
“Ayah...... bolehkah aku meminta sesuatu?” Indah berlari kecil menuju Pak Yusuf berada.
“Duduklah dulu!” Perintah Pak Yusuf sembari menepuk tempat kosong di sampingnya. Indah selalu mengikuti keinginan Ayahnya.
“Apa yang kau inginkan, Nak?” Tanyanya setelah gadis kecilnya duduk.
“Aku ingin membeli buku pelajaran Matematika, dengan penerbit Erlangga. Boleh ‘kan!” Indah mengutarakan keinginannya memiliki buku dengan penerbit yang berbeda dengan apa yang ia dapat dari sekolah.
“Boleh! Sangat boleh!” Dengan senyum lebar Pak Yusuf mengabulkan permintaan Indah. Pasalnya anak semata wayangnya itu tak pernah meminta apapun pada dirinya. Jika Indah menginginkan sesuatu, Ia selalu meminta pada Ibunya meski pada akhirnya Bu Sri meminta uang pada Pak Yusuf untuk membeli barang tersebut.
“Apa lagi yang kau inginkan, Sayang?” Tanya Pak Yusuf.
Indah berpikir sejenak. Banyak yang Indah inginkan, namun Ia khawatir ayahnya tak punya banyak uang untuk memenuhi keinginannya.
“Tak ada, Ayah!” Sahut Indah seteah berpikir keras.
Jangan kau pikir Ayah tak mengetahui isi hatimu, Nak! Gumam Pak Yusuf.
“Tunggulah di sini!” Ucap Pak Yusuf kemudian berlalu ke kamar.
Pak Yusuf kembali dan memberikan beberapa lembar uang pada Indah. “Belilah buku yang kau inginkan!” Kata Pak Yusuf.
“Jika perlu, ajaklah Om Abil bersamamu!” Lanjutnya.
“Tapi, Ayah..... Indah menghentikan kalimatnya kala Pak Yusuf memotongnya.
“Belilah buku yang kau inginkan, sisa uangnya bisa kamu buat beli barang lain yang kau mau. Kau juga bisa memberikan sesuatu untuk Om kecilmu itu. Jika masih ada sisanya, bisa kau simpan, bukan!” Pak Yusuf berbicara panjang kali panjang.
“Terima kasih, Ayah!” Setelah mendengar penjelasan sang ayah, Indah pergi menemui Abil.
“Nenek!” Seru Indah saat melihat Nenek Rifa duduk ditempatnya biasa duduk. Indah memeluk neneknya dengan penuh kasih sayang.
Abil berjalan melewati mereka dan duduk di pos polisi yang terletak tak jauh di depan Toko mereka. Indah melepas pelukannya pada Nenek Rifa dan menghampiri Abil.
“Om, anterin Indah beli buku yuk!” Ajak Indah manja. Abil yang tak tega melihat keponakannya itu langsung mengiyakan.
Seperti biasa, Mereka pergi berdua. Meski Indah sudah kelas sembilan dan Abil seorang Mahasiswa, namun mereka tetap akrab. Sedikit pun tak ada rasa ingin menjadi kekasih diantara mereka berdua. Bahkan saat ini, Mereka bagaikan dua bersaudara. Abil kakaknya dan Indah adiknya. Mungkin karena Abil tak punya Adik, sedangkan Indah juga anak tunggal Pak Yusuf sehingga Mereka sama saling membutuhkan.
Ting
Bunyi ponsel Abil pertanda ada pesan masuk. Abil mengambil ponsel di saku celananya.
“Mas Yusuf!” Gumamnya saat melihat notifikasi pesan yang bernama Kakak, namun masih bisa di dengar oleh Indah.
📱Tanyakan pada Indah, apalagi yang ia inginkan!
📱Jangan bilang jika itu perintahku!
Begitulah isi chat Pak Yusuf. Kemudian Abil kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Melihat hal itu, Indah mencoba bertanya pada Abil.
“Apa isi pesan Ayah, Om?” Tanyanya.
“Disuruh pulang cepat!” Sahut Abil berbohong.
“Kita pulang yuk, Om!” Ajak Indah pada Abil setelah ia mendapatkan buku Matematika yang diinginkan.
“Senjata makan tuan, nih!” Gerutu Abil dalam hati. Indah menagih ucapan Abil yang salah ucap tentang pesan sang Kakak pada putri kesayangannya.
“Apa kamu tidak ingin membelikan Om mu ini sesuatu sebagai imbalan karena sudah mengantarmu?” Ledek Abil bermaksud mengalihkan ajakan pulang keponakannya.
Mendengar sindiran Abil, Indah jadi teringat pesan sang Ayah untuk membelikan Abil sesuatu.
Di toko yang sama, Abil membeli sebuah kamus Bahasa Madura berukuran kecil. Namun saat Indah hendak membayarnya, Ia dikejutkan dengan harga kamus yang begitu murahnya.
