
PERINGATAN : Ada adegan 20+ nya, tolong skip adegan terakhir jika kalian masih dibawah umur. Terimakasih, dan mohon pengertiannya.
_____________Happy reading____________
Naomi terpaku di tempatnya berdiri kala melihat Leon sudah berada tepat di belakangnya, gadis itu baru saja selesai mandi dan akan berganti baju. Namun, ia lupa menutup pintu sehingga kejadian memalukan ini terjadi.
Gadis itu melihat Leon mendekat setelah menutup pintu kamar Naomi, ia berjalan dengan tatapan mesum seakan ingin menerkam Adiknya sekarang juga.
Ia sangat ketakutan. Leon berbeda. Dia bukan Kakak yang selama ini Naomi kenal.
"Mph!" Leon melumat bibir Naomi. Gadis itu berontak. Ia mendorong Leon, jantungnya berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya.
Naomi berontak sekuat tenaga, gadis itu menendang aset Leon dengan cukup kuat disaat Kakaknya itu lengah. Leon mengumpat dan meringis kesakitan hingga ia melepaskan cengkramannya pada Naomi.
Naomi berlari masuk ke kamar mandi, menguncinya dengan rapat dan menangis sembari bersandar pada pintu yang tertutup. Ia takut Kakaknya berbuat nekat.
Gadis itu menunggu selama sepuluh menit dengan was-was, hingga terdengar suara pintu terbuka dan kemudian tertutup. Terdengar juga langkaha kaki yang perlahan menjauh dari kamar Naomi. Gadis itu menghembuskan napas lega.
***
Ricard menatap mata putra sulungnya dengan tatapan tajam seakan tengah menguliti Leon. Sedangkan yang ditatap hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Apa maksut kamu ngomong begitu ke Media? Apa kamu sengaja ingin mencoreng nama baik keluarga? Apa kamu sengaja ingin membuat Papa malu dengan aib yang kamu buat? Kamu nggak mikir tentang tanggapan mereka gimana sama keluarga kita?" tanya Ricard beruntun tanpa memberi jeda pada Leon untuk menjawab. Ricard sangat marah, dan itu terlihat jelas dari nada bicaranya yang keras dan tajam.
"Papa ingkar janji ke Leon, dan Papa harus tau kalau Leon nggak bisa di hianati." Leon menjawab tak kalah ketus dari Ricard.
"Apa maksut kamu, hah?" tanya Ricard emosi. Tamara menenangkan suaminya dengan cara memegang lengannya, Ricard tahu istrinya tengah menahannya agar tak memukul Leon, untuk itulah ia menurut.
"Kita udah buat kesepakatan sebelumnya, tapi Papa melanggar kesepakatan yang kita buat! Mau Papa sebenernya apa?!" tanya Leon sedikit keras. Ricard yang tersulut emosi segera menarik kerah baju Leon dan akan memukulnya jika saja lengannya tak di pegang oleh Tamara.
"Papa yang udah maksa Leon untuk berbuat nekat. Jangan nyesel, Pa, kalau Leon berbuat sesuatu ke Naomi. Leon udah meminta Naomi baik-baik ke Papa, tapi ini yang Leon dapet. Jadi, kita liat aja siapa yang akan menang. Aku atau keegoisan Papa!" Leon menampik lengan Ricard yang masih mencengkram kerah bajunya. Ia muak dengan sosok Ricard yang terlalu egois dan tak pernah memikirkan perasaan anak-anaknya yang tersiksa.
Leon pergi dari sana dan segera memacu mobil Koenigsegg CCXR Trevita miliknya, ia mengendarai dengan kecepatan tinggi seolah ingin meluapkan kekesalannya pada Ricard dan seolah tak peduli lagi dengan keselamatannya.
***
Hari pernikahan Naomi dan Tristan terhitumg tinggal 9 hari lagi menuju hari H. Naomi terlihat semakin bimbang dan menatap kosong pada gaun penganting yang ada di kamarnya.
