
Jangan mencari seseorang yang sempurna, karena orang yang kita butuhkan adalah seorang yang bisa membuat kita sempurna.
🌹🌹🌹
Diam - diam Ana merekam cerita Indah lewat audio ponselnya kemudian mengirimkannya pada Arman.
Ari datang ke rumah Ana. Ana memperkenalkan Ari pada Indah. Saat Arman mencari tau tentang Indah, Ana dan Anik lah yang menjadi tempat Arman menggali informasi tentang Indah sekaligus teman curhatnya. Arman seringkali mengajak Ari pergi ke rumah Ana dan Anik.
Setelah berkenalan, mereka bertiga mengobrol. Tak peduli dengan masalah yang terjadi antara Indah dan Arman karena tujuan Ari datang sendiri tanpa Arman adalah untuk menyatakan cinta pada Ana.
Namun Ari mengurungkan niatnya karena waktunya kurang tepat. Ada Indah di rumah Ana. Ari malu menyatakan cinta ketika ada orang lain di dekatnya.
"Ana, Aku pulang ya!" Indah melihat kegelisahan Ari yang sejak tadi melihat Indah dan Ana secara bergantian.
"Loh! Mau kemana, Ndah? Ini kan masih jam Delapan!" Ana melihat jam di tokonya. Biasanya Indah pulang saat jam menunjukkan pukul 20:30 malam sehingga ia bisa sampai di rumah tepat waktu yaitu jam sembilan.
"Aku kangen sama pacarku, Aku mau call him! Tapi ga di sini, takut kalian denger!" Ledek Indah pada Ana dan Ari sambil mengayuh sepedanya. "Assalamu'alaikum!"
"Waalaikum Salam!" Jawab Ana dan Ari serempak.
Ari pun pamit pulang mengikuti Indah. Tapi sayang seribu sayang, Ari tak mampu mengejarnya.
Sementara Arman frustasi mendengar audio rekaman suara Indah yang dikirim oleh Ana.
Seratus delapan puluh derajat sikapnya terhadap Indah berbanding terbalik dengan sikap Fathur.
Keesokan harinya, sepulang sekolah Ari menunggu Indah di depan gang rumahnya.
"Ari!" Indah terkejut melihat Ari yang duduk di atas sepedanya. "Ada apa kamu di sini?" Lanjut pertanyaan Indah.
"Aku ada perlu sama kamu!" Jawab Ari jelas dan padat.
"Ya udah, kita masuk yuk!" Memang Indah mudah akrab dengan orang lain yang sudah di kenalnya..Ia meminta Ari menunggu sejenak di teras rumahnya. Tak lama kemudian datang Bu Sri membawa dua gelas es teh untuk mereka. "Silahkan di minum, Nak!" Ucap Ibu pada Ari sedangkan Indah masih mengganti baju seragamnya. "Terima kasih, Bu!" Jawab Ari kemudian menyeruput es teh.
Ari menceritakan perihal dirinya yang jatuh cinta pada Ana. Ari juga bertanya bagaimana sifat Ana.
"Ana ga pernah pacaran, mungkin tidak akan pernah. Kalaupun iya, mungkin ia akan pacaran setelah menikah!" Jawab Indah.
"Ana hanya akan dekat dengan lelaki sebagai sahabat atau dia anggap sebagai kakak saja, Ari!" Lanjut Indah tentang Ana. Ari mengangguk mengerti namun dari wajahnya, ia masih menyimpan sebuah harapan bahwa Ana akan membalas cintanya.
"Aku tak kan menghalangi kamu mencintai Ana! Mungkin itu pemikiran aku saja! Cinta bisa datang dan pergi kapan saja! Kalau kamu yakin, kenapa tidak di coba aja dulu!" Usul Indah.
"Baiklah, Aku akan mencoba menyatakan cintaku pada Ana!" Jawab Ari yakin.
Ari pamit pulang membawa keyakinan cintanya tidak akan ditolak oleh Ana.
Â
Terjadilah pertukaran pasangan, bukan untuk selingkuh atau yang lain. Melainkan sebagai sahabat atau teman curhat. Indah dan Ari sementara Arman dan Ana.
Di sekolah, Indah sama sekali tidak memikirkan Arman. Indah juga sama sekali tidak pernah menceritakan bahkan menyinggung tentang Arman pada Ana kecuali Ana yang menanyakan lebih dulu.
"Bukankah dia sudah punya kekasih yang namanya Siska itu!" Jawab Indah ketus.
"Tapi apa kamu ga mau dengar penjelasan dia dulu?" Tanya Ana heran dengan sikap Indah yang menggantung Arman, menurutnya.
"Apa lagi yang harus dijelaskan, Ana? Toh semuanya sudah jelas!" Indah bersikukuh dengan pendiriannya.
"Kau hanya mendengarkan pengakuan si br\*ngs\*k Siska tanpa mau denger penjelasan Arman! Gitu?" Ana menaikkan suaranya. Baru kali ini dua bersahabat itu adu mulut.
"Baiklah kalau begitu, buat janji Aku bertemu Arman hari Minggu pagi!" Indah menarik nafas panjang dan membuat keputusan.
Ana mengirim chat pada Arman. Membuat janji sesuai hari yang ditentukan oleh Indah. Ana juga menghubungi Ari agar ketika Indah dan Arman bersama, Ari bisa menemaninya.
Hari Minggu pagi.
