My Brother

My Brother
Cinta segitiga



Seseorang menutup mata Indah dari belakang.


"Ga usah bercanda, Fa!" Cakap Indah yang sudah hafal dengan wangi parfum yang biasa digunakan Fathur.


Fathur melepas tangannya dan duduk di samping Indah. "Bagaimana hubungan kalian?" Tanya Fathur.


"Baik, Fa!" Hubungan Indah dan Arman memang baik, namun semuanya semu di mata Indah. Tak ada cinta dalam hubungan yang hanya berlandaskan rasa kasihan itu.


"Lagi - lagi kau tak pandai berbohong!" Fathur mengacak rambut Indah kemudian menarik kepala Indah bersandar di dadanya.


"Lalu aku harus bagaimana, Fa? Tak mungkin aku menduakan kalian!" Indah menengadahkan kepala melihat wajah Fathur.


Ingin rasanya Indah kembali pada cinta pertamanya, tapi ada Arman yang masih menjadi kekasihnya saat ini.


"Aku tak masalah kau duakan!" Kalimat yang keluar dari bibir Fathur membuat Indah terharu.


"Maksud kamu apa, Fa? Kalian berdua itu saudara, bagaimana perasaanmu saat kau lihat kekasihmu ini berdua dengan Arman saudara sepupumu sendiri?"


"Aku terlalu mencintaimu dan kau tau itu! Aku akan mengalah saat kau berjalan dengan Arman, tapi jangan larang aku menjagamu dari jauh!" Fathur mengungkapkan isi hatinya. "Kita akan menjalaninya seperti dulu!" Lanjutnya.


Indah tak mampu menolak Fathur, Cinta pertama tak akan pernah terhapus kan. Cinta Arman tak mampu menggantikan nama Fathur di hati Indah.


Butuh beberapa menit untuk berpikir. Indah menerima kembali cinta Fathur. "Makasih ya!" Ucap Fathur meraih kedua tangan Indah dan mencium punggung tangan itu.


 


Dua orang teman menunggu Indah tanpa tahu jika Fathur menemani Indah. Mereka duduk bernaung di bawah pohon jati beralaskan sandal masing - masing.


Di situlah Ari menyatakan cintanya pada Ana. Ana menolaknya dengan halus. "Aku ga ingin pacaran dulu, Ri!" Tolaknya. "Yang aku butuhkan adalah sosok laki - laki yang bisa menjaga dan melindungi ku lebih dari teman!" Lanjut Ana.


"Dengan menjadi kekasihmu, Aku akan menjaga dan melindungi mu, Ana!" Cakap Ari.


"Bukan itu maksud Aku, Ri!" Ana menunduk membuat Ari bingung dengan maksud Ana. "Aku ingin seorang kakak kandung laki - laki yang bisa melindungi dan menjagaku!"


Sangat tidak masuk akal seorang anak tertua menginginkan kakak. Ari yang seharusnya patah hati, malah tersenyum mendengar keinginan Ana.


"Kamu aneh! Mana ada orang menginginkan kakak kandung sementara dirinya adalah anak tertua? Yang ada tu, anak pertama perempuan menginginkan adik laki - laki atau sebaliknya. Anak laki - laki menginginkan adik perempuan, seperti aku!" Ari terkekeh.


"Kau tidak punya saudara perempuan?" Tanya Ana ingin tau.


"Kakakku laki - laki, Ia over protektif terhadapku. Aku dilarang bermain keluar rumah kecuali bersama Arman atau keluar rumah dengan alasan mengerjakan tugas sekolah! Aku menginginkan adik perempuan, tapi itu tidak mungkin karena orang tuaku ..." Ari menunduk tak melanjutkan kata \- katanya.


"Kalau begitu, kita jadi saudara aja! Gimana menurut kamu?" Ana tersenyum menghibur Ari. "Aku ingin kakak laki - laki dan kamu menginginkan adik perempuan!" Senyum Ana makin melebar. Sedangkan Ari mengangguk menyetujui usul Ana.


Indah dan Fathur berdiri tepat di belakang mereka. Karena sudah siang, mereka kembali ke rumah.


 


Sering kali Arman menghubungi Indah, namun Indah tetaplah seorang gadis dengan karakter yang sudah dibentuk oleh Pak Yusuf.


Saat belajar, Indah tak ingin diganggu oleh siapapun. Ia selalu mematikan ponselnya agar tak ada orang yang menghubunginya.


Kalaupun ada keluarga lain yang membutuhkan bantuan Indah, maka mereka akan menghubungi nomor ponsel Pak Yusuf.


Begitu pula dengan Ana dan Irma serta teman - teman yang lain. Jika mereka ada perlu dengan Indah, maka mereka akan datang ke rumah.


