My Brother

My Brother
PR



Ayo pulang!” Anik dan Ika berada di samping kiri kanan Indah ketika teman – teman sekelas mereka sudah meninggalkan kelas.


“Sebentar lagi ya!” jawab Indah yang tetap fokus pada PR Matematikanya.


“Ck Ck Ck Rajin banget sih!” Anik menggelengkan kepalanya, sedangkan Ika hanya diam karena iya tak banyak bicara. Dari tiga bersahabat itu, hanya Anik yang aktif berbicara. Bisa di bilang Indah baru akan belajar bicara banyak.


“Kalau kalian mau pulang duluan, ga apa – apa!” Indah melihat Anikdan Ika bergantian. “Aku akan selesaikan PR – ku dulu!” Lanjut Indah


“Oh, gitu!” Ika menyetujui usul Indah.


“Yuk!” Ika mengajak Anik pulang.


“Ayo!” Anik mengiyakan ajakan Ika


“Duluan ya!” Pamit Anik dan Ika bersamaan.


“Iya” Jawabnya singkat.


Beberapa langkah setelah meninggalkan kelas, Anik kembali ke kelas untuk menemui Indah disusul oleh Ika.


“Ntar sore aku kerumahmu ya?” Anik berbicara pada Indah yang sudah selesai dengan PR Matematikanya dan mengemaskan barang – barangnya untuk pulang.


“Oke!” Sambil keluar kelas menyusul Anik dan Ika.


“PR mu sudah selesai?” Tanya Ika


“Sudah!” Sahut Indah


“Kalau begitu, aku pinjam buku PR kamu sekarang saja ya?” Anik langsung menanggapi jawaban Indah.


“Ih, kamu tuh ya... Ika belum menyelesaikan kalimatnya langsung di jawab oleh Anik


“Kenapa?” Anik langsung memajukan bibirnya


“Kerjakan sendiri dulu, ntar kalo ada yang belum kamu pahami baru nanya ma Aku atau Indah.” Ika mengingatkan sahabatnya.


“Benar apa yang dikatakan Ika, jawaban PR aku belum tentu semuanya benar. Jadi, cobalah kita kerjakan sendiri dulu!” Indah membenarkan pendapat Ika. Indah mengerti maksud dari perkataan Ika karena mereka berdua sama menginginkan Anik mandiri dalam mengerjakan tugas sekolah, ulangan serta Pekerjaan Rumah yang diberikan oleh guru.


Karakter setiap orang memang berbeda satu sama lain, walaupun banyak kesamaan yang membuat mereka menjadi sahabat.


Reader yang sejak awal membaca novel ini sudah pastimengetahui karakter Indah.



Nurika atau Ika panggilannya, adalah anak yang tidak terlalu pintar namun iya masih mampu mengerjakan sendiri Pekerjaan rumahnya. Tak terlalu banyak bicara jika tidak penting.



Salah satu diantara mereka adalah gadis yang cerewet, agresif dan juga lincah. Kecil, berambut panjang menutupi paha, hitam dan lurus. Dalam hal pelajaran,ia bukan tak pandai namun ia lebih sering tergantung pada temannya atau dua sahabatnya. Dia lah Anik



“Assalamualaikum!” Indah membuka pintu rumah dan mengucapkan salam.


“Waalaikum Salam!” Pak Yusuf sedang duduk di kursi yang biasa ditempatinya saat santai dan menjawab salam. Indah langsung mengambil tangan kanan pak Yusuf dan mencium punggung tangan tersebut.


“Bagaimana Ulanganmu hari ini, nak?” Pak yusuf bertanya sambil mengusap lembut kepala putrinya.


Mendengar pertanyaan Ayahnya, Indah langsung menurunkan tas yang berada di punggungnya dan meletakkan di atas kursi. Membuka tas sekolah dan mengambil selembar kertas, kemudian menyerahkannya pada ayah.


“Ini hasil ulangan Indah minggu kemarin, Ayah!” Pak Yusuf mengambil lembaran yang diberikan oleh Indah. “Untuk hasil ulangan hari ini akan diberikan hari Rabu oleh Ibu Muna!” Indah menjelaskan pada ayahnya.


“Bagus, sayang!” “Tingkatkan!” Pak Yusuf memuji gadisnya dan tersenyum sendiri seolah dirinya salah kata.


Indah juga tersenyum manis mendengar pujian dari sang ayah. “Emang... nilai itu bisa ditingkatkan, yah? Indah bertanya sekaligus berpikir.


Senyum terkembang di wajah Pak Yusuf karena Indah kecilnya mulai kritis pada kesalahan dirinya. “Iya juga ya!”.”Kalau nilai 100 ini ditingkatkan jadi berapa?”


Lanjut dengan rutinitas sehari – hari. Mandi, Shalat Dhuhur, Makan dan juga tidur siang.


Bangun tidur saat Shalat Ashar tiba. Indah langsung menuju kamar mandi untuk Wudhu kemudian Shalat. Usai Shalat,Indah membantu ibu membersihkan rumah.


Setelah itu ia memeriksa kembali PR yang dsudah dikerjakannya sebelum pulang sekolah.


“Assalamualikum, Om!” Anik mengucap salam serta menyapa Pak Yusuf yang sedang merapikan kumis di teras rumah.


“Waalaikum Salam!” Pak Yusuf meletakkan cermin kecil yang dipegangnya dan berdiri dari tempat duduknya.


“Apakah Indah ada di rumah,Om?” Anik mencium punggung tangan Pak Yusuf dan menanyakan keberadaan sahabatnya.


“Iya, ada! Kamu duduk dulu ya, om panggilkan Indah!” Pak Yusuf masukdan memanggilkan anak kesayangannya.


Indah keluar untuk menemui sahabatnya setelah diberitahu oleh Ayah dengan membawa buku PR yang menurut Indah sendiri jawabannya sudah benar semua. Ia membawa buku menemui Anik karena ia tau bahwa tujuan Anik datang ke rumahnya untuk meminjam buku PR-nya.


Sesuai rencananya dengan Ika, Indah tidak langsung meminjamkan buku PR-nya pada Anik melainkan memberikan buku oret - oretan pada Anik.


Flashback On~~~


Sebelum Indah istirahat siang, terdengar dering telepon rumah yang kemudian dijawab oleh Pak Yusuf. Telepon dari sahabatnya, Ika.


Ika mengusulkan agar Indah tidak langsung meminjamkan buku PR-nya pada Anik agar sahabatnya itu tiddak selalu bergantung pada dirinya dan juga Indah.


Mendengar usul Ika, Indah segera memikirkan cara agar Anik mampu mendapatkan nilai yang baik dengan caranya sendiri.


Sebelum Ika mengakhiri pembicaraan di telfon, Indah telah menemukan cara dan menyampaikan pada Ika. Usul Indah disetujui oleh Ika.


Indah mengambil buku oret - oretan dan menyalin lima soal Matematika yang diberikan oleh Pak Heru sang guru Matematika.


Indah juga mengcopy jawabannya ke buku tersebut, namun hanya dua nomor yang ia tulis dengan jawaban benar. Tiga nomor terakhir Indah tulis dengan jawaban yang kurang benar. Buku tersebut akan dipinjamkannya untuk Anik saat datang ke rumahnya untuk menjemput buku PR-nya


“Hai!” Indah menyapa Anik yang mulai mengeluarkan buku PR dari dalam tas yang dibawanya.


“Hai, Indah! Boleh kan kalau aku pinjam Buku PR Matematika punya mu?, Please!” Anik membujuk Indah dengan wajah memelasnya.


“Boleh!” Jawabnya singkat dan menyerahkan buku ditangannya pada Anik.



Dengan senyum termanisnya, Anik menerima buku yang diberikan Indah. Tanpa berpikir, Anik langsung menyalin jawaban Indah.


Ibu datang membawakan teh hangat untuk Indah dan Anik. “Terima kasih, Tante!” Tanpa dipersilahkan oleh Tuan rumah, Anik langsung menyeruput teh yang ibu letakkan diatas meja.



Diam – diam Indah mengambil video saat Anik mengerjakan soal no. 3, 4, dan 5 lewat ponsel miliknya. Video tersebut langsung dikirim via Whatsapp ke nomor Ika.


Ika yang kebetulan juga sedang mengerjakan PR – nya melihat notifikasi WA langsung membukanya. Ia melihat dengan seksama apa yang dikerjakan oleh Anik lewat video yang dikirim Indah.


Ika : Apa Anik sudah pulang?


Indah : Belum!


Ika : Hubungi aku jika dia sudah pulang!


Indah : Oke!




Jangan lupa Like, koment and vote\-nya ya readerku sayang!!!


😘😍🥰