“Tidak ada, Om masih belum butuh apapun!” Jawabnya.
“Kalau begitu, Om beli kamus yang lebih besar saja!” Indah menyampaikan usulnya.
“Sebenarnya pamanmu ini tidak membutuhkan kamus Bahasa Madura, hanya saja Om ingin memberikannya untuk Nabila dan Adelia!” Sahut Abil.
“Baiklah!” Indah kembali mengambil satu lagi Kamus Bahasa Madura dan membayarnya di Kasir.
“Adakah sesuatu yang kamu inginkan selain Buku Matematika itu?” Abil bertanya lagi pada Indah.
“Sebenarnya aku membutuhkan banyak barang, Om! Tapi aku tak ingin menyusahkan Ayah dan Ibu. Aku khawatir ayah tak punya banyak uang untuk memenuhi semua permintaanku!” Indah menundukkan kepala menyembunyikan kesedihannya.
Setengah memaksa, Abil menanyakan apa saja yang Indah inginkan dan butuhkan.
Hal terbesar yang Indah inginkan adalah kalung emas berliontin love. Tanpa Indah sadari, Abil merekam kata – kata Indah.
Mereka kembali pulang ke rumah Nenek Rifa. Sebelum pulang, tak lupa Indah membeli makanan kesukaan Nenek Rifa. Setelah itu barulah Indah pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian.
Sepulang sekolah, Indah menemui Ibunya. Ia meminta sebuah Kamus Bahasa Inggris.
Sebenarnya Indah telah memiliki Kamus Bahasa Inggris, namun guru menyarankan agar membeli Kamus yang lebih lengkap. Hanya Naura yang memilki Kamus yang dimaksud. Itupun karena Naura memiliki orang tua yang kaya.
“Mintalah pada Ayahmu!” Titah Bu Sri.
“Tapi....” Indah tertunduk lesu.
“Tapi apa?” Tanya sang ibu heran melihat Indah yang tiba – tiba tertunduk.
“Tapi apa Ayah punya uang, Bu?” Indah balik bertanya.
“Ayahmu akan membelikan apapun yang kamu inginkan, asalkan barang itu bermanfaat untukmu!” Jawab Bu Sri sembari membelai lembut rambut panjang Indah.
“Ibu akan menyampaikan nanti pada Ayahmu!” Usul Bu Sri.
“Jangan, Bu! Biar Aku saja yang membeli Kamusnya!” Indah menolak usul ibunya.
“Dari mana Kamu mendapatkan uang untuk membeli kamus, Nak?” Tanya Bu Sri khawatir.
“Aku akan mengumpulkan sisa uang sakuku untuk membeli Kamus Bahasa Inggris.” Jawab Indah tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
Untuk mengurangi rasa canggung diantara dirinya dan Indah, Bu Sri menyodorkan roti bakar isi cokelat kesukaan Indah.
Mereka mengobrol sambil sesekali tertawa kecil ditemani roti bakar buatan Bu Sri.
Di saat sedang asyik mengobrol, Pak Yusuf datang dengan senyum lebarnya.
Pak Yusuf meletakkan sebuah kotak yang dibungkus koran bekas di hadapan Indah membuat Ibu dan anak tersebut menoleh ke arah bungkusan tersebut.
“Apa ini, Yah?” Akhirnya Indah yang buka suara.
“Bukalah!” Ucap pak Yusuf dengan ekspresi yang tiba - tiba dibuat sedingin mungkin.
Perlahan Indah mengambil bungkusan tersebut, karena ia takut melihat wajah dingin sang Ayah. Perlahan pula ia membukanya.
Satu per satu lembaran koran itu dibuka. Tujuh lapis koran menjadi pembungkusnya membuat Indah makin penasaran dengan isinya. Kertas putih menjadi pembungkus terakhir.
“Stop!” Ucapan Pak Yusuf membuat Indah terkejut dan menghentikan aksinya. Pun dengan Bu Sri yang tak kalah terkejutnya dengan Indah.
“Bapak ini, Bikin kaget Ibu saja!” Ucap Bu Sri sembari mengelus dada.
“Sebelum membuka isinya, Ayah ingin bertanya pada Indah. Apakah harapan Indah akan isi dalam kotak itu?” Tanya Pak Yusuf sembari menunjuk kotak yang saat itu masih berada di hadapan Indah dan belum diketahui isinya.
.......
**Kira - kira apa isinya ya, Kak?
Bantu Author menemukan ide tentang isi bungkusan tersebut!
Maaf, Author baru bisa up karena di dunia nyata Author ada di titik jenuh. So, Aku kehilangan arah untuk melanjutkan ceritanya🙏🙏🙏
Terima kasih untuk para reader setiaku!!!
Tetap saling mendukung yach**!?!?!