Mungkinkah Naomi akan bahagia kala ia menikah dengan Tristan nanti?
Ataukah ia akan di selingkuhi Tristan seperti yang terjadi sekarang ini?
Entah kenapa ia bisa salah menilai Tristan yang dulu terlihat begitu baik dan pengertian. Ternyata semuanya salah! Tristan tak ubahnya seorang pria bejat yang tengah memakai topeng lelaki idaman.
***
Naomi berjalan di trotoar jalan, ia baru saja membeli obat maagh di apotek yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Ricard. Karena stres memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Tristan, membuat Naomi berjalan melamun dan tak sadar sebuah mobil mewah berhenti di sampingnya.
Leon turun dari sana, membuat Naomi memucat takut dan hendak lari meninggalkan Kakaknya. Namun, secepatnya Leon mencengkram tangan Naomi, lelaki itu menatap Adiknya dengan tatapan lembut hingga membuat Naomi merasa Leon telah kembali menjadi Kakaknya yang dulu.
"Naomi, Mama ada di apartemen Kakak," ucap Leon yang membuat Naomi bingung, ia menatap Kakaknya seakan menyangsikan ucapan Leon.
"Mama di apartemen Kakak? Bukannya Mama lagi keluar sama Mommy-nya Tristan buat ketemu sama WO?" tanya Naomi bingung.
"Iya, tapi tadi Mama ngeluh sakit waktu beliau ngunjungin Kakak. Sekarang Mama lagi istirahat di apartemen, dia nunggu kamu." Leon berusaha meyakinkan Naomi. Terlihat raut khawatir dan panik yang kentara di wajah gadis itu, ia sangat menyayangi Tamara.
"Kak, kita bawa Mama ke rumah sakit yuk, aku nggak mau Mama kenapa-napa," ucap Naomi panik. Gadis itu akan mengambil ponselnya dan menghubungi Ricard, akan tetapi Leon menghentikannya.
"Kakak udah hubungin Papa, Dek, Papa udah jalan ke apartemen Kakak kok," ucap Leon mencegah Naomi menghubungi Ricard.
Gadis itu mengangguk dan buru-buru masuk dalam mobil, ia sangat mencemaskan kondisi Tamara hingga tak melihat senyum iblis di bibir Leon.
***
"Ma-mama nggak ada ... Kakak bo-ong sa-ma aku?" tanya Naomi ketakutan, ia bergerak mundur kala Leon bergerak maju menhampirinya.
Gadis itu tersudut di pojok ruang tamu, ia bisa melihat Leon menjilat bibir merahnya sendiri dengan tatapan begitu bernafsu pada Naomi. Gadis itu bergidik ngeri melihat sang Kakak yang seperti seorang pria mesum, lututnya sekaan lemas ketika Leon membuka gesper miliknya.
Naomi menggeleng mengisyaratkan untuk tak melanjutkan Leon membuka kemejanya.
"Kenapa? Kamu nggak mau main sama Kakak? Atau kamu lebih suka lelaki lain yang menyentuh kamu?" tanya Leon seolah merendahkan Naomi.
Gadis itu menatap Leon marah, ia tak suka dengan perkataan Leon yang seolah mengatakan dirinya seorang wanita yang menjajakan tubuhnya.
"Aku cuma mau nyerahin kesucian aku buat Tristan, suami aku kelak. Bukan orang lain!" jawab Naomi dengan nada ketus. Ia muak dengan tingkah Kakaknya yang semakin bejat.
"Kamu mau nguji kesabaran Kakak rupanya," ucap Leon dengan senyum meremehkan. Naomi menatap Kakaknya dengan pandangan nyalang, ia tak akan menunjukkan ketakutannya pada Leon.
"Aku mau pulang, aku nggak punya urusan sama Kakak!" hardik Naomi ketus.
GREB!
Leon mencengkram tangan Naomi dan menyeret Adiknya menuju kamar lelaki itu, mengunci rapat dan menghempaskan Naomi di ranjang berukuran king sizenya.
