My Brother

My Brother
13



Naomi kini tengah merengut kesal lantaran pagi ini Leon menyita ponselnya, Leon bahkan tak mengijinkan Naomi pulang sebelum Leon menjemputnya di sekolah. Gadis itu hanya duduk diam di samping Leon yang tengah konsentrasi pada jalanan di depannya. Hingga akhirnya mereka sampai di sekolah.



Leon seakan ingin terbahak melihat Adiknya mengerucutkan bibirnya seperti bebek, ingin rasanya Leon menyentil bibir itu hingga Adiknya menangis seperti biasanya.



Leon paham betul apa penyebab Naomi seperti itu, tak lain adalah ponsel sang Adik yang ia sita.



"Kak, kok tumben nggak pakek masker? Ntar di kerubungin temen-temen aku loh!" ucap Naomi ketus, ia sebenarnya malas jika teman sekolahnya tahu bahwa Leon adalah Kakaknya. Kejadian ketika SMP membuatnya trauma.



"Kamu tenang aja, nanti aku pakek kok." Naomi berpikir kemana panggilan 'Kakak-Adik' yang selama ini selalu Leon ucapkan. Sekarang malah berubah menjadi 'aku-kamu', benar-benar terasa menggelikan di telinga Naomi.



"Kak, aku nggak mau ya kalau sampai temen-temen aku lihat Kakak. Jangan sampai mereka tau soal hubungan kita," ucap Naomi mewanti-wanti Leon. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, ia terasa ambigu dengan ucapan terakhir Naomi.



"Kita kayak lagi pacaran diam-diam, ya? Aku suka deh hubungan kayak gini sama kamu." Naomi refleks memepetkan tubuhnya ke pintu mobil, ia sedikit merinding mendengar ucapan Leon. Entah ke mana Kakaknya itu menghayal, pikir Naomi.



"Kan kita saudara, Mas. Jangan banyak menghayal deh," ucap Naomi sedikit meremehkan Leon. Lelaki itu tersenyum sedikit mesum ke arah Naomi, tepatnya ke bibir gadis itu.



Naomi yang tahu ke mana arah pandang Leon, segera menutup dadanya dengan tas dan menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Beruntung kini mereka sudah berhenti di depan gerbang sekolah.



"Kakak mesum! Naomi bakalan aduin ke Mama!" ancam Naomi yang membuat Leon terkekeh pelan, ia semakin senang mengerjai Adiknya yang dirasa lucu.



GREB!



Naomi membelalakkan matanya kala Leon mencengkram lengan kecilnya, gadis itu menelan salivanya susah payah. Dan tatapan Leon semakin terlihat mesum di mata Naomi.



"Mama," lirih Naomi ketakutan kala Leon semakin memajukan tubuhnya, jantungnya berdetak semakin tak karuan melihat wajah tampan Kakaknya.



"Kalau kamu berani ngadu ke Mama, nanti aku bakalan cium kamu di sini biar temen-temen kamu tau kalau kamu sudah berani mencium cowok. Gimana?"



GLEK!



Naomi segera menggelengkan kepalanya cepat, ia tak mau dicap gadis mesum di sekolah. Leon segera memundurkan tubuhnya dan duduk santai seperti semula.



"Kakak, nggak jadi cium aku?" tanya Naomi polos. Jika saja Leon tengah minum sudah pasti ia akan tersedak akibat perkataan polos Adiknya. Lelaki itu memandang Naomi tajam.



"Jadi, kamu mau dicium sama aku ya?"



BLUSH!



Wajah Naomi merah padam ketika sadar akan pertanyaannya tadi. Gadis itu refleks menggigit ujung telunjuknya sebelum keluar dari mobil Leon dan masuk ke area sekolahnya.



Leon tersenyum membayangkan betapa polosnya Naomi. Kini ia sadar bahwa gadis yang benar-benar ia cintai adalah Naomi, Adiknya. Namun, ada banyak rintangan yang akan menghalangi hubungannya dan naomi, terutama para fans fanatik Vebra dan Leon yang pasti akan membully Naomi jika Leon terang-terangan menjalin hubungan dengan sang Adik.



Ia sungguh tak mau jika terjadi sesuatu yang buruk pada Naomi. Leon harus melindungi Naomi dengan mempertahankan hubungannya dengan Vebra yang ia jadikan tameng agar Naomi tak terkena masalah, untuk sementara.




***




Naomi kini tengah memikirkan perbuatan aneh Leon padanya akhir-akhir ini, ciuman, panggilan Leon yang tanpa embel-embel Kaka-Adik lagi, juga perasaannya sendiri yang kini semakin tak menentu.



Beberapa waktu lalu ia memang sudah melupakan Leon, namun sekarang perasaan terlarang itu seolah muncul kembali di hatinya. Naomi takut jika perasaan itu dibiarkan tumbuh subur, justru rasa sakit yang akan ia terima.



