β