Gadis itu kalut, ia cemas dan bulir air mata mulai membasahi pipinya tanpa ijin. Kini ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya.
"Akh!" Naomi memekik kala Leon dengan cepat menindihnya, mengikat tangan Naomi ke atas dengan dasinya, juga merobek baju Naomi dan membuat gadis itu berteriak memilukan.
"Kakak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan senang hati, tapi dengan keadaan polos tanpa busana!"
"Akh!" Naomi kembali memekik kaget kala Leon menarik bhnya dan merobek celana dalam gadis itu. Naomi menangis pilu, ia tak mungkin berlari keluar dan pulang ke rumah dalam keadaan tanpa busana.
Namun, jika ia bertahan di sini maka ia tak akan bisa memberikan kesuciannya pada Suaminya nanti. Semua pilihan tak ada yang menguntungkan untuknya.
Leon dengan penuh nafsu mencium Naomi meski Adiknya itu menolak bahkan mengumpat pada Leon, menggigit, melumat bibir Naomi hingga bengkak, bahkan mencekik Naomi hingga sang Adik nyaris kehabisan napas.
"Kakak akan merestui pernikahan kamu dan Tristan ... setelah Kakak merusak kamu malam ini, Sayang. Jangan menangis, jangan bersuara apalagi menjerit, atau siksaan kamu akan lebih menyakitkan dari ini!" Leon segera turun dari ranjang, mengambil dasi dan lakban.
Kemudian ia kembali pada Naomi yang kedua tangannya terikat pada kepala ranjang. Segera Leon dengan gerakan kasar menutup kedua mata Naomi dengan dasi biru tua miliknya, juga menutup mulut Naomi dengan lakban yang tersedia.
Leon memulai aksinya, lelaki itu tanpa ampun menampar, menggigit, mencekik bahkan mengatai Naomi dengan panggilan jalang.
Naomi merasa sakit hati dan hancur, Kakak yang selama ini ia sayangi menjelma menjadi iblis mengerikan yang tanpa ampun menyiksa fisiknya.
Naomi menjerit tertahan dengan begitu menyayat hati kala Leon menghujam dirinya tanpa perasaan. Kesucian yang selama ini berusaha ia jaga, kini terenggut paksa oleh Leon, Kakaknya sendiri.
Darah yang merembes dari kewanitaan Adiknya sama sekali tak digubris lelaki itu, ia dengan kasar memperkosa Naomi berulang kali hingga gadis itu hilang kesadaran.
Luka fisik dan luka hati Naomi tak bisa digambarkan lagi seberapa sakitnya, gadis itu tak sadarkan diri saat Leon memasukkan asetnya pada liang belakang Naomi. Kesakitan yang teramat sangat tak sanggup lagi ia tahan, membuat semuanya terasa berputar, menggelap, hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Leon tertawa terbahak melihat kondisi Adiknya yang sekarat. Tubuhnya dipenuhi lebam juga terdapat gigitan Leon di kulit Naomi yang mengeluarkan darah.
Belum lagi darah yang keluar bersama cairan milik Leon dari liang kenikmatan juga anus Adiknya, membuat Leon semakin menertawai nasib buruk Naomi karena keegoisan Ricard.
"Kalau sudah begini, apa Papa masih tidak mau menyerahkan Naomi untuk Leon? Anak kesayangan Papa udah rusak sekarang, dan nggak akan ada laki-laki manapun yang bersedia menerima barang bekas sepertinya, Papa." Leon dengan kejam mengambil ponselnya dan mengambil gambar memalukan Naomi. Ia tertawa terbahak sebelum melepas lakban dan melumat bibir Adiknya dengan beringas.
Ia kembali memperkosa Naomi yang sudah berada diambang kematian. Leon tak perduli, jika memang ia tak bisa memiliki Naomi, maka orang lain tak akan bisa memilikinya.
____________Tbc.