Malam itu, Musta datang ke rumah Indah. Ia menghampiri Indah yang sedang duduk di teras rumahnya. "Waduh, si kutu buku! Tiap aku ke sini, pasti kamu lagi sibuk belajar." Meski begitu, Musta tetap saja duduk di dekat Indah.


"Aku ga lagi belajar, sekedar baca aja kok!" Jawab Indah sembari menutup buku dan meletakkan di atas meja. Indah menyodorkan cemilan yang menemani waktu belajarnya ke hadapan Musta.


"Ayah kamu mana?" Tanya Musta sembari mengisi mulut dengan keripik singkong rasa sapi panggang.


"Ayahku lagi pergi ke rumah nenek!" Sahut Indah.


"Ibu kamu?" Tanyanya lagi.


"Ada, lagi nonton TV!" Jawab Indah. "Kamu kenapa sih, nanyain mereka? Ada perlu?" Indah balik bertanya.


"Arman ada di rumahku, dia mau ke sini. Boleh tak?" Musta mengecilkan suaranya.


"Tapi kasian dia!" Tawar Musta.


"Kamu boleh bawa dia kesini, tapi aku ga akan menemuinya. Kalian ngobrol aja berdua di sini dan aku akan belajar di dalam kamar!" Jawab Indah tegas.


Musta mengambil gambar Indah sedang membuka buku kemudian mengirimkannya pada Arman dengan Caption "Indah ga mau di ganggu!"


"Aku pulang!" Arman membalas chat dari Musta. Lalu ia pamit pada Pak Surya yang sedang duduk menemaninya sejak Musta pergi ke rumah Indah.


"Lagi apa?"


"Bolehkah Aku mengganggumu?"


Dua chat di atas selalu di kirim Fathur jika dirinya rindu dan ingin bertemu dengan Indah.


"Lagi nunggu kamu ganggu aku!" Balas Indah. Fathur melompat girang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan lollipop.


"Kita ketemu di lapangan basket ya!" Chat nya lagi. Tanpa menunggu balasan dari Indah, ia beranjak ke kamar mandi dan bersiap - siap untuk bertemu wanitanya.


Fathur membawa bola basketnya. Kencan mereka kali ini diisi dengan bermain basket.


Ditempat lain,


Arman bersiap dan menuju rumah Ari. Mereka datang ke rumah Ana. Di sana Arman meminta bantuan Ana lagi.


Ana menghubungi Indah lewat ponselnya. Namun tak ada jawaban.


Mereka datang ke rumah Indah. Hanya Pak Yusuf yang ada di rumah karena Bu Sri sedang ke Ibu kota untuk berbelanja bahan dan perlengkapan menjahitnya.


"Apa Indah ada di rumah, Om?" Tanya Ana pada Pak Yusuf.


"Indah ya?" Pak Yusuf pura - pura berpikir, padahal beliau tau kemana Indah pergi. "Indah..... Kemana ya Indah?" Masih dengan aktingnya. Memang Pak Yusuf senang bercanda dengan teman - teman Indah.


"Tadi, Indah pamit sama Om. Katanya mau main Basket!" Lanjutnya.


Ana pun pamit untuk menyusul Indah ke lapangan basket. Pak Yusuf mempersilahkan.


Indah sedang asyik bermain basket bersama Fathur. Hanya ada mereka berdua di sana padahal ini hari Minggu.


Ana ingin mendekati Indah namun dilarang oleh Arman. "Kita perhatikan dari sini saja!" ucapnya.


Ana dan Ari saling pandang setelah melihat wajah kecewa Arman. "Sabar, Bro!" Ari menepuk pelan pundak Arman.


"Mungkin memang salahku, terlalu memaksakan cinta ini!" Arman terduduk di hamparan rumput lapangan bola tak jauh dari lapangan basket.


"Kalau kamu mau ke sana, pergilah! Tapi jangan katakan kalau kamu datang bersama kami!" Pandangan Arman mengarah pada Ana. Ana menuruti permintaan Arman.


Saking asyiknya bermain basket bersama Indah dan Fathur. Ana lupa jika dirinya datang bersama Arman dan Ari.


"Pulang yuk, Fa!" Ajak Indah.


"Ayo, sayang!" Betapa terkejutnya Ana mendengar kata sayang lolos dengan mulus dari bibir Fathur.


"Ayo pulang!" Indah membangunkan Ana dari lamunannya.


"Eh iya! Kalian duluan aja, aku masih mau istirahat di sini!" Jawab Ana. Ia teringat akan keberadaan Ari dan Arman yang sedari tadi menunggunya.


Setelah kepergian Indah dan Fathur. Ana beranjak berdiri namun sebelum pergi ia melihat benda mengkilap di bawah ring.


"Apa itu?" Tanyanya dalam hati.


Bersambung . . . .


**Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like n vote. Koin receh sangat berharga buat author!!!


Komentar di Chapter ini sangat ditunggu!!!


Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang melaksanakannya🙏🙏🙏**