"Ngelamunin apa, Nom?" Tristan yang tiba-tiba muncul mengagetkan Naomi yang tengah melamun di ruang kelasnya.



"Gak ada." jawab Naomi singkat. Tristan kemudian duduk di samping Naomi, lelaki itu memandang si gadis dengan intens.



"Naomi, gue pengen ngomong sesuatu sama lo." Tristan kemudian meraih tangan Naomi dan digenggamnya dengan erat.



"Gue ... gue cinta sama lo, Naomi. Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Tristan dan sukses membuat Naomi kehilangan kata-katanya. Ia berpikir, mungkin ini jalan satu-satunya agar ia tak menaruh perasaan terlarang lagi pada Leon.




"Lo nggak perlu jawab sekarang kalau lo belum siap," ucap Tristan yang menangkap raut kebingungan di wajah gadis itu. Naomi menunduk dan memainkan jemari lentiknya, ia sudah bertekat akan menerima Tristan dan melupakan Leon. Ia tak ingin terlalu berharap pada Leon yang bisa saja akan menyakitinya seperti dulu.



"Gue mau jadi pacar lo!" jawab Naomi yang membuat Tristan memandangnya tak percaya, namun anggukan dan senyum tulus gadis itu membuat Tristan bersorak senang. Lelaki itu kemudian memeluk Naomi dengan erat, ia berjanji akan setia hanya untuk Naomi.



"Makasih, Naomi. Aku janji akan buat kamu bahagia."




***




Tristan mengajak Naomi untuk pergi jalan dengannya, awalnya Naomi menolak karena takut Leon akan marah jika mereka ketahuan. Namun, Tristan terus memaksa dan mengajak Naomi pergi sesaat sebelum Leon datang menjemput Naomi.



Sedangkan Leon kini tengah kebingungan mencari Naomi di seluruh area sekolah, lelaki itu mengenakan masker dan hoodie agar identitasnya tak diketahui oleh para murid SMA tersebut.



Beruntung ia bertemu dengan Maura yang tengah berjalan menuju parkiran sekolah. Leon dengan tergesa menghampiri Maura dan menanyakan ke mana perginya Naomi, lelaki itu sangat khawatir tentang keadaan Naomi, ia takut jika gadis itu terkena masalah seperti ketika masih di SMP dulu.



"Maura," panggil Leon yang membuat Maura menghentikan langkahnya. Leon menghampiri sahabat Adiknya yang diam mematung tak beranjak dari tempatnya berdiri.



"Ada apa, Kak?" tanya Maura yang langsung tahu bahwa lelaki yang berdandan mirip dengan penculik itu adalah Leon, seorang artis ternama dan juga Kakak dari Naomi, sahabatnya.



"Apa kamu tau di mana Naomi?" tanya Leon cepat, pasalnya kini ia menjadi bahan tontonan mirid yang berlalu lalang di sekitar mereka.



"Naomi? Dia udah pulang dari tadi, Kak!"



"Pulang?" tanya Leon kaget, "sama siapa dia pulang?" sambung lelaki itu.



"Dengan Tristan." Maura yang tak mengetahui apapun menjawab dengan santai.



Leon yang kesal mengepalkan tangannya kuat. Ia segera pergi dari sana dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia merasa sangat cemburu sekarang.




***




Naomi tersentak kaget kala seseorang melayangkan tinjunya pada Tristan hingga kekasihnya itu tersungkur di lantai mall. Tristan menatap lelaki yang telah memukulnya itu dengan nyalang, sedangkan Naomi, lengannya sudah dicengkram oleh lelaki tersebut yang tak lain adalah Leon.



"Kenapa Kak Leon mukul saya? P salah saya?" tanya Tristan sedikit membentak. Leon mendecih kesal kala suara keras Tristan menarik perhatian pengunjung mall yang kepo dan gak jarang yang mengabadikannya dengan kamera ponsel. Benar-benar pengunjung mall yang aneh, melihat orang hendak baku hantam, bukannya dilerai justru mereka sibuk merekam kejadian itu untuk segera di upload ke medsos mereka.



"Kamu masih tanya apa kesalahan kamu? Berapa kali saya bilang sama kamu untuk jauhi Adik saya, tapi kamu malah membawanya pergi dari sekolah tanpa seijin dari saya! Apa kamu fikir tindakan kamu itu benar? Naomi masih menjadi tanggung jawab saya, jadi seharusnya kamu punya etikat baik untuk meminta ijin membawa Naomi pergi pada saya. Bukan seperti ini!" Leon kini sudah marah besar hingga ia tak sadar bahwa sekarang ia tak memakai masker sama sekali, sehingga para pengunjung mall bisa mengenali wajahnya dengan sangat mudah.



"Kak, udah! Malu," lirih Naomi yang kini merasa malu akibat ulah Leon.



Lelaki itu menarik paksa Naomi dari mall dan membawanya pulang ke ruman.





_________Tbc.