Dengan semangat empat lima, Arman bersiap menemui Indah.
Di mulut goa, tempat mereka bertemu. Indah bersama Ana. Arman datang bersama Ari. Arman tidak mau kejadian beberapa waktu lalu kembali terjadi pada Indah. Ia mencoba mengajak Indah ke rumahnya. Indah mengikuti keinginan Arman dan diikuti Ana dan Ari.
Di rumah Arman, Fathur sedang membantu Ayah Arman mengecat rumah. Netra mereka bertemu. Begitu lapang hati Fathur. Ia mengangguk sambil tersenyum mengerti hubungan mereka. Indah menarik ujung bibirnya untuk tersenyum meski terpaksa.
Arman mempersilahkan Indah, Ana dan Ari masuk. Ibu Arman menyuguhkan minum dan makanan ringan. "Maaf, Nak! Hanya ini yang kami punya!" Ucap Ibu Arman sembari meletakkan minum nya di atas meja.
"Terima kasih, Bu! Maaf merepotkan!" Sahut Indah.
"Tak apa, Nak! Silahkan!" Ibu Arman mempersilahkan kemudian masuk menuju dapur. Ana mulai menikmati camilan tersebut tapi tidak dengan Indah.
"Hey, keluar yuk!" Ajak Ari pada Ana agar Arman bisa berbicara dengan leluasa pada Indah.
Dua sejoli Ana dan Ari bergabung dengan Fathur, Ayah dan saudara - saudara Arman yang sedang istirahat dari pekerjaannya.
"Arman bawa pacar, Ari juga! Kamu kapan bawa kekasihmu, Thur?" Ledek kakak tertua Arman.
"Hm! Belum waktunya, Kak! Aku kan masih kecil!" Fathur tersenyum.
"Jarimu yang kecil!" Sahut kakak Arman. Mereka yang di luar tertawa bersama
Arman pamit sebentar keluar pada Indah. Di luar ia menarik Fathur menjauhi yang lain. "Aku harap kau mau melepas Indah untukku!" Arman menekan kalimatnya.
"Asal kau tak menyakitinya!" Fathur tersenyum kecut.
Arman kembali menemui Indah. Meluruskan hubungannya dengan Indah. Menjelaskan siapa Siska sebenarnya. Siska adalah Ana yang mengaku kekasih Arman.
"Bukan kehadiran Siska yang membuat ku bersikap dingin padamu melainkan sikapmu yang terlalu memaksakan kehendak, Arman!" Indah mulai menjelaskan penyebab sikap dinginnya pada Arman.
"Maafkan aku yang tak bisa mengerti, Sayang!" Arman tertunduk menyesal.
Indah bukanlah cinta pertama Arman. Sebelumnya, Arman pernah berpacaran dengan Yuniar. Sosok manja yang selalu ingin bertemu. Arman selalu memenuhi keinginan Yuniar karena ia merasa dibutuhkan. Termasuk masalah kebutuhan Yuniar. Sifat itu sangat bertolak belakang dengan Indah.
"Maaf, Aku bukan dia!" Kata Indah datar.
"Iya!" Arman menunduk. Dia lalu berlutut di hadapan Indah dan memegang tangan Indah. "Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita!" Pinta Arman. Indah mengangguk. Indah dan Arman baikan.
Indah pamit pulang. Saat diluar rumah Arman, ia tak melihat keberadaan Fathur. "Dimana kamu, Fa!" Tanya Indah dalam hati.
"Biarlah Ari yang mengantar mereka pulang! Kamu bantu Bapak di sini, Arman!" Pinta Sang Bapak. "Masa iya Fathur bantu kita sementara kamu tidak!" Sahut kakak Arman.
"Kamu ga papa kan, pulang tanpa aku?" Tanya Arman khawatir.
"Ga papa, mereka ikut kesini juga karena antar aku! Biarlah sekarang aku yang jadi obat buat nyamuk - nyamuk ini!" Indah melirik Ana dan Ari yang tersipu malu oleh ucapan Indah.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak diantara pohon - pohon rindang. Indah mendudukkan bokongnya di bawah pohon sawo yang mereka lewati.
"Kenapa berhenti?" Tanya Ana.
"Kalian jalan aja duluan, ntar aku nyusul!" Sahut Indah.
"Tapi....
"Dia sudah biasa begitu. Biarlah dia menikmati tempat ini bersama temannya!" Dengan cepat Ana menanggapi kalimat Ari dan mereka berdua meninggalkan Indah.
"Aku mau duduk sendiri disini, biar dia yang jadi obat nyamuk kalian!" Ucap Indah setengah berteriak karena Ana dan Ari mulai menjauhinya.
"Maksud kamu apa tadi bilang temannya Indah?" Ari penasaran. "Siapa pula yang di maksud dia oleh Indah?" Tanya Ari lagi.
"Oh, itu! Indah indigo, dia bisa melihat yang ga bisa kita lihat. Kalo wajahnya baik, dia akan tetap duduk di situ dan pura - pura ga peduli. Tapi kalo bentar lagi dia lari nyusul kita, berarti si buruk rupa yang dia lihat!" Ana menjawab pertanyaan Ari dengan jelas, padat dan panjang.
Seseorang menutup mata Indah dari belakang.
.....................
Bersambung!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like n komentar ya readerku yang setia, baik hati, dan tidak sombong!!!
Terima